oleh :

Nursyamsi, S.Pd.

Tanpa terasa telah satu bulan lebih usia pertemuan kita di SGEI 2. Suatu pertemuan yang kita awali dengan sebuah perkenalan singkat di sebuah malam. Sebuah perkenalan yang selalu di akhiri dengan kata-kata favorit dari setiap kita yang memperkenalkan diri. Ada raut nervous tapi bahagia terpancar di wajah kita saat itu, terutama setiap kita yang berasal dari Bogor dan Makassar. Seberapa banyak kadar nervous tapi bahagianya, aku pun tak bisa menafsirkannya.

Apel pagi menjadi rutinitas kita setiap Senin sampai Jum’at. Setelah itu, kita masuk ke kelas SGEI 2. Kelas selalu dimulai dengan ice breaking yang dipimpin oleh setiap kita yang menjadi ketua kelas di hari itu. Lalu, berjubel ilmu kita dapatkan dari pemateri-pemateri handal. Di sesi inilah kita mendengar, melihat, dan memperagakan materi-materi yang di berikan. Bukan itu saja, sebagian dari kita ada yang bersungguh-sungguh meng-eksplore kemampuan yang dimiliki, ada juga yang terlihat diam seribu bahasa, dan masih menyembunyikan potensi yang kita punya. Tepat jam 10.00 WIB, kita selalu break dan menikmati snack. Saat shalat dhuhur telah usai, kita semua berhamburan menuju pantry untuk makan siang. Di akhir pembalajaran, lembar evaluasi tak lupa selalu di edarkan oleh team work SGEI 2.

Di malam harinya, seringkali slot-slot otak kita diisi lagi materi mentoring. Di antara mata–mata kita yang tetap setia terbuka dan fokus terhadap materi, muncul mata-mata sendu yang memberi sinyal bahwa sebagian dari kita telah dilanda rasa kantuk. Sungguh pemandangan yang lucu ketika di dokumentasikan. Ketika malam harus dilalui dengan mengerjakan tugas individu atau kelompok. Cerita di sesi ini selalu kuberi judul kerjasama. Kuberikan judul itu karena semuanya selalu kita kerjakan bersama. Tak pernah ada kata individualisme di sini yang ada kerjasama. Jika beberapa orang dari kita mendapatkan kesulitan mengerjakan tugas, maka yang lain siap untuk membantu. Lain lagi ceritanya, jika malam berlalu tanpa ada tugas atau pun mentoring. Malam semau gue akan jadi acara yang mengasyikkan, khususnya beberapa dari kita yang menghuni paviliun empat. Online, nonton film, tidur di awal malam, sharing adalah menu pilihan acara malam semau gue.

Di hari Sabtu dan Minggu, kita biasanya outdoor. Kita pernah refreshing sambil belajar di kebun Raya Bogor, belajar bersama Imam Prasojo di kediamannya, mengikuti seminar di Hotel Maharani Jakarta, mengunjungi museum peta, melakukan challenge dengan rute yang telah di tentukan, dan outbond di lapangan sepakbola LPI. Bukan itu saja, sebagian dari kita sering pergi ke Pasar Parung, ada yang ke IPB, dan ada yang ke Monas. Outdoor selalu menyisakkan kebahagiaan dalam kelelahan.

Seminggu lagi rutinitas kita akan berubah kawan. Kita yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia ini akan magang di sekolah dalam daerah yang berbeda. Sebagian dari kita tentu tak lagi tinggal di LPI. Tentu akan lebih banyak kisah yang kan tertulis dalam catatan kehidupan kita.

Bagi sebagian dari kita yang tak lagi tinggal di LPI, mau tak mau adaptasi menjadi hal yang kan kita lakukan lagi. Namun aku selalu percaya bahwa kita akan mampu melewatinya. Tantangan-tantangan yang kan kita temui di tempat magang nanti akan menjadi hal yang mendewasakan kita, menjadi kan kita pribadi yang tegar, dan Insya Allah lebih peka dengan kondisi orang lain.

Keberadaan kita di tempat ini adalah hal yang sangat patut untuk disyukuri. Kebersamaan yang kita bangun adalah kebersamaan yang patut dicatat sebagai kenangan. Begitu banyak ilmu dan pengalaman yang kita peroleh di sini kawan, hingga jika aku harus mengibaratkannya sebagai lukisan maka warna hitam putih tak akan pernah cukup untuk mewakilinya.

Kuharap cerita tentang kita tak akan berakhir hanya sampai di magang. Kuharap Allah selalu menetapkan kita dalam kebersamaan di mana tali persaudaraan kan tetap terjalin.