oleh : Tien Asmara Palintan

Tidak terasa amanah sebagai pejuang pendidikan di sekolah mahasiswa SGEI Angkatan II magang telah selasai. Yang ada saat ini adalah bayangan wajah ceria dari siswa-siswa kita, tawa, celetukan, teriakannya..dan laporan PTK tentu saja..!

Disekolah tadi..pasti ada air mata..ada senyum haru..bahagia karena ternyata siswa menyayangi kita,semuanya laru…t dalam satu kata “perpisahan”. Kata itu,tidak semua orang menyukainya..begitu pun dengan ku!

Tapi ternyata tidak semua bagian dari perpisahan itu membawa dampak yang tidak menyenangkan. Saya berusaha melihat perpisahan yang saya alami hari ini dari sisi yang berbeda (selain untuk mengalihkan rasa sedihku sendiri karena berpisah dengan siswaku tersayang).

Sisi lain dari perpisahan ternyata mampu mengasah kecerdasan menulis pada anak didik kita..

Saya mempunyai pengalaman tentang kisah perpisahan dengan siswaku, semoga ada manfaatnya buat teman-teman sekalian..

Hari ini ketika akan berpamitan dengan siswa-siswaku, saya masuk ke kelas mereka satu persatu. Seperti biasa, menyapa mereka dengan salam yang setiap pagi kami teriakkan di kelas “Apa kabar anak hebat Indonesia…?” Maka mereka pun dengan serempak menjawab “Alhamdulillah..semangat..ceriaaa..luaaarrr biaaassaaaa..!!”. Setelah itu mengajak mereka bermain dan bernyanyi . Terakhir, saya bercerita kepada mereka bahwa sudah saatnya Ibu Titin akan melanjutkan pelajaran di sekolah, sama seperti mereka. Hari ini adalah hari terakhir dimana saya mengajar mereka di SDN Jampang Pondok Udik. Oleh sebab itu, Ibu meminta siswa sekalian untuk menulis “surat cinta untuk ibu Titin”. Supaya kalau saya kangen, saya akan membaca surat mereka.

Awalnya mereka agak bingung, ada beberapa siswa yang jelas menunjukkan ekspresi sedih, banyak yang bertanya mau pindah kemana, ada juga yang menahan untuk tetap mengajar mereka.

Mengapa surat cinta?

Karena aktivitas ini mengarahkan anak untuk mengekspresikan perasaan siswa kepada gurunya secara tidak langsung. Terkadang, usia anak-anak masih suka sulit untuk dimintai komentar secara lisan. Belum lagi kalau si anak malu-malu. Dengan menulis, siswa diajak untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan kepada orang lain, terkhusus kepada gurunya. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa dengan menulis, maka seseorang dapat menghilangkan kecemasannya, depresi, meringankan beban pikirannya, dan sebagai media katarsis. Tidak terkecuali pada siswa-siswa kita. Saya bisa menebak, siswa anda akan menuliskan Saya senang sekali  diajar oleh bapak fulan atau ibu fulanah. Saya sayang sama bapak/ ibu guru..i love u..”.

Saya tidak tau pasti bagaimana perasaan siswa saya kepada guru magangnya apabila saya tidak meminta mereka menuliskan surat cinta kepada saya. Yah, bisa saja sebenarnya kalau anda ingin mewawancarai siswa secara langsung.Tetapi saya yakin dengan menuliskannya, masih banyak lagi kecerdasan lain yang bisa anda munculkan dari mereka. Misalnya, dengan menulis surat cinta tadi siswa anda akan menunjukkan bakat menggambarnya. Selain menulis surat,biasanya siswa juga akan menggambar wajah gurunya atau gambar-gambar lainnya yang berhubungan dengan persepsi siswa tersebut terhadap guru. Atau menggambarkan bagaimana suasana hati siswa tersebut saat itu.

Selain itu, dengan menulis surat anda juga mampu menilai kecerdasan bahasanya terutama kemampuan merangkai kalimat, pemilihan diksi, cara menulis kata, penggunaan huruf besar,  tanda baca, dan sebagainya. Misalnya: sebait pantun yang dituliskan oleh siswaku kela 6 SD Ikan hiu ikan patin..I Love U Bu Titin… Ikan hiu goyang-goyang..I miss u bu Tiitn ku sayang…”. Cerdas bukan..?

Tidak kalah menariknya, dengan menulis surat cinta juga mampu mengasah kecerdasan emosi pada anak didik kita. Mereka akan belajar menganalisis rasa sedihnya karena kehilangan sosok guru yang selalu mengajak mereka bermain ataupun perasaan senang karena bersyukur pernah bertemu dengan guru yang mengajarkan mereka  menyanyi, senam dan tepuk semangat!

Karena asosiasi perpisahan itu selalu bermakna kehilangan, maka mereka juga belajar untuk mengingat dan diingat oleh orang lain. Dan efeknya  adalah, siswa kita akan menyiapkan “sesuatu” supaya gurunya tidak melupakannya. Biasanya, siswa akan memberikan kado sebagai kenang-kenangan untuk gurunya. Dengan harapan, agar bapak dan ibu guru tidak melupakan mereka. Sadar atau tidak , kita juga telah mengajarkan kepedulian dan  pengalaman berbagi kepada orang lain. Hadiah yang mereka berikan kepada gurunya sebagai wujud kepedulian mereka kepada orang yang mereka sayangi. Selain itu, anak juga belajar untuk memberikan apresiasi kepada orang lain. Mengajarkan bahwa anak juga punya hak untuk memberikan penghargaan kepada orang lain, dan saya rasa anak akan sangat senang apabila guru menerima pemberian dari mereka.

Tapi kan kasihan anak..?? Kalau menurut saya, Permasalahannya bukan pada menyusahkan anak karena uang jajan mereka bisa habis untuk membeli kado, tetapi bagaimana guru bisa menghargai usaha yang telah mereka lakukan. Bukankah seorang guru juga punya hak untuk diberi apresiasi oleh siswanya..? Dan siswa juga punya hak untuk mendapat apresiasi dari guru, salah satunya dengan menerima pemberiannya? Dari segi harga mungkin tidak seberapa. Siswa saya, memberikan seekor ikan hias yang kalau saya ukur mungkin panjangnya sekitar 2 cm. Kecil sekali bukan…? Tapi saya yakin, rasa cinta yang anak berikan kepada gurunya jauh melebihi besar ikan hiu atau paus sekalipun. Saya menerima ikannya dengan perasaan haru,bangga, bahagia.dan senyumpun menghiasi wajah bocah-bocahku..Alhamdulillah..

Terlepas dari banyaknya manfaat yang bisa didapatkan oleh siswa, ternyata guru pun akan mendapatkan banyak hikmah dari aktivitas ini. Jangan heran,kalau membaca tulisan siswa-siswa anda yang lucu, aneh, dan mengharukan. Seperti itulah  mereka, makhluk Allah yang polos. Mereka tidak akan sungkan-sungkan mendoakan anda supaya panjang umur, selamat di jalan, dimudahkan rejekinya, selalu semangat, ceria, tersenyum, diberi kesehatan dan cepat bertemu jodohnnya (hehe..aku suka bagian ini..!Opss..!!Hehhehe..) dan berbagai kebaikan lainnya. Amin Yaa Rabbal alamin na’..! Saya jadi teringat perkataan salah seorang trainer kami di Makmal Pendidikan. Seperti yang kita ketahui bersama, salah satu tiket gratis orang tua ke surga adalah dengan doa dari anak sholeh mereka. Ternyata kata seorang uztad via trainer makmal tadi, doa anak sholeh yang dimaksud bukan hanya anak biologis kita (anak kandung red). Tetapi anak didik kita pun, Allah akan ijabah doanya. Masya Allah…fa biayyi ‘ala irabbikuma tukadzibaan..! Hebat yah..!

Yah..seperti itulah pengalaman perpisahan dengan siswaku hari ini. Satu hal yang saya garis bawahi, perpisahan ternyata tidak selamanya membawa afek negative kepada orang yang mengalaminya. Tapi jauh dibalik itu semua, ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dan diajarkan kembali. Tergantung, seberapa bisa anda bisa mengambil makna dari perpisahan itu sendiri. Nah..Bagaimana dengan anda..?Selamat mencoba, dan rasakan sensasi “surat cinta” siswa kita.