oleh:

Kartini, S.Pd.

Bila kita mengingat perjuangan salah satu sosiolog Indonesia, Imam Prasodjo. Hati kita akan tersentuh dengan kepeduliannya terhadap rakyat kecil. Lelaki—berlatar belakang Ilmu Sosiologi dan beramput putih—ini terinspirasi dari suatu kejadian yang telah terjadi di sekitar tempat tinggalnya. Berawal dari peristiwa tawuran sesama warga di sekitar Jalan Proklamasi, Jakarta. Dia pun tinggal di sekitar tempat itu. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya tawuran. Pengangguran salah satu penyebabnya. Ini aneh. Tempat diproklamasikannya kemerdekaan kita telah tercemar dengan gencarnya tawuran. Idealnya, karena tempat itu amat bersejarah, yang mengeluarkan kita dari jeratan penjajah, seharusnya menjadi tempat yang aman.

Imam Prasodjo ingin mendamaikan tawuran sesama warga yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya. Dia mulai membaca pemicu konflik. Imam Prasodjo mendekati hati warga. Dia memanggil para ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan tetap untuk ikut melakukan senam. Tujuannya adalah agar ibu-ibu punya aktivitas. Dari aktivitas itu, perhatian anak-anak mereka yang tawuran akan tertuju kepadanya. Dengan demikian, intensitas tawuran berkurang.

Imam Prasodjo mulai membahas langkah selanjutnya dengan para ibu rumah tangga. Dia berencana memanggil pemuda-pemuda yang tawuran untuk terjun dalam dunia seni. Mereka mulai membentuk grup band. Dia mengasah otak pemuda-pemuda untuk menjadi seorang vokalis, drummer, dan gitaris. Ternyata mereka berbakat di bidang seni. Dengan demikian, mereka memiliki aktivitas sehingga tawuran pun bisa dihentikan. Namun, ini mengalami proses.

Kesadaran mulai tumbuh. Imam Prasodjo bergotong-royong bersama warga membersihkan pekarangan dan menanaminya bunga. Pemuda yang dahulunya pengangguran dan tawuran sekarang menjadi warga yang bekerja keras. Daerah itu mulai aman. Melihat kondisi tersebut, dia mulai berinisiatif membangun sekolah. Dengan semangat dan kerja kerasnya, sekolah yang diimpikannya telah terwujud. Anak-anak mulai bersekolah. Para ibu rumah tangga pun sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Manusia hanya berusaha, Tuhanlah yang menentukan. Kata-kata ini menyinggung perjuangan Imam Prasdjo. Sekolah yang dibangunnya terbakar. Taka ada yang tersisa sedikit pun. Dari situlah Imam Prasodjo mulai tertantang lagi untuk membangun daerah tersebut.

Ada satu peristiwa unik setelah kebakaran. Imam Prasodjo memanggil warga melaksanakan upacara hari kemerdekaan di depan gedung yang sudah terbakar. Hari itu adalah hari kemerdekaan bangsa Indonesia melawan penjajah, 17 Agustus. Mereka menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya dengan rasa nasionalisme yang tinggi. Pemuda yang dahulunya sering tawuran di daerah itu, sedang menunjukkan kecintaannya terhadap negeri tercinta ini. Mereka hormat di depan Sang Saka Merah Putih—yang di sekitarnya tampak kayu-kayu yang sudah hitam akibat kebakaran. Tak ada pemandangangan indah hanya bekas-bekas kebakaran yang nampak.

Dia bersama warga bergotong royong membangun kembali sekolah. Tidak ada orang luar yang terlibat dalam gotong royong itu. Pemuda yang dahulunya tawuran kini bekerja keras. Mereka mulai membeli bahan-bahan bangunan. Ada yang bertugas memasang batu, pondasi, dan mengambil kerikil. Sebagiannya lagi mencampur pasir dan semen lalu dibuatnya menjadi campuran bangunan. Mereka menyusun batu satu per satu hingga menjadi bangunan yang kokoh. Para ibu rumah tangga bertugas menyediakan konsumsi. Mereka makan bersama. Seperti itulah yang mereka lakukan hingga akhirnya bangunan yang terbakar kembali seperti semula.