oleh:

Dewi Nurul Maliki

Tentu masih lekat dalam ingatan kita, kata-kata, “Ini bapak budi,” atau “ini ibu wati.” Tak lain karena kata-kata tersebut merupakan kalimat sederhana yang terdapat dalam buku teks Bahasa Indonesia SD kelas 1. Bagi generasi jebolan Kurikulum 1994 atau CBSA, ilustrasi tentang sosok Budi dan Wati menjadi ikon para guru yang lekat pada murid. Budi dan Wati digunakan untuk mengajarkan siswa belajar mengeja kata dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Bagi siswa-siswa yang berasal dari Pulau Jawa tentu tak ada kesulitan untuk membayangkan atau mengonkretkan sosok seorang anak laki-laki bernama Budi atau anak perempuan dengan nama Wati. Dua nama tersebut sangat familiar di telinga mereka sebab termasuk nama-nama yang populer. Tapi tunggu, belum tentu setiap anak mampu membuat konkretisasi sosok Budi dan Wati. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi anak-anak didik maupun guru di wilayah Indonesia Timur, terlebih Propinsi Papua.

Sosok anak bernama Budi dan Wati bagi anak-anak SD di Papua—apalagi di daerah pedalaman—adalah sosok yang abstrak dan tak mampu terimajinasikan dalam otak mereka. Bukan hanya masalah daya imajinasi yang kurang baik, tak pula ada hubungan dengan kecerdasan IQ anak-anak Papua. Sederhana saja, tak ada anak Papua yang bernama Budi atau Wati. Pelajaran membaca akan semakin sulit diterima oleh anak-anak Papua jika di dalam buku teks Bahasa Indonesia turut digambarkan sosok Budi dan Wati. Budi adalah anak laki-laki berkulit cokelat atau kuning dan berambut lurus berwrna hitam. Wati pun digambarkan dengan ilustrasi yang sama, gadis kecil berambut hitam lurus dan warna kulit yang terang. Penggambaran ini tentu saja berbeda dengan sosok anak-anak Papua yang berkulit gelap dan berambut ikal kecil-kecil.

Menyaksikan realita ini, rasanya kasihan sekali anak-anak Papua ini. Mereka seolah dipaksa untuk berada di dunia asing, di luar jangkauan imajinasi anak-anak berusia enam, tujuh atau delapan tahun. Dunia di mana mereka dipaksa untuk melakukan re-imajinasi dan mengonstruksi konsep anak-anak bernama Budi dan Wati, yang berbeda jauh dengan deskripsi fisik diri mereka.

Pada akhirnya menjadi tugas guru untuk menjelaskan siapa Budi dan Wati. Idealnya guru memang harus mampu memberikan penjelasan sederhana yang dapat dengan mudah dipahami oleh para siswa. Bukan saja menjelaskan tentang siapa Budi dan Wati—yang notabene sama dengan nama-nama anak yang terdengar lebih populer seperti Barnabanas, John, dan lain-lain—namun juga menjelaskan bahwa ada dunia luar yang berbeda dari mereka, yang bernama Pulau Jawa. Tidak menjadi masalah jika sang guru mengerti tentang deskripsi Pulau Jawa dan membahasakannya secara sederhana. Persoalannya adalah jika pengetahuan guru tentang Pulau Jawa sangat minim sebab ketiadaan akses informasi. Dapat dibayangkan selanjutnya, siswa dan guru pun sama-sama tidak paham.

Budi dan Wati—bagi orang-orang yang berasal dari Pulau Jawa—tak lebih hanya sebatas instrument. Sebuah atribut yang dilekatkan pada anak laki-laki dan perempuan berusia SD. Dua nama yang digunakan sebagai contoh dalam pelajaran Bahasa Indonesia kelas 1 SD. Nama yang hingga detik ini—bagi para almamater kurikulum 1994 dan CBSA—menjadi legenda. Dengan mudah dahulu guru-guru kita menanamkan dua nama itu ke dalam memori terdalam otak kita. Tapi sebaliknya, bagi anak-anak usia SD kelas 1 di pelosok Papua sana, perlu perjuangan untuk “berkenalan” dengan Budi dan Wati terlebih dahulu. Artinya, untuk dapat membaca saja mereka harus dipersulit, dipaksa terlebih dahulu membayangkan Budi dan Wati. Ini adalah sebuah refleksi, bahwa pendidikan di negeri ini masih saja bersifat Java centris. Meletakkan Pulau Jawa sebagai patokan terbaik dan ideal bagi setiap daerah di Indonesia. Ironis.