oleh:

Muhammad Mihran

Pernahkah Anda membayangkan seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) mampu menjadi seorang sarjana? Pada Minggu, 20 Januari 2011, KICK ANDI sebuah acara di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia mempertontonkan kenyataan ini. Hatiku sungguh tersentuh ketika menyaksikan seorang perempuan muda yang rela menjadi TKI hanya karena dia bercita-cita melanjutkan kuliahnya. Subhanallah, sungguh sebuah cita-cita yang luar biasa.

Nuryati, perempuan asal Serang Banten ini, telah membuktikan bahwa kemiskinan bukan halangan bagi dia untuk melanjutkan pendidikan. Semangat untuk mencapai cita-citanya meskipun tidak mendapat dukungan dari orang tuanya tidak pernah pudar. Persoalan biaya selalu menjadi masalah utama ketika orang tua tidak sanggup menyekolahkan anaknya lagi. Akan tetapi dia tidak menyerah begitu saja. Dia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang tenaga kerja, meskipun dengan berbagai resiko yang tidak kecil. Keputusan dia tidak mendapat dukungan dari orang tuanya. Orang tuanya beranggapan bahwa menjadi TKI memiliki resiko yang sangat besar. Mereka melihat kenyataan banyak tenaga kerja yang diperlakukan tidak manusiawi di luar negeri.

Dengan semangat serta keinginan untuk kuliah yang cukup besar, Nuryati akhirnya memutuskan untuk mencari nafkah ke luar negeri. Dia hanya bisa berdoa agar sesampainya di sana dia bisa mendapatkan majikan yang baik hati. Tempat yang ditujunya adalah Saudi Arabia, negara yang sering memperlakukan tenaga kerja mereka sebagai budak. Doanya pun terkabul, dia akhirnya bekerja dengan majikan yang baik hati.

Semasa bekerja Nuryati pernah ditanya oleh majikannya, “Untuk apa kamu menjadi TKI?”

Dia hanya menjawab, “Saya ingin kuliah tuan.”

Jawaban dia membuat majikannya heran, karena selama ini para TKI asal Indonesia mencari nafkah hanya untuk membuat hidup mereka lebih sejahtera. Nuryati juga pernah melakukan ibadah Umrah. Doa yang dipanjatkannya cuma satu, yaitu keinginan dia untuk melanjutkan kuliah. Singkat cerita, setelah kurang lebih tiga tahun bekerja, dan merasa cukup dengan tabungannya untuk kuliah, akhirnya Nuryati memutuskan kembali ke Indonesia untuk melanjutkan kuliahnya. Kuliah S1 pun diselesaikannya, dan kemudian dilanjutkan dengan S2. Sekarang Nuryati telah menjadi seorang dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Banten.

Sebuah pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah kalau ada keinginan pasti ada jalannya. If there is a will there is a way. Usaha dan kerja keras yang disertai dengan doa kepada Allah SWT merupakan cara yang paling jitu untuk tercapainya cita-cita yang kita dambakan.. Semangat!!