Artikel


oleh: Surya Hanafi

Siapa yang tidak butuh pendidikan? Sepertinya di zaman modern ini semua orang memerlukan pendidikan. Pengamen jalanan yang masih belia, yang seharusnya menikmati masa kecilnya, jika ditanya “apa mau sekolah?”,jawabnya pasti “mau”. Bahkan ada cerita yang mengisahkan keyakinan seorang ibu yang tidak pernah mengenyam pendidikan untuk tetap dan gigih menyekolahkan anakanaknya walaupun, seperti biasa, terkendala masalah biaya. Jadi agaknya akan sulit jika kita bertanya pada orang waras di zaman ini “apakah anda tidak butuh pendidikan?”, dan dia menjawab “tidak”.

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, disamping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.

Pendidikan akhir-akhir ini memiliki kemajuan pesat di penjuru dunia. Pendidikan semakin hari semakin maju. Pendidikan dapat diakses langsung maupun tidak langsung, dengan jarak yang sangat jauh. Pendidikan di era modern memang berdampak dalam berbagai aspek kehidupan. Namun di negara kita tercinta ini pendidikan terus menuai kontroversi dan permasalahan. Pendidikan formal terbukti belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pengangguran terdidik terjadi dimana-mana. Hal inilah yang membuat proses belajar mengajar harus dikembangkan.

Beban kurikulum yang terlampau banyak katanya menjadikan guru harus berpikir keras supaya semua materi dapat tersampaikan dalam waktu yang tersedia, tanpa mengorbankan pemahaman anak didik. Banyak fakta terlihat guru “mendangkalkan” ilmu, dengan alasan jika memaksakan “lebih dalam” konsekuensinya adalah waktu tidak akan cukup. Dan sepertinya gejala ini dialami oleh banyak rekan kita yang berprofesi sebagai guru, walaupun hal tersebut tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Hal tersebut hanya suatu fatamorgana dan kekhawatiran saja, namun bisa jadi kedepannya jika terus seperti ini, maka orang-orang Indonesia adalah orangorang yang berpengetahuan luas tetapi pengetahuannya dangkal. Padahal dalam era globalisasi justru diperlukan orang-orang yang expert dalam satu bidang tertentu, syukur-syukur bisa expert di dua bidang sekaligus.

Selama tiga dasawarsa terakhir, dunia pendidikan Indonesia secara kuantitatif telah berkembang sangat cepat. Pada tahun 1965 jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 53.233 dengan jumlah murid dan guru sebesar 11.577.943 dan 274.545 telah meningkat pesat menjadi 150.921 SD dan 25.667.578 murid serta 1.158.004 guru (Pusat Informatika, Balitbang Depdikbud, 1999).

Jadi dalam waktu sekitar 30 tahun jumlah SD naik sekitar 300%. Sudah barang tentuperkembangan pendidikan tersebut patut disyukuri. Namun sayangnya, perkembangan pendidikan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan yang sepadan. Akibatnya, muncul berbagai ketimpangan pendidikan di tengah-tengah masyarakat, termasuk yang sangat menonjol adalah ketimpangan antara kualitas output pendidikan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan serta ketimpangan kualitas pendidikan antar desa dan kota, antar Jawa dan luar Jawa, antar pendudukkaya dan penduduk miskin.

Di samping itu, di dunia pendidikan juga muncul dua problem lain yang tidak dapat dipisah dari problem pendidikan yang telah disebutkan di atas, (1) Pendidikan cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial. (2) Pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer kepada peserta didik apa yang disebut the dead knowledge, yakni pengetahuan yang terlalu bersifat text-book saja sehingga pengetahuan seperti dipisahkan dari akar sumbernya maupun aplikasinya.

Berbagai upaya pembaharuan pendidikan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi sejauh ini belum menampakkan hasil yang signifikan. Mengapa kebijakan pembaharuan pendidikan di tanah air kita dapat dikatakan senantiasa gagal dalam menjawab problem masyarakat? Sesungguhnya kegagalan tersebut bukan semata-mata terletak pada bentuk pembaharuan pendidikannya sendiri yang bersifat erratic, tambal sulam, melainkan lebih mendasar lagi kegagalan tersebut dikarenakan ketergantungan penentu kebijakan pendidikan pada penjelasan paradigma peranan pendidikan dalam perubahan sosial yang sudah usang. Ketergantungan ini menyebabkan adanya harapan-harapan yang tidak realistis dan tidak tepat terhadap efikasi pendidikan.

Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan. Mempertimbangkan dan mempersiapkan pendidikan anak-anak sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak bagaikan sebuah kertas putih kosong yang tidak bernoda sedikitpun, tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya.

Tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai dengan implementasi secara maksimal. Empat pilar pendidikan yang harus dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) Learning To Know (belajar untuk mengetahui), (2) Learning To Do (belajar untuk melakukan sesuatu), (3) Learning To Live Together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama), dan (4) Learning To Be (belajar untuk menjadi seseorang).

Learning To Know (Belajar untuk mengetahui). Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).

Mengimplementasikan “Learning To Know” (belajar untuk mengetahui), guru seyogyanya dan sejatinya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu. Guru dituntut menciptakan suasana yang membangkitkan peserta didik untuk terlibat lebih aktif menemukan, mengolah, dan membentuk pengetahuan atau keterampilan baru. Siswa merupakan subyek belajar (bukan objek belajar) sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.

Learning To Do (belajar untuk melakukan sesuatu/ berkarya). Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan penerapan pembelajaran inovatif, yang dilakukan dengan cara mengakomodir setiap karakteristik dari masing-masing siswa, karena siswa memiliki perbedaan dalam kemampuan belajar.

Pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari daerah tempat dilangsungkan pendidikan. Unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Muatan lokal yang dimaksud diarahkan kepada keterampilan yang mengutamakan kearifan lokal, karena keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan dari pada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang.

Learning To Live Together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomunikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok, dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama).

Learning To BeLearning To Be (belajar untuk menjadi seseorang/belajar bertumbuh kembang). Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individuindividu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.

“Learning To Be” (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran guru adalah sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal. Dalam proses belajar, sesuatu harus dilakukan dengan senang hati. Belajar akan efektif, bila dilakukan dalam suasana menyenangkan. Namun, kenyataan yang ada adalah, semakin dewasa seseorang, sekolah ternyata menciptakan sebuah sistem dan situasi belajar tidak menyenangkan.

Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral

manusia Indonesia pada umumnya. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian, diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era globalisasi ini. Semoga 2011 menjadi awal kebangkitan dan perubahan dalam dunia pendidikan Indonesia, dengan guru menjadi ujung tombak dan agen perubahan terdepan tentunya dengan peran serta dari seluruh komponen masyarakat dan pemerintah Indonesia.

Untuk memwujudkan empat pilar pendidikan yang kuat dan kokoh tersebut diatas, khususnya di daerah beranda (daerah perbatasan langsung dengan negara tetangga), Makmal Pendidikan, Dompet Dhuafa telah turut serta mengambil bagian memberikan warna dan mengawal proses bagi peningkatan kualitas pendidikan di daerah beranda Indonesia salah satunya adalah di Kepulaun Talaud, sebuah kabupaten kepulauan di Propinsi Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan negara Philipina. Program tersebut berupa program Pendampingan Sekolah, sebagai sebuah wujud kepedulian akan kualitas pendidikan Indonesia.

Melalui program pendampingan sekolah “Sekolah Beranda”ini Makmal Pendidikan memfasilitasi guru sebagai ujung tombak utama pendidikan Indonesia untuk senantiasa mengoptimalkan potensi terkait profesi yang diembannya, denganprogram training triwulanan.

Salah satu tema training adalah bertajuk Shifting Education Paradigm, training dengan materi yang dapat menyadarkan guru bahwa pikiran yang positif akan profesinya sebagai guru, profesionalisme, dan kreativitas hendaknya mampu dirangkai menjadi satu kesatuanyang utuh dan kokoh sehingga dapat menjadi modal yang kuat dan besar untuk memfasilitasi lahirnya generasi muda Indonesia yang berkualitas. Pemberian training triwulanan tersebut tidak hanya berhenti sampai tataran teori dan dalam ruang seminar atau training seperti yang umumnya terjadi, tetapi akan langsung diimplementasikan dalam kegiatan guru sehari-hari dengan bantuan dan bimbingan dari pendamping sekolah.

Implementasi program pendampingan sekolah beranda ini, Insya Allah akan dapat mewujudkan empat pilar pendidikan yang kokoh, yang pada gilirannya nanti kualitas pendidikan di beranda negeriku (kepulauan Talaud) akan bisa berdiri sejajar dengan daerah lain di Indonesia khususnya pulau Jawa, seperti indah dan kokohnya pemandangan pohon kelapa yang berdiri berjajar rapih disepanjang sisi landasan pacu Bandara Melonguane (kepulauan Talaud) yang memberikan ucapan selamat datang yang sangat ramah ketika tim Makmal Pendidikan, Dompet Dhuafa pertama kali mendarat di beranda utara negeri Indonesia tercinta.

Iklan

Oleh: Hani Karno (Pendamping Sekolah Makmal Pendidikan)

Mengapa Membaca ?

Membaca dan Kultur Masyarakat

Gerakan #SemaiBukuNusantara

Membaca masih merupakan jenis kata kerja yang kurang begitu populer, tidak saja bagi masyarakat desa tapi bisa jadi bukan menjadi budaya bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Adagium yang mengatakan bahwa “Seumpama anda sulit memejamkan mata maka membacalah” agaknya memang dilahirkan dari proses

kontemplasi dari kontak masyarakat Indonesia – yang bisa jadi sebagian besar – dengan buku. Untuk masyarakat desa keberadaan buku serupa barang mewah yang hanya menjadi simbol bagi kelas intelektual semata. Warga masyarakat secara keseluruhan sering kali terjebak pada pemikiran tersebut dan tidak cukup representatif untuk sekedar memegang apalagi membaca. Pandangan yang ini lambat laun mengkristal dan

menjadi identitas budaya masyarakat desa yang umumnya homogen. Berbeda dengan masyarakat kota yang cenderung lebih kompleks dan dinamis masyarakat desa secara sosiologis –umumnya– memiliki waktu yang lebih lama untuk melakukan perubahan atau transformasi budaya, termasuk didalamnya budaya membaca.

Fakta ini disajikan dengan harapan akan tumbuh sebuah kesadaran bersama dari seluruh lapisan yang memiliki kepedulian terhadap kecerdasan anak bangsa bahwa banyak lahan yang masih belum tersentuh.
dipenjarakan pada logika pasar. Apabila tidak ada demand maka tidak ada supply, apabila tidak ada permintaan dari masyarakat maka tidak ada buku dan tidak ada book shop (toko buku).Dalam konteks ini, mengenalkan tunas bangsa pada budaya membaca adalah sebuah tantangan besar karena umumnya anak Indonesia yang lahir di wilayah pedesaan lahir dalam sebuah budaya yang kurang akrab dengan dunia buku. Selain anggapan bahwa buku merupakan representasi kaum intelektual, ada beberapa poin yang menjadi hambatan untuk memasyarakatkan buku diantaranya adalah: pertama, sulitnya menjumpai toko buku di daerah pedesaan. Merupakan sebuah keprihatinan tersendiri karena buku masih

Tentunya sulit untuk membebani sektor swasta untuk menjawab tantangan tadi, kembali lagi peran-peran ini harus diambil alih oleh pemerintah. Karena hal ini juga merupakan amanah dari UUD 1945 yaitu untuk

mencerdaskan kehidupan bangsa. Hendaknya pemerintah atau sektor swasta –jika ada– mampu menjemput bola, bertindak aktif bahkan agresif untuk- membuat sebuah mekanisme yang benar-benar implementatif untuk membudayakan membaca. Kedua, memaksimalkan fungsi sekolah dalam mengenalkan siswa pada dunia buku. Mengenalkan siswa pada dunia buku atau tulis menulis tentu harus dimulai dari guru sebagai role 

model. Guru diharapkan menjadi ujung tombak yang mampu mengenalkan dunia melalui buku dengan aneka metode yang menyenangkan sehingga membaca menjadi semacam rekreasi imajinatif bagi siswa untuk mengenalkan siswa bahwa dunia itu luas dengan berjuta ragam budaya.

Menjadikan guru sebagai ujung tombak fasilitator memassifkan dunia membaca tentu tentu secara langsung
ndasar adalah pengerjaan karya akhir ilmiah (skripsi atau PTK) dengan mengupah orang lain. Hal seperti ini secara langsung atau tidak menjadi sebuah batu sandungan bagi pemassifan kultur membaca.mengandung amanat bahwa guru sendiri harus memiliki kecakapan dalam dunia baca dan literasi. Stimulan dari pemerintah untuk membudayakan dunia literasi secara substantif kepada guru, dunia kepenulisan yang secara langsung atau tidak akan menyinggungkan pada dunia membaca. Tentunya yang dimaksud disini adalah karya tulis asli, karena dilapangan tidak sedikit guru yang terjebak pada dunia perjokian. Contoh yang paling me

Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa dan Dunia Membaca

Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa melalui programnya mencoba berperan aktif dalam mengenalkan dunia melaui buku dengan menghadirkan aneka buku bacaan yang atraktif di ruang kelas bertajuk Ceruk Ilmu (karena rak buku disimpan dipojok -ceruk- kelas). Program Ceruk Ilmu ini dipantau langsung oleh guru-guru yang sebelumnya mendapatkan pelatihan selama dua hari. Salah satu materi yang disampaikan pada pelatihan tersebut adalah strategi membaca. Guru diberikan trik-trik agar siswa bisa benar-benar memahami apa yang dia baca, upaya minimal yang dilakukan Makmal Pendidikan diharapkan bisa menstimulan para guru untuk bersama-sama mendekatkan anak pada dunia buku. Sebenarnya dilapangan, upaya ini layaknya sebuah loncatan karena pada kenyataannya tidak sedikit pula guru yang masih menjadikan buku sebagai teman insomnia mereka ketika beranjak ke peraduan.

Adalah sebuah suka cita bagi kami melihat binar mata siswa demi melihat tumpukan buku bergambar. Tumpukan buku yang mempesona mereka sehingga ketika pertama mereka mendekat ke Ceruk Ilmu, dengan kerut di dahi dan mulut berkomat-kamit sambil memilah-milah judul buku untuk kemudian dibukanya lembar demi lembar. Setelahnya kita bisa melihat raut muka siswa yang berganti-ganti dengan muka bingung, tersenyum, tertawa, atau tidak jarang diikuti gerakan-gerakan tubuh yang spontan sebagai respon dari apa yang mereka baca. Sebuah pemandangan yang luar biasa mahal demi melihat siswa membuka buku dalam setiap lembarnya, mengenalkan dunia langsung ke dalam tangan mereka.

Oleh : Hani Karno

Pendamping Sekolah Makmal Dompet Dhuafa

  • SDN 04 Ceruk, Kab. Natuna  Prov Kepulauan Riau ( 2010 – 2011 )
  • SDN 060932 Bangun Mulia – Medan Amplas ( 2011 – 2012 )

Menjadi guru adalah menjadi orang yang mencintai hidup dan kehidupan, matang secara emosi, memiliki kapasitas moral yang baik, memahami value dari penciptaan manusia, dan senantiasa selalu bisa memberikan energi positif bagi orang sekitarnya terutama bagi peserta didik. Disadari atau tidak peran guru tentu bukan perkara enteng yang bisa di upgrade selama 4 tahun ketika si guru sudah selesai memenuhi tuntutan profesionalisme dengan menyelesaikan masa studi S-1 nya.

Dunia pendidikan memang tengah ber-euforia dengan wacana kesejahteraan, upaya pemerintah untuk memberikan perhatian pada kesejahteraan guru idealnya disikapi dengan penuh tanggung jawab oleh si “objek kebijakan” – Guru. Perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru didasari oleh keinginan akan revitalisasi kualitas pendidikan di Indonesia, diharapkan kualitas pendidikan Indonesia berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan pada guru sebagai ujung tombak pendidikan. Dengan peningkatan gaji yang -relatif- meningkat diharapkan para guru bisa lebih fokus dalam mengajar, mendidik, dan membina peserta didik.

Tanpa bemaksud untuk bersikap sinis, dilapangan ada sedikit pergeseran budaya para guru  yang mudah-mudahan sifatnya hanya di permukaan, dahulu membicarakan masalah finansial menjadi hal yang tabu apalagi  di area publik akan tetapi sekarang topik finansial menjadi topik pokok  untuk dibicarakan dalam berbagai kesempatan. Berlepas dari keinginan untuk menghakimi perilaku guru, akan tetapi lebih kepada upaya untuk mengembalikan keluhuran profesi guru,   guru kembali menghayati landasan filosofis profesi yang disandangnya. Bahwa dia mempunyai tanggung jawab untuk membentuk karakter anak bangsa, menjadi pendidik, pembimbing, dan pembina oleh karena itu guru dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas dirinya – proses belajar seumur hidup dan tidak berhenti disatu titik apalagi terjebak pada masalah finansial an sich.

Berbicara dengan pendekatan pembangunan kesadaran memang bukan sebuah upaya yang mudah, tidak bisa dilakukan dengan instant. Sejatinya, pendidik -Guru- mulai bersikap proporsional dan tetap bijak dalam menyikapi wacana kesejahteraan ini. Mereka diharapkan tetap mampu menjiwai profesinya dan tetap bisa berpegang teguh terhadap inti dari pendidikan hal ini untuk mencegah para guru dari situasi terasing dari profesinya. Melulu berbicara tentang masalah Finansial hanya akan membuat sang guru tercerabut dari identitas keguruannya. Ketika dia terbuai dengan persoalan finansial maka dengan sendirinya dia sedang membukakan pintu keterasingan. Dimulai dengan perasaan bosan dan perasaan bahwa menjadi guru hanya sebuah  pekerjaan rutin  yang tidak terlalu membutuhkan pemikiran dan perlakuan lebih.Menjadi guru adalah kegiatan harian dari jam 07.00 sampai dengan jam 12.30 yang dimulai dengan ucapan salam kepada anak-anak,  dan diakhiri dengan do’a penutup belajar saja.

Sang guru – idealnya- memiliki waktu yang sengaja diluangkan untuk berkontemplasi (bermuhasabah, berfikir lebih lanjut dan dalam ) tentang kegiatan yang dia lakukan di setiap harinya.  Berkontemplasi tentang bagaimana proses Kegiatan Belajar Mengajarnya hari ini, berkontemplasi tentang bagaimana perkembangan si Ali, Si Sahla, Si Hamka, dan peserta didik lainnya, berkontemplasi tentang apa matanya sudah cukup berbinar ketika menatap mata peserta didik, berkontemplasi apa dia sudah mampu memberikan energi pisitif kepada peserta didik dengan sentuhannya, berkontemplasi apa dia sudah mampu mengidentidfikasi bahwa si Veni adalah istimewa dengan kemampuan otak kirinya, Si Jihan istimewa dengan kemampuan Agitasinya, Si Rian istimewa dengan kemampuan fisiknya…dan apa yang bisa dia –guru- lakukan untuk mengembangkan benih –siswa- yang tengah dia genggam sehingga benih itu  tidak hanya mampu berbunga tapi juga mampu berbuah lebat.

Ketika kesadaran akan betapa berat beban yang disandangnya apa bisa sang guru tetap melaju dengan kecepatan konstan, apa bisa sang guru hanya berkeluh kesah  ketika disetiap harinya dia dituntut untuk mencurahkan sedikit waktunya untuk  membuat sebuah rencana pembelajaran yang efektif bagi peserta didik. Meluangkan waktunya untuk berfikir ekstra tentang metode yang akan di pakai untuk memenuhi standard kompetisi yang ingin dicapai. Dengan kesadaran tentang tanggung jawab profesi apa mungkin si Guru akan tetap berjibaku dengan obrolan-obrolan pasar seputar gosip selebriti yang tak pernah putus tanpa mampu mengkontekskannya dalam pendidikan dan pendidikan moral. Menjadi guru adalah menjadi individu yang faham akan konteks realitas yang ada di masyarakat dan menyajikannya secara edukatif kepada siswa. Sehingga dia menjadi fasilitator yang membidani lahirnya tunas bangsa yang memiliki kematangan intelegensi, emosi, dan spiritual. Dengan kesungguhan InsyaAlloh hal itu bukan barang Utopis untuk diwujudkan.

Tulisan ini dimuat di Harian Waspada (Medan) pada 30 Juni 2012

 

 

 

Asep Sapa’at

Trainer Pendidikan

Lembaga Pengembangan Insani

Dompet Dhuafa

“Intellegence plus character… that is goal of true education”

–Martin Luther King—

Karakter. Meski sering orang menyebutnya, tapi mungkin tak semua paham maknanya. Kata karakter berasal dari character (Inggris), artinya watak. Kata ini menjadi semakin populer setelah Mendiknas RI mencanangkan pendidikan berbasis karakter pada saat peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Mengapa pendidikan karakter baru dicanangkan saat ini?

Watak tak lain adalah perilaku. Ada perilaku baik dan ada yang buruk. Yang baik disebut karakter, perilaku buruk dikatakan tabiat. Baik buruk, ternyata itulah perjalanan. Bicara perjalanan adalah bicara proses. Bicara proses adalah bicara dinamika pembentukan watak seseorang. Yang baik buruknya amat tergantung pada latar keluarga, pengaruh lingkungan, serta tuntunan nilai dan norma adat tradisi, kepercayaan, dan agama (Eri Sudewo, Character Buliding).

Bicara karakter, maka kita bicara proses latihan, pembiasaan, dan keteladanan. Pendidikan, jelas memegang peranan penting dalam hal ini. Mari berkaca pada sistem pendidikan militer. Karakter disiplin para prajurit, misalnya, tak mungkin diraih hanya dalam latihan semalam suntuk. Setiap saat mereka bergumul dengan hal itu. Wajar, pada akhirnya, disiplin jadi identitas diri para prajurit.

Dalam buku “Mengenang Bung Hatta”, I Wangsa Widjaja mengutip tulisan Bung Hatta (1954) tentang karakter. Bahwa seseorang boleh jadi jenius atau berbakat, tetapi tidak mempunyai karakter. Tak punya karakter artinya sama dengan tidak mempunyai kemauan untuk membela bangsanya. Jika seseorang jenius, mungkin kehebatannya hanya cukup dinikmati dirinya sendiri. Namun, bagi seseorang yang berkarakter, manfaat bagi sesama adalah fokus utamanya. Orang jenius tak berkarakter, mungkin sangat berbahaya. Saking berbahayanya, aset negara bisa jadi tak ragu untuk dijual. Saking jeniusnya, segala cara bisa dilakukan untuk ‘membodohi’ orang lain. Hidupnya celaka dan mencelakakan. Hal ini bisa terjadi karena salah sistem yang menghancurkan karakter seseorang. Sebab itu, mendidik karakter adalah hal yang patut diusahakan sungguh-sungguh. Lalu, apa yang bisa dilakukan sekolah untuk membangun karakter warganya? Lantas, apa untungnya jika sekolah terlibat dalam praktik penerapan karakter?

Dr. Marvin Berkowitz dalam salah satu artikelnya, “Understanding Effective Character Education”, menyatakan bahwa ada banyak manfaat jika sekolah menerapkan pendidikan karakter, di antaranya dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa, kecerdasan emosi siswa, serta memperbaiki keterampilan siswa dalam memecahkan masalah hidup mereka. The Leader in Me (2008), buku terjemahan yang berkisah tentang praktik penerapan The 7 Habits of Highly Effective People di sekolah-sekolah di beberapa negara, bisa dijadikan rujukan penerapan karakter di sekolah.

Sulit dibayangkan, seorang Walter Vozzo, siswa kelas lima di sekolah A. B. Combs, mampu berpidato dengan tenang dan percaya diri dihadapan 700 orang di sebuah ruangan olahraga. Hal ini bisa terjadi karena Vozzo dan teman-teman sekelasnya sudah dilatih untuk berbicara di depan kelas, di setiap awal memulai pelajaran sekolah. Aktivitas ini pun sudah dirancang secara sistematis dan berkelanjutan oleh pihak sekolah. Buah dari proses pembiasaan tersistematis, menghasilkan siswa yang percaya diri sekaligus mampu menguasai kemampuan public speaking. Masih di A. B. Combs, sekolah mengembangkan budaya kepemimpinan (leadership) di kalangan siswa. Setiap tahun, para ketua kelas dipilih oleh rekan-rekannya untuk melakukan temu wicara dan diskusi dengan kepala sekolah, khusus untuk memberikan masukan dalam upaya pengembangan sekolah. Ada juga siswa yang memiliki reputasi sebagai pewawancara paling cerdas dan tajam, diberi kepercayaan penuh untuk menjadi pewawancara dalam seleksi guru baru di sekolah mereka. Karena biasanya, dia lebih pandai memilih guru baru yang menyukai anak-anak. Sesuatu yang kadang sulit dinilai orang dewasa. Jika siswa tersebut memutuskan untuk menolak guru baru tersebut, maka pihak sekolah mendukung penuh keputusan itu. Apa mungkin sekolah-sekolah di Indonesia berani mempraktikan hal-hal seperti ini?

Berkaca dari kisah di atas, penerapan karakter hanya akan terwujud jika ada komitmen, partisipasi, proses pembiasaan, dan keteladanan dari pemimpin sekolah. Sulit mengharapkan siswa berkarakter jujur, jika praktik pendidikan sekolah masih berpihak pada ketidakjujuran. Siswa tak pernah bisa disiplin, jika guru dan kepala sekolah masih setia pada jam karet. Tak ada pembiasaan dan keteladanan, maka takkan pernah ada karakter. Lebih jauh lagi, kita bisa mengatakan, karakter tak cukup diajarkan sebatas pengetahuan. Di sekolah kita sudah ada pelajaran PPKN, mengapa tawuran pelajaran masih marak di jalanan? Pelajaran agama sudah dikonsumsi sejak di bangku SD, mengapa narkoba dan seks bebas jadi pilihan sebagian pelajar kita? Akhirnya, karakter hanyalah isap jempol saja jika pendidikan bangsa ini dibangun atas dasar prinsip Tut Wuri Nggerogoti (Di Belakang Mengegerogoti), Ing Madya Ngangkut Banda (Di Tengah Mengangkut Harta), Ing Ngarsa Terus Ngapusi (Di Depan Selalu Menipu). Apalagi jika prinsip ini fasih dipraktikkan para pemimpin kita. Akan jadi apa bangsa kita ini?

BANGKIT GURUKU BANGKIT BANGSAKU[1]

Penulis

Asep Sapa’at

Anggota Perhimpunan Peneliti & Pengembang Pendidikan di Indonesia (P4I),

Trainer Pendidikan di Lembaga Pengembangan Insani

“I touch the future. I teach”
— Christa McAuliffe—

Satu abad silam, terjadilah masa kebangkitan nasional. Kebangkitan nasional berbuah hasil ketika Indonesia meraih kemerdekaan sebagai sebuah bangsa di tahun 1945. Kini, apa makna kebangkitan nasional bagi bangsa kita?

Satu kenyataan tak terbantahkan, beberapa pendiri bangsa ini mengawal kebangkitan nasional dengan menjalankan peran mereka sebagai pendidik. Bung Karno, Bung Hatta, M. Natsir, Ki Hajar Dewantara adalah nama-nama hebat yang menjalani sebagian peran hidupnya sebagai guru. Mereka bukanlah guru yang sekadar menuntaskan target pencapaian kurikulum. Mereka bukan pula tipe guru yang mencari kehidupan dari profesinya, melainkan guru yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan. Guru yang menginspirasi orang-orang di sekitarnya untuk mau mengubah hidupnya agar masa depan mereka menjadi lebih baik.

Sejenak kita berkaca pada pengalaman negeri sakura mengelola pendidikan guru. Jepang, negaranya sempat ambruk karena perang dunia. Hiroshima dan Nagasaki hancur lebur karena ulah sekutu. Kaisar segera berpikir cermat dan bertindak strategis. Mereka segera membangun kejayaan bangsanya kembali lewat pendidikan berkualitas, dan guru adalah agen utama perubahan itu. Konsekuensinya, mereka serius mengelola pendidikan guru sebagai modalitas utama meningkatkan kualitas pendidikan negara Jepang.

Hal itu dapat dilihat dari proses pendidikan guru di Jepang pada saat ini. Guru adalah profesi yang mulia dan ‘dimuliakan’ oleh penguasa negerinya. Setiap orang dari jurusan disiplin pendidikan apa pun boleh menjadi guru, syaratnya lulus tes mengajar. Setelah lulus tes, mereka akan mendapatkan sertifikat mengajar selama 10 tahun. Pada tahun kesatu, ketiga, kelima, dan kesepuluh, para guru akan dites lagi untuk dievaluasi kinerjanya. Pada tahun kesepuluh, guru yang lulus tes akan mendapatkan sertifikat, sedangkan guru yang gagal melalui tes, hak mereka sebagai guru dicabut dan mereka tidak boleh mengajar lagi.

Jika ada hak, maka mesti ada kewajiban. Jika guru dituntut bekerja profesional, maka penguasa negeri sakura pun menyediakan berbagai penghargaan bagi guru. Teaching license akan diberikan kepada guru yang berhasil melalui tes dan berlaku selama 10 tahun. Special license diberikan kepada guru berkemampuan khusus. Pre license akan diberikan kepada guru yang paling profesional. Semua itu melalui proses fit and proper test.

Sungguh sebuah kebijakan cerdas dan visioner. Setiap guru di Jepang sudah paham betul hak dan kewajiban mereka sebagai guru. Tegasnya, semakin profesional kiprah mereka, semakin sejahtera hidup mereka. Makna tersirat lainnya, mereka harus bersungguh-sungguh meningkatkan kapasitas profesionalisme mereka, karena jika tidak demikian, suatu saat hak mereka akan dicabut dan tak boleh mengajar lagi.

Lain di Jepang, lain pula di Indonesia. Kebijakan sertifikasi guru di Indonesia malah cenderung bersifat blunder. Karena guru tak dipahamkan dulu makna dibalik kebijakan sertifikasi, maka semua tak jelas arah muaranya. Bukti sahihnya, tak sedikit oknum guru yang berbuat culas demi selembar sertifikat. Maksud hati meningkatkan citra profesi guru, yang terjadi malah memperburuk wajah profesi guru di mata publik. Apakah guru pemegang sertifikat pasti dijamin profesional? Perubahan seperti apa yang akan dilakukannya di sekolah?

Dari perspektif kebijakan pemerintah, biaya pengembangan profesionalisme guru adalah investasi. Pemerintah harus mau dan mampu menyediakan anggaran untuk kebutuhan pengembangan profesionalisme guru. Tak ada biaya berarti tanda pemerintah tak serius menata kualitas profesi guru. Jika kualitas profesi guru terabaikan, maka tunggulah masa-masa kehancuran.

Bagi guru, inilah tantangan sebenarnya menjadi pendidik sejati. Jangan jadikan kebijakan pemerintah yang belum pro-guru sebagai alasan untuk berhenti berkarya. Dalam konteks kekinian, makna kebangkitan bagi guru hakikatnya adalah berhenti menggantungkan diri kepada pemerintah. Profesionalisme adalah harga mati, sebuah penanda bahwa kita adalah guru sejati. Masa depan kita ada di tangan kita. Jika kita tidak terlalu yakin menjalani profesi guru akan membawa kebaikan dalam hidup kita, lebih baik mundur teratur jadi guru. Namun, jika kita tetap yakin, tanpa kebijakan pemerintah yang pro-guru, kita masih dapat berkiprah profesional, tak ada alasan mundur jadi guru.

Guru adalah panggilan jiwa. Kalau pun pemerintah belum berhasil menjadikan guru sebagai profesi mulia, masalah ada pada pemerintah, bukan pada guru. Teruslah mendidik dan menginspirasi siswa-siswi kita, mudah-mudahan kelak mereka akan menjadi pemimpin bangsa yang rajin bersedekah. Sedekahnya adalah kebijakannya yang memberikan kemaslahatan bagi profesi guru. Satu yang tak boleh dilupakan, belajarlah menguasai keterampilan hidup –menulis, meneliti, public speaking, dsb–, dan jadikanlah keterampilan itu sebagai sumber pendapatan. Karena dengan demikian, tugas kita akan sangat sempurna untuk menjadi guru sejati. Bangkitlah Guruku, Bangkitlah Bangsaku…


[1] Pernah dimuat di Harian Radar Bogor, Edisi 17 Mei 2010

Penulis

Asep Sapa’at

Trainer Pendidikan

“By learning you will teach,
by teaching you will understand”

Latin Proverb

Suatu hari, seorang wanita melihat Pablo Picasso—Pelukis Hebat—di pasar. Wanita itu mengambil secarik kertas dan memberikannya kepada Picasso seraya berkata, “Tuan Picasso, saya adalah penggemar Anda. Maukah Anda menggambar sedikit untuk saya?” Picasso dengan gembira memenuhi permintaan itu dan menggambarkan sesuatu di atas secarik kertas tersebut. Sambil tersenyum ia mengembalikan kertas itu sambil berkata, “Nilai kertas ini bisa jutaan dolar lho.” Wanita itu bingung dan berkata, “Tapi Tuan, Anda hanya butuh waktu 30 detik untuk menghasilkan karya ini.” Sambil tertawa Picasso menjawab, “Saya membutuhkan waktu 30 tahun agar dapat menghasilkan mahakarya dalam waktu 30 detik.”

Orang bijak bilang, butuh waktu lama membangun reputasi baik, dan cukup beberapa detik saja untuk menghancurkannya. Terbersit sebuah tanya, “Apakah guru juga perlu waktu lama untuk membangun reputasi sebagai guru profesional?”

Saya sering melihat ada sebagian guru yang kualitas hidupnya tak pernah berubah. Guru ini pastinya sudah menetapkan satu keputusan keliru dalam hidupnya. Saya sering menemukan ada logika tak beres yang ada di benak guru seperti ini. Hidupnya ingin sukses & bahagia, namun perjuangan meraih itu semua tak pernah tuntas dilakoni. Gaji ingin tinggi, tapi kualitas mengajar di bawah standar. Jabatan ingin di atas, tapi masih berpihak pada sikap malas. Tak pernah setia pada ‘proses hidup’, terjebak pada orientasi ‘hasil’ yang sulit diukur tingkat pencapaiannya.

Mengajar 10 tahun, dimaknai kerja setahun dilakukan berulang selama 10 kali. Tak ada inovasi, tak ada semangat membenahi diri, ibarat sedang menggali kubur dalam kejumudan diri. Mengajar hanyalah pemenuhan kewajiban semata. Tak pernah ada upaya untuk mengevaluasi diri, “Sudahkah aku mengajar dengan baik?” Padahal, mengajar adalah cara terbaik bagi guru untuk memberikan teladan kepada siswa tentang makna belajar yang sesungguhnya.

Mengajar itu berarti belajar. Karena mengajar butuh persiapan, guru harus belajar menyiapkan administrasi pembelajaran dengan baik. Karena mengajar butuh kesungguhan hati, maka guru belajar ikhlas dalam memberi. Guru tak mau lagi belajar, berhenti saja mengajar.

Makna belajar tak sesempit sekadar membaca buku. Makna belajar bukanlah duduk manis di atas bangku, diceramahi guru, dan jadi tak mampu melakukan sesuatu. Nilai hebat & ranking kelas bukanlah tolak ukur seorang siswa sudah belajar. Jika ada dokter tahu bahaya rokok, lalu dia doyan merokok, ini dokter yang tak pernah belajar. Jika kita paham bahaya minuman keras dan narkoba, lalu kita tetap mengkonsumsinya, benarkah kita sudah belajar? Makna belajar selalu bisa ditandai oleh adanya perubahan perilaku dari si pembelajar. Perubahan yang akan selalu mendatangkan kebaikan dalam setiap episode hidupnya.

Bagi guru, kata belajar & mengajar mungkin bisa berjuta makna. Tak selamanya makna itu tersurat. Kadang ada makna yang tersirat. Kalau kita tak sempat melakukan sesuatu dalam hidup ini, bisa jadi kita tak bisa mencicipi maknanya. Tegasnya, belajar bukan sekadar mendapatkan ilmu teoretis, namun perlu praktik untuk meraih maknanya. Jika belajar membuat kita jadi paham akan ihwal sesuatu, maka mengajar adalah jalan terbaik untuk menyempurnakan ilmu yang dimiliki. Sungguh beruntung, jika guru mendapatkan kesempatan untuk melakukannya, mengajar untuk belajar.

Sayangnya, hanya sedikit guru yang fasih memahami hal ini. Sesungguhnya, mengajar adalah cara bagi guru untuk terus belajar, mengajar berarti jalan emas untuk menata diri, mengajar itu bisa berarti kesempatan mengukur kualitas diri. Hakikatnya, mengajar adalah puncak tertinggi amalan terbaik seorang guru dalam menyampaikan kebenaran.

Akhirnya, ketika guru dapat memahami makna mengajar untuk belajar, reputasi dan kualitas diri akan diraih dengan sempurna. Tentunya, mengajar bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, melainkan menyampaikan berbagai ilmu teori dengan kecerdasan hati & semangat tuk memberi.

Ada satu catatanmenarik yang tertinggal di tulisan “Pahamkah siswa Anda? Sebuah Kajian Berdasar Understanding by Design (UbD)” (Teachers Guide V.02 Edisi 05.08, hal.46-47). Dalam fokus penjelasan mengenai 6 tampilan indikator pemahaman siswa,
disebutkan oleh penulis (Najelaa Shihab), bahwa memiliki pemahaman diri yang
terwujud dalam bentuk mampu memperlihatkan kesadaran metakognitif, mampu mengenali dirinya baik kebiasaan baik maupun tidak baik, mampu menyadari ketidaktahuannya sehingga terefleksi dalam proses belajar, merupakan bagian penting yang harus dilatihkan kepada siswa agar mendapatkan pemahaman bermakna.

Metakognitif,
satu kata ini yang menarik perhatian sekaligus menggerakkan penulis untuk
mengkaji mengenai apa itu metakognitif, mengapa metakognitif penting, dan
bagaimana cara menerapkan metakognitif dalam situasi pembelajaran.

Apa itu Metakognitif?

Metacognitionis an important concept in cognitive theory. It consists of two basic processes occurring simultaneously, monitoring your progress as you learn, and making
changes and adapting
your strategies if you perceive you are not doing so
well. (Winn, W. &Snyder, D., 1998) It’s about self-reflection, self-responsibility and
initiative, as well as goal setting and time management.

“Metacognitive skills includetaking conscious control of learning, planning and selecting strategies, monitoring the progress of learning, correcting errors, analyzing the
effectiveness of learning strategies, and changing learning behaviors and
strategies when necessary.” (Ridley, D.S.,Schutz, P.A., Glanz, R.S. & Weinstein, C.E., 1992)

Intinya, metakognitif adalah kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Dalam konteks pembelajaran, siswa mengetahui bagaimana untuk belajar, mengetahui kemampuan dan modalitas belajar yang dimiliki, dan mengetahui strategi belajar terbaik untuk belajar efektif.

Strategi Metakognitif untuk Kesuksesan Belajar

Untuk mendapatkan kesuksesan belajar yang luar biasa, guru harus melatih siswa untuk merancang apa yang hendak dipelajari, memantau kemajuan belajar siswa, dan menilai apa yang telah dipelajari. Ada 3 strategi metakognitif yang dapat dikembangkan untuk meraih kesuksesan belajar siswa, diantaranya:


Tahap proses sadar belajar, meliputi proses
untuk menetapkan tujuan belajar, mempertimbangkan sumber belajar yang akan dan dapat diakses (contoh: menggunakan buku teks, mencari buku sumber di perpustakaan, mengakses internet di lab. komputer, atau belajar di tempat sunyi), menentukan bagaimana kinerja terbaik siswa akan dievaluasi, mempertimbangkan tingkat motivasi belajar, menentukan tingkat kesulitan belajar siswa.

Tahap merencanakan belajar, meliputi proses memperkirakan waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas belajar, merencanakan waktu belajar dalam bentuk jadwal serta menentukan skala prioritas dalam belajar, mengorganisasikan materi pelajaran, mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk belajar dengan menggunakan berbagai strategi belajar (outlining, mind mapping, speed reading, dan strategi belajar lainnya).

Tahap monitoring dan refleksi belajar, meliputi proses merefleksikan proses belajar, memantau proses belajar melalui pertanyaan dan tes diri (self-testing, seperti mengajukan pertanyaan, apakah materi ini bermakna dan bermanfaat bagi saya?, bagaimana pengetahuan pada materi ini dapat saya kuasai?, mengapa saya mudah/sukar menguasai materi ini?), menjaga konsentrasi dan motivasi tinggi dalam belajar.

Dalam praktik mengajar di kelas, guru direkomendasikan untuk memberikan kesempatan luas kepada siswa untuk saling berdiskusi dan bertukar ide-pengalaman dalam belajar. Harapannya, setiap individu siswa dapat menilai kemampuan diri mereka masing-masing dalam belajar, setiap siswa dapat menentukan kesuksesan belajar dengan menggunakan gaya belajar mereka sendiri, dan yang paling penting, setiap siswa dapat belajar
efektif dengan memberdayakan modalitas belajar dirinya sendiri yang unik dan tak terbandingkan.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan, catat setiap pengalaman belajar yang siswa kerjakan. Siswa perlu dibiasakan membuat jurnal harian dari setiap pengalaman belajar yang dialaminya. Jurnal ini akan sangat membantu siswa dalam menterjemahkan setiap pikiran dan sikap mereka dalam berbagai bentuk (simbol, grafik, gambar, cerita), melihat kembali persepsi awal mereka tentang sesuatu dan membandingkannya dengan keputusan baru yang mereka buat, menjelaskan proses pemikiran mereka tentang strategi dan cara membuat keputusan dalam kegiatan pembelajaran, mereka akan mengenal pasti kelemahan dalam pilihan sikap yang diambil dan mengingat kembali kesulitan dan keberhasilan mereka dalam belajar.

Mengapa Strategi Metakognitif itu Penting?

Ketika siswa mampu merancang, memantau, dan merefleksikan proses belajar mereka secara sadar, pada hakikatnya, mereka akan menjadi lebih percaya diri dan lebih mandiri dalam belajar. Kemandirian belajar merupakan sebuah kepemilikan pribadi bagi siswa untuk meneruskan perjalanan panjang mereka dalam memenuhi kebutuhan intelektual
dan menemukan dunia informasi tak terbatas. Tugas pendidik adalah
menumbuhkembangkan kemampuan metakognitif seluruh siswa sebagai seorang
pembelajar, tanpa kecuali.

Aplikasi Strategi Metakognitif dalam Menghadapi Ujian
Sekolah (Sebuah Contoh Kasus)

Apa yang harus dilakukan siswa ketika mereka akan menghadapi ujian di
sekolahnya? Kecemasan berlebihan yang berujung pada pilihan sikap siswa untuk
melakukan tindakan tidak fair (mencontek) adalah masalah mendasar terkait refleksi
diri, inisiatif dan tanggung jawab diri, perencanaan target diri (goal setting), dan manajemen waktu.

Apa manfaat yang bisa saya dapatkan dari kegiatan ujian sekolah? Apa tujuan
saya mengikuti ujian di sekolah? Apakah hanya sekadar mengikuti ujian dan
mendapatkan nilai sekadarnya pula? Ataukah, saya punya motivasi untuk
mendapatkan nilai terbaik dari usaha terbaik yang dapat dilakukan? Jika jawaban
mendasar telah ditemukan siswa untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tadi, maka
pada hakikatnya siswa sudah melakukan proses refleksi diri dan penentuan target
hasil belajar mereka. Inilah langkah awal yang baik untuk meraih keberhasilan
genilang dalam mengikuti ujian sekolah.

Ketika guru menentukan topik tertentu untuk diujikan, maka siswa bertanya
pada diri mereka terkait hal-hal, ”Pengetahuan mana yang telah dan belum saya
kuasai?; Mengapa saya tidak menguasai materi pada topik ini?; Bagaimana cara
saya menguasai topik materi ujian yang belum dikuasai?; Soal-soal seperti apa
yang mungkin akan guru saya ujikan nanti?” Dalam konteks ini, siswa sedang
mengalami proses untuk mengambil inisiatif dalam menilai pemahaman mereka
terhadap topik materi yang akan diujikan. Mereka berinisiatif untuk menyiapkan
diri dalam upaya merealisasikan pencapaian target yang telah mereka ikrarkan.

”Strategi belajar seperti apa yang harus saya pilih agar hasil ujiannya
dapat sesuai harapan?; Apakah saya lebih merasa enjoy belajar dengan
menggunakan teknik menghafal?; Saya merasa lebih dapat memahami materi dengan
cara mind-mapping, apakah cara mind-mapping cukup tepat untuk saya
gunakan pada saat ini dalam menghadapi ujian sekolah?” Pada situasi ini, siswa
memilih strategi belajar terbaik mereka untuk dapat mencapai target dalam
mengikuti ujian sekolah. Semakin tahu mereka akan modalitas belajar mereka,
semakin paham mereka terhadap konsekuensi-konsekuensi dari pilihan strategi
belajar yang mereka putuskan, maka peluang siswa untuk mendapatkan hasil ujian
sesuai harapan mereka akan semakin besar untuk dapat diwujudkan.

Manajemen waktu, masalah mendasar bagi semua orang, tak terkecuali bagi
seorang siswa yang akan menghadapi ujian sekolah. ”Berapa banyak waktu yang
harus saya luangkan untuk mempelajari lebih dalam topik materi yang hendak
diujikan?; Saya merasa lebih menikmati belajar antara jam 4 – 5 pagi, apakah
ini ’jam biologis belajar’ saya?”

Strategi metakognitif menyampaikan satu pesan khusus bagi siapa pun yang
ingin menjalani hidup secara efektif, bahwasanya kenyataan hidup yang terjadi
pada saat ini adalah akibat dari pilihan-pilihan hidup kita di masa lampau.
Hari ini kita jadi orang sukses, hari ini kita jadi orang gagal, bahkan hari
ini sekalipun kita jadi orang bingung dengan kelebihan dan kekurangan diri kita,
maka hal itu diakibatkan oleh lemahnya diri kita dalam merancang kehidupan
kita, memantau kualitas perkembangan kehidupan kita, menilai kesuksesan hidup
kita, serta mengubah sikap hidup kita jika perlu untuk mencapai level kualitas
hidup yang lebih baik. Inspirasi utama ini sebenarnya yang perlu ditanamkan
kepada siswa kita agar menjadi seorang pembelajar mandiri dan pemecah masalah
kehidupan yang handal.(Asep Sapa’at/Trainer Makmal Pendidikan)

Laman Berikutnya »