oleh:

M. Syafi’i, S.Pd.

Pada tanggal 21 Desember 2010 saya ikut touring bersama 10 teman lainnya, yang dipimpin langsung oleh Bu Evi kepala sekolah SGEI ke Desa Rawakalong Kecamatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor. Kami berkunjung ke MI Assyafi’iyah dalam rangka observasi. Sesampainya di sana, kami disambut oleh seorang wanita muda yang umurnya 30-an, dan kami langsung dibawa ruang kelas 1.

Di dalam kelas tersebut, seorang guru wanita sedang serius mengajar iqra pada para muridnya. Satu persatu para murid kami perhatikan tingkah lakunya, dan seraya mendekatinya kami berdialog dengan mereka. Tidak berapa lama pergantian mata pelajaran, yaitu pelajaran IPA dan Sains. Gurunya juga seorang wanita, guru tersebut memulai pelajaran dengan menulis di papan tulis yaitu benda-benda langit. Para murid disuruh menggambar benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang.

Ketika asyik-asyiknya mengamati kegiatan belajar mengajar, seorang wanita muda—yang menyambut kedatangan kami tadi—mengatakan bahwa pelajaran mau selesai dan kami dipersilahkan untuk berkunjung ke TK. TK terletak tidak jauh dari sekolah MI. Satu persatu dari kami keluar dari ruangan kelas. Setelah saya keluar dari kelas, saya melihat seorang laki-laki sedang duduk di teras sekolah. Dia bertubuh kecil, kulit sawo matang, rambut sedikit panjang terbelah dua, berpakaian biasa saja.

Lalu saya menyapanya, “Mas….”

Kami kebingungan letak sekolah TK. Di dalam kebingungan, laki-laki tersebut sudah mengerti kami mau pergi ke mana. Seraya bangun dari tempat duduknya, dia menunjukkan arah letak sekolah TK dan menemani kami—berjalan kaki menuju sekolah tersebut. Di dalam perjalanan, saya berkenalan dengan dia. Dia memperkenalkan dirinya, namanya Naryo dan dia sebagai pengelola sekolah setempat. Di dalam hati kecil saya, ada rasa sedikit tidak percaya karena melihat dari sikapnya yang biasa saja.

Tidak berapa lama, tibalah kami di sekolah TK. Masing-masing dari kami melihat keadaan sekolah tersebut, di mana terdiri dari lima ruangan dan gurunya sebanyak delapan orang. Setelah kami mengobservasi sekolah tersebut, kami diajak oleh Bu Evi ke sebuah rumah yang letaknya di belakang sekolah. Rumah tersebut terlihat cukup sederhana dan kami langsung disambut oleh tuan rumah dengan ramah, ternyata yang punya rumah adalah Mas Naryo. Dia memperkenalkan istri dan ketiga orang anaknya. Ternyata istrinya adalah perempuan muda yang menyambut kedatangan kami tadi. Kami dipersilahkan duduk di ruang tamu dengan hidangan makanan kecil yang sudah tersedia di hadapan kami. Bu Evi kemudian memperkenalkan siapa Mas Naryo ini sebenarnya, dan mempersilahkan Mas Naryo untuk memperkenalkan dirinya secara langsung.

Mulailah Mas Naryo memperkenalkan dirinya. Dia memiliki nama lengkap Sunaryo Adhiatmoko, dahulunya dia adalah seorang karyawan Dompet Dhuafa (DD) dan jurnalis Republika. Dia menceritakan pengalaman saat menjadi relawan DD hingga dia keluar dari DD. Berbagai pengalaman dia ceritakan kepada kami—para mahasiswa SGEI angkatan kedua. Ketika dia berada di wilayah tertinggal, tidak semua orang bisa melakukannya. Kami semua mendengar ceritanya dengan serius sebab semua ceritanya menggugah dan penuh inspirasi. Misalnya, di mana Mas Naryo membangun sebuah kampung yang belum ada wadah pendidikannya, ekonomi, dan agama yang lemah, salah satu diantaranya adalah kampung Rawa Kalong, yang telah kami kunjungi. Di mana masyarakatnya berlatar pendidikan hanya bisa tulis baca. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar kuli bangunan, tukang ojek, dan petani. Setelah melakukan beberapa kegiatan akhirnya mereka mengalami perubahan. Sekarang ada yang berprofesi sebagai fotografer, yang dulunya pengetahuan agamanya lemah sekarang bisa berubah menjadi Da’i, Khotib, dan sebagainya. Yang dulu belum ada sekolah, sekarang sudah ada sekolah di desa tersebut.

Sungguh suatu perilaku yang bertanggungjawab terhadap sebuah misi kemanusiaan. Belum lagi pengalaman di luar negeri seperti di Kamboja, Thailand, terlebih-lebih di jalur Gaza, Palestina yang tidak bisa diceritakan panjang lebar dalam tulisan ini. Semua itu bisa dijalankannya dengan sukses.

Ada beberapa prinsip yang perlu kita contoh dari sosok Mas Naryo ini:

  • Walaupun ia memiliki segudang pengalaman, namun ia tetap bersahaja, sederhana, dan kekeluargaan.

  • Setiap action yang dilakukan pasti ada problemnya, dan setiap problem pasti ada solusinya.

  • Dimana kita bisa menemukan solusinya, disitu lah kita merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.