oleh:

Nur Syamsi, S.Pd.

Terimakasih ya Allah atas rahmat dan kasih-Mu.” Dengan lirih aku berbisik di dalam hati saat menginjakan kaki di bandara Soekarno Hatta, Jakarta pagi itu. Tepatnya, 2 Januari 2011. Betapa tidak, hari ini adalah hari yang luar biasa bagiku dan sembilan orang teman dari Makassar. Hari di mana aku menyadari, bahwa aku akan segera menjemput impian. Semoga ini menjadi langkah awal menuju kesuksesan dunia-akhirat. Menyambut impian untuk memantapkan keyakinan menjadi pendidik anak bangsa. Melintasi kampus yang sesungguhnya, hamparan kampus kehidupan.

Hari kesepuluh setelah aku wisuda (22 Desember 2010), aku pernah berbagi kepada teman tentang rasa syukur yang timbul-tenggelam dalam diriku. Hal itu terasa selalu datang, menghantui menit demi menit sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya meninggalkanku. Saat aku mulai tersadar bahwa aku bukan lagi mahasiswa. Tambahan tiga huruf di belakang namaku kini menjadi cadas tumpuan karang hidupku di episode kehidupan selanjutnya.

Di bagian sedikit malam aku menyempatkan untuk mengeluh dan memohon pada-Nya. “Mengapa hatiku begitu cemas? Apa karena aku kurang bersyukur?” Sekian lama merenung akhirnya aku mendapatkan rumus: ternyata semakin kurang rasa syukur maka tunggulah kecemasan akan menjemputmu, sebaliknya semakin tinggi rasa syukur yang kau miliki maka tunggulah kebahagiaan menjemputmu.

Roda waktu terus berlalu, sepuluh hari itu aku berkutat dalam pencarian. Aku letih, jiwaku lelah tak menentu. Kegamangan kian melanda hari-hariku yang abu-abu. Hingga akhirnya beberapa karakter SMS menggetarkan HP kesayanganku: lowongan, bagi yang berminat menjadi guru model Dompet Dhuafa Republika… Wah kesempatan, nih!

Kuputuskan untuk mengikuti penyeleksian kegiatan itu tanpa sepengetahuan orang yang sangat kucintai. Wanita paruh baya, yang wajahnya terus terbayang dalam tiap impianku. Suaranya terus terngiang di telinga mengiringi tiap lakuku, ibuku. Semangat yang menggebu-gebu membuat hatiku semakin tak karuan akan ketidakpastian yang akan segera kujemput. Tiba-tiba aku teringat pada afirmasi ukuran kecil yang tertulis di dinding salah seorang senior. Sosok yang padanya kusematkan gelar “The limited edition. Kak Darni nama sapaannya. Afirmasinya sangat sederhana, ditulis dengan menggunakan pulpen di atas kertas HVS warna kuning dengan guratan-guratan tinta hitam tidak jelas di sekelilingnya. Ditempel di dinding kamar tanpa bingkai mendampingi afirmasi-afirmasi lainnya. Kali ini memoriku kembali memutarkan afirmasi yang bertuliskan: Tindakan akan menghasilkan kemungkinan. Aku semakin percaya diri mengikuti wawancara. Tinggal diam akan memberikan kepastian bahwa aku tidak akan meneguk setetes embun pengharapan, tapi dengan bertindak aku akan menciptakan dua kemungkinan, ya atau tidak.

Dengan penuh pengharapan aku melangkahkan kaki mengikuti wawancara hari itu. Dalam setiap langkah terbersit doa pengharapan semoga Allah memberi yang terbaik. Di salah satu ruko yang berjejer di pinggir jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, wawancara pun dilaksanakan. Ternyata di tempat itu Kartini, Kak Ainun, dan beberapa orang lainnya tengah duduk menunggu panggilan untuk wawancara. Senyum langsung terpancar menggantikan kerut wajahku yang tadi terkena terik surya yang mulai meninggi disertai kebisingan jalan.

Aku pun kemudian mendekat dan menyapa mereka, “Sudah lama?” tanyaku sambil memperlihatkan mimik yang mnggambarkan kecemasanku.

Lumayan… sekitar dua jam yang lalu, sini duduk!” Jawab Kak Ainun sambil memberiku sedikit ruang untuk duduk di sampingnya.

Detik waktu terus berlalu dan tibalah giliranku, “Bismillah…” aku berjalan masuk ke ruangan yang kurang lebih berukuran 3×3 meter dengan cat putih bersih. Aku kemudian dipersilahkan duduk setelah menjawab salamku. Raut wajah bapak itu sangat ramah, memecahkan rayap-rayap ketegangan yang sedari tadi menghinggapiku. Pertanyaan pertama pun dilontarkan sambil membuka biodataku. Menyusul pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang kadang membuat aku tercengang dan sedikit diam untuk berpikir. Menimbang-nimbang keputusan yang akan aku setujui. Kurang lebih 10 menit, wawancara pun berlalu. Sore harinya, Aku, Kartini, dan beberapa teman lainnya dinyatakan lulus. Saat dinyatakan lulus, aku meraih HP untuk menghubungi ibuku. Tentu saja ibuku shock mendengar berita ini.

Kemarin minta kursus menjahit, sekarang malah mau berangkat ke Bogor,” terdengar warna suaranya, aku tahu beliau sangat khawatir. Aku diinterogasi dengan berbagai pertanyaan yang diharapnya bisa mematahkan tekadku untuk berhijrah. Ibuku memang sangat menyayangiku dan rasanya begitu berat untuk melepas kepergianku. Aku tetap bertahan dan berusaha memberikan penjelasan. Akhirnya tanteku menelpon, lagi-lagi aku diinterogasi dengan pertanyaan yang serupa, tawarannya untuk melanjutkan S2 di Makassar pun aku abaikan.

Entah mengapa aku begitu yakin dengan keputusan yang telah aku pilih. Semoga ini adalah petunjuk dari-Nya. Esok harinya aku putuskan untuk pulang kampung. Memberikan pemahaman dengan berbagai referensi yang telah aku dapatkan dari senior-senior bahwa pilihanku insya allah bukanlah jalan mazmumah. Alhamdulillah, ibu dan keluarga dapat berbesar hati. Aku pun dapat berangkat dengan tenang sambil membawa kue buatan ibuku. I love you, mom! Aku ingin meneriakkan kata itu berulang kali sampai bibirku beku. Mobil pun melaju seakan menjauhkan aku dari orang tua dan adik-adikku.

Tunggulah, karena aku akan kembali!” ucapku dibarengi air mata yang tak mampu lagi terbendung.

Bunga dengan hiasan mahkota kecil-kecil berwarna ungu di sebuah pot depan paviliun menyambut kedatangan kami. Bunga itu menjadi perhatian utamaku tiap kali akan melaksanakan apel pagi di jalan aspal depan paviliun. Makhluk ciptaan Tuhan terindah setelah manusia seakan-akan memberikan penyemangat di pagi hari, bermekaran dan tersenyum sambil berkata, sambutlah harimu dengan rasa syukur maka bahagia akan menjemput dan merangkulmu. Bunga indah itu sepertinya malaikat utusan Ilahi, setiap kali memperhatikannya hati serasa tak ada beban. Bibir yang kaku karena dingin pun mulai mengolah motorik untuk menciptakan senyuman termanis sambil mengeluarkan huruf demi huruf merangkai lantunan cinta pada Pencipta.

Baiklah wahai bungaku, akan aku ikuti nasehatmu hingga pernafasan terakhirku.” Aku percaya dapat menaklukan tantangan hidup di dunia panah ini dan SGEI adalah salah satu jalan yang Allah SWT tunjukkan untukku. Bukan sombong tapi ini adalah keyakinan, karena sesungguhnya Engkau bersamaku. Azzam dengan kokohnya telah tertancap dalam kalbu, menggiringku pada jalan mahmudah, jalan yang dirindukan para mukmin dan mukminat.