Oleh: Hani Karno (Pendamping Sekolah Makmal Pendidikan)

Mengapa Membaca ?

Membaca dan Kultur Masyarakat

Gerakan #SemaiBukuNusantara

Membaca masih merupakan jenis kata kerja yang kurang begitu populer, tidak saja bagi masyarakat desa tapi bisa jadi bukan menjadi budaya bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Adagium yang mengatakan bahwa “Seumpama anda sulit memejamkan mata maka membacalah” agaknya memang dilahirkan dari proses

kontemplasi dari kontak masyarakat Indonesia – yang bisa jadi sebagian besar – dengan buku. Untuk masyarakat desa keberadaan buku serupa barang mewah yang hanya menjadi simbol bagi kelas intelektual semata. Warga masyarakat secara keseluruhan sering kali terjebak pada pemikiran tersebut dan tidak cukup representatif untuk sekedar memegang apalagi membaca. Pandangan yang ini lambat laun mengkristal dan

menjadi identitas budaya masyarakat desa yang umumnya homogen. Berbeda dengan masyarakat kota yang cenderung lebih kompleks dan dinamis masyarakat desa secara sosiologis –umumnya– memiliki waktu yang lebih lama untuk melakukan perubahan atau transformasi budaya, termasuk didalamnya budaya membaca.

Fakta ini disajikan dengan harapan akan tumbuh sebuah kesadaran bersama dari seluruh lapisan yang memiliki kepedulian terhadap kecerdasan anak bangsa bahwa banyak lahan yang masih belum tersentuh.
dipenjarakan pada logika pasar. Apabila tidak ada demand maka tidak ada supply, apabila tidak ada permintaan dari masyarakat maka tidak ada buku dan tidak ada book shop (toko buku).Dalam konteks ini, mengenalkan tunas bangsa pada budaya membaca adalah sebuah tantangan besar karena umumnya anak Indonesia yang lahir di wilayah pedesaan lahir dalam sebuah budaya yang kurang akrab dengan dunia buku. Selain anggapan bahwa buku merupakan representasi kaum intelektual, ada beberapa poin yang menjadi hambatan untuk memasyarakatkan buku diantaranya adalah: pertama, sulitnya menjumpai toko buku di daerah pedesaan. Merupakan sebuah keprihatinan tersendiri karena buku masih

Tentunya sulit untuk membebani sektor swasta untuk menjawab tantangan tadi, kembali lagi peran-peran ini harus diambil alih oleh pemerintah. Karena hal ini juga merupakan amanah dari UUD 1945 yaitu untuk

mencerdaskan kehidupan bangsa. Hendaknya pemerintah atau sektor swasta –jika ada– mampu menjemput bola, bertindak aktif bahkan agresif untuk- membuat sebuah mekanisme yang benar-benar implementatif untuk membudayakan membaca. Kedua, memaksimalkan fungsi sekolah dalam mengenalkan siswa pada dunia buku. Mengenalkan siswa pada dunia buku atau tulis menulis tentu harus dimulai dari guru sebagai role 

model. Guru diharapkan menjadi ujung tombak yang mampu mengenalkan dunia melalui buku dengan aneka metode yang menyenangkan sehingga membaca menjadi semacam rekreasi imajinatif bagi siswa untuk mengenalkan siswa bahwa dunia itu luas dengan berjuta ragam budaya.

Menjadikan guru sebagai ujung tombak fasilitator memassifkan dunia membaca tentu tentu secara langsung
ndasar adalah pengerjaan karya akhir ilmiah (skripsi atau PTK) dengan mengupah orang lain. Hal seperti ini secara langsung atau tidak menjadi sebuah batu sandungan bagi pemassifan kultur membaca.mengandung amanat bahwa guru sendiri harus memiliki kecakapan dalam dunia baca dan literasi. Stimulan dari pemerintah untuk membudayakan dunia literasi secara substantif kepada guru, dunia kepenulisan yang secara langsung atau tidak akan menyinggungkan pada dunia membaca. Tentunya yang dimaksud disini adalah karya tulis asli, karena dilapangan tidak sedikit guru yang terjebak pada dunia perjokian. Contoh yang paling me

Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa dan Dunia Membaca

Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa melalui programnya mencoba berperan aktif dalam mengenalkan dunia melaui buku dengan menghadirkan aneka buku bacaan yang atraktif di ruang kelas bertajuk Ceruk Ilmu (karena rak buku disimpan dipojok -ceruk- kelas). Program Ceruk Ilmu ini dipantau langsung oleh guru-guru yang sebelumnya mendapatkan pelatihan selama dua hari. Salah satu materi yang disampaikan pada pelatihan tersebut adalah strategi membaca. Guru diberikan trik-trik agar siswa bisa benar-benar memahami apa yang dia baca, upaya minimal yang dilakukan Makmal Pendidikan diharapkan bisa menstimulan para guru untuk bersama-sama mendekatkan anak pada dunia buku. Sebenarnya dilapangan, upaya ini layaknya sebuah loncatan karena pada kenyataannya tidak sedikit pula guru yang masih menjadikan buku sebagai teman insomnia mereka ketika beranjak ke peraduan.

Adalah sebuah suka cita bagi kami melihat binar mata siswa demi melihat tumpukan buku bergambar. Tumpukan buku yang mempesona mereka sehingga ketika pertama mereka mendekat ke Ceruk Ilmu, dengan kerut di dahi dan mulut berkomat-kamit sambil memilah-milah judul buku untuk kemudian dibukanya lembar demi lembar. Setelahnya kita bisa melihat raut muka siswa yang berganti-ganti dengan muka bingung, tersenyum, tertawa, atau tidak jarang diikuti gerakan-gerakan tubuh yang spontan sebagai respon dari apa yang mereka baca. Sebuah pemandangan yang luar biasa mahal demi melihat siswa membuka buku dalam setiap lembarnya, mengenalkan dunia langsung ke dalam tangan mereka.