oleh:

Muawanah

Di tahun 2011 ini takdir mempertemukan kawan jalan baru, menggariskan berada di kota lain, mereguk ilmu dari orang-orang berbeda. Dan di sinilah kami berada sekarang, berkumpul, belajar, dan menjadi saudara-saudara baru. Kami merajut kisah baru dalam hidup masing-masing.

Berada di sini bagaikan mengulur benang baru yang berbeda warna, memadu-madankannya agar membentuk pakaian baru yang indah, dengan semua warna di dalamnya terangkum. Dan, kami di sini belajar saling mengenal dan menerima dengan segala lebih dan kurangnya. Sempat terpikir akan sulit—dari tempat berbeda, kota berbeda, adat, dan kebiasaan yang berbeda—tiba-tiba bertemu, kira-kira akan bagaimana? Tapi subhanallah… betapa ukhuwah itu di mana pun akan terjalin ibarat kawan lama.

Hidup ini akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Dan kami yang berada di sini adalah orang-orang yang telah membuat pilihan, untuk keluar sejenak dari lingkungan kami selama ini. Berada di lingkungan baru, akan membuat kami mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki sehingga bisa lebih bermanfaat untuk orang lain. Tidak sekedar orang yang berada di lingkungan kami dahulu.

Saya belajar banyak hal dari orang-orang hebat yang saya temui di sini, belajar dari kisah-kisah hidup yang mereka lewati sebelumnya, bertemu banyak sumber inspirasi—yang ketika mengenal mereka—membuat saya belajar banyak bersyukur atas apa yang saya miliki, dan bersyukur bisa berada di tengah-tengah mereka. Hingga kini, saya kadang masih merasa takjub bisa berada di tempat ini, bertemu 29 sosok hebat dengan prestasi mereka masing-masing. Melihat mereka dan belajar memahami setiap tindakan, keputusan, dan sikap yang mereka ambil.

Walau mungkin sulit untuk bisa memahami sepenuhnya, tapi seorang teman pernah mengatakan, “Gunakan hatimu, karena tidak semua yang kita lihat, dan dengar itu adalah apa yang sebenarnya.” Dan di sini saya kembali harus belajar mengenali kawan seperjalanan takdir saya kali ini. Di sini saya bertemu guru-guru hebat yang all out dalam membagi ilmu mereka, melihat mereka yang tidak pernah mengeluh lelah, yang selalu hadir di kelas dengan senyum dan canda mereka dengan pelajaran-pelajaran yang selalu dibuat menyenangkan. Melihat mereka yang walaupun tiap hari hadir, tidak pernah kekurangan semangat dan motivasi untuk dibagikan kepada kami.

Mereka adalah guru. Saya selalu lebih senang menggunakan kata guru daripada trainer. Menurut saya, seorang guru bukan hanya ketika di kelas—memberi ilmu—tetapi diluar kelas pun seorang guru akan tetap selalu memberi ilmu, memberi perhatiannya. Dan itulah arti mereka bagi saya, seorang guru.

Mereka mengajarkan untuk tidak berhenti bercita-cita, hal yang sudah lama saya lupakan karena memilih menjalani hidup seperti air, membiarkannya mengalir. Meminta kami merencanakan apa yang ingin kami lakukan di tahun-tahun berikutnya. Dan jujur, betapa sulit memetakan apalagi harus menuliskan apa yang ingin saya lakukan di tahun berikutnya. Lebih disebabkan karena saya terbiasa menjalani apa yang sudah ada dihadapan saya, tanpa berpikir terlalu jauh tentang cita-cita.

Menuliskan apa yang dirasakan saat berada di sini sedikit sulit saya lakukan. Lebih mudah rasanya menuliskan peristiwa yang sudah lama terlewati karena endapan kenangannya lebih lama. Imajinasi saya lebih mudah terbang ke waktu yang sangat lampau dibanding menjenguk kenangan yang belum genap sebulan saya alami. Maka saya anggap tulisan ini adalah prolog perkenalan dengan mereka, awal mengenal dunia dan kawan baru. Kisah ini belum selesai dirakit, karena benang kata terhenti pada titik warna lain yang hendak dimasuki….

Dimanapun kita berada kelak,

sejauh apapun langkah kaki menjejak bumiNya

kita tetap adalah saudara.