Uncategorized


oleh: Agung Pardini

Penerapan suatu kurikulum oleh setiap sekolah sebagai sebuah satuan pendidikan adalah bagian dari persiapan menghadapi tantangan zaman di masa mendatang, minimal untuk masa dua puluh tahun lagi. Pada zaman dua puluh tahun nanti, dunia pekerjaan sedang diisi oleh anak-anak yang sedang bersekolah di masa sekarang. Maka sesungguhnya kurikulum hari ini adalah cerminan masa depan bangsa. Oleh sebab itu pendidikan harus dikembangkan dalam rancangan struktur kurikulum yang bisa menerawang jiwa zaman untuk setidaknya dua dekade yang akan datang.

Namun menakar dan mengukur efektivitas kurikulum tidak bisa menggunakan sistem evaluasi yang konvensional seperti ujian atau tes. Keberhasilan kurikulum secara langsung sangat ditentukan oleh sejauh mana kesiapan peserta didik menghadapi problem-problem masa depan. Adalah kesalahan fatal bila pengajaran terkesan diarahkan untuk sekedar mengantar siswa agar lulus ujian nasional.

Jauh sebelum bangsa ini merdeka, di fase awal abad ke-20, model sekolah semisal Taman Siswa di Yogyakarta dan INS Kayutanam di Sumatera Barat telah menisbahkan diri sebagai institusi pendidikan bumiputera yang bercita-cita membentuk generasi intelek, berbudi pekerti luhur, dan berjiwa merdeka. Semangat kolektif sebagai sebuah bangsa telah ditanam jauh ketika impian Indonesia sebagai sebuah negara itu belum terwujud. Jati diri dan watak bangsa dibentuk sebelum entitas tentang kesamaan nasib akan diubah menjadi republik.  Pendidikan dengan kurikulumnya disusun sebagai sebuah mimpi dan cita-cita bersama,yakni kemerdekaan yang hakiki. Sehingga hakekat sekolah bukanlah sebagai lokasi belajar semata, melainkan wahana diskusi dan gagasan tentang konsep kebangsaan.

Bangsa yang unggul adalah bangsa yang terdidik. Semakin baik pendidikan pada suatu bangsa, maka tentu semakin unggul pula kualitas hidup segenap warga negaranya. Sehingga salah satu fungsi negara yang telah dikonsep oleh para sesepuh Indonesia ini adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Keunggulan pendidikan itu sendiri bukan dari jenis isi atau muatan kurikulum itu sendiri, melainkan dari ruh atau wawasan kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan dan tantangan di masa mendatang.

Masa depan bukan untuk ditunggu, tapi harus direncanakan. Pendidikan adalah pembentuk jiwa zaman untuk sekurang-kurangnya dua dasawarsa mendatang. Di masa depan, bangsa pemenang adalah bangsa yang menciptakan masa depan itu sendiri.

(Surya Hanafi, dkk. Menyulut Jiwa di Kampung Hatta. Bogor: Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, 2012)

Iklan

Oleh : Abdul Kodir
Koordinator Sekolah Beranda Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa

Berdasarkan laporan Bank Dunia No. 16369-IND, dan Studi IEA (International Association for the Evalution of Education Achievermen) di Asia Timur, tingkat terendah membaca anak-anak di pegang oleh negara Indonesia dengan skor 51.7, di bawah Filipina (skor 52.6); Thailand (skor 65.1); Singapura (74.0); dan Hongkong (75.5). Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 mempublikasikan, membaca bagi masyarakat Indonesia belum dijadikan sebagai kegiatan untuk mencari informasi. Masyarakat Indonesia lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca (23,5%) Artinya,
membaca untuk mendapatkan informasi baru dilakukan oleh 23,5% dari total penduduk Indonesia. Masyarakat lebih suka mendapatkan informasi dari televisi dan radio ketimbang membaca. Ini menunjukkan bahwa membaca belum menjadi prioritas utama masyarakat Indonesia.

Ketika kita membaca data Bank Dunia diatas tentu kita akan miris, melihat kualitas membaca generasi Indonesia, posisi Indonesia berada di bawah Filipina. Keadaan ini diperparah dengan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2006 dikatakan bahwa 85,9 % anak Indonesia lebih gemar menonton televisi dibandingkan dengan membaca, memang banyak negara berkembang memiliki persoalan yang sama, yaitu kurangnya minat membaca di kalangan masyarakat. Di Indonesia sendiri, masih banyak masyarakat miskin yang lebih mengutamakan kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, dan 56 Di Tepi Batas Kubangun Negeriku rumah, daripada mengutamakan membeli buku, bahkan masyarakat yang telah mampu lebih mengutamakan membeli sesuatu yang dapat meningkatkan prestise mereka, seperti HP, mobil, ketimbang buku, kita juga bisa membandingkan lebih banyak mana pengunjung tempat hiburan dengan perpustakaan? Tentu kita semua dapat menebak bahwa tempat hiburan menjadi daya tarik masyarakat kita ketimbang berkunjung ke perpustakaan.

Melihat fenomena ini tentunya menjadi tugas berat untuk kita bersama, membangun generasi yang gemar membaca, karena dengan membaca kita dapat memajukan setiap pribadi manusia maupun suatu bangsa. Dan dengan membaca pula, kita dapat memperluas wawasan dan mengetahui dunia. Untuk menumbuhkan minat baca dan menghidupkan budaya baca anak didik kita memang dibutuhkan waktu yang lama dan biaya yang mahal. Tetapi bukan tidak mungkin kebiasaan itu bisa ditumbuhkan dengan cepat. Peran orang tua dan guru sangat penting untuk membiasakan budaya membaca ini, orangtua berperan dalam mencontohkan budaya membaca sejak dini di rumah, dan di sekolah, guru adalah ujung tombak untuk menciptakan budaya baca dalam diri siswa. Banyak hal bisa dicoba dan diterapkan untuk menumbuhkan budaya tersebut. Seperti halnya mengajak peserta didik untuk membaca dan menelaah buku-buku yang menarik di perpustakaan.

Undang-undang nomor 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) menjelaskan bahwa perpustakaan merupakan sumber daya pendidikan yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas Pendidikan Prasekolah, Pendidikan Dasar dan Menengah. Jadi peran perpustakaan di sini sangat strategis sekali untuk menunjang pertumbuhan minat baca siswa dan masyarakat. Koleksi perpustakaan menjadi sangat penting, karena sering kali siswa atau pengunjung datang mencari koleksi yang tidak monoton. Dan kelengkapan sumber bahan juga tidak bisa diabaikan. Perpustakaan bisa mengoleksi karya-karya terbaru dan menjadi idola para remaja seperti novel Harry Potter, Lord of The Rings, Twilight, dan bahkan komik. Koleksi ini juga harus disesuaikan dengan tingkat pembacanya. Seperti Taman Kanak-kanak misalnya, koleksi buku haruslah yang bersifat ketertarikan saja. Seperti buku dengan memiliki banyak gambar-gambar menarik. Untuk anak SD dipilihkan bahan bacaan yang ringan-ringan saja untuk menumbuhkan minat membaca.

Sekolah Beranda, adalah sekolah yang berada di pulau terluar Indonesia yang memiliki permasalahan yang begitu kompleks, tidak hanya permasalahan kebiasaan membaca yang masih kurang, tetapi juga infrastruktur yang tidak mendukung, berada dipelosok desa, akses jalan yang sulit dijangkau menjadikan terhambatnya informasi yang harus mereka peroleh. Oleh karena itulah, Makmal Penmdidikan-Dompet Dhufa berusaha turut serta membangun generasi yang gemar membaca dengan memberikan pelatihan ceruk ilmu, pelatihan yang dilakukan selama dua hari menyajikan materi strategi membaca, ceruk ilmu dan menulis, dengan harapan mampu mengembangkan kemampuan membaca dan menulis anak serta guru disetiap wilayah yang kami dampingi, dan Makmal Pendidikan tidak hanya sekedar memberikan pelatihan ceruk ilmu, tetapi juga memberikan bantuan berupa buku-buku dan lemari yang diletakkan disetiap sudut kelas dengan harapan dapat merangsang minat siswauntuk membaca setiap saat. Semoga usaha ini dapat turut membangun bangsa ini dari keterpurukan.

Oleh: Nining Asri (Pendamping Sekolah Makmal Pendidikan)

Informasi seperti ini tidak hanya satu atau dua kali aja diedarkan di internet. Fakta tentang minat baca di Indonesia yang begitu rendah, bahkan kalah jauh dari Singapura atau Malaysia yang jumlah penduduk lebih sedikit, bahkan luas wilayahnya jauh lebih kecil.

Faktanya, penduduk Indonesia lebih banyak mencari informasi dari televisi dan radio ketimbang buku atau media baca lainnya. Laporan bank Dunia no.16369-IND (Education in Indonesi from Crisis to recovery) menyebutkan bahwa tingkat membaca usia kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya mampu meraih skor 51,7 di bawah Filipina (52,6), Thailand (65,1) dan Singapura (74,0).

Data Badan Pusat Statistik tahun 2006 menunjukan bahwa penduduk Indonesia yang menjadikan baca sebagai sumber informasi baru sekitar 23,5%. Sedangkan yang menonton televisi 85,9% dan mendengarkan radio 40,3%.

Fakta diatas tentu memprihatinkan, mengingat budaya membaca sangat erat kaitannya dengan kultur sebuah generasi. Jika generasi sekarang memiliki minat baca rendah, bukankah sulit mengharapkan mereka menjadi teladan bagi anak cucunya dalam membudayakan membaca?

Ada apa ini, baca SMS ya, tapi baca buku…cape dech!!!. Padahal kalo kita pikir, Negara kita tak miskin-miskin amat untuk menyediakan buku atau bahan bacaan ke berbagai pelosok negeri ini. Nyatanya, Indonesia memiliki banyak penerbit, penulis, ilmuan, peneliti, dan toko-toko buku dari kelas atas sampe kelas bawah. Tetapi, tetap saja masyarakat kita menganggap buku itu adalah makanan yang mahal, dan ga penting untuk dibaca. Masyarakat kita, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sampe orang tua enggan untuk membaca apalagi menulis. Sejak dahulu, bangsa kita sudah mewarisi budaya lisan dari pada pada budaya literer. Alasan lebih praktis dan mudahlah yang membuat masyarakat kita mudah percaya dan dibodohi. Tidak sekedar omong kosong, mari kita lihat beberapa fakta mengenai minat baca masyarakat kita yang rendah:

  1. Hasil survey Unesco menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di Asean. Peningkatan minat baca masyarakat akan mempercepat kemajuan bangsa Indonesia, karena tidak ada negara yang maju tanpa buku, kata panitia pameran Tri Bintoro di Solo (Republika, Rabu (26/1)
  2. Berdasarkan  studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Posisi Indonesia itu lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan,” ujar Ketua Center for Social Marketing (CSM), Yanti Sugarda di Jakarta, Rabu (7/7).
  3. Penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009.
  4. Berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.
  5. Kompas (Kamis, 18 Juni 2009) Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini. Saat berbicara dalam seminar “Libraries and Democracy”  digelar Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya, Rabu, dia mengatakan, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf.

Jika Dirjen Pajak mengatakan, “Ga Bayar Pajak apa Kata Dunia…? ”maka Kita bisa mengatakan ”Ga Baca Buku apa Kata Orang Tua..ya pastilah akan bodoh”

oleh:

Abdul Kodir

Koordinator Pendampingan Sekolah Beranda (Perbatasan)

 

Ingatkah ketika (dahulu) menjadi siswa  kita merasa jam di kelas seolah lambat bergerak, padahal hati ingin segera pulang dan secepatnya  meninggalkan kelas, padahal saat itu masih proses pembelajaran. Kita merasa tidak nyaman, bosan, dan kadang terasa menegangkan.

Suasana belajar seperti ini tentu tidak membuat kita nyaman dan tentunya materi yang disampaikan oleh guru tidak banyak yang masuk dalam ingatan kita, atau sedikitpun bisa jadi tidak ada yang masuk sama sekali dalam memori ingatan kita. Nah.. Tentunya hal itu tidak kita harapkan. Kita ingin setiap usaha yang kita lakukan dalam mengajar dapat diterima dengan baik, sehingga siswa yang kita ajarkan dapat bertambah wawasannya.

Fenomena semacam itu tentu masih banyak dirasakan oleh siswa kita, jika guru tidak menyelenggarakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Bandingkan jika nenggunakan cara yang aktif dan menyenangkan pastilah siswa akan menikmati dan akan merasakan waktu berjalan dengan cepat, dan seperti tidak ingin waktu berakhir.

Kami ibaratkan PAIKEM seperti Amunisi, prajurit perang akan selalu menyiapkan amunisi ketika akan bertempur untuk menuntaskan misi nya, dan PAIKEM adalah amunisi untuk para guru yang akan melangkahkan kaki nya menuju kelas, tanpa pola pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan, memungkinkan seorang guru bisa kalah dalam menyampaikan misi nya.

PAIKEM barangkali belum banyak guru yang menerapkannya di sekolah, atau mungkin juga ada sebagian guru yang belum mengerti arti Paikem. PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Atau istilah lain menyebutnya active learning.

PAIKEM atau Active learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan memberikan strategi active learning (belajar aktif) pada anak didik dapat membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses. Hal ini kurang diperhatikan pada pembelajaran konvensional.
Makmal Pendidikan LPI Dompet Dhuafa, mengajak para guru  untuk menjadikan proses pembelajaran menjadi sesuatu yang menyenangkan di kelas. Hal yang dilakukan Makmal Pendidikan LPI-DD adalah Dengan mengadakan training Paikem di Wilayah Beranda (sekolah dampingan di daerah perbatasan).

Pelatihan yang telah dilakukan ini diharapakan mampu menjadi amunisi untuk merubah metode pengajaran yang masih berpusat pada guru (konvensional), sehingga dapat melahirkan siswa yang berkualitas.

oleh : Sofa Nurdiyanti

 

Awalnya aku iri, melihat teman2 yang terbang jauh ke berbagai daerah di luar jawa. Merasa gagal dan tak bisa mencapai impian menjelajah negeri yang kurindu wajahnya. Hingga pandanganku berubah pada suatu siang, ketika aku diajak salah seorang guru ke sebuah pasar di pinggir sungai. Pasar yang kudatangi itu terpisah dengan pasar besar yang ada di sampingnya. Pasar tersebut, kalau pun bisa disebut pasar hanya menghuni ruas jalan sempit di sepanjang jalan pinggir sungai. Rumah dan warung menjadi satu dengan bangunan semi permanen terbuat dari kardus, triplek, dan semen yang tak begitu kokoh.

Ketika aku datang, aku melihat sekelompok ibu-ibu sedang memilah sayuran yang baru mereka beli. Bapak-bapaknya nampak asyik menghisap rokok dan bermain kartu sambil mengipaskan baju ke badan mereka untuk menghalau hawa panas. Ya, siang itu begitu terik, tak kalah hebatnya dengan suasana saat gunung Merapi di Jogja hendak meletus.

Di sana aku melihat beberapa anak laki2&perempuan dg pakaian kumal, tak terurus menyambut kedatangan kami…

“Bu Win… bu win… sini bu,” mereka tampak antusias menyambut kedatangan kami. Baju mereka terlihat lusuh, entah berapa hari tak ganti, tangan dan kaki mereka pun kotor. Gusti, ternyata mereka calon murid-muridku. Dengan sabar Bu win, mengajak, dan merayu anak-anak tersebut agar mau sekolah. Tak banyak yang ia katakan, hanya sebuah nasehat kecil, bahwa dulu kala beliau dengan mereka sama hidup susahnya. Tapi Bu Win mau berjuang dengan susah payah melawan segala penderitaan, yang bahkan jauh lebih parah dari mereka dengan sabar. Dengan iming-iming diberi seragam sekolah dan sebuah buku tulis, mereka dibujuk agar mau sekolah lagi. Satu persatu anak pun akhirnya luluh dan mengangguk malu-malu, menyatakan ingin bersekolah lagi.

Dengan pelan Bu Win bertanya padaku, “Ini lho calon murid-muridmu, kon enggak isin to duwe murid kayak mereka?”

Tegas kujawab, “Enggak bu, saya enggak malu.”

Dengan susah payah pula Bu Win harus menyakinkan orang tua mereka supaya melepas anak-anak yang masih kecil itu agar diijinkan sekolah. Kemudian ada dua anak perempuan usia SMP, tampak malu-malu melihat kami yang sedang mendata murid-murid baru. Mereka terdiam, tersenyum tanpa melepaskan pandangannya sedetik pun dari kami.

Bu Win yang tanggap langsung bertanya, “Kamu sudah sekolah belum, nduk?”

“Enggak sekolah, bu,” jawabnya singkat.

“Mau sekolah ya? Umurmu berapa?” Mereka masih tak menjawab, dan saling melirik satu sama lain. “Ayo enggak po-po nduk, melu sekolah, yo?”

Lagi-lagi cuma tersenyum dan berkata, “Mau bu, tapi kelas berapa? Saya enggak punya seragam, sepatu, ma tas sekolah,” jawab salah seorang dari mereka.

“Wis gampang, angger gelem melu sekolah, mengko di usahakne. Kalian umurnya berapa? SD atau SMP?”

“SMP bu, tapi enggak punya ijazah SD. Sudah hilang bu.”

“Ya sudah, kalian masuk kelas enam dulu, nanti kalau sudah setahun dapat ijazah baru masuk SMP.”

“Malu bu,” kompak berkata, sambil saling memandang tubuh dua anak perempuan yang tak bisa dibilang kecil lagi.

“Udah enggak apa-apa, wes ora usah isin. Kelas enam mung sedelo kok, sabar.”

“Iya bu, mau,” kedua mata anak itu tampak berbinar bahagia. Sesaat dadaku terasa bergemuruh melihat mereka.

Dan anak-anak perempuan lainnya pun tak henti bertanya, “Bu Win, kakak ini namanya siapa? Guru baru bukan?” ujar salah seorang gadis kecil sambil menggenggam tanganku.

Kutatap mata bocah perempuan itu lalu berkata, “Iya benar, nanti kakak jadi guru di SD. Nama kakak, Kinur tapi kalau di sekolah nanti panggilnya Bu Kinur ya.” Sesaat kemudian aku berjanji, aku tak kan menyesal berada di sini. Ada mereka yang jadi cermin masa laluku, mereka dan aku sama. Tak jauh beda, tak peduli di mana pun kita berada asal bisa berbagi, bukankah itu lebih dari cukup?

Dan aku pun harus menyabarkan diri ketika melihat tingkah lima murid kelas dua yang sebenarnya tak jauh beda dengan empat puluh lima anak kelas lima di Sukabumi. Ya, setiap tempat ada tantangannya sendiri-sendiri. Aku akan mencoba bersabar demi mereka. Kesimpulan di akhir cerita ini adalah sungguh, aku tak mau pergi dari sini. Jadi tolong, biarkan aku jalin kisahku di sini, bersama mereka yang mulai kusayang. Karena aku mulai menggenggam tangan dan mimpi mereka, ingin membersamai mereka melukis mimpi di tiap hari yang kami lalui bersama.

18 Juli 2011

3:17 PM

  1. Metode Diskusi, adalah proses saling bertukar informasi dan pengalaman, memecahkan masalah yang dilakukan secara aktif oleh dua siswa atau lebih. Diskusi ini dapat diaplikasikan dalam beragam bentuk, seperti: simposium, kolokium, panel, atau debat.
  2. Metode Kerja Kelompok, adalah pembagian siswa ke dalam beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
  3. Metode Discovery (penemuan), adalah pelibatan peserta didik dalam kegiatan mengeksplorasi pengetahuan baru bagi mereka agar mampu belajar secara mandiri
  4. Metode Simulasi, merupakan aktivitas menirukan suatu situasi atau perbuatan tertentu untuk mendapatkan pemahaman informasi kontekstual yang lebih mendalam
  5. Metode Inquiry, adalah cara memecahkan suatu masalah yang dilakukan oleh siswa secara berkelompok dengan melakukan investigasi dan kajian yang serius. Hasil dari pembahasan dalam kelompok selanjutnya dibuat dalam sebuah laporan yang akhirnya akan dipresentasikan dalam diskusi pleno di kelas.
  6. Metode Eksperimen, merupakan percobaan ilmiah yang dilakukan oleh peserta didik untuk mencari dan menemukan sendiri secara langsung tentang berbagai jawaban atas berbagai persoalan ilmiah yang sedang dihadapi.
  7. Metode Demonstrasi, adalah cara mengajar seorang guru atau instruktur dalam rangka menunjukkan atau memperlihatkan suatu proses kepada peserta didik. Hal ini akan memudahkan siswa dalam memahami suatu pengetahuan dengan lebih berkesan dan mendalam
  8. Metode Studi Wisata, merupakan cara mengajar dengan mengajak peserta didik untuk berkunjung ke suatu tempat atau objek di luar sekolah yang relevan atau sesuai dengan tujuan pembelajaran. Diharpkan siswa dapat belajar secara langsung kepada sumbernya.
  9. Metode Sosiodrama dan Bermain Peran (Roll Playing), ialah metode yang mengatur siswa melalui skenario tertentu  untuk mendramatisasi suatu tingkah laku, mimik, serta situasi yang berisi tentang hubungan sosial dan permasalahan sosial.  Skenario yang dibuat tentunya disesuaikan dengan tujuan dan materi ajar.
  10. Metode Drill,  adalah suatu metode mengajar guru yang bertujuan melatih siswa secara intensif agar memiliki kemampuan atau keterampilan yang lebih baik.
  11. Metode Tanya-Jawab, ialah interaksi antara guru dan siswa atau siswa dengan siswa dalam menguatkan pemahaman, pemikiran, dan wawasan terhadap materi pembelajaran. Dalam interaksi ini, bisa siswa yang bertanya dan guru yang menjawab, atau bisa pula sebaliknya.
  12. Metode Pemberian Tugas (Resitasi), merupakan cara guru untuk menambah pengetahuan dengan memberikan beragam tugas. Hal ini biasanya dilakukan ketika jumlah waktu pertemuan tidak mencukupi untuk mengejar materi ajar yang telah direncanakan oleh guru.
  13. Metode Ceramah, merupakan metode yang paling sering dilakukan oleh guru di depan kelas yakni dengan mektifmberikan beragam informasi pelajaran melalui lisan. Walaupun kelemahannya siswa bisa menjadi bosan, namun hal ini cukup efisien untuk menuntaskan semua materi ajar.

 

oleh :

Nursyamsi, S.Pd.

Tanpa terasa telah satu bulan lebih usia pertemuan kita di SGEI 2. Suatu pertemuan yang kita awali dengan sebuah perkenalan singkat di sebuah malam. Sebuah perkenalan yang selalu di akhiri dengan kata-kata favorit dari setiap kita yang memperkenalkan diri. Ada raut nervous tapi bahagia terpancar di wajah kita saat itu, terutama setiap kita yang berasal dari Bogor dan Makassar. Seberapa banyak kadar nervous tapi bahagianya, aku pun tak bisa menafsirkannya.

Apel pagi menjadi rutinitas kita setiap Senin sampai Jum’at. Setelah itu, kita masuk ke kelas SGEI 2. Kelas selalu dimulai dengan ice breaking yang dipimpin oleh setiap kita yang menjadi ketua kelas di hari itu. Lalu, berjubel ilmu kita dapatkan dari pemateri-pemateri handal. Di sesi inilah kita mendengar, melihat, dan memperagakan materi-materi yang di berikan. Bukan itu saja, sebagian dari kita ada yang bersungguh-sungguh meng-eksplore kemampuan yang dimiliki, ada juga yang terlihat diam seribu bahasa, dan masih menyembunyikan potensi yang kita punya. Tepat jam 10.00 WIB, kita selalu break dan menikmati snack. Saat shalat dhuhur telah usai, kita semua berhamburan menuju pantry untuk makan siang. Di akhir pembalajaran, lembar evaluasi tak lupa selalu di edarkan oleh team work SGEI 2.

Di malam harinya, seringkali slot-slot otak kita diisi lagi materi mentoring. Di antara mata–mata kita yang tetap setia terbuka dan fokus terhadap materi, muncul mata-mata sendu yang memberi sinyal bahwa sebagian dari kita telah dilanda rasa kantuk. Sungguh pemandangan yang lucu ketika di dokumentasikan. Ketika malam harus dilalui dengan mengerjakan tugas individu atau kelompok. Cerita di sesi ini selalu kuberi judul kerjasama. Kuberikan judul itu karena semuanya selalu kita kerjakan bersama. Tak pernah ada kata individualisme di sini yang ada kerjasama. Jika beberapa orang dari kita mendapatkan kesulitan mengerjakan tugas, maka yang lain siap untuk membantu. Lain lagi ceritanya, jika malam berlalu tanpa ada tugas atau pun mentoring. Malam semau gue akan jadi acara yang mengasyikkan, khususnya beberapa dari kita yang menghuni paviliun empat. Online, nonton film, tidur di awal malam, sharing adalah menu pilihan acara malam semau gue.

Di hari Sabtu dan Minggu, kita biasanya outdoor. Kita pernah refreshing sambil belajar di kebun Raya Bogor, belajar bersama Imam Prasojo di kediamannya, mengikuti seminar di Hotel Maharani Jakarta, mengunjungi museum peta, melakukan challenge dengan rute yang telah di tentukan, dan outbond di lapangan sepakbola LPI. Bukan itu saja, sebagian dari kita sering pergi ke Pasar Parung, ada yang ke IPB, dan ada yang ke Monas. Outdoor selalu menyisakkan kebahagiaan dalam kelelahan.

Seminggu lagi rutinitas kita akan berubah kawan. Kita yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia ini akan magang di sekolah dalam daerah yang berbeda. Sebagian dari kita tentu tak lagi tinggal di LPI. Tentu akan lebih banyak kisah yang kan tertulis dalam catatan kehidupan kita.

Bagi sebagian dari kita yang tak lagi tinggal di LPI, mau tak mau adaptasi menjadi hal yang kan kita lakukan lagi. Namun aku selalu percaya bahwa kita akan mampu melewatinya. Tantangan-tantangan yang kan kita temui di tempat magang nanti akan menjadi hal yang mendewasakan kita, menjadi kan kita pribadi yang tegar, dan Insya Allah lebih peka dengan kondisi orang lain.

Keberadaan kita di tempat ini adalah hal yang sangat patut untuk disyukuri. Kebersamaan yang kita bangun adalah kebersamaan yang patut dicatat sebagai kenangan. Begitu banyak ilmu dan pengalaman yang kita peroleh di sini kawan, hingga jika aku harus mengibaratkannya sebagai lukisan maka warna hitam putih tak akan pernah cukup untuk mewakilinya.

Kuharap cerita tentang kita tak akan berakhir hanya sampai di magang. Kuharap Allah selalu menetapkan kita dalam kebersamaan di mana tali persaudaraan kan tetap terjalin.


Laman Berikutnya »