Oleh : Hani Karno

Pendamping Sekolah Makmal Dompet Dhuafa

  • SDN 04 Ceruk, Kab. Natuna  Prov Kepulauan Riau ( 2010 – 2011 )
  • SDN 060932 Bangun Mulia – Medan Amplas ( 2011 – 2012 )

Menjadi guru adalah menjadi orang yang mencintai hidup dan kehidupan, matang secara emosi, memiliki kapasitas moral yang baik, memahami value dari penciptaan manusia, dan senantiasa selalu bisa memberikan energi positif bagi orang sekitarnya terutama bagi peserta didik. Disadari atau tidak peran guru tentu bukan perkara enteng yang bisa di upgrade selama 4 tahun ketika si guru sudah selesai memenuhi tuntutan profesionalisme dengan menyelesaikan masa studi S-1 nya.

Dunia pendidikan memang tengah ber-euforia dengan wacana kesejahteraan, upaya pemerintah untuk memberikan perhatian pada kesejahteraan guru idealnya disikapi dengan penuh tanggung jawab oleh si “objek kebijakan” – Guru. Perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru didasari oleh keinginan akan revitalisasi kualitas pendidikan di Indonesia, diharapkan kualitas pendidikan Indonesia berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan pada guru sebagai ujung tombak pendidikan. Dengan peningkatan gaji yang -relatif- meningkat diharapkan para guru bisa lebih fokus dalam mengajar, mendidik, dan membina peserta didik.

Tanpa bemaksud untuk bersikap sinis, dilapangan ada sedikit pergeseran budaya para guru  yang mudah-mudahan sifatnya hanya di permukaan, dahulu membicarakan masalah finansial menjadi hal yang tabu apalagi  di area publik akan tetapi sekarang topik finansial menjadi topik pokok  untuk dibicarakan dalam berbagai kesempatan. Berlepas dari keinginan untuk menghakimi perilaku guru, akan tetapi lebih kepada upaya untuk mengembalikan keluhuran profesi guru,   guru kembali menghayati landasan filosofis profesi yang disandangnya. Bahwa dia mempunyai tanggung jawab untuk membentuk karakter anak bangsa, menjadi pendidik, pembimbing, dan pembina oleh karena itu guru dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas dirinya – proses belajar seumur hidup dan tidak berhenti disatu titik apalagi terjebak pada masalah finansial an sich.

Berbicara dengan pendekatan pembangunan kesadaran memang bukan sebuah upaya yang mudah, tidak bisa dilakukan dengan instant. Sejatinya, pendidik -Guru- mulai bersikap proporsional dan tetap bijak dalam menyikapi wacana kesejahteraan ini. Mereka diharapkan tetap mampu menjiwai profesinya dan tetap bisa berpegang teguh terhadap inti dari pendidikan hal ini untuk mencegah para guru dari situasi terasing dari profesinya. Melulu berbicara tentang masalah Finansial hanya akan membuat sang guru tercerabut dari identitas keguruannya. Ketika dia terbuai dengan persoalan finansial maka dengan sendirinya dia sedang membukakan pintu keterasingan. Dimulai dengan perasaan bosan dan perasaan bahwa menjadi guru hanya sebuah  pekerjaan rutin  yang tidak terlalu membutuhkan pemikiran dan perlakuan lebih.Menjadi guru adalah kegiatan harian dari jam 07.00 sampai dengan jam 12.30 yang dimulai dengan ucapan salam kepada anak-anak,  dan diakhiri dengan do’a penutup belajar saja.

Sang guru – idealnya- memiliki waktu yang sengaja diluangkan untuk berkontemplasi (bermuhasabah, berfikir lebih lanjut dan dalam ) tentang kegiatan yang dia lakukan di setiap harinya.  Berkontemplasi tentang bagaimana proses Kegiatan Belajar Mengajarnya hari ini, berkontemplasi tentang bagaimana perkembangan si Ali, Si Sahla, Si Hamka, dan peserta didik lainnya, berkontemplasi tentang apa matanya sudah cukup berbinar ketika menatap mata peserta didik, berkontemplasi apa dia sudah mampu memberikan energi pisitif kepada peserta didik dengan sentuhannya, berkontemplasi apa dia sudah mampu mengidentidfikasi bahwa si Veni adalah istimewa dengan kemampuan otak kirinya, Si Jihan istimewa dengan kemampuan Agitasinya, Si Rian istimewa dengan kemampuan fisiknya…dan apa yang bisa dia –guru- lakukan untuk mengembangkan benih –siswa- yang tengah dia genggam sehingga benih itu  tidak hanya mampu berbunga tapi juga mampu berbuah lebat.

Ketika kesadaran akan betapa berat beban yang disandangnya apa bisa sang guru tetap melaju dengan kecepatan konstan, apa bisa sang guru hanya berkeluh kesah  ketika disetiap harinya dia dituntut untuk mencurahkan sedikit waktunya untuk  membuat sebuah rencana pembelajaran yang efektif bagi peserta didik. Meluangkan waktunya untuk berfikir ekstra tentang metode yang akan di pakai untuk memenuhi standard kompetisi yang ingin dicapai. Dengan kesadaran tentang tanggung jawab profesi apa mungkin si Guru akan tetap berjibaku dengan obrolan-obrolan pasar seputar gosip selebriti yang tak pernah putus tanpa mampu mengkontekskannya dalam pendidikan dan pendidikan moral. Menjadi guru adalah menjadi individu yang faham akan konteks realitas yang ada di masyarakat dan menyajikannya secara edukatif kepada siswa. Sehingga dia menjadi fasilitator yang membidani lahirnya tunas bangsa yang memiliki kematangan intelegensi, emosi, dan spiritual. Dengan kesungguhan InsyaAlloh hal itu bukan barang Utopis untuk diwujudkan.

Tulisan ini dimuat di Harian Waspada (Medan) pada 30 Juni 2012