oleh:

Franciska, S.Pd.

Saat saya pertama kali mengikuti pelatihan di Sekolah Guru Ekselensia Indonesia ini, ada satu kata yang masih kurang saya mengerti apa maksud dari hal itu. Jujur kata itu terasa asing bagi saya sendiri karena saya tidak pernah mendengar kata tersebut, baik itu di lingkungan sekolah saya dahulu hingga masa di perguruan tinggi pun saya tidak pernah mendengar kata tersebut.

Saya kira kalimat tersebut dapat diartikan sebagai nama dari sebuah makanan, atau nama es krim itu sendiri. Salah penafsiran yang saya buat itu juga tidak lepas dari kurangnya pemahaman bahasa inggris. Hanya sedikit kata-kata dalam bahasa inggris yang saya pahami dan mengerti apa maksudnya. Saya bertanya kepada teman-teman yang lain, apa sih maksud dari ice breaking itu?

Maka salah satu teman menjawab, “Ice breaking itu adalah sebuah permainan-permainan yang dapat memberikan penyegaran.”

Terus ada juga yang bilang, “Ice breaking itu merupakan permainan-permainan yang dapat memberikan semangat kepada setiap orang yang sedang dalam kegiatan, baik itu sekolah maupun suasana perkumpulan biasa.”

Jujur saya baru mengetahui bahwa kata itu merupakan istilah dari sebuah permainan penyegaran. Yang saya tahu kalau permainan, ya permainan saja. Tidak pakai istilah-istilah yang susah dimengerti oleh orang, apalagi kalau orang tersebut kurang mengerti bahasa inggris, contohnya seperti saya.

Tapi setelah saya mengerti pentingnya kita apalagi seorang guru untuk menerapkan ice breaking adalah bisa membangun siswa menjadi lebih semangat lagi dalam belajar, sangat membangkitkan semangat saya untuk lebih mengetahui lebih dalam lagi tentang ice breaking. Permainan seperti apa yang dapat disebut dengan ice breaking itu? Semuanya ingin saya ketahui.

Untungnya ketidaktahuan saya tentang ice breaking ini lama-lama berubah menjadi pemahaman yang sangat berarti bagi saya. Dengan seringnya saya dan teman-teman menerapkan permainan ice breaking tersebut membuat saya mempunyai satu kesimpulan. Ice breaking sangat diperlukan oleh siswa untuk membuat mereka menjadi santai, antusias, dan juga bersemangat untuk menyerap materi yang akan disampaikan oleh gurunya nantinya. Karena hal tersebut sudah saya alami sendiri di SGEI ini—sebelum memasuki materi perkuliahan maupun saat akan memulai lagi materi setelah istirahat makan selesai tiap harinya—saya dan yang lainnya selalu menerapkan ice breaking terlebih dahulu. Dan hal tersebut membuat saya menjadi santai, antusias, dan bersemangat untuk mengikuti materi yang akan diberikan.

Dari mengikuti pelatihan di SGEI, saya jadi tahu bahwa dalam kita mengajar di sebuah kelas sangat dibutuhkan sekali ice breaking. Kalau mau membuat suasana kelas tersebut menjadi lebih santai, semangat, dan selalu ceria maka setiap guru harus menerapkan permainan ice breaking dalam kegiatan pembelajaran nanti. Namun, jika tidak mau membuat suasana kelas menjadi santai, inginnya hanya yang monoton saja dan membuat anak jadi mengantuk di dalam kelas, ya guru tidak perlu untuk menerapkan permainan ice breaking.

Di sini tinggal tergantung pada kita sendiri mau pilih yang mana, apalagi kita ini akan dibentuk menjadi guru yang harus bisa membuat perubahan pada anak didiknya nanti. Di sini saya mendapatkan ilmu yang sangat berharga, bahwa tidak harus memikirkan hal-hal yang rumit dan terlalu besar untuk mengetahui cara membuat anak bisa santai, antusias, dan bersemangat dalam belajar. Cukup dengan melakukan hal-hal yang simpel dan praktis saja yaitu dengan sering menerapkan Ice breaking dalam kegiatan pembelajaran sudah bisa membuat anak didik nantinya akan selalu antusias, santai, dan bersemangat untuk belajar.

Hebatnya, hanya dari sebuah kata ice breaking, simpel dikatakan, namun bagaikan mendapatkan pelajaran yang berharga bagi saya—untuk bekal menjadi guru yang sesungguhnya, sangat melekat di hati ini.