Juli 2012


Oleh: Hani Karno (Pendamping Sekolah Makmal Pendidikan)

Mengapa Membaca ?

Membaca dan Kultur Masyarakat

Gerakan #SemaiBukuNusantara

Membaca masih merupakan jenis kata kerja yang kurang begitu populer, tidak saja bagi masyarakat desa tapi bisa jadi bukan menjadi budaya bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Adagium yang mengatakan bahwa “Seumpama anda sulit memejamkan mata maka membacalah” agaknya memang dilahirkan dari proses

kontemplasi dari kontak masyarakat Indonesia – yang bisa jadi sebagian besar – dengan buku. Untuk masyarakat desa keberadaan buku serupa barang mewah yang hanya menjadi simbol bagi kelas intelektual semata. Warga masyarakat secara keseluruhan sering kali terjebak pada pemikiran tersebut dan tidak cukup representatif untuk sekedar memegang apalagi membaca. Pandangan yang ini lambat laun mengkristal dan

menjadi identitas budaya masyarakat desa yang umumnya homogen. Berbeda dengan masyarakat kota yang cenderung lebih kompleks dan dinamis masyarakat desa secara sosiologis –umumnya– memiliki waktu yang lebih lama untuk melakukan perubahan atau transformasi budaya, termasuk didalamnya budaya membaca.

Fakta ini disajikan dengan harapan akan tumbuh sebuah kesadaran bersama dari seluruh lapisan yang memiliki kepedulian terhadap kecerdasan anak bangsa bahwa banyak lahan yang masih belum tersentuh.
dipenjarakan pada logika pasar. Apabila tidak ada demand maka tidak ada supply, apabila tidak ada permintaan dari masyarakat maka tidak ada buku dan tidak ada book shop (toko buku).Dalam konteks ini, mengenalkan tunas bangsa pada budaya membaca adalah sebuah tantangan besar karena umumnya anak Indonesia yang lahir di wilayah pedesaan lahir dalam sebuah budaya yang kurang akrab dengan dunia buku. Selain anggapan bahwa buku merupakan representasi kaum intelektual, ada beberapa poin yang menjadi hambatan untuk memasyarakatkan buku diantaranya adalah: pertama, sulitnya menjumpai toko buku di daerah pedesaan. Merupakan sebuah keprihatinan tersendiri karena buku masih

Tentunya sulit untuk membebani sektor swasta untuk menjawab tantangan tadi, kembali lagi peran-peran ini harus diambil alih oleh pemerintah. Karena hal ini juga merupakan amanah dari UUD 1945 yaitu untuk

mencerdaskan kehidupan bangsa. Hendaknya pemerintah atau sektor swasta –jika ada– mampu menjemput bola, bertindak aktif bahkan agresif untuk- membuat sebuah mekanisme yang benar-benar implementatif untuk membudayakan membaca. Kedua, memaksimalkan fungsi sekolah dalam mengenalkan siswa pada dunia buku. Mengenalkan siswa pada dunia buku atau tulis menulis tentu harus dimulai dari guru sebagai role 

model. Guru diharapkan menjadi ujung tombak yang mampu mengenalkan dunia melalui buku dengan aneka metode yang menyenangkan sehingga membaca menjadi semacam rekreasi imajinatif bagi siswa untuk mengenalkan siswa bahwa dunia itu luas dengan berjuta ragam budaya.

Menjadikan guru sebagai ujung tombak fasilitator memassifkan dunia membaca tentu tentu secara langsung
ndasar adalah pengerjaan karya akhir ilmiah (skripsi atau PTK) dengan mengupah orang lain. Hal seperti ini secara langsung atau tidak menjadi sebuah batu sandungan bagi pemassifan kultur membaca.mengandung amanat bahwa guru sendiri harus memiliki kecakapan dalam dunia baca dan literasi. Stimulan dari pemerintah untuk membudayakan dunia literasi secara substantif kepada guru, dunia kepenulisan yang secara langsung atau tidak akan menyinggungkan pada dunia membaca. Tentunya yang dimaksud disini adalah karya tulis asli, karena dilapangan tidak sedikit guru yang terjebak pada dunia perjokian. Contoh yang paling me

Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa dan Dunia Membaca

Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa melalui programnya mencoba berperan aktif dalam mengenalkan dunia melaui buku dengan menghadirkan aneka buku bacaan yang atraktif di ruang kelas bertajuk Ceruk Ilmu (karena rak buku disimpan dipojok -ceruk- kelas). Program Ceruk Ilmu ini dipantau langsung oleh guru-guru yang sebelumnya mendapatkan pelatihan selama dua hari. Salah satu materi yang disampaikan pada pelatihan tersebut adalah strategi membaca. Guru diberikan trik-trik agar siswa bisa benar-benar memahami apa yang dia baca, upaya minimal yang dilakukan Makmal Pendidikan diharapkan bisa menstimulan para guru untuk bersama-sama mendekatkan anak pada dunia buku. Sebenarnya dilapangan, upaya ini layaknya sebuah loncatan karena pada kenyataannya tidak sedikit pula guru yang masih menjadikan buku sebagai teman insomnia mereka ketika beranjak ke peraduan.

Adalah sebuah suka cita bagi kami melihat binar mata siswa demi melihat tumpukan buku bergambar. Tumpukan buku yang mempesona mereka sehingga ketika pertama mereka mendekat ke Ceruk Ilmu, dengan kerut di dahi dan mulut berkomat-kamit sambil memilah-milah judul buku untuk kemudian dibukanya lembar demi lembar. Setelahnya kita bisa melihat raut muka siswa yang berganti-ganti dengan muka bingung, tersenyum, tertawa, atau tidak jarang diikuti gerakan-gerakan tubuh yang spontan sebagai respon dari apa yang mereka baca. Sebuah pemandangan yang luar biasa mahal demi melihat siswa membuka buku dalam setiap lembarnya, mengenalkan dunia langsung ke dalam tangan mereka.

Iklan

Oleh : Hani Karno

Pendamping Sekolah Makmal Dompet Dhuafa

  • SDN 04 Ceruk, Kab. Natuna  Prov Kepulauan Riau ( 2010 – 2011 )
  • SDN 060932 Bangun Mulia – Medan Amplas ( 2011 – 2012 )

Menjadi guru adalah menjadi orang yang mencintai hidup dan kehidupan, matang secara emosi, memiliki kapasitas moral yang baik, memahami value dari penciptaan manusia, dan senantiasa selalu bisa memberikan energi positif bagi orang sekitarnya terutama bagi peserta didik. Disadari atau tidak peran guru tentu bukan perkara enteng yang bisa di upgrade selama 4 tahun ketika si guru sudah selesai memenuhi tuntutan profesionalisme dengan menyelesaikan masa studi S-1 nya.

Dunia pendidikan memang tengah ber-euforia dengan wacana kesejahteraan, upaya pemerintah untuk memberikan perhatian pada kesejahteraan guru idealnya disikapi dengan penuh tanggung jawab oleh si “objek kebijakan” – Guru. Perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru didasari oleh keinginan akan revitalisasi kualitas pendidikan di Indonesia, diharapkan kualitas pendidikan Indonesia berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan pada guru sebagai ujung tombak pendidikan. Dengan peningkatan gaji yang -relatif- meningkat diharapkan para guru bisa lebih fokus dalam mengajar, mendidik, dan membina peserta didik.

Tanpa bemaksud untuk bersikap sinis, dilapangan ada sedikit pergeseran budaya para guru  yang mudah-mudahan sifatnya hanya di permukaan, dahulu membicarakan masalah finansial menjadi hal yang tabu apalagi  di area publik akan tetapi sekarang topik finansial menjadi topik pokok  untuk dibicarakan dalam berbagai kesempatan. Berlepas dari keinginan untuk menghakimi perilaku guru, akan tetapi lebih kepada upaya untuk mengembalikan keluhuran profesi guru,   guru kembali menghayati landasan filosofis profesi yang disandangnya. Bahwa dia mempunyai tanggung jawab untuk membentuk karakter anak bangsa, menjadi pendidik, pembimbing, dan pembina oleh karena itu guru dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas dirinya – proses belajar seumur hidup dan tidak berhenti disatu titik apalagi terjebak pada masalah finansial an sich.

Berbicara dengan pendekatan pembangunan kesadaran memang bukan sebuah upaya yang mudah, tidak bisa dilakukan dengan instant. Sejatinya, pendidik -Guru- mulai bersikap proporsional dan tetap bijak dalam menyikapi wacana kesejahteraan ini. Mereka diharapkan tetap mampu menjiwai profesinya dan tetap bisa berpegang teguh terhadap inti dari pendidikan hal ini untuk mencegah para guru dari situasi terasing dari profesinya. Melulu berbicara tentang masalah Finansial hanya akan membuat sang guru tercerabut dari identitas keguruannya. Ketika dia terbuai dengan persoalan finansial maka dengan sendirinya dia sedang membukakan pintu keterasingan. Dimulai dengan perasaan bosan dan perasaan bahwa menjadi guru hanya sebuah  pekerjaan rutin  yang tidak terlalu membutuhkan pemikiran dan perlakuan lebih.Menjadi guru adalah kegiatan harian dari jam 07.00 sampai dengan jam 12.30 yang dimulai dengan ucapan salam kepada anak-anak,  dan diakhiri dengan do’a penutup belajar saja.

Sang guru – idealnya- memiliki waktu yang sengaja diluangkan untuk berkontemplasi (bermuhasabah, berfikir lebih lanjut dan dalam ) tentang kegiatan yang dia lakukan di setiap harinya.  Berkontemplasi tentang bagaimana proses Kegiatan Belajar Mengajarnya hari ini, berkontemplasi tentang bagaimana perkembangan si Ali, Si Sahla, Si Hamka, dan peserta didik lainnya, berkontemplasi tentang apa matanya sudah cukup berbinar ketika menatap mata peserta didik, berkontemplasi apa dia sudah mampu memberikan energi pisitif kepada peserta didik dengan sentuhannya, berkontemplasi apa dia sudah mampu mengidentidfikasi bahwa si Veni adalah istimewa dengan kemampuan otak kirinya, Si Jihan istimewa dengan kemampuan Agitasinya, Si Rian istimewa dengan kemampuan fisiknya…dan apa yang bisa dia –guru- lakukan untuk mengembangkan benih –siswa- yang tengah dia genggam sehingga benih itu  tidak hanya mampu berbunga tapi juga mampu berbuah lebat.

Ketika kesadaran akan betapa berat beban yang disandangnya apa bisa sang guru tetap melaju dengan kecepatan konstan, apa bisa sang guru hanya berkeluh kesah  ketika disetiap harinya dia dituntut untuk mencurahkan sedikit waktunya untuk  membuat sebuah rencana pembelajaran yang efektif bagi peserta didik. Meluangkan waktunya untuk berfikir ekstra tentang metode yang akan di pakai untuk memenuhi standard kompetisi yang ingin dicapai. Dengan kesadaran tentang tanggung jawab profesi apa mungkin si Guru akan tetap berjibaku dengan obrolan-obrolan pasar seputar gosip selebriti yang tak pernah putus tanpa mampu mengkontekskannya dalam pendidikan dan pendidikan moral. Menjadi guru adalah menjadi individu yang faham akan konteks realitas yang ada di masyarakat dan menyajikannya secara edukatif kepada siswa. Sehingga dia menjadi fasilitator yang membidani lahirnya tunas bangsa yang memiliki kematangan intelegensi, emosi, dan spiritual. Dengan kesungguhan InsyaAlloh hal itu bukan barang Utopis untuk diwujudkan.

Tulisan ini dimuat di Harian Waspada (Medan) pada 30 Juni 2012