oleh:

Hendro Lisa

Wuss…,” derai angin terasa lembut menerpa wajahku. Sambil duduk dan tertawa di sudut lapangan sepak bola, aku mencoba mengingat-ingat semua jalan yang membawaku ke sini. Sebuah rahasia yang sulit diurai, dibahas, dan disimpulkan.

Sore itu langit terlihat berwarna merah, dan senja segera menjelang. Kupikir sekitar 15 menit lagi akan tiba waktu maghrib. Bersandar pada bangku dideretan belakang, sambil melamunkan pasir waktu aku pun berkhayal-khayal dengan bebas. Tiba-tiba semua yang kulihat menjadi blur, dan dengan perlahan aku seakan masuk dan terjun ke dalam kolam air yang blur tadi. Dan kisah pun dimulai.

Hari ini adalah batas akhir pembayaran SPP di IPB. Dan tak ada hal yang lebih menyenangkan hatiku, selain mengetahui bahwa surat kelulusan milikku telah selesai ditandatangani tepat hari ini. Artinya, aku tidak perlu lagi membayar uang semester untuk kuliah yang jelas-jelas tak mungkin kuikuti lagi. Lewat sehari saja, aku harus merogoh lagi kocek sekian juta. Benar-benar sebuah perjuangan yang mendebarkan. Bagaimana tidak, dalam satu bulan menjelang batas tenggat pembayaran, pembahasan penelitianku sama sekali belum menemukan ruhnya (begitu komentar dosenku kala itu), ditambah lagi dengan adanya kesalahan memasukkan data. Bahasa sederhananya, hitung ulang lagi dan bahas dengan benar.

Sejak itu aku jungkir balik jumpalitan di depan komputer purbakalaku, sebuah komputer penting yang bersejarah. Kalian tahu kawan, kelak tepat seminggu setelah aku menyelesaikan skripsiku, ia kembali diare dan muntah-muntah hingga diopname.

Alhamdulillah,” ucapku kala itu, “alhamdulillah, skripsiku telah selesai.”

Oke, kembali ke topik semula. Dengan penuh perjuangan dan kerja keras aku terus memperbaiki tulisanku. Aku menghadap, aku ditolak. Menghadap lagi, salah lagi, tentu saja ditolak lagi. Maju lagi, keliru lagi. Maju terus pantang mundur, salah terus tambah hancur. Hingga akhirnya aku sampai pada sebuah titik untuk pasrah dan menyerah. Titik itu terus menarikku dengan cengkeraman yang kuat, dan bilang, sudahlah… berhenti saja, kamu kan sudah berusaha.

Waktu terus berlalu, dan semua tampak seolah tidak mungkin di depan mataku. Jauh lebih mudah bagiku untuk pergi, lari, dan kemudian melupakan (mirip ungkapan melankolis drama asia). Tapi aku sungguh ingin target lulusku tahun 2010 ini terwujud, setelah hampir semua target-target lainnya, hanya cukup memberiku nilai tes kesabaran gratis. Rencana A, si anak kampung ini akan lulus bulan Februari, rencana B kuubah bulan Mei, rencana C menjadi bulan September, dan ini adalah rencana plin terakhir, aku sudah bosan menggunakan huruf A, B, C, dan hanya berdoa pada Tuhan, luluskanlah hambamu ini pada tahun ini. Sudah cukup lama rasanya aku menjadi mahasiswa.

Aku sering melamun, tahun depan aku akan ada di mana, dengan siapa, apakah masih di IPB atau telah bekerja. Imajinasiku semakin melompat-lompat tak karuan, apalagi soal pernikahan, walimah, resepsi, undangan, dan makanan pesta perkawinan, maka sebaiknya segera kuhentikan.

Fokus Ndro, fokus…,” ucapku dalam hati.

Aku pun kembali mengetik. Ternyata kerja keras itu membuahkan hasil. Aku diperbolehkan menempuh ujian sidang dan berhasil lulus, meski tenggat waktu pembayaran SPP sangat sempit dan nyaris tidak mungkin, dengan segala bantuan dan ridho-Nya ternyata semua benar-benar mungkin. Bahkan aku menjadi lulusan terbaik untuk periode wisuda saat itu. Pada saat dekan memberikan sekotak pulpen kepada sepasang lulusan terbaik dari Departemen Agribisnis, tanpa sadar setetes air mata jatuh mengalir di pipiku. Ini adalah jawaban pertama, Tuhan yang selalu punya rahasia.

Gelar Sarjana bagiku adalah sesuatu yang begitu istimewa, karena mengangkat derajat seorang anak melayu pedalaman ini, si bujang perantau ini untuk menjadi sedikit ahli. Setidaknya merasa sedikit ahli. Dengan semua api semangat sarjana fresh graduate aku pun berpetualang ke semua pos-pos informasi lowongan kerja. Sebagai anak I-pe-beh, tentu saja sumber informasi utama dan pertama adalah Kantor Jasa Almamater.

Hari itu, 31 September 2010, pukul 5 sore. Aku masih berpeluh-peluh karena terlalu sibuk bolak-balik mengurus surat lulus di fakultas. Tadi, tepat pukul 4 sore aku mendapatkan surat lulusku di saat pegawai fakultas sudah akan bersiap-siap pulang kantor. Selalu seperti ini, di detik-detik terakhir, lirihku. Dengan ini aku terbebas dari pembayaran SPP dan segera menempuh lembar kehidupan yang baru. Betapa manisnya.

Dengan segenap gairah yang ada, aku langsung tancap gas menuju gedung rektorat kampus. Di sanalah bercokolnya sebuah kantor yang jadi ajang reuni alumni IPB, terutama para pemburu kerja. Apalagi kalau bukan Kantor Jasa Ketenagakerjaan. Dan aku paham, kantor tersebut akan tutup pukul 16.00 WIB.

Jam di HP-ku menunjukkan pukul 16.10 WIB, “Semoga masih sempat,” lirihku sambil berlari-lari kecil.

Sesampainya di sana, kantor tentu saja sudah tutup. Namun aku tak putus semangat, dan senyumku tak juga berhenti tersungging sedari tadi. Aku langsung mencari-cari saja di papan pengumuman berupa mading yang ada di depan kantor itu. Sambil berjalan-jalan ringan di sekitar tempat itu, entah kenapa aku merasakan hembusan angin yang lembut. Lembut menerpa wajahku. Inilah angin bogor, angin dari kaki Gunung Salak. Angin yang menambah sesak dadaku, karena banjir perasaan bahagia. Kebahagiaan seorang sarjana yang menggenggam ijazahnya. Tanpa aku tahu, angin ini juga akan nenghampiriku lagi kelak, di desa Jampang di sore yang sama, berbulan-bulan lagi.

Tiba-tiba aku melihat sebuah lowongan menarik di pojok paling atas sebelah kiri. Lowongan di bidang Perhotelan. Aku langsung teringat informasi yang diberitahukan oleh temanku sebelum aku lulus, tentang kesempatan kerja di Hotel Salak, beberapa minggu yang lalu. Ternyata lowongan itu masih ada dan belum terisi. Semangatku begitu menggebu-gebu, aku akan berusaha dan langsung terbayang olehku uang gaji yang berjuta-juta, slurp. Aku segera mensortasi informasi yang ada di mading. Aku mengambil buku kecilku dan mencatat beberapa kesempatan yang menarik.

Sambil berucap, “Yes,” dengan pelan aku segera berlalu.

Namun ada beberapa lembar brosur di sudut jendela kantor itu, yang seolah minta kudekati. Dengan santai aku menuju pojok kantor tersebut dan membaca brosurnya yang berwarna biru.

Dicari orang yang memiliki visi menjadi guru. Dan siap ditempatkan ke seluruh Indonesia”. Tiba-tiba aku langsung teringat program Indonesia Mengajar milik Pak Anis, yang membuat patah hatiku, beberapa minggu lalu. Aku yang belum sempat menyelesaikan S1, harus kecewa dan merelakan program itu, padahal hatiku seperti jatuh cinta dengannya.

Kuperhatikan lekat-lekat brosur itu, Makmal Pendidikan dari Dompet Dhuafa. Sebagian sisi hatiku bilang, ini jalan dari Allah, ambillah. Sebagian yang lain bilang, sudahlah tidak menarik, pasti uangnya kecil. Pada brosur itu tertera informasi: Pendaftaran Paling Lambat 31 September 2010. Ternyata paling lama sampai malam ini, lirihku dalam hati. Dengan perlahan aku letakkan kembali brosur itu, dan segera berjalan meninggalkan area kantor. Hari akan semakin petang dan sebentar lagi jalanan kampus menjadi macet. Aku segera bergegas pulang.

Namun sekitar sepuluh langkah kemudian, bagian hati yang lain menahanku. Bukankah sebaik-baik keadaan adalah keadaan yang membuatmu semakin dekat padaNya, detik itu juga langkahku terhenti. Namun tiba-tiba aku mendengar suara lain, Sudahlah, yang penting kumpulin banyak uang dulu. Tenang saja, nanti tes di Hotel Salaknya bakal lulus kok, Hendro gitu lho. Sambil mengucapkan bismillah aku pun berbalik dan mengambil brosur itu. Aku segera memasukkannya ke dalam ransel dan berlalu pergi sambil bersiul, bernyanyi.

Malamnya aku segera menyelesaikan pendaftaran program tersebut, program itu bernama Sekolah Guru Ekselensia Indonesia. Nama yang menarik, ujarku. Selain itu aku juga mempersiapkan lamaran kerja lainnya. Beberapa hari berlalu, melalui berbagai proses tes dan seleksi aku diterima untuk bekerja di perhotelan. Cepat sekali ujarku, esoknya tepat satu minggu setelah kelulusan aku sudah mulai bekerja dan punya meja kantor sendiri. Aku begitu bangga dan bersyukur dengan cara Tuhan bekerja. Semua seperti kejutan tak terduga, jawaban dari rahasianya yang lain.

Puncak dari kejutan tersebut adalah pengumuman kelulusan SGEI. Aku merasa sebagian besar hatiku lebih tertarik pada program ini. Ini adalah jalan dengan kemaslahatan yang besar. Ini adalah program yang membentukku menjadi lebih takwa, ikhlas, dan akan meningkatkan kapasitas diriku sendiri, ketimbang harus terus menerus jadi bagian dari sebuah sistem yang bersifat mekanis. Dan yang lebih penting, SGEI adalah jalan tak terduga berikutnya dari rangkaian keputusan Tuhan yang telah Ia sulamkan dengan Maha Ketelitian, dan selalu punya rahasia.