Sudah beberapa bulan saya mengikuti pelatihan di Sekolah Guru Ekselensia Indonesia, Lembaga Pengembangan Insani yang berada di bawah Dompet Dhu’afa (SGEI LPI-DD). Dari namanya sudah tersurat bahwa pelatihan tersebut bertujuan untuk memberikan bekal keahlian untuk kelak menjadi seorang guru atau pendidik di sekolah.

Selama tiga minggu awal berada di asrama tentu ada senang, juga ada dukanya. Pertama, ada kebanggaan tersendiri di dalam dada karena bisa terpilih untuk mengikuti program LPI-DD tersebut. Kedua, karena sungguh tidak pernah terbayang dalam pikiranku tentang proses perkuliahan yang diformat oleh tim pelaksana. Sungguh berbeda dengan proses kuliah dan pelatihan-pelatihan yang pernah saya ikuti sebelumnya. Materi yang disajikan sangat tepat dan detil serta pemateri-pemateri yang menurut saya mereka adalah orang-orang yang hebat. Anggap saja seperti Reza Indragiri Amriel (seorang psikolog forensik) yang membawakan materi psikologi kepribadian, Alfito Deanova (pembawa acara di stasiun TV Nasional) yang membawakan materi “Bagaimana Cara Berbicara di Depan Umum dan Didengarkan”, dan masih banyak lagi pemateri-pemateri yang membuat saya merasa bahwa mengikuti SGEI adalah pilihan yang tepat.

Ketiga, di sini saya mendapatkan teman-teman baru yang berasal dari berbagai daerah seperti Medan, Palembang, Padang, Yogyakarta, Ngawi, Malang, juga teman-teman dari Makassar. Saya senang dengan hubungan pertemanan kami yang kadang menimbulkan kelucuan-kelucuan yang menggelitik. Mulai dari bahasa, dialek, juga perilaku-perilaku yang biasanya bertentangan dengan budaya teman dari daerah Palembang misalnya. Tapi, kami menanggapi perbedaan tersebut sebagai sesuatu yang unik dan menarik untuk kami bahas bersama di waktu senggang yang kemudian membuat kami bisa saling bertoleransi—seandainya ada gerak atau ucap yang kadang aneh di mata teman dari daerah tertentu.

Di sini juga kami diajarkan akan arti kebersamaan dan persaudaraan. Meskipun kami berasal dari daerah, suku, budaya, dan universitas yang berbeda, tapi kami mampu menjalin kebersamaan dan persaudaraan satu sama lain. Mungkin karena kami diikat oleh visi yang sama yaitu menjadi seorang guru Indonesia yang cerdas dan inspiratif. Mungkin juga karena kami sama-sama paham bahwa kelak peran kami adalah agent of changes—merupakan peran yang amat sulit jika dilakukan sendiri dan tanpa dukungan dari berbagai pihak—oleh karena itu sebelum peran itu kami emban, kami saling menguatkan, dan memberi motivasi. Kami saling berbagi, menasehati, saling membantu, saling mengerti karena kelak—meskipun akan menjalankan peran di daerah yang berbeda—setidaknya hati kami tetap terikat dan dari jauh bisa saling menguatkan.

Namun kebahagiaan tersebut terkikis sedikit demi sedikit ketika saya mengetahui bahwa kedua orang tua saya—khususnya ibu—berat tidak ikhlas sepenuh hati menerima kepergian saya menempuh pendidikan di SGEI. Ketidakikhlasan orang tua memberikan pengaruh yang sangat besar kepada performa dan semangat saya (khususnya selama seminggu terakhir ini). Tiba-tiba di waktu-waktu tertentu saya merasakan kehampaan, saya suka melamun, dan merasa sedih. Saya merasa bersalah karena ibu mengaku bahwa, selama saya berada di Bogor untuk menjalani pelatihan kondisi fisik dan psikisnya tidak pernah stabil. Saya merasa sudah berbuat dhzalim kepada kedua orang tua.

Sempat terpikir oleh saya untuk memenuhi permintaan ibu untuk tidak melanjutkan pelatihan di SGEI tentunya siap menanggung konsekuensinya. Namun kemudian setelah melalui peroses perenungan yang sangat panjang, tanpa mengecilkan arti kasih sayang kepada orang tua saya memutuskan untuk tetap di sini dan melanjutkan pelatihan. Saya hanya berdo’a kepada Allah semoga hati kedua orang tua dilapangkan dan diikhlaskan untuk menerima kenyataan, bahwa saya akan tetap berada di sini. Di sinilah jalanku, jalan pengabdianku untuk bangsa dan agamaku. Di jalan inilah akan kukerahkan segala daya dan upaya untuk mewujudkan bangsa yang maju dan sejahtera, untuk mewujudkan bangsa yang cerdas dan berkarakter. Di sinilah jalanku untuk mewujudkan Indonesia Merdeka, bukan merdeka dari penjajahan bangsa lain tapi merdeka dari kebodohan, merdeka dari kemiskinan, dan merdeka dari kebobrokan moral. Saya sadar bahwa itu adalah pekerjaan yang begitu berat, bahkan sangat-sangat berat dan butuh waktu yang lama. Tapi tidak masalah bagi saya, yang saya butuhkan adalah bagaimana Allah mengukir cita-citaku tersebut jauh ke dalam hatiku atau menancapkan dengan kuat sehingga tak akan pernah goyah meskipun berat dan rumitnya halangan dan rintangan yang harus saya lalui.

Musyarafah DM, S.Psi.