oleh : Sofa Nurdiyanti

 

Awalnya aku iri, melihat teman2 yang terbang jauh ke berbagai daerah di luar jawa. Merasa gagal dan tak bisa mencapai impian menjelajah negeri yang kurindu wajahnya. Hingga pandanganku berubah pada suatu siang, ketika aku diajak salah seorang guru ke sebuah pasar di pinggir sungai. Pasar yang kudatangi itu terpisah dengan pasar besar yang ada di sampingnya. Pasar tersebut, kalau pun bisa disebut pasar hanya menghuni ruas jalan sempit di sepanjang jalan pinggir sungai. Rumah dan warung menjadi satu dengan bangunan semi permanen terbuat dari kardus, triplek, dan semen yang tak begitu kokoh.

Ketika aku datang, aku melihat sekelompok ibu-ibu sedang memilah sayuran yang baru mereka beli. Bapak-bapaknya nampak asyik menghisap rokok dan bermain kartu sambil mengipaskan baju ke badan mereka untuk menghalau hawa panas. Ya, siang itu begitu terik, tak kalah hebatnya dengan suasana saat gunung Merapi di Jogja hendak meletus.

Di sana aku melihat beberapa anak laki2&perempuan dg pakaian kumal, tak terurus menyambut kedatangan kami…

“Bu Win… bu win… sini bu,” mereka tampak antusias menyambut kedatangan kami. Baju mereka terlihat lusuh, entah berapa hari tak ganti, tangan dan kaki mereka pun kotor. Gusti, ternyata mereka calon murid-muridku. Dengan sabar Bu win, mengajak, dan merayu anak-anak tersebut agar mau sekolah. Tak banyak yang ia katakan, hanya sebuah nasehat kecil, bahwa dulu kala beliau dengan mereka sama hidup susahnya. Tapi Bu Win mau berjuang dengan susah payah melawan segala penderitaan, yang bahkan jauh lebih parah dari mereka dengan sabar. Dengan iming-iming diberi seragam sekolah dan sebuah buku tulis, mereka dibujuk agar mau sekolah lagi. Satu persatu anak pun akhirnya luluh dan mengangguk malu-malu, menyatakan ingin bersekolah lagi.

Dengan pelan Bu Win bertanya padaku, “Ini lho calon murid-muridmu, kon enggak isin to duwe murid kayak mereka?”

Tegas kujawab, “Enggak bu, saya enggak malu.”

Dengan susah payah pula Bu Win harus menyakinkan orang tua mereka supaya melepas anak-anak yang masih kecil itu agar diijinkan sekolah. Kemudian ada dua anak perempuan usia SMP, tampak malu-malu melihat kami yang sedang mendata murid-murid baru. Mereka terdiam, tersenyum tanpa melepaskan pandangannya sedetik pun dari kami.

Bu Win yang tanggap langsung bertanya, “Kamu sudah sekolah belum, nduk?”

“Enggak sekolah, bu,” jawabnya singkat.

“Mau sekolah ya? Umurmu berapa?” Mereka masih tak menjawab, dan saling melirik satu sama lain. “Ayo enggak po-po nduk, melu sekolah, yo?”

Lagi-lagi cuma tersenyum dan berkata, “Mau bu, tapi kelas berapa? Saya enggak punya seragam, sepatu, ma tas sekolah,” jawab salah seorang dari mereka.

“Wis gampang, angger gelem melu sekolah, mengko di usahakne. Kalian umurnya berapa? SD atau SMP?”

“SMP bu, tapi enggak punya ijazah SD. Sudah hilang bu.”

“Ya sudah, kalian masuk kelas enam dulu, nanti kalau sudah setahun dapat ijazah baru masuk SMP.”

“Malu bu,” kompak berkata, sambil saling memandang tubuh dua anak perempuan yang tak bisa dibilang kecil lagi.

“Udah enggak apa-apa, wes ora usah isin. Kelas enam mung sedelo kok, sabar.”

“Iya bu, mau,” kedua mata anak itu tampak berbinar bahagia. Sesaat dadaku terasa bergemuruh melihat mereka.

Dan anak-anak perempuan lainnya pun tak henti bertanya, “Bu Win, kakak ini namanya siapa? Guru baru bukan?” ujar salah seorang gadis kecil sambil menggenggam tanganku.

Kutatap mata bocah perempuan itu lalu berkata, “Iya benar, nanti kakak jadi guru di SD. Nama kakak, Kinur tapi kalau di sekolah nanti panggilnya Bu Kinur ya.” Sesaat kemudian aku berjanji, aku tak kan menyesal berada di sini. Ada mereka yang jadi cermin masa laluku, mereka dan aku sama. Tak jauh beda, tak peduli di mana pun kita berada asal bisa berbagi, bukankah itu lebih dari cukup?

Dan aku pun harus menyabarkan diri ketika melihat tingkah lima murid kelas dua yang sebenarnya tak jauh beda dengan empat puluh lima anak kelas lima di Sukabumi. Ya, setiap tempat ada tantangannya sendiri-sendiri. Aku akan mencoba bersabar demi mereka. Kesimpulan di akhir cerita ini adalah sungguh, aku tak mau pergi dari sini. Jadi tolong, biarkan aku jalin kisahku di sini, bersama mereka yang mulai kusayang. Karena aku mulai menggenggam tangan dan mimpi mereka, ingin membersamai mereka melukis mimpi di tiap hari yang kami lalui bersama.

18 Juli 2011

3:17 PM