oleh:

Pusriza, S.Pd.

Dunia anak adalah dunia yang penuh keceriaan dan kenangan. Melihat tingkah laku anak-anak sungguh sangat menyenangkan. Tetapi menjadi sangat tidak menyenangkan, jika sesuatu yang keluar dari mulut mungil mereka adalah kata-kata yang kurang pantas untuk kita dengar. Perilaku yang buruk dengan menggunakan lisan tersebut dengan seharusnya patut kita sikapi secara arif.

Sekolah adalah rumah kedua bagi anak-anak. Hampir seperempat hari dari hidup mereka berada dan beraktivitas dalam lingkungan sekolah. Dan mereka pun saling berinteraksi baik dengan teman-temannya dan gurunya. Maka dalam interaksi tersebut pastinya ada gejolak emosi yang berlebihan sehingga bisa terluapkan dengan kata-kata yang tidak wajar untuk anak-anak ucapkan. Seperti, ungkapan makian, cemooh, ejekan, dan lain sebagainya. Menurut Johann Amos Comenius (Komensky) bahwasanya anak usia 6-12 tahun, mengembangkan pikiran, ingatan, dan perasaannya di sekolah dengan menggunakan bahasa daerah (bahasa ibu).

Ketika anak sudah terbiasa dengan menggunakan bahasa ataupun perkataan yang tidak seharusnya mereka ucapkan, maka dapat kita bayangkan bahwa generasi muda bangsa kita adalah generasi yang familiar dengan kata-kata kotor. Sungguh sangat bahaya apabila hal ini dibiarkan begitu saja, mengingat akhir-akhir ini bangsa kita dilanda krisis yang salah satunya adalah krisis moral. Adalah menjadi tanggung jawab seorang guru sebagai agen perubahan khususnya di sekolah untuk menjadi teladan bagi siswanya agar dapat memelihara lisannya. Guru dalam hal ini memberikan contoh dalam lisannya, bagaimana seorang guru marah tanpa harus memaki, memberi hukuman tanpa harus mencemooh atau memberi panggilan kepada siswanya dengan panggilan yang tidak semestinya, seperti Si Gendut, Si Bodoh, dan sebagainya. Imam Nawawi menjelaskan tentang cara memelihara lisan. Ia berkata, “Sepantasnya bagi orang yang ingin berbicara satu kata atau satu kalimat, agar dia lebih dahulu merenungkannya dalam dirinya sebelum menuturkannya, jika jelas manfaatnya, ia berbicara dan jika tidak. Ia menahan diri dari berbicara (Shahih Muslim 18/328).

Oleh karena itu, guru harus memperhatikan dalam menjaga lisan. Pertama, guru hendaknya berbicara selalu diarahkan ke dalam kebaikan. Dengan tidak menceritakan keburukan orang lain atau guru yang lain kepada siswanya. Kedua, berbicaralah sesuatu yang berguna kepada siswa, sehingga ketika dia mendengarnya dia mendapatkan pembelajaran yang bermakna dari gurunya. Ketiga, guru hendaknya menghindari perdebatan dan saling membantah kepada siswanya, yang dapat meluapkan emosi negatif dari siswa. Keempat, hendaknya guru tidak terburu-buru dan menggunakan nada bicara yang sewajarnya (tidak membentak) dalam menyampaikan sesuatu. Semoga guru bisa memberi teladan dengan lisannya dan senantiasa selalu berbuat dalam kebaikan. Wallohu’alam.