Mei 2011


oleh :

Nursyamsi, S.Pd.

Tanpa terasa telah satu bulan lebih usia pertemuan kita di SGEI 2. Suatu pertemuan yang kita awali dengan sebuah perkenalan singkat di sebuah malam. Sebuah perkenalan yang selalu di akhiri dengan kata-kata favorit dari setiap kita yang memperkenalkan diri. Ada raut nervous tapi bahagia terpancar di wajah kita saat itu, terutama setiap kita yang berasal dari Bogor dan Makassar. Seberapa banyak kadar nervous tapi bahagianya, aku pun tak bisa menafsirkannya.

Apel pagi menjadi rutinitas kita setiap Senin sampai Jum’at. Setelah itu, kita masuk ke kelas SGEI 2. Kelas selalu dimulai dengan ice breaking yang dipimpin oleh setiap kita yang menjadi ketua kelas di hari itu. Lalu, berjubel ilmu kita dapatkan dari pemateri-pemateri handal. Di sesi inilah kita mendengar, melihat, dan memperagakan materi-materi yang di berikan. Bukan itu saja, sebagian dari kita ada yang bersungguh-sungguh meng-eksplore kemampuan yang dimiliki, ada juga yang terlihat diam seribu bahasa, dan masih menyembunyikan potensi yang kita punya. Tepat jam 10.00 WIB, kita selalu break dan menikmati snack. Saat shalat dhuhur telah usai, kita semua berhamburan menuju pantry untuk makan siang. Di akhir pembalajaran, lembar evaluasi tak lupa selalu di edarkan oleh team work SGEI 2.

Di malam harinya, seringkali slot-slot otak kita diisi lagi materi mentoring. Di antara mata–mata kita yang tetap setia terbuka dan fokus terhadap materi, muncul mata-mata sendu yang memberi sinyal bahwa sebagian dari kita telah dilanda rasa kantuk. Sungguh pemandangan yang lucu ketika di dokumentasikan. Ketika malam harus dilalui dengan mengerjakan tugas individu atau kelompok. Cerita di sesi ini selalu kuberi judul kerjasama. Kuberikan judul itu karena semuanya selalu kita kerjakan bersama. Tak pernah ada kata individualisme di sini yang ada kerjasama. Jika beberapa orang dari kita mendapatkan kesulitan mengerjakan tugas, maka yang lain siap untuk membantu. Lain lagi ceritanya, jika malam berlalu tanpa ada tugas atau pun mentoring. Malam semau gue akan jadi acara yang mengasyikkan, khususnya beberapa dari kita yang menghuni paviliun empat. Online, nonton film, tidur di awal malam, sharing adalah menu pilihan acara malam semau gue.

Di hari Sabtu dan Minggu, kita biasanya outdoor. Kita pernah refreshing sambil belajar di kebun Raya Bogor, belajar bersama Imam Prasojo di kediamannya, mengikuti seminar di Hotel Maharani Jakarta, mengunjungi museum peta, melakukan challenge dengan rute yang telah di tentukan, dan outbond di lapangan sepakbola LPI. Bukan itu saja, sebagian dari kita sering pergi ke Pasar Parung, ada yang ke IPB, dan ada yang ke Monas. Outdoor selalu menyisakkan kebahagiaan dalam kelelahan.

Seminggu lagi rutinitas kita akan berubah kawan. Kita yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia ini akan magang di sekolah dalam daerah yang berbeda. Sebagian dari kita tentu tak lagi tinggal di LPI. Tentu akan lebih banyak kisah yang kan tertulis dalam catatan kehidupan kita.

Bagi sebagian dari kita yang tak lagi tinggal di LPI, mau tak mau adaptasi menjadi hal yang kan kita lakukan lagi. Namun aku selalu percaya bahwa kita akan mampu melewatinya. Tantangan-tantangan yang kan kita temui di tempat magang nanti akan menjadi hal yang mendewasakan kita, menjadi kan kita pribadi yang tegar, dan Insya Allah lebih peka dengan kondisi orang lain.

Keberadaan kita di tempat ini adalah hal yang sangat patut untuk disyukuri. Kebersamaan yang kita bangun adalah kebersamaan yang patut dicatat sebagai kenangan. Begitu banyak ilmu dan pengalaman yang kita peroleh di sini kawan, hingga jika aku harus mengibaratkannya sebagai lukisan maka warna hitam putih tak akan pernah cukup untuk mewakilinya.

Kuharap cerita tentang kita tak akan berakhir hanya sampai di magang. Kuharap Allah selalu menetapkan kita dalam kebersamaan di mana tali persaudaraan kan tetap terjalin.


Iklan

oleh:

M. Syafi’i, S.Pd.

Pada tanggal 21 Desember 2010 saya ikut touring bersama 10 teman lainnya, yang dipimpin langsung oleh Bu Evi kepala sekolah SGEI ke Desa Rawakalong Kecamatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor. Kami berkunjung ke MI Assyafi’iyah dalam rangka observasi. Sesampainya di sana, kami disambut oleh seorang wanita muda yang umurnya 30-an, dan kami langsung dibawa ruang kelas 1.

Di dalam kelas tersebut, seorang guru wanita sedang serius mengajar iqra pada para muridnya. Satu persatu para murid kami perhatikan tingkah lakunya, dan seraya mendekatinya kami berdialog dengan mereka. Tidak berapa lama pergantian mata pelajaran, yaitu pelajaran IPA dan Sains. Gurunya juga seorang wanita, guru tersebut memulai pelajaran dengan menulis di papan tulis yaitu benda-benda langit. Para murid disuruh menggambar benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang.

Ketika asyik-asyiknya mengamati kegiatan belajar mengajar, seorang wanita muda—yang menyambut kedatangan kami tadi—mengatakan bahwa pelajaran mau selesai dan kami dipersilahkan untuk berkunjung ke TK. TK terletak tidak jauh dari sekolah MI. Satu persatu dari kami keluar dari ruangan kelas. Setelah saya keluar dari kelas, saya melihat seorang laki-laki sedang duduk di teras sekolah. Dia bertubuh kecil, kulit sawo matang, rambut sedikit panjang terbelah dua, berpakaian biasa saja.

Lalu saya menyapanya, “Mas….”

Kami kebingungan letak sekolah TK. Di dalam kebingungan, laki-laki tersebut sudah mengerti kami mau pergi ke mana. Seraya bangun dari tempat duduknya, dia menunjukkan arah letak sekolah TK dan menemani kami—berjalan kaki menuju sekolah tersebut. Di dalam perjalanan, saya berkenalan dengan dia. Dia memperkenalkan dirinya, namanya Naryo dan dia sebagai pengelola sekolah setempat. Di dalam hati kecil saya, ada rasa sedikit tidak percaya karena melihat dari sikapnya yang biasa saja.

Tidak berapa lama, tibalah kami di sekolah TK. Masing-masing dari kami melihat keadaan sekolah tersebut, di mana terdiri dari lima ruangan dan gurunya sebanyak delapan orang. Setelah kami mengobservasi sekolah tersebut, kami diajak oleh Bu Evi ke sebuah rumah yang letaknya di belakang sekolah. Rumah tersebut terlihat cukup sederhana dan kami langsung disambut oleh tuan rumah dengan ramah, ternyata yang punya rumah adalah Mas Naryo. Dia memperkenalkan istri dan ketiga orang anaknya. Ternyata istrinya adalah perempuan muda yang menyambut kedatangan kami tadi. Kami dipersilahkan duduk di ruang tamu dengan hidangan makanan kecil yang sudah tersedia di hadapan kami. Bu Evi kemudian memperkenalkan siapa Mas Naryo ini sebenarnya, dan mempersilahkan Mas Naryo untuk memperkenalkan dirinya secara langsung.

Mulailah Mas Naryo memperkenalkan dirinya. Dia memiliki nama lengkap Sunaryo Adhiatmoko, dahulunya dia adalah seorang karyawan Dompet Dhuafa (DD) dan jurnalis Republika. Dia menceritakan pengalaman saat menjadi relawan DD hingga dia keluar dari DD. Berbagai pengalaman dia ceritakan kepada kami—para mahasiswa SGEI angkatan kedua. Ketika dia berada di wilayah tertinggal, tidak semua orang bisa melakukannya. Kami semua mendengar ceritanya dengan serius sebab semua ceritanya menggugah dan penuh inspirasi. Misalnya, di mana Mas Naryo membangun sebuah kampung yang belum ada wadah pendidikannya, ekonomi, dan agama yang lemah, salah satu diantaranya adalah kampung Rawa Kalong, yang telah kami kunjungi. Di mana masyarakatnya berlatar pendidikan hanya bisa tulis baca. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar kuli bangunan, tukang ojek, dan petani. Setelah melakukan beberapa kegiatan akhirnya mereka mengalami perubahan. Sekarang ada yang berprofesi sebagai fotografer, yang dulunya pengetahuan agamanya lemah sekarang bisa berubah menjadi Da’i, Khotib, dan sebagainya. Yang dulu belum ada sekolah, sekarang sudah ada sekolah di desa tersebut.

Sungguh suatu perilaku yang bertanggungjawab terhadap sebuah misi kemanusiaan. Belum lagi pengalaman di luar negeri seperti di Kamboja, Thailand, terlebih-lebih di jalur Gaza, Palestina yang tidak bisa diceritakan panjang lebar dalam tulisan ini. Semua itu bisa dijalankannya dengan sukses.

Ada beberapa prinsip yang perlu kita contoh dari sosok Mas Naryo ini:

  • Walaupun ia memiliki segudang pengalaman, namun ia tetap bersahaja, sederhana, dan kekeluargaan.

  • Setiap action yang dilakukan pasti ada problemnya, dan setiap problem pasti ada solusinya.

  • Dimana kita bisa menemukan solusinya, disitu lah kita merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.

oleh:

Franciska, S.Pd.

Saat saya pertama kali mengikuti pelatihan di Sekolah Guru Ekselensia Indonesia ini, ada satu kata yang masih kurang saya mengerti apa maksud dari hal itu. Jujur kata itu terasa asing bagi saya sendiri karena saya tidak pernah mendengar kata tersebut, baik itu di lingkungan sekolah saya dahulu hingga masa di perguruan tinggi pun saya tidak pernah mendengar kata tersebut.

Saya kira kalimat tersebut dapat diartikan sebagai nama dari sebuah makanan, atau nama es krim itu sendiri. Salah penafsiran yang saya buat itu juga tidak lepas dari kurangnya pemahaman bahasa inggris. Hanya sedikit kata-kata dalam bahasa inggris yang saya pahami dan mengerti apa maksudnya. Saya bertanya kepada teman-teman yang lain, apa sih maksud dari ice breaking itu?

Maka salah satu teman menjawab, “Ice breaking itu adalah sebuah permainan-permainan yang dapat memberikan penyegaran.”

Terus ada juga yang bilang, “Ice breaking itu merupakan permainan-permainan yang dapat memberikan semangat kepada setiap orang yang sedang dalam kegiatan, baik itu sekolah maupun suasana perkumpulan biasa.”

Jujur saya baru mengetahui bahwa kata itu merupakan istilah dari sebuah permainan penyegaran. Yang saya tahu kalau permainan, ya permainan saja. Tidak pakai istilah-istilah yang susah dimengerti oleh orang, apalagi kalau orang tersebut kurang mengerti bahasa inggris, contohnya seperti saya.

Tapi setelah saya mengerti pentingnya kita apalagi seorang guru untuk menerapkan ice breaking adalah bisa membangun siswa menjadi lebih semangat lagi dalam belajar, sangat membangkitkan semangat saya untuk lebih mengetahui lebih dalam lagi tentang ice breaking. Permainan seperti apa yang dapat disebut dengan ice breaking itu? Semuanya ingin saya ketahui.

Untungnya ketidaktahuan saya tentang ice breaking ini lama-lama berubah menjadi pemahaman yang sangat berarti bagi saya. Dengan seringnya saya dan teman-teman menerapkan permainan ice breaking tersebut membuat saya mempunyai satu kesimpulan. Ice breaking sangat diperlukan oleh siswa untuk membuat mereka menjadi santai, antusias, dan juga bersemangat untuk menyerap materi yang akan disampaikan oleh gurunya nantinya. Karena hal tersebut sudah saya alami sendiri di SGEI ini—sebelum memasuki materi perkuliahan maupun saat akan memulai lagi materi setelah istirahat makan selesai tiap harinya—saya dan yang lainnya selalu menerapkan ice breaking terlebih dahulu. Dan hal tersebut membuat saya menjadi santai, antusias, dan bersemangat untuk mengikuti materi yang akan diberikan.

Dari mengikuti pelatihan di SGEI, saya jadi tahu bahwa dalam kita mengajar di sebuah kelas sangat dibutuhkan sekali ice breaking. Kalau mau membuat suasana kelas tersebut menjadi lebih santai, semangat, dan selalu ceria maka setiap guru harus menerapkan permainan ice breaking dalam kegiatan pembelajaran nanti. Namun, jika tidak mau membuat suasana kelas menjadi santai, inginnya hanya yang monoton saja dan membuat anak jadi mengantuk di dalam kelas, ya guru tidak perlu untuk menerapkan permainan ice breaking.

Di sini tinggal tergantung pada kita sendiri mau pilih yang mana, apalagi kita ini akan dibentuk menjadi guru yang harus bisa membuat perubahan pada anak didiknya nanti. Di sini saya mendapatkan ilmu yang sangat berharga, bahwa tidak harus memikirkan hal-hal yang rumit dan terlalu besar untuk mengetahui cara membuat anak bisa santai, antusias, dan bersemangat dalam belajar. Cukup dengan melakukan hal-hal yang simpel dan praktis saja yaitu dengan sering menerapkan Ice breaking dalam kegiatan pembelajaran sudah bisa membuat anak didik nantinya akan selalu antusias, santai, dan bersemangat untuk belajar.

Hebatnya, hanya dari sebuah kata ice breaking, simpel dikatakan, namun bagaikan mendapatkan pelajaran yang berharga bagi saya—untuk bekal menjadi guru yang sesungguhnya, sangat melekat di hati ini.

oleh:

Kamal Basya, S.Pd.

Jika tidak mampu merubah dunia,

setidaknya kita mampu mengubah diri sendiri.

~

Assalamu’alaikum, seru temanku Dede Kurnia yang baru datang dari rumahnya ke kos kami. Dede adalah salah satu teman kelas saya yang sudah di wisuda lebih dulu dan sudah menjadiguru di SDIT Depok. Gimana bro kabarnya?tanya salah satu teman kos Rudi Purwanto kepadanya. “Alhamdulillah sehat wal’afiat bro,” jawab Dede dengan santai.

Ada kabar baik apa nih juragan? Kami ini domba-domba sesat yang harus diselamatkan kawan, hahaha… celotehku sambil bercanda di sela-sela pembicaraan yang hangat itu. Ada informasi baru nih buat kalian. Saya diberitahu tetangga, bahwa ada program Sekolah Guru Ekselensia Indonesia di Dompet Du’afa Bogor. Saat ini sedang mencari tenaga pendidik profesional. Untuk lebih jelasnya bisa kalian lihat di alamat website ini: http://lpi-dd.net.”

Berawal dari informasi sosok Dede inilah, saya pun segera beranjak mencari tahu lebih banyak dengan mengakses internet sesuai dengan alamat yang diberikan itu. Ada tiga orang dari teman-teman saya yang mengambil program SGEI ini. Yaitu, Dede Kurnia, Rudi Purwanto, dan saya sendiri. Kami bertiga pun melakukan registrasi dengan mengisi formulir yang telah tersedia.

Alhasil, alhamdulillah dua orang dari kami dinyatakan lulus uji seleksi berkas dan selanjutnya akan menjalani tahap tes wawancara. Kebahagiaan kami tidaklah sempurna karena salah satu teman kami ada yang kurang beruntung, tidak mendapatkan kesempatan bisa bergabung dalam program SGEI tersebut. Walaupun demikian, kami pun berdua harus menjalani proses interview yang telah ditetapkan waktunya. Beberapa hari kemudian kami mendapatkan SMS dari paniti SGEI bahwa kami berdua diterima dan sudah menjadi bagian dari peserta SGEI angkatan ke-2.

Kehidupan itu selalu dinamis.Siapa pun tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di setiap langkah demi langkah. Tidak akan terelakkan bahwa segalanya bisa berubah dalam hitungan jam, menit bahkan satu kedipan mata sekalipun.Semuanya adalah keniscayaan yang bisa terjadi pada siapapun. Begitu pun yang sama dengan apa yang dialami temanku, Dede Kurnia. Dia memutuskan untuk mundur dari program ini karena alasan keluarga yang tidak merestui langkahnya meski pada awalnya dia mempunyai kemauan yang tinggi untuk mengikuti program SGEI ini.

Kini, tinggal aku sendiri yang punya keyakinan dan keberanian melangkah untuk terus melanjutkan bergabung dalam program SGEI tersebut. Setelah hari demi hari saya lewati bersama indahnya kapal SGEI ini, saya merasa seolah tercerahkan. Tetesan demi tetesan ilmu yang membuat saya serasa masuk dalam sebuah paradigma baru, dalam dinamika kehidupan yang lebih baik. Banyak sekali inspirasi-inspirasi positif dan pelajaran-pelajaran bermakna selama proses pelatihan berlangsung yang mampu menghidupkan kembali ruh atau semangat juang yang sudah lama hilang.

Inspirasi dan pelajaran-pelajaran berarti itu di antaranya:

  1. Saya menjadi lebih tahu bahkan sadar akan hakekat guru yang sejatinya.

  2. Saya belajar menjadi guru yang berkarakter.

  3. Saya belajar harus untuk selalu memperbaiki diri.

  4. Saya diajarkan bagaimana menjadi guru yang menyenangkan bagi siswa.

  5. Saya diberikan ilmu bagaimana menghadapi keberagaman dan keunikan siswa.

  6. Saya diajarkan bagaimana menggali potensi siswa.

  7. Saya dididik menjadi guru pemimpin, guru model, dan juga berjiwa enterpreneurship.

Tentu kalau disadari sebenarnya masih banyak lagi inspirasi-inspirasi selain di atas tadi. Tapi, setidaknya itulah yang mampu saya tangkap dari proses kebersamaan ini semua. Namun, dari beberapa poin yang disebutkan, ada suatu hal besar yang membanggakan serta membuat saya merasa terhormat menjadi bagian dari program SGEI ini yaitu; saya bertemu dengan orang-orang hebat di sekeliling saya; guru-guru cerdas yang penuh kesopanan dan keramahan; trainer-trainer kreatif yang energik dan menyenangkan; kawan-kawan brillian perwakilan masing-masing perguruan tinggi di seluruh Indonesia; adik-adik jenius Smart Ekselensia yang penuh semangat; alam lingkungan sosial yang islami penuh kehangatan, keakraban, dan kekeluargaan.

Inilah semua pengalaman belajar yang menginspirasi saya untuk terus memacu perjuangan tidak kenal lelah, dan untuk terus maju sampai pada sebuah tujuan.

Terima kasih untuk semuanya….!!!

oleh:

Muawanah

Di tahun 2011 ini takdir mempertemukan kawan jalan baru, menggariskan berada di kota lain, mereguk ilmu dari orang-orang berbeda. Dan di sinilah kami berada sekarang, berkumpul, belajar, dan menjadi saudara-saudara baru. Kami merajut kisah baru dalam hidup masing-masing.

Berada di sini bagaikan mengulur benang baru yang berbeda warna, memadu-madankannya agar membentuk pakaian baru yang indah, dengan semua warna di dalamnya terangkum. Dan, kami di sini belajar saling mengenal dan menerima dengan segala lebih dan kurangnya. Sempat terpikir akan sulit—dari tempat berbeda, kota berbeda, adat, dan kebiasaan yang berbeda—tiba-tiba bertemu, kira-kira akan bagaimana? Tapi subhanallah… betapa ukhuwah itu di mana pun akan terjalin ibarat kawan lama.

Hidup ini akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Dan kami yang berada di sini adalah orang-orang yang telah membuat pilihan, untuk keluar sejenak dari lingkungan kami selama ini. Berada di lingkungan baru, akan membuat kami mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki sehingga bisa lebih bermanfaat untuk orang lain. Tidak sekedar orang yang berada di lingkungan kami dahulu.

Saya belajar banyak hal dari orang-orang hebat yang saya temui di sini, belajar dari kisah-kisah hidup yang mereka lewati sebelumnya, bertemu banyak sumber inspirasi—yang ketika mengenal mereka—membuat saya belajar banyak bersyukur atas apa yang saya miliki, dan bersyukur bisa berada di tengah-tengah mereka. Hingga kini, saya kadang masih merasa takjub bisa berada di tempat ini, bertemu 29 sosok hebat dengan prestasi mereka masing-masing. Melihat mereka dan belajar memahami setiap tindakan, keputusan, dan sikap yang mereka ambil.

Walau mungkin sulit untuk bisa memahami sepenuhnya, tapi seorang teman pernah mengatakan, “Gunakan hatimu, karena tidak semua yang kita lihat, dan dengar itu adalah apa yang sebenarnya.” Dan di sini saya kembali harus belajar mengenali kawan seperjalanan takdir saya kali ini. Di sini saya bertemu guru-guru hebat yang all out dalam membagi ilmu mereka, melihat mereka yang tidak pernah mengeluh lelah, yang selalu hadir di kelas dengan senyum dan canda mereka dengan pelajaran-pelajaran yang selalu dibuat menyenangkan. Melihat mereka yang walaupun tiap hari hadir, tidak pernah kekurangan semangat dan motivasi untuk dibagikan kepada kami.

Mereka adalah guru. Saya selalu lebih senang menggunakan kata guru daripada trainer. Menurut saya, seorang guru bukan hanya ketika di kelas—memberi ilmu—tetapi diluar kelas pun seorang guru akan tetap selalu memberi ilmu, memberi perhatiannya. Dan itulah arti mereka bagi saya, seorang guru.

Mereka mengajarkan untuk tidak berhenti bercita-cita, hal yang sudah lama saya lupakan karena memilih menjalani hidup seperti air, membiarkannya mengalir. Meminta kami merencanakan apa yang ingin kami lakukan di tahun-tahun berikutnya. Dan jujur, betapa sulit memetakan apalagi harus menuliskan apa yang ingin saya lakukan di tahun berikutnya. Lebih disebabkan karena saya terbiasa menjalani apa yang sudah ada dihadapan saya, tanpa berpikir terlalu jauh tentang cita-cita.

Menuliskan apa yang dirasakan saat berada di sini sedikit sulit saya lakukan. Lebih mudah rasanya menuliskan peristiwa yang sudah lama terlewati karena endapan kenangannya lebih lama. Imajinasi saya lebih mudah terbang ke waktu yang sangat lampau dibanding menjenguk kenangan yang belum genap sebulan saya alami. Maka saya anggap tulisan ini adalah prolog perkenalan dengan mereka, awal mengenal dunia dan kawan baru. Kisah ini belum selesai dirakit, karena benang kata terhenti pada titik warna lain yang hendak dimasuki….

Dimanapun kita berada kelak,

sejauh apapun langkah kaki menjejak bumiNya

kita tetap adalah saudara.

oleh:

Fitriah Rahmawati

Percaya diri (PD), dua kata yang belum tentu semua orang memilikinya. Pun dengan rekan-rekan SGEI yang membersamaiku hampir sebulan ini. Jika diperhatikan satu persatu, ternyata hampir 50% dari teman-temanku mengalami krisis percaya diri. Hal ini cukup menggelisahkan karena semestinya dalam diri seorang guru, kepercayaan diri adalah sebuah keniscayaan yang harus bersemayam dalam jiwa seorang pendidik.

Pada suatu kesempatan, aku sempat mengeksplorasi beberapa teman. Ternyata memang banyak diantaranya yang belum memiliki rasa percaya diri seutuhnya—ketika menyampaikan materi atau pendapatnya. Ada juga yang sebenarnya memiliki modal kepercayaan diri yang kuat, namun kurang mampu memposisikan dirinya dengan baik di depan. Masalahnya adalah ia terkadang kehilangan kata-kata ketika berhadapan dengan orang banyak dan yang lebih parah lagi, ia justru mudah dipengaruhi oleh audiens-nya. Sehingga ia kehilangan kesempatan untuk ‘menguasai panggung’.

Ada pula yang mengalami masalah dalam penyampaian. Di depan forum, ia sering kehilangan kata. Hal ini ditandai dengan seringnya mengucapkan “ee…”, atau “emm…”. Setelah ditelusuri, ternyata ia merasa kesulitan memilih diksi sehingga apa yang akan disampaikannya seolah seringkali terputus di tengah jalan.

Lain halnya dengan yang seorang temanku yang lain. Ia memiliki masalah intrapersonal dalam dirinya. Sifatnya yang sangat perasa dan moody membuatnya rasa percaya dirinya terhambat. Ia mengakui, terkadang bila dilanda perasaan tidak nyaman, maka otomatis ia juga tidak bersemangat untuk melakukan sesuatu.

Belajar dari ketiga temanku itu, akhirnya aku membuat suatu formula sederhana mengenai konsep kepercayaan diri. Dari kasus pertama, pelajaran yang bisa diambil adalah jangan sampai seorang pendidik kehilangan kesempatan untuk ‘menguasai panggung’. Hal ini menjadi demikian penting karena ketika kita berhadapan dengan audiens, maka ‘medan perang’ adalah panggung di mana kita bisa menyajikan suatu materi dengan metode penyampaian yang diinginkan. Seorang presenter sudah semestinya merasa nyaman dengan panggungnya dan bebas memilih dengan cara apa ia akan membawakannya.

Dari kasus kedua, sebagai seorang presenter diminta untuk memilah dan memilih kata dengan baik. Kenapa? Karena apa yang terucap itu mengandung pesan. Pesan ini hendaknya memiliki nilai positif yang dapat ditransfer, yang pada akhirnya dapat mengubah perilaku audiens. Pemilihan diksi yang tepat merupakan salah satu seni berkomunikasi yang berhubungan erat dengan manifestasi perubahan perilaku audiens dalam menyikapi suatu hal. Jika kita belum mendapat diksi yang tepat dalam waktu yang cepat, maka dengan berdiam sejenak adalah lebih baik daripada ngegereyem tidak jelas. Dengan berdiam sejenak, insya allah itu akan lebih membantu sampainya sinyal dari otak ke mulut sehingga kita dapat menyusun kata dengan diksi yang baik dan akan berdampak positif terhadap audiens.

Kasus yang ketiga ini menjadi demikian menarik bagi saya. Kenapa? Karena rekan saya yang satu ini masih bermasalah dengan dirinya sendiri. Ia masih bertanya-tanya dan mencari konsep dirinya. Karakter dasarnya yang mudah terbawa perasaan seringkali membuat ia merasa gamang terhadap dirinya sendiri dalam mengambil suatu sikap. Sebenarnya hal ini bisa diatasi dengan menaklukkan diri sendiri. Kenali dulu kelebihan dan kekurangan diri, kembangkan karakter-karakter yang baik dalam diri Anda dan gali nilai-nilai positif yang bisa dibina, minimalkan sikap yang tidak menunjang performa kepercayaan diri. Dengan mengenali kelebihan dan kelemahan diri, maka kita relatif lebih mudah ‘menaklukkan’ audiens sehingga pesan yang akan kita sampaikan dapat diterima dengan baik.

Saya seringkali memberi sugesti pada teman-teman saya yang memiliki kepercayaan diri yang rendah dengan kalimat, “Percayalah..dengan memiliki rasa percaya diri, kamu sudah memegang 50% kesuksesan.” Rasa percaya diri merupakan titik awal dan dari sanalah kita berangkat untuk memulai kesuksesan. Jadi, kalau hare gene tidak punya The Power of PD, mending ke laut aja deh.

oleh:

Vera Zuryati, S.Pd.

Pagi itu saya memulai perkuliahan di SGEI, terlihat senyuman dan canda tawa dari teman-teman untuk menyambut datangnya pagi dan siap menerima perkuliahan. Tetapi sebelum memulai perkuliahan, ketua kelas memberikan ice braking kepada mahasiswa yang ada di dalam kelas.

Mahasiswa SGEI berjumlah 30 orang, berasal dari berbagai kota seluruh Indonesia. Saya dan teman-teman mengikuti masa pendidikan selama lima bulan di SGEI, dan setelah itu akan di tempatkan di sekolah marjinal selama satu tahun. Sebelum ditempatkan di sekolah tersebut, saya dan teman-teman mendapatkan materi tentang guru sebagai pendidik anak yang akan mengantarkan ke tingkat yang lebih tinggi.

Saya begitu bersemangat mengikuti perkuliahan karena ini merupakan impian saya sejak dulu—mengajar di sekolah marginal. Saya mendapatkan materi dari guru-guru besar dan orang-orang terkenal, banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan. Materi yang saya dapatkan diantaranya adalahjadilah guru berkarakter, pembinaan karakter guru, pemantapan wawasan, kepemimpinan, psikologi pendidikan dan sekolah, studi kasus masalah guru mayoritas pokok, arti penting pembelajaran tematik, manajemen anak berkebutuhan khusus, penilaian berbasis kelas, psikologi perkembangn anak, psikologi pribadi, kaidah penulisan soal, bagaimana menghadapi massa dan didengar, melukis dengan kata, dan masih banyak lagi materi perkuliahan yang saya dapatkan di SGEI. Saya juga mendapatkan keluarga dari LPI_Dompet Dhuafa dan teman-teman SGEI.

Semua materi itu adalah bekal persiapan magang ketika di bulan Febuari. Dari semua materi yang didapatkan itu merupakan inspirasi agar saya dapat menjadi guru model—saat magang mahasiswa akan menjadi guru pendamping di desa. Jadi belajarlah untuk memulai mencintai dunia pendidikan, disiplin, menjadi pendengar yang baik, sabar, dan jujur. Karena peserta didik itu akan meniru setiap gerak guru, maka jadilah guru yang baik.

Tahukan kalian kawan, siswa akan menyukai guru-guru yang pada saat dikelas, pertama, guru memiliki semangat di depan anak. Kedua, guru menyampaikan materi pembelajaran yang menarikperhatian anak didiknya. Ketiga, guru yang tenangpada saat memberikan pelajaran di kelas. Keempat, guru memiliki perhatian dan kasih sayang terhadap siswa. Dan terakhir, seorang guru tidak menbandingkan anak-anak di kelas. Guru juga wajib memiliki karakter yang sangat baik sehingga bisa menjaga akhlak dan kepribadiannya di depan siswa-siswa, guru yang berkarakter ini yang bisa menjadi inspirasi di depan anak-anaknya.

Laman Berikutnya »