oleh:

Fitriah Rahmawati

Percaya diri (PD), dua kata yang belum tentu semua orang memilikinya. Pun dengan rekan-rekan SGEI yang membersamaiku hampir sebulan ini. Jika diperhatikan satu persatu, ternyata hampir 50% dari teman-temanku mengalami krisis percaya diri. Hal ini cukup menggelisahkan karena semestinya dalam diri seorang guru, kepercayaan diri adalah sebuah keniscayaan yang harus bersemayam dalam jiwa seorang pendidik.

Pada suatu kesempatan, aku sempat mengeksplorasi beberapa teman. Ternyata memang banyak diantaranya yang belum memiliki rasa percaya diri seutuhnya—ketika menyampaikan materi atau pendapatnya. Ada juga yang sebenarnya memiliki modal kepercayaan diri yang kuat, namun kurang mampu memposisikan dirinya dengan baik di depan. Masalahnya adalah ia terkadang kehilangan kata-kata ketika berhadapan dengan orang banyak dan yang lebih parah lagi, ia justru mudah dipengaruhi oleh audiens-nya. Sehingga ia kehilangan kesempatan untuk ‘menguasai panggung’.

Ada pula yang mengalami masalah dalam penyampaian. Di depan forum, ia sering kehilangan kata. Hal ini ditandai dengan seringnya mengucapkan “ee…”, atau “emm…”. Setelah ditelusuri, ternyata ia merasa kesulitan memilih diksi sehingga apa yang akan disampaikannya seolah seringkali terputus di tengah jalan.

Lain halnya dengan yang seorang temanku yang lain. Ia memiliki masalah intrapersonal dalam dirinya. Sifatnya yang sangat perasa dan moody membuatnya rasa percaya dirinya terhambat. Ia mengakui, terkadang bila dilanda perasaan tidak nyaman, maka otomatis ia juga tidak bersemangat untuk melakukan sesuatu.

Belajar dari ketiga temanku itu, akhirnya aku membuat suatu formula sederhana mengenai konsep kepercayaan diri. Dari kasus pertama, pelajaran yang bisa diambil adalah jangan sampai seorang pendidik kehilangan kesempatan untuk ‘menguasai panggung’. Hal ini menjadi demikian penting karena ketika kita berhadapan dengan audiens, maka ‘medan perang’ adalah panggung di mana kita bisa menyajikan suatu materi dengan metode penyampaian yang diinginkan. Seorang presenter sudah semestinya merasa nyaman dengan panggungnya dan bebas memilih dengan cara apa ia akan membawakannya.

Dari kasus kedua, sebagai seorang presenter diminta untuk memilah dan memilih kata dengan baik. Kenapa? Karena apa yang terucap itu mengandung pesan. Pesan ini hendaknya memiliki nilai positif yang dapat ditransfer, yang pada akhirnya dapat mengubah perilaku audiens. Pemilihan diksi yang tepat merupakan salah satu seni berkomunikasi yang berhubungan erat dengan manifestasi perubahan perilaku audiens dalam menyikapi suatu hal. Jika kita belum mendapat diksi yang tepat dalam waktu yang cepat, maka dengan berdiam sejenak adalah lebih baik daripada ngegereyem tidak jelas. Dengan berdiam sejenak, insya allah itu akan lebih membantu sampainya sinyal dari otak ke mulut sehingga kita dapat menyusun kata dengan diksi yang baik dan akan berdampak positif terhadap audiens.

Kasus yang ketiga ini menjadi demikian menarik bagi saya. Kenapa? Karena rekan saya yang satu ini masih bermasalah dengan dirinya sendiri. Ia masih bertanya-tanya dan mencari konsep dirinya. Karakter dasarnya yang mudah terbawa perasaan seringkali membuat ia merasa gamang terhadap dirinya sendiri dalam mengambil suatu sikap. Sebenarnya hal ini bisa diatasi dengan menaklukkan diri sendiri. Kenali dulu kelebihan dan kekurangan diri, kembangkan karakter-karakter yang baik dalam diri Anda dan gali nilai-nilai positif yang bisa dibina, minimalkan sikap yang tidak menunjang performa kepercayaan diri. Dengan mengenali kelebihan dan kelemahan diri, maka kita relatif lebih mudah ‘menaklukkan’ audiens sehingga pesan yang akan kita sampaikan dapat diterima dengan baik.

Saya seringkali memberi sugesti pada teman-teman saya yang memiliki kepercayaan diri yang rendah dengan kalimat, “Percayalah..dengan memiliki rasa percaya diri, kamu sudah memegang 50% kesuksesan.” Rasa percaya diri merupakan titik awal dan dari sanalah kita berangkat untuk memulai kesuksesan. Jadi, kalau hare gene tidak punya The Power of PD, mending ke laut aja deh.