oleh : Sofa Nurdiyanti

 

Awalnya aku iri, melihat teman2 yang terbang jauh ke berbagai daerah di luar jawa. Merasa gagal dan tak bisa mencapai impian menjelajah negeri yang kurindu wajahnya. Hingga pandanganku berubah pada suatu siang, ketika aku diajak salah seorang guru ke sebuah pasar di pinggir sungai. Pasar yang kudatangi itu terpisah dengan pasar besar yang ada di sampingnya. Pasar tersebut, kalau pun bisa disebut pasar hanya menghuni ruas jalan sempit di sepanjang jalan pinggir sungai. Rumah dan warung menjadi satu dengan bangunan semi permanen terbuat dari kardus, triplek, dan semen yang tak begitu kokoh.

Ketika aku datang, aku melihat sekelompok ibu-ibu sedang memilah sayuran yang baru mereka beli. Bapak-bapaknya nampak asyik menghisap rokok dan bermain kartu sambil mengipaskan baju ke badan mereka untuk menghalau hawa panas. Ya, siang itu begitu terik, tak kalah hebatnya dengan suasana saat gunung Merapi di Jogja hendak meletus.

Di sana aku melihat beberapa anak laki2&perempuan dg pakaian kumal, tak terurus menyambut kedatangan kami…

“Bu Win… bu win… sini bu,” mereka tampak antusias menyambut kedatangan kami. Baju mereka terlihat lusuh, entah berapa hari tak ganti, tangan dan kaki mereka pun kotor. Gusti, ternyata mereka calon murid-muridku. Dengan sabar Bu win, mengajak, dan merayu anak-anak tersebut agar mau sekolah. Tak banyak yang ia katakan, hanya sebuah nasehat kecil, bahwa dulu kala beliau dengan mereka sama hidup susahnya. Tapi Bu Win mau berjuang dengan susah payah melawan segala penderitaan, yang bahkan jauh lebih parah dari mereka dengan sabar. Dengan iming-iming diberi seragam sekolah dan sebuah buku tulis, mereka dibujuk agar mau sekolah lagi. Satu persatu anak pun akhirnya luluh dan mengangguk malu-malu, menyatakan ingin bersekolah lagi.

Dengan pelan Bu Win bertanya padaku, “Ini lho calon murid-muridmu, kon enggak isin to duwe murid kayak mereka?”

Tegas kujawab, “Enggak bu, saya enggak malu.”

Dengan susah payah pula Bu Win harus menyakinkan orang tua mereka supaya melepas anak-anak yang masih kecil itu agar diijinkan sekolah. Kemudian ada dua anak perempuan usia SMP, tampak malu-malu melihat kami yang sedang mendata murid-murid baru. Mereka terdiam, tersenyum tanpa melepaskan pandangannya sedetik pun dari kami.

Bu Win yang tanggap langsung bertanya, “Kamu sudah sekolah belum, nduk?”

“Enggak sekolah, bu,” jawabnya singkat.

“Mau sekolah ya? Umurmu berapa?” Mereka masih tak menjawab, dan saling melirik satu sama lain. “Ayo enggak po-po nduk, melu sekolah, yo?”

Lagi-lagi cuma tersenyum dan berkata, “Mau bu, tapi kelas berapa? Saya enggak punya seragam, sepatu, ma tas sekolah,” jawab salah seorang dari mereka.

“Wis gampang, angger gelem melu sekolah, mengko di usahakne. Kalian umurnya berapa? SD atau SMP?”

“SMP bu, tapi enggak punya ijazah SD. Sudah hilang bu.”

“Ya sudah, kalian masuk kelas enam dulu, nanti kalau sudah setahun dapat ijazah baru masuk SMP.”

“Malu bu,” kompak berkata, sambil saling memandang tubuh dua anak perempuan yang tak bisa dibilang kecil lagi.

“Udah enggak apa-apa, wes ora usah isin. Kelas enam mung sedelo kok, sabar.”

“Iya bu, mau,” kedua mata anak itu tampak berbinar bahagia. Sesaat dadaku terasa bergemuruh melihat mereka.

Dan anak-anak perempuan lainnya pun tak henti bertanya, “Bu Win, kakak ini namanya siapa? Guru baru bukan?” ujar salah seorang gadis kecil sambil menggenggam tanganku.

Kutatap mata bocah perempuan itu lalu berkata, “Iya benar, nanti kakak jadi guru di SD. Nama kakak, Kinur tapi kalau di sekolah nanti panggilnya Bu Kinur ya.” Sesaat kemudian aku berjanji, aku tak kan menyesal berada di sini. Ada mereka yang jadi cermin masa laluku, mereka dan aku sama. Tak jauh beda, tak peduli di mana pun kita berada asal bisa berbagi, bukankah itu lebih dari cukup?

Dan aku pun harus menyabarkan diri ketika melihat tingkah lima murid kelas dua yang sebenarnya tak jauh beda dengan empat puluh lima anak kelas lima di Sukabumi. Ya, setiap tempat ada tantangannya sendiri-sendiri. Aku akan mencoba bersabar demi mereka. Kesimpulan di akhir cerita ini adalah sungguh, aku tak mau pergi dari sini. Jadi tolong, biarkan aku jalin kisahku di sini, bersama mereka yang mulai kusayang. Karena aku mulai menggenggam tangan dan mimpi mereka, ingin membersamai mereka melukis mimpi di tiap hari yang kami lalui bersama.

18 Juli 2011

3:17 PM

  1. Metode Diskusi, adalah proses saling bertukar informasi dan pengalaman, memecahkan masalah yang dilakukan secara aktif oleh dua siswa atau lebih. Diskusi ini dapat diaplikasikan dalam beragam bentuk, seperti: simposium, kolokium, panel, atau debat.
  2. Metode Kerja Kelompok, adalah pembagian siswa ke dalam beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
  3. Metode Discovery (penemuan), adalah pelibatan peserta didik dalam kegiatan mengeksplorasi pengetahuan baru bagi mereka agar mampu belajar secara mandiri
  4. Metode Simulasi, merupakan aktivitas menirukan suatu situasi atau perbuatan tertentu untuk mendapatkan pemahaman informasi kontekstual yang lebih mendalam
  5. Metode Inquiry, adalah cara memecahkan suatu masalah yang dilakukan oleh siswa secara berkelompok dengan melakukan investigasi dan kajian yang serius. Hasil dari pembahasan dalam kelompok selanjutnya dibuat dalam sebuah laporan yang akhirnya akan dipresentasikan dalam diskusi pleno di kelas.
  6. Metode Eksperimen, merupakan percobaan ilmiah yang dilakukan oleh peserta didik untuk mencari dan menemukan sendiri secara langsung tentang berbagai jawaban atas berbagai persoalan ilmiah yang sedang dihadapi.
  7. Metode Demonstrasi, adalah cara mengajar seorang guru atau instruktur dalam rangka menunjukkan atau memperlihatkan suatu proses kepada peserta didik. Hal ini akan memudahkan siswa dalam memahami suatu pengetahuan dengan lebih berkesan dan mendalam
  8. Metode Studi Wisata, merupakan cara mengajar dengan mengajak peserta didik untuk berkunjung ke suatu tempat atau objek di luar sekolah yang relevan atau sesuai dengan tujuan pembelajaran. Diharpkan siswa dapat belajar secara langsung kepada sumbernya.
  9. Metode Sosiodrama dan Bermain Peran (Roll Playing), ialah metode yang mengatur siswa melalui skenario tertentu  untuk mendramatisasi suatu tingkah laku, mimik, serta situasi yang berisi tentang hubungan sosial dan permasalahan sosial.  Skenario yang dibuat tentunya disesuaikan dengan tujuan dan materi ajar.
  10. Metode Drill,  adalah suatu metode mengajar guru yang bertujuan melatih siswa secara intensif agar memiliki kemampuan atau keterampilan yang lebih baik.
  11. Metode Tanya-Jawab, ialah interaksi antara guru dan siswa atau siswa dengan siswa dalam menguatkan pemahaman, pemikiran, dan wawasan terhadap materi pembelajaran. Dalam interaksi ini, bisa siswa yang bertanya dan guru yang menjawab, atau bisa pula sebaliknya.
  12. Metode Pemberian Tugas (Resitasi), merupakan cara guru untuk menambah pengetahuan dengan memberikan beragam tugas. Hal ini biasanya dilakukan ketika jumlah waktu pertemuan tidak mencukupi untuk mengejar materi ajar yang telah direncanakan oleh guru.
  13. Metode Ceramah, merupakan metode yang paling sering dilakukan oleh guru di depan kelas yakni dengan mektifmberikan beragam informasi pelajaran melalui lisan. Walaupun kelemahannya siswa bisa menjadi bosan, namun hal ini cukup efisien untuk menuntaskan semua materi ajar.

 

oleh :

Nursyamsi, S.Pd.

Tanpa terasa telah satu bulan lebih usia pertemuan kita di SGEI 2. Suatu pertemuan yang kita awali dengan sebuah perkenalan singkat di sebuah malam. Sebuah perkenalan yang selalu di akhiri dengan kata-kata favorit dari setiap kita yang memperkenalkan diri. Ada raut nervous tapi bahagia terpancar di wajah kita saat itu, terutama setiap kita yang berasal dari Bogor dan Makassar. Seberapa banyak kadar nervous tapi bahagianya, aku pun tak bisa menafsirkannya.

Apel pagi menjadi rutinitas kita setiap Senin sampai Jum’at. Setelah itu, kita masuk ke kelas SGEI 2. Kelas selalu dimulai dengan ice breaking yang dipimpin oleh setiap kita yang menjadi ketua kelas di hari itu. Lalu, berjubel ilmu kita dapatkan dari pemateri-pemateri handal. Di sesi inilah kita mendengar, melihat, dan memperagakan materi-materi yang di berikan. Bukan itu saja, sebagian dari kita ada yang bersungguh-sungguh meng-eksplore kemampuan yang dimiliki, ada juga yang terlihat diam seribu bahasa, dan masih menyembunyikan potensi yang kita punya. Tepat jam 10.00 WIB, kita selalu break dan menikmati snack. Saat shalat dhuhur telah usai, kita semua berhamburan menuju pantry untuk makan siang. Di akhir pembalajaran, lembar evaluasi tak lupa selalu di edarkan oleh team work SGEI 2.

Di malam harinya, seringkali slot-slot otak kita diisi lagi materi mentoring. Di antara mata–mata kita yang tetap setia terbuka dan fokus terhadap materi, muncul mata-mata sendu yang memberi sinyal bahwa sebagian dari kita telah dilanda rasa kantuk. Sungguh pemandangan yang lucu ketika di dokumentasikan. Ketika malam harus dilalui dengan mengerjakan tugas individu atau kelompok. Cerita di sesi ini selalu kuberi judul kerjasama. Kuberikan judul itu karena semuanya selalu kita kerjakan bersama. Tak pernah ada kata individualisme di sini yang ada kerjasama. Jika beberapa orang dari kita mendapatkan kesulitan mengerjakan tugas, maka yang lain siap untuk membantu. Lain lagi ceritanya, jika malam berlalu tanpa ada tugas atau pun mentoring. Malam semau gue akan jadi acara yang mengasyikkan, khususnya beberapa dari kita yang menghuni paviliun empat. Online, nonton film, tidur di awal malam, sharing adalah menu pilihan acara malam semau gue.

Di hari Sabtu dan Minggu, kita biasanya outdoor. Kita pernah refreshing sambil belajar di kebun Raya Bogor, belajar bersama Imam Prasojo di kediamannya, mengikuti seminar di Hotel Maharani Jakarta, mengunjungi museum peta, melakukan challenge dengan rute yang telah di tentukan, dan outbond di lapangan sepakbola LPI. Bukan itu saja, sebagian dari kita sering pergi ke Pasar Parung, ada yang ke IPB, dan ada yang ke Monas. Outdoor selalu menyisakkan kebahagiaan dalam kelelahan.

Seminggu lagi rutinitas kita akan berubah kawan. Kita yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia ini akan magang di sekolah dalam daerah yang berbeda. Sebagian dari kita tentu tak lagi tinggal di LPI. Tentu akan lebih banyak kisah yang kan tertulis dalam catatan kehidupan kita.

Bagi sebagian dari kita yang tak lagi tinggal di LPI, mau tak mau adaptasi menjadi hal yang kan kita lakukan lagi. Namun aku selalu percaya bahwa kita akan mampu melewatinya. Tantangan-tantangan yang kan kita temui di tempat magang nanti akan menjadi hal yang mendewasakan kita, menjadi kan kita pribadi yang tegar, dan Insya Allah lebih peka dengan kondisi orang lain.

Keberadaan kita di tempat ini adalah hal yang sangat patut untuk disyukuri. Kebersamaan yang kita bangun adalah kebersamaan yang patut dicatat sebagai kenangan. Begitu banyak ilmu dan pengalaman yang kita peroleh di sini kawan, hingga jika aku harus mengibaratkannya sebagai lukisan maka warna hitam putih tak akan pernah cukup untuk mewakilinya.

Kuharap cerita tentang kita tak akan berakhir hanya sampai di magang. Kuharap Allah selalu menetapkan kita dalam kebersamaan di mana tali persaudaraan kan tetap terjalin.


oleh:

M. Syafi’i, S.Pd.

Pada tanggal 21 Desember 2010 saya ikut touring bersama 10 teman lainnya, yang dipimpin langsung oleh Bu Evi kepala sekolah SGEI ke Desa Rawakalong Kecamatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor. Kami berkunjung ke MI Assyafi’iyah dalam rangka observasi. Sesampainya di sana, kami disambut oleh seorang wanita muda yang umurnya 30-an, dan kami langsung dibawa ruang kelas 1.

Di dalam kelas tersebut, seorang guru wanita sedang serius mengajar iqra pada para muridnya. Satu persatu para murid kami perhatikan tingkah lakunya, dan seraya mendekatinya kami berdialog dengan mereka. Tidak berapa lama pergantian mata pelajaran, yaitu pelajaran IPA dan Sains. Gurunya juga seorang wanita, guru tersebut memulai pelajaran dengan menulis di papan tulis yaitu benda-benda langit. Para murid disuruh menggambar benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang.

Ketika asyik-asyiknya mengamati kegiatan belajar mengajar, seorang wanita muda—yang menyambut kedatangan kami tadi—mengatakan bahwa pelajaran mau selesai dan kami dipersilahkan untuk berkunjung ke TK. TK terletak tidak jauh dari sekolah MI. Satu persatu dari kami keluar dari ruangan kelas. Setelah saya keluar dari kelas, saya melihat seorang laki-laki sedang duduk di teras sekolah. Dia bertubuh kecil, kulit sawo matang, rambut sedikit panjang terbelah dua, berpakaian biasa saja.

Lalu saya menyapanya, “Mas….”

Kami kebingungan letak sekolah TK. Di dalam kebingungan, laki-laki tersebut sudah mengerti kami mau pergi ke mana. Seraya bangun dari tempat duduknya, dia menunjukkan arah letak sekolah TK dan menemani kami—berjalan kaki menuju sekolah tersebut. Di dalam perjalanan, saya berkenalan dengan dia. Dia memperkenalkan dirinya, namanya Naryo dan dia sebagai pengelola sekolah setempat. Di dalam hati kecil saya, ada rasa sedikit tidak percaya karena melihat dari sikapnya yang biasa saja.

Tidak berapa lama, tibalah kami di sekolah TK. Masing-masing dari kami melihat keadaan sekolah tersebut, di mana terdiri dari lima ruangan dan gurunya sebanyak delapan orang. Setelah kami mengobservasi sekolah tersebut, kami diajak oleh Bu Evi ke sebuah rumah yang letaknya di belakang sekolah. Rumah tersebut terlihat cukup sederhana dan kami langsung disambut oleh tuan rumah dengan ramah, ternyata yang punya rumah adalah Mas Naryo. Dia memperkenalkan istri dan ketiga orang anaknya. Ternyata istrinya adalah perempuan muda yang menyambut kedatangan kami tadi. Kami dipersilahkan duduk di ruang tamu dengan hidangan makanan kecil yang sudah tersedia di hadapan kami. Bu Evi kemudian memperkenalkan siapa Mas Naryo ini sebenarnya, dan mempersilahkan Mas Naryo untuk memperkenalkan dirinya secara langsung.

Mulailah Mas Naryo memperkenalkan dirinya. Dia memiliki nama lengkap Sunaryo Adhiatmoko, dahulunya dia adalah seorang karyawan Dompet Dhuafa (DD) dan jurnalis Republika. Dia menceritakan pengalaman saat menjadi relawan DD hingga dia keluar dari DD. Berbagai pengalaman dia ceritakan kepada kami—para mahasiswa SGEI angkatan kedua. Ketika dia berada di wilayah tertinggal, tidak semua orang bisa melakukannya. Kami semua mendengar ceritanya dengan serius sebab semua ceritanya menggugah dan penuh inspirasi. Misalnya, di mana Mas Naryo membangun sebuah kampung yang belum ada wadah pendidikannya, ekonomi, dan agama yang lemah, salah satu diantaranya adalah kampung Rawa Kalong, yang telah kami kunjungi. Di mana masyarakatnya berlatar pendidikan hanya bisa tulis baca. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar kuli bangunan, tukang ojek, dan petani. Setelah melakukan beberapa kegiatan akhirnya mereka mengalami perubahan. Sekarang ada yang berprofesi sebagai fotografer, yang dulunya pengetahuan agamanya lemah sekarang bisa berubah menjadi Da’i, Khotib, dan sebagainya. Yang dulu belum ada sekolah, sekarang sudah ada sekolah di desa tersebut.

Sungguh suatu perilaku yang bertanggungjawab terhadap sebuah misi kemanusiaan. Belum lagi pengalaman di luar negeri seperti di Kamboja, Thailand, terlebih-lebih di jalur Gaza, Palestina yang tidak bisa diceritakan panjang lebar dalam tulisan ini. Semua itu bisa dijalankannya dengan sukses.

Ada beberapa prinsip yang perlu kita contoh dari sosok Mas Naryo ini:

  • Walaupun ia memiliki segudang pengalaman, namun ia tetap bersahaja, sederhana, dan kekeluargaan.

  • Setiap action yang dilakukan pasti ada problemnya, dan setiap problem pasti ada solusinya.

  • Dimana kita bisa menemukan solusinya, disitu lah kita merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.

oleh:

Franciska, S.Pd.

Saat saya pertama kali mengikuti pelatihan di Sekolah Guru Ekselensia Indonesia ini, ada satu kata yang masih kurang saya mengerti apa maksud dari hal itu. Jujur kata itu terasa asing bagi saya sendiri karena saya tidak pernah mendengar kata tersebut, baik itu di lingkungan sekolah saya dahulu hingga masa di perguruan tinggi pun saya tidak pernah mendengar kata tersebut.

Saya kira kalimat tersebut dapat diartikan sebagai nama dari sebuah makanan, atau nama es krim itu sendiri. Salah penafsiran yang saya buat itu juga tidak lepas dari kurangnya pemahaman bahasa inggris. Hanya sedikit kata-kata dalam bahasa inggris yang saya pahami dan mengerti apa maksudnya. Saya bertanya kepada teman-teman yang lain, apa sih maksud dari ice breaking itu?

Maka salah satu teman menjawab, “Ice breaking itu adalah sebuah permainan-permainan yang dapat memberikan penyegaran.”

Terus ada juga yang bilang, “Ice breaking itu merupakan permainan-permainan yang dapat memberikan semangat kepada setiap orang yang sedang dalam kegiatan, baik itu sekolah maupun suasana perkumpulan biasa.”

Jujur saya baru mengetahui bahwa kata itu merupakan istilah dari sebuah permainan penyegaran. Yang saya tahu kalau permainan, ya permainan saja. Tidak pakai istilah-istilah yang susah dimengerti oleh orang, apalagi kalau orang tersebut kurang mengerti bahasa inggris, contohnya seperti saya.

Tapi setelah saya mengerti pentingnya kita apalagi seorang guru untuk menerapkan ice breaking adalah bisa membangun siswa menjadi lebih semangat lagi dalam belajar, sangat membangkitkan semangat saya untuk lebih mengetahui lebih dalam lagi tentang ice breaking. Permainan seperti apa yang dapat disebut dengan ice breaking itu? Semuanya ingin saya ketahui.

Untungnya ketidaktahuan saya tentang ice breaking ini lama-lama berubah menjadi pemahaman yang sangat berarti bagi saya. Dengan seringnya saya dan teman-teman menerapkan permainan ice breaking tersebut membuat saya mempunyai satu kesimpulan. Ice breaking sangat diperlukan oleh siswa untuk membuat mereka menjadi santai, antusias, dan juga bersemangat untuk menyerap materi yang akan disampaikan oleh gurunya nantinya. Karena hal tersebut sudah saya alami sendiri di SGEI ini—sebelum memasuki materi perkuliahan maupun saat akan memulai lagi materi setelah istirahat makan selesai tiap harinya—saya dan yang lainnya selalu menerapkan ice breaking terlebih dahulu. Dan hal tersebut membuat saya menjadi santai, antusias, dan bersemangat untuk mengikuti materi yang akan diberikan.

Dari mengikuti pelatihan di SGEI, saya jadi tahu bahwa dalam kita mengajar di sebuah kelas sangat dibutuhkan sekali ice breaking. Kalau mau membuat suasana kelas tersebut menjadi lebih santai, semangat, dan selalu ceria maka setiap guru harus menerapkan permainan ice breaking dalam kegiatan pembelajaran nanti. Namun, jika tidak mau membuat suasana kelas menjadi santai, inginnya hanya yang monoton saja dan membuat anak jadi mengantuk di dalam kelas, ya guru tidak perlu untuk menerapkan permainan ice breaking.

Di sini tinggal tergantung pada kita sendiri mau pilih yang mana, apalagi kita ini akan dibentuk menjadi guru yang harus bisa membuat perubahan pada anak didiknya nanti. Di sini saya mendapatkan ilmu yang sangat berharga, bahwa tidak harus memikirkan hal-hal yang rumit dan terlalu besar untuk mengetahui cara membuat anak bisa santai, antusias, dan bersemangat dalam belajar. Cukup dengan melakukan hal-hal yang simpel dan praktis saja yaitu dengan sering menerapkan Ice breaking dalam kegiatan pembelajaran sudah bisa membuat anak didik nantinya akan selalu antusias, santai, dan bersemangat untuk belajar.

Hebatnya, hanya dari sebuah kata ice breaking, simpel dikatakan, namun bagaikan mendapatkan pelajaran yang berharga bagi saya—untuk bekal menjadi guru yang sesungguhnya, sangat melekat di hati ini.

oleh:

Kamal Basya, S.Pd.

Jika tidak mampu merubah dunia,

setidaknya kita mampu mengubah diri sendiri.

~

Assalamu’alaikum, seru temanku Dede Kurnia yang baru datang dari rumahnya ke kos kami. Dede adalah salah satu teman kelas saya yang sudah di wisuda lebih dulu dan sudah menjadiguru di SDIT Depok. Gimana bro kabarnya?tanya salah satu teman kos Rudi Purwanto kepadanya. “Alhamdulillah sehat wal’afiat bro,” jawab Dede dengan santai.

Ada kabar baik apa nih juragan? Kami ini domba-domba sesat yang harus diselamatkan kawan, hahaha… celotehku sambil bercanda di sela-sela pembicaraan yang hangat itu. Ada informasi baru nih buat kalian. Saya diberitahu tetangga, bahwa ada program Sekolah Guru Ekselensia Indonesia di Dompet Du’afa Bogor. Saat ini sedang mencari tenaga pendidik profesional. Untuk lebih jelasnya bisa kalian lihat di alamat website ini: http://lpi-dd.net.”

Berawal dari informasi sosok Dede inilah, saya pun segera beranjak mencari tahu lebih banyak dengan mengakses internet sesuai dengan alamat yang diberikan itu. Ada tiga orang dari teman-teman saya yang mengambil program SGEI ini. Yaitu, Dede Kurnia, Rudi Purwanto, dan saya sendiri. Kami bertiga pun melakukan registrasi dengan mengisi formulir yang telah tersedia.

Alhasil, alhamdulillah dua orang dari kami dinyatakan lulus uji seleksi berkas dan selanjutnya akan menjalani tahap tes wawancara. Kebahagiaan kami tidaklah sempurna karena salah satu teman kami ada yang kurang beruntung, tidak mendapatkan kesempatan bisa bergabung dalam program SGEI tersebut. Walaupun demikian, kami pun berdua harus menjalani proses interview yang telah ditetapkan waktunya. Beberapa hari kemudian kami mendapatkan SMS dari paniti SGEI bahwa kami berdua diterima dan sudah menjadi bagian dari peserta SGEI angkatan ke-2.

Kehidupan itu selalu dinamis.Siapa pun tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di setiap langkah demi langkah. Tidak akan terelakkan bahwa segalanya bisa berubah dalam hitungan jam, menit bahkan satu kedipan mata sekalipun.Semuanya adalah keniscayaan yang bisa terjadi pada siapapun. Begitu pun yang sama dengan apa yang dialami temanku, Dede Kurnia. Dia memutuskan untuk mundur dari program ini karena alasan keluarga yang tidak merestui langkahnya meski pada awalnya dia mempunyai kemauan yang tinggi untuk mengikuti program SGEI ini.

Kini, tinggal aku sendiri yang punya keyakinan dan keberanian melangkah untuk terus melanjutkan bergabung dalam program SGEI tersebut. Setelah hari demi hari saya lewati bersama indahnya kapal SGEI ini, saya merasa seolah tercerahkan. Tetesan demi tetesan ilmu yang membuat saya serasa masuk dalam sebuah paradigma baru, dalam dinamika kehidupan yang lebih baik. Banyak sekali inspirasi-inspirasi positif dan pelajaran-pelajaran bermakna selama proses pelatihan berlangsung yang mampu menghidupkan kembali ruh atau semangat juang yang sudah lama hilang.

Inspirasi dan pelajaran-pelajaran berarti itu di antaranya:

  1. Saya menjadi lebih tahu bahkan sadar akan hakekat guru yang sejatinya.

  2. Saya belajar menjadi guru yang berkarakter.

  3. Saya belajar harus untuk selalu memperbaiki diri.

  4. Saya diajarkan bagaimana menjadi guru yang menyenangkan bagi siswa.

  5. Saya diberikan ilmu bagaimana menghadapi keberagaman dan keunikan siswa.

  6. Saya diajarkan bagaimana menggali potensi siswa.

  7. Saya dididik menjadi guru pemimpin, guru model, dan juga berjiwa enterpreneurship.

Tentu kalau disadari sebenarnya masih banyak lagi inspirasi-inspirasi selain di atas tadi. Tapi, setidaknya itulah yang mampu saya tangkap dari proses kebersamaan ini semua. Namun, dari beberapa poin yang disebutkan, ada suatu hal besar yang membanggakan serta membuat saya merasa terhormat menjadi bagian dari program SGEI ini yaitu; saya bertemu dengan orang-orang hebat di sekeliling saya; guru-guru cerdas yang penuh kesopanan dan keramahan; trainer-trainer kreatif yang energik dan menyenangkan; kawan-kawan brillian perwakilan masing-masing perguruan tinggi di seluruh Indonesia; adik-adik jenius Smart Ekselensia yang penuh semangat; alam lingkungan sosial yang islami penuh kehangatan, keakraban, dan kekeluargaan.

Inilah semua pengalaman belajar yang menginspirasi saya untuk terus memacu perjuangan tidak kenal lelah, dan untuk terus maju sampai pada sebuah tujuan.

Terima kasih untuk semuanya….!!!

oleh:

Muawanah

Di tahun 2011 ini takdir mempertemukan kawan jalan baru, menggariskan berada di kota lain, mereguk ilmu dari orang-orang berbeda. Dan di sinilah kami berada sekarang, berkumpul, belajar, dan menjadi saudara-saudara baru. Kami merajut kisah baru dalam hidup masing-masing.

Berada di sini bagaikan mengulur benang baru yang berbeda warna, memadu-madankannya agar membentuk pakaian baru yang indah, dengan semua warna di dalamnya terangkum. Dan, kami di sini belajar saling mengenal dan menerima dengan segala lebih dan kurangnya. Sempat terpikir akan sulit—dari tempat berbeda, kota berbeda, adat, dan kebiasaan yang berbeda—tiba-tiba bertemu, kira-kira akan bagaimana? Tapi subhanallah… betapa ukhuwah itu di mana pun akan terjalin ibarat kawan lama.

Hidup ini akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Dan kami yang berada di sini adalah orang-orang yang telah membuat pilihan, untuk keluar sejenak dari lingkungan kami selama ini. Berada di lingkungan baru, akan membuat kami mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki sehingga bisa lebih bermanfaat untuk orang lain. Tidak sekedar orang yang berada di lingkungan kami dahulu.

Saya belajar banyak hal dari orang-orang hebat yang saya temui di sini, belajar dari kisah-kisah hidup yang mereka lewati sebelumnya, bertemu banyak sumber inspirasi—yang ketika mengenal mereka—membuat saya belajar banyak bersyukur atas apa yang saya miliki, dan bersyukur bisa berada di tengah-tengah mereka. Hingga kini, saya kadang masih merasa takjub bisa berada di tempat ini, bertemu 29 sosok hebat dengan prestasi mereka masing-masing. Melihat mereka dan belajar memahami setiap tindakan, keputusan, dan sikap yang mereka ambil.

Walau mungkin sulit untuk bisa memahami sepenuhnya, tapi seorang teman pernah mengatakan, “Gunakan hatimu, karena tidak semua yang kita lihat, dan dengar itu adalah apa yang sebenarnya.” Dan di sini saya kembali harus belajar mengenali kawan seperjalanan takdir saya kali ini. Di sini saya bertemu guru-guru hebat yang all out dalam membagi ilmu mereka, melihat mereka yang tidak pernah mengeluh lelah, yang selalu hadir di kelas dengan senyum dan canda mereka dengan pelajaran-pelajaran yang selalu dibuat menyenangkan. Melihat mereka yang walaupun tiap hari hadir, tidak pernah kekurangan semangat dan motivasi untuk dibagikan kepada kami.

Mereka adalah guru. Saya selalu lebih senang menggunakan kata guru daripada trainer. Menurut saya, seorang guru bukan hanya ketika di kelas—memberi ilmu—tetapi diluar kelas pun seorang guru akan tetap selalu memberi ilmu, memberi perhatiannya. Dan itulah arti mereka bagi saya, seorang guru.

Mereka mengajarkan untuk tidak berhenti bercita-cita, hal yang sudah lama saya lupakan karena memilih menjalani hidup seperti air, membiarkannya mengalir. Meminta kami merencanakan apa yang ingin kami lakukan di tahun-tahun berikutnya. Dan jujur, betapa sulit memetakan apalagi harus menuliskan apa yang ingin saya lakukan di tahun berikutnya. Lebih disebabkan karena saya terbiasa menjalani apa yang sudah ada dihadapan saya, tanpa berpikir terlalu jauh tentang cita-cita.

Menuliskan apa yang dirasakan saat berada di sini sedikit sulit saya lakukan. Lebih mudah rasanya menuliskan peristiwa yang sudah lama terlewati karena endapan kenangannya lebih lama. Imajinasi saya lebih mudah terbang ke waktu yang sangat lampau dibanding menjenguk kenangan yang belum genap sebulan saya alami. Maka saya anggap tulisan ini adalah prolog perkenalan dengan mereka, awal mengenal dunia dan kawan baru. Kisah ini belum selesai dirakit, karena benang kata terhenti pada titik warna lain yang hendak dimasuki….

Dimanapun kita berada kelak,

sejauh apapun langkah kaki menjejak bumiNya

kita tetap adalah saudara.