Sofa Nurdiyanti,   SGEI 2

Agaknya perilaku jujur di masa sekarang hanyalah sifat ideal yang sulit diterima oleh orang-orang di sekitar kita. Betapa pun lurusnya niatku untuk selalu membangun prinsip jujur—yang telah aku bangun sedari kecil. Pada saat magang menjadi guru, aku mendapati kenyataan yang memilukan. Penentang sikap jujurku bukanlah dari penjahat, kriminal, koruptor atau siapapun yang telah melanggar arti kejujuran itu sendiri, tapi seorang pendidik. Ya, pendidik yang selayaknya menanamkan arti dan keteladanan akan nilai-nilai moral ternyata telah berbalik arah. Sang pendidik itu sendiri yang mengajariku tentang realita kejujuran di Indonesia yang sudah semestinya aku ikuti daripada nanti akan tersingkir dari dunia kerja.

Cerita bermula dari terlambatnya kedatanganku di sekolah magang, dan aku tidak menurut untuk mengisi jam kedatangan lebih awal supaya tidak ketahuan aku terlambat ke sekolah. Maka dimulailah ceramah moral versi guru pamongku di pagi itu yang terasa menyiksa. “Gini ya Bu Kinur, ibu enggak mau merubah jam kehadiran ke 7.15 itu baik. Ibu tetap mau bersikap jujur dan menulis jam kehadiran 7.45. Tapi ingat bu, ibu juga harus memperhatikan sekolah. Apa nanti kata orang, kalau enggak bisa mendidik guru magang satu aja. Eh…. Eta, guru magang, Ibu Kinur datangnya telat terus. Kan nanti bikin malu sekolah bu.” “Iya, pak. Saya mohon maaf, tapi tadi motornya datang telat. Jadi harus nunggu motor sewanya datang dulu,” ucapku memberikan alasan keterlambatanku.

Berhubung jarak SD dengan rumah sewa kami jauh—jika berjalan kaki satu jam perjalanan—maka kami memutuskan menyewa motor dari salah seorang guru yang bekerja di depan rumah. Namun sayang, guru tersebut sering datang terlambat membawa motor ke sekolah dan alhasil, kami pun ikut terlambat ke sekolah. Jika hari hujan pun, aku dan temanku sering menunda pergi ke sekolah hingga hujan reda. Maklum, sering di pagi hari ada kiriman hujan yang airnya berasal dari laut. Daerah tempat aku magang dekat dengan laut dan dikelilingi oleh perbukitan, maka setiap harinya sering mendapat kiriman hujan dari laut dan bukit kecil. Hujan yang turun pun sangat deras sehingga aku dan temanku lebih memilih menunggu hujan reda daripada berbasah-basah ria ke sekolah.

Namun rupanya alasan keterlambatanku tidak diterima baik oleh guru pamongku. Aku hanya terdiam, menunduk berusaha mengalihkanperhatian dan memainkan pulpen di tanganku. “Iya, saya mengerti. Ibu Kinur boleh datang terlambat, boleh datang jam berapa saja asal di jam kehadiran ibu nulisnya tidak terlambat. Tolong mengerti posisi sekolah kami bu. Kami bisa mendapat malu dari masyarakat sekitar juga dosen ibu. Sekolah kami menerapkan kontrak kerja hadir jam 7.20 tepat, berarti mau enggak mau ibu harus taat peraturan. Ini juga demi kepentingan ibu. Kalau ibu administrasinya bagus, nanti juga bisa lulus dengan nilai yang bagus. Ibu mau minta nilai berapa, sok aja bilang. Bakal saya kasih, karena membantu ibu yang lagi sekolah guru supaya lulus dengan nilai baik. Tapi ya itu, tolong juga bantu kami dengan menerapkan jam kehadiran tepat waktu. Kalau ibu datang terlambat, tulis aja jangan terlambat. “Tapi…. Berat buat saya merubah jam kehadiran pak,” sahutku pelan. “Ya gini aja ya bu. Ibu Kinur jujur baik, malah saya acungi jempol karena kejujuran sekarang langka. Tapi kenyataannya sekarang kita hidup di Indonesia. Ibu tahu sendiri, orang jujur itu akan tersingkir. Ibu ngajar bagus, tapi kalau administrasi jelek, nilai ibu juga akan jelek. Sebaliknya, kalau ibu enggak pernah ngajar sekalipun tapi administrasi bagus maka nilai ibu bagus.

Memang enggak adil tapi inilah kenyataannya, ini Indonesia. Kalau ibu berat buat merubah jadwal, ya tolong datang tepat waktu biar enggak berdosa karena merubah jam kehadiran. Ibu datang terlambat kalau kontrak kerja 7.20 itu juga dosa namanya. Betul enggak bu? “Hem…. Ya pak.” “Jadi begitu ya, Bu Kinur. Bukannya saya mempersulit ibu. Tapi tolong permintaan saya atas nama sekolah diperhatikan. Besok kalau ibu datang terlambat, ibu wajib merubah jam kehadiran tidak terlambat. Kalau ibu enggak mau merubah jam kehadiran, ibu wajib datang tepat waktu. Kalau sudah begitu, ibu mau minta nilai berapa saja akan saya beri supaya bisa membantu ibu. Kalau ibu ingin melihat penilaian ibu silahkan, nanti kalau nilainya kurang Ibu bisa minta lagi.

Tapi biar enggak terlihat mencolok, nilai dari sedikit dulu baru naik. Soalnya kalau nilai ibu dari tinggi ke rendah itu nanti penilaian dosen ibu. Berbeda kalau nilai dari kecil ke tinggi itu penilaian dosen ibu akan bagus karena berarti ada kemajuan dari cara ngajar ibu.” “Kalau soal nilai apa adanya aja pak. Enggak usah ditambah-tambahi nanti saya dosa,” sahutku tegas. Ampun…. Menipu aja ternyata ada triknya segala.

Ya…. Inilah Indonesia. Dan tak kusangka ada guru yang mengajariku untuk berbohong dengan alasan kita hidup di Indonesia. Jika demikian halnya, sampai kapan Indonesia bebas dari KORUPSI? Semoga tak semua guru di Indonesia berpikiran seperti halnya guru pamongku ini. Apa jadinya anak bangsa kelak jika semua guru berpikiran seperti itu? Hamasah!!!