Agustus 2012


oleh: Surya Hanafi

Siapa yang tidak butuh pendidikan? Sepertinya di zaman modern ini semua orang memerlukan pendidikan. Pengamen jalanan yang masih belia, yang seharusnya menikmati masa kecilnya, jika ditanya “apa mau sekolah?”,jawabnya pasti “mau”. Bahkan ada cerita yang mengisahkan keyakinan seorang ibu yang tidak pernah mengenyam pendidikan untuk tetap dan gigih menyekolahkan anakanaknya walaupun, seperti biasa, terkendala masalah biaya. Jadi agaknya akan sulit jika kita bertanya pada orang waras di zaman ini “apakah anda tidak butuh pendidikan?”, dan dia menjawab “tidak”.

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, disamping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.

Pendidikan akhir-akhir ini memiliki kemajuan pesat di penjuru dunia. Pendidikan semakin hari semakin maju. Pendidikan dapat diakses langsung maupun tidak langsung, dengan jarak yang sangat jauh. Pendidikan di era modern memang berdampak dalam berbagai aspek kehidupan. Namun di negara kita tercinta ini pendidikan terus menuai kontroversi dan permasalahan. Pendidikan formal terbukti belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pengangguran terdidik terjadi dimana-mana. Hal inilah yang membuat proses belajar mengajar harus dikembangkan.

Beban kurikulum yang terlampau banyak katanya menjadikan guru harus berpikir keras supaya semua materi dapat tersampaikan dalam waktu yang tersedia, tanpa mengorbankan pemahaman anak didik. Banyak fakta terlihat guru “mendangkalkan” ilmu, dengan alasan jika memaksakan “lebih dalam” konsekuensinya adalah waktu tidak akan cukup. Dan sepertinya gejala ini dialami oleh banyak rekan kita yang berprofesi sebagai guru, walaupun hal tersebut tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Hal tersebut hanya suatu fatamorgana dan kekhawatiran saja, namun bisa jadi kedepannya jika terus seperti ini, maka orang-orang Indonesia adalah orangorang yang berpengetahuan luas tetapi pengetahuannya dangkal. Padahal dalam era globalisasi justru diperlukan orang-orang yang expert dalam satu bidang tertentu, syukur-syukur bisa expert di dua bidang sekaligus.

Selama tiga dasawarsa terakhir, dunia pendidikan Indonesia secara kuantitatif telah berkembang sangat cepat. Pada tahun 1965 jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 53.233 dengan jumlah murid dan guru sebesar 11.577.943 dan 274.545 telah meningkat pesat menjadi 150.921 SD dan 25.667.578 murid serta 1.158.004 guru (Pusat Informatika, Balitbang Depdikbud, 1999).

Jadi dalam waktu sekitar 30 tahun jumlah SD naik sekitar 300%. Sudah barang tentuperkembangan pendidikan tersebut patut disyukuri. Namun sayangnya, perkembangan pendidikan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan yang sepadan. Akibatnya, muncul berbagai ketimpangan pendidikan di tengah-tengah masyarakat, termasuk yang sangat menonjol adalah ketimpangan antara kualitas output pendidikan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan serta ketimpangan kualitas pendidikan antar desa dan kota, antar Jawa dan luar Jawa, antar pendudukkaya dan penduduk miskin.

Di samping itu, di dunia pendidikan juga muncul dua problem lain yang tidak dapat dipisah dari problem pendidikan yang telah disebutkan di atas, (1) Pendidikan cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial. (2) Pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer kepada peserta didik apa yang disebut the dead knowledge, yakni pengetahuan yang terlalu bersifat text-book saja sehingga pengetahuan seperti dipisahkan dari akar sumbernya maupun aplikasinya.

Berbagai upaya pembaharuan pendidikan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi sejauh ini belum menampakkan hasil yang signifikan. Mengapa kebijakan pembaharuan pendidikan di tanah air kita dapat dikatakan senantiasa gagal dalam menjawab problem masyarakat? Sesungguhnya kegagalan tersebut bukan semata-mata terletak pada bentuk pembaharuan pendidikannya sendiri yang bersifat erratic, tambal sulam, melainkan lebih mendasar lagi kegagalan tersebut dikarenakan ketergantungan penentu kebijakan pendidikan pada penjelasan paradigma peranan pendidikan dalam perubahan sosial yang sudah usang. Ketergantungan ini menyebabkan adanya harapan-harapan yang tidak realistis dan tidak tepat terhadap efikasi pendidikan.

Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan. Mempertimbangkan dan mempersiapkan pendidikan anak-anak sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak bagaikan sebuah kertas putih kosong yang tidak bernoda sedikitpun, tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya.

Tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai dengan implementasi secara maksimal. Empat pilar pendidikan yang harus dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) Learning To Know (belajar untuk mengetahui), (2) Learning To Do (belajar untuk melakukan sesuatu), (3) Learning To Live Together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama), dan (4) Learning To Be (belajar untuk menjadi seseorang).

Learning To Know (Belajar untuk mengetahui). Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).

Mengimplementasikan “Learning To Know” (belajar untuk mengetahui), guru seyogyanya dan sejatinya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu. Guru dituntut menciptakan suasana yang membangkitkan peserta didik untuk terlibat lebih aktif menemukan, mengolah, dan membentuk pengetahuan atau keterampilan baru. Siswa merupakan subyek belajar (bukan objek belajar) sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.

Learning To Do (belajar untuk melakukan sesuatu/ berkarya). Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan penerapan pembelajaran inovatif, yang dilakukan dengan cara mengakomodir setiap karakteristik dari masing-masing siswa, karena siswa memiliki perbedaan dalam kemampuan belajar.

Pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari daerah tempat dilangsungkan pendidikan. Unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Muatan lokal yang dimaksud diarahkan kepada keterampilan yang mengutamakan kearifan lokal, karena keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan dari pada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang.

Learning To Live Together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomunikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok, dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama).

Learning To BeLearning To Be (belajar untuk menjadi seseorang/belajar bertumbuh kembang). Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individuindividu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.

“Learning To Be” (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran guru adalah sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal. Dalam proses belajar, sesuatu harus dilakukan dengan senang hati. Belajar akan efektif, bila dilakukan dalam suasana menyenangkan. Namun, kenyataan yang ada adalah, semakin dewasa seseorang, sekolah ternyata menciptakan sebuah sistem dan situasi belajar tidak menyenangkan.

Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral

manusia Indonesia pada umumnya. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian, diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era globalisasi ini. Semoga 2011 menjadi awal kebangkitan dan perubahan dalam dunia pendidikan Indonesia, dengan guru menjadi ujung tombak dan agen perubahan terdepan tentunya dengan peran serta dari seluruh komponen masyarakat dan pemerintah Indonesia.

Untuk memwujudkan empat pilar pendidikan yang kuat dan kokoh tersebut diatas, khususnya di daerah beranda (daerah perbatasan langsung dengan negara tetangga), Makmal Pendidikan, Dompet Dhuafa telah turut serta mengambil bagian memberikan warna dan mengawal proses bagi peningkatan kualitas pendidikan di daerah beranda Indonesia salah satunya adalah di Kepulaun Talaud, sebuah kabupaten kepulauan di Propinsi Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan negara Philipina. Program tersebut berupa program Pendampingan Sekolah, sebagai sebuah wujud kepedulian akan kualitas pendidikan Indonesia.

Melalui program pendampingan sekolah “Sekolah Beranda”ini Makmal Pendidikan memfasilitasi guru sebagai ujung tombak utama pendidikan Indonesia untuk senantiasa mengoptimalkan potensi terkait profesi yang diembannya, denganprogram training triwulanan.

Salah satu tema training adalah bertajuk Shifting Education Paradigm, training dengan materi yang dapat menyadarkan guru bahwa pikiran yang positif akan profesinya sebagai guru, profesionalisme, dan kreativitas hendaknya mampu dirangkai menjadi satu kesatuanyang utuh dan kokoh sehingga dapat menjadi modal yang kuat dan besar untuk memfasilitasi lahirnya generasi muda Indonesia yang berkualitas. Pemberian training triwulanan tersebut tidak hanya berhenti sampai tataran teori dan dalam ruang seminar atau training seperti yang umumnya terjadi, tetapi akan langsung diimplementasikan dalam kegiatan guru sehari-hari dengan bantuan dan bimbingan dari pendamping sekolah.

Implementasi program pendampingan sekolah beranda ini, Insya Allah akan dapat mewujudkan empat pilar pendidikan yang kokoh, yang pada gilirannya nanti kualitas pendidikan di beranda negeriku (kepulauan Talaud) akan bisa berdiri sejajar dengan daerah lain di Indonesia khususnya pulau Jawa, seperti indah dan kokohnya pemandangan pohon kelapa yang berdiri berjajar rapih disepanjang sisi landasan pacu Bandara Melonguane (kepulauan Talaud) yang memberikan ucapan selamat datang yang sangat ramah ketika tim Makmal Pendidikan, Dompet Dhuafa pertama kali mendarat di beranda utara negeri Indonesia tercinta.

Oleh : Abdul Kodir
Koordinator Sekolah Beranda Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa

Berdasarkan laporan Bank Dunia No. 16369-IND, dan Studi IEA (International Association for the Evalution of Education Achievermen) di Asia Timur, tingkat terendah membaca anak-anak di pegang oleh negara Indonesia dengan skor 51.7, di bawah Filipina (skor 52.6); Thailand (skor 65.1); Singapura (74.0); dan Hongkong (75.5). Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 mempublikasikan, membaca bagi masyarakat Indonesia belum dijadikan sebagai kegiatan untuk mencari informasi. Masyarakat Indonesia lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca (23,5%) Artinya,
membaca untuk mendapatkan informasi baru dilakukan oleh 23,5% dari total penduduk Indonesia. Masyarakat lebih suka mendapatkan informasi dari televisi dan radio ketimbang membaca. Ini menunjukkan bahwa membaca belum menjadi prioritas utama masyarakat Indonesia.

Ketika kita membaca data Bank Dunia diatas tentu kita akan miris, melihat kualitas membaca generasi Indonesia, posisi Indonesia berada di bawah Filipina. Keadaan ini diperparah dengan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2006 dikatakan bahwa 85,9 % anak Indonesia lebih gemar menonton televisi dibandingkan dengan membaca, memang banyak negara berkembang memiliki persoalan yang sama, yaitu kurangnya minat membaca di kalangan masyarakat. Di Indonesia sendiri, masih banyak masyarakat miskin yang lebih mengutamakan kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, dan 56 Di Tepi Batas Kubangun Negeriku rumah, daripada mengutamakan membeli buku, bahkan masyarakat yang telah mampu lebih mengutamakan membeli sesuatu yang dapat meningkatkan prestise mereka, seperti HP, mobil, ketimbang buku, kita juga bisa membandingkan lebih banyak mana pengunjung tempat hiburan dengan perpustakaan? Tentu kita semua dapat menebak bahwa tempat hiburan menjadi daya tarik masyarakat kita ketimbang berkunjung ke perpustakaan.

Melihat fenomena ini tentunya menjadi tugas berat untuk kita bersama, membangun generasi yang gemar membaca, karena dengan membaca kita dapat memajukan setiap pribadi manusia maupun suatu bangsa. Dan dengan membaca pula, kita dapat memperluas wawasan dan mengetahui dunia. Untuk menumbuhkan minat baca dan menghidupkan budaya baca anak didik kita memang dibutuhkan waktu yang lama dan biaya yang mahal. Tetapi bukan tidak mungkin kebiasaan itu bisa ditumbuhkan dengan cepat. Peran orang tua dan guru sangat penting untuk membiasakan budaya membaca ini, orangtua berperan dalam mencontohkan budaya membaca sejak dini di rumah, dan di sekolah, guru adalah ujung tombak untuk menciptakan budaya baca dalam diri siswa. Banyak hal bisa dicoba dan diterapkan untuk menumbuhkan budaya tersebut. Seperti halnya mengajak peserta didik untuk membaca dan menelaah buku-buku yang menarik di perpustakaan.

Undang-undang nomor 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) menjelaskan bahwa perpustakaan merupakan sumber daya pendidikan yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas Pendidikan Prasekolah, Pendidikan Dasar dan Menengah. Jadi peran perpustakaan di sini sangat strategis sekali untuk menunjang pertumbuhan minat baca siswa dan masyarakat. Koleksi perpustakaan menjadi sangat penting, karena sering kali siswa atau pengunjung datang mencari koleksi yang tidak monoton. Dan kelengkapan sumber bahan juga tidak bisa diabaikan. Perpustakaan bisa mengoleksi karya-karya terbaru dan menjadi idola para remaja seperti novel Harry Potter, Lord of The Rings, Twilight, dan bahkan komik. Koleksi ini juga harus disesuaikan dengan tingkat pembacanya. Seperti Taman Kanak-kanak misalnya, koleksi buku haruslah yang bersifat ketertarikan saja. Seperti buku dengan memiliki banyak gambar-gambar menarik. Untuk anak SD dipilihkan bahan bacaan yang ringan-ringan saja untuk menumbuhkan minat membaca.

Sekolah Beranda, adalah sekolah yang berada di pulau terluar Indonesia yang memiliki permasalahan yang begitu kompleks, tidak hanya permasalahan kebiasaan membaca yang masih kurang, tetapi juga infrastruktur yang tidak mendukung, berada dipelosok desa, akses jalan yang sulit dijangkau menjadikan terhambatnya informasi yang harus mereka peroleh. Oleh karena itulah, Makmal Penmdidikan-Dompet Dhufa berusaha turut serta membangun generasi yang gemar membaca dengan memberikan pelatihan ceruk ilmu, pelatihan yang dilakukan selama dua hari menyajikan materi strategi membaca, ceruk ilmu dan menulis, dengan harapan mampu mengembangkan kemampuan membaca dan menulis anak serta guru disetiap wilayah yang kami dampingi, dan Makmal Pendidikan tidak hanya sekedar memberikan pelatihan ceruk ilmu, tetapi juga memberikan bantuan berupa buku-buku dan lemari yang diletakkan disetiap sudut kelas dengan harapan dapat merangsang minat siswauntuk membaca setiap saat. Semoga usaha ini dapat turut membangun bangsa ini dari keterpurukan.

Oleh: Nining Asri (Pendamping Sekolah Makmal Pendidikan)

Informasi seperti ini tidak hanya satu atau dua kali aja diedarkan di internet. Fakta tentang minat baca di Indonesia yang begitu rendah, bahkan kalah jauh dari Singapura atau Malaysia yang jumlah penduduk lebih sedikit, bahkan luas wilayahnya jauh lebih kecil.

Faktanya, penduduk Indonesia lebih banyak mencari informasi dari televisi dan radio ketimbang buku atau media baca lainnya. Laporan bank Dunia no.16369-IND (Education in Indonesi from Crisis to recovery) menyebutkan bahwa tingkat membaca usia kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya mampu meraih skor 51,7 di bawah Filipina (52,6), Thailand (65,1) dan Singapura (74,0).

Data Badan Pusat Statistik tahun 2006 menunjukan bahwa penduduk Indonesia yang menjadikan baca sebagai sumber informasi baru sekitar 23,5%. Sedangkan yang menonton televisi 85,9% dan mendengarkan radio 40,3%.

Fakta diatas tentu memprihatinkan, mengingat budaya membaca sangat erat kaitannya dengan kultur sebuah generasi. Jika generasi sekarang memiliki minat baca rendah, bukankah sulit mengharapkan mereka menjadi teladan bagi anak cucunya dalam membudayakan membaca?

Ada apa ini, baca SMS ya, tapi baca buku…cape dech!!!. Padahal kalo kita pikir, Negara kita tak miskin-miskin amat untuk menyediakan buku atau bahan bacaan ke berbagai pelosok negeri ini. Nyatanya, Indonesia memiliki banyak penerbit, penulis, ilmuan, peneliti, dan toko-toko buku dari kelas atas sampe kelas bawah. Tetapi, tetap saja masyarakat kita menganggap buku itu adalah makanan yang mahal, dan ga penting untuk dibaca. Masyarakat kita, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sampe orang tua enggan untuk membaca apalagi menulis. Sejak dahulu, bangsa kita sudah mewarisi budaya lisan dari pada pada budaya literer. Alasan lebih praktis dan mudahlah yang membuat masyarakat kita mudah percaya dan dibodohi. Tidak sekedar omong kosong, mari kita lihat beberapa fakta mengenai minat baca masyarakat kita yang rendah:

  1. Hasil survey Unesco menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di Asean. Peningkatan minat baca masyarakat akan mempercepat kemajuan bangsa Indonesia, karena tidak ada negara yang maju tanpa buku, kata panitia pameran Tri Bintoro di Solo (Republika, Rabu (26/1)
  2. Berdasarkan  studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Posisi Indonesia itu lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan,” ujar Ketua Center for Social Marketing (CSM), Yanti Sugarda di Jakarta, Rabu (7/7).
  3. Penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009.
  4. Berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.
  5. Kompas (Kamis, 18 Juni 2009) Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini. Saat berbicara dalam seminar “Libraries and Democracy”  digelar Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya, Rabu, dia mengatakan, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf.

Jika Dirjen Pajak mengatakan, “Ga Bayar Pajak apa Kata Dunia…? ”maka Kita bisa mengatakan ”Ga Baca Buku apa Kata Orang Tua..ya pastilah akan bodoh”