oleh: Dencik Afriyanto

Profesi guru merupakan pekerjaan yang mulia, dari dirinya muncul pemimpinpemimpin yang hebat. Birokrat, teknokrat, pengusaha, dan aparat hukum yang sangat menentukan maju mundurnya bangsa ini. Kalau tempo dulu ada tokoh yang mewakili profesi guru, Oemar Bakrie.Seseorang yang hidupnya penuh kesederhanaan namun mempunyai tekad yang besar mencerdaskan siswanya.Setiap hari dia mengayuh sepeda buntutnya, menyandang tas dari kulit buaya yang setia menemaninya. Hidup pada masa penjajahan, jangankan gaji yang besar, nyawanya pun terancam. Sangat ironis nasib guru Oemar Bakrie yang berjuang sendiri, sangat langka ditemukan pada masanya.

Namun berbeda jauh dengan kehidupan guru pada abad 21. Fenomena guru sekarang mereka berlomba-lomba untuk dapat mengajar di sekolah walaupun tanpa honor, agar mendapat kesempatan diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan sertifikasi agar mendapat dana tambahan berupa tunjangan-tunjanganwalaupun mengorbankan jam pelajaran yang disampaikan kepada muridnya. Mereka guru swasta yang nasibnya tidak jelas, akan tetapi kesana kemari, sibuk di sekolah sana sekolah sini untuk mencukupi keperluan dapur mereka.

Permasalahan-permasalahan yang dialami guru-guru, harus ada solusinya. Solusi tersebut dimulai dari guru itu sendiri, banyak tuntutan yang dialamatkan kepada profesi ini, diantaranya: kapasitas dan kapabilitas karakter yang harus guru miliki.

Pertama, kapasitas kecakapan yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan aktifitasnya sebagai pendidik, menguasai kompetensi pedagogig, profesional seperti mampu membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menyampaikan pembelajaran dengan cara PAKEM (Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan), model-model pembelajaran, assement, psikologi kepribadian, perkembangan anak, manajemen kelas, display, melakukan penelitian tindakan kelas (PTK), mengetahui psikologi sekolah, keluarga, dan masyarakat. Begitu banyak hal yang harus guru penuhi untukmenjadi guru yang memiliki kapasitas. Kalaupun sulit, guru selain mengajar dituntut belajar untuk dapat meningkatkan kinerjanya.

Kedua, kapabilitas yaitu kemampuan memanfaatkan kapasitas. Banyak guru mempunyai kapasitas akan tetapi tidak mempunyai kemampuan planning dan problem solving untuk sekolah dan anak didiknya.Kemampuan ini lebih menitikberatkan pada guru, yang memiliki soft skill memiliki sikap kepempinan. Pemimpin yang dapat menjadi agent of change bukan hanya di sekolah, akan tetapi lingkungan, dan daerahnya.

Masalah sosial dan agama juga merupakan hal yang penting. Bagaikan dua sisi mata uang. Banyak pemimpin hanya fokus pada satu masalah.Tokoh agama fokus pada ibadah vertikal saja, sampaikan ceramah, ayat-ayat suci, halalharam urusan selesai; tokoh masyarakat fokus pada adat istiadat yang hanya seremoni belaka tanpa kerja nyata, akhirnya kemiskinan, narkoba, tawuran seks bebas ada disekeliling mereka. Ajaran agama telah mengisyaratkan kesholehan bukan hanya diam di masjid atau pergi ke Gereja pada hari Minggu, akan tetapi yang lebih penting adalah kesholehan sosial, peka terhadap permasalahan yang ada.

Ketiga, memiliki karakter, sifat baik yang menjadi perilaku sehari-hari yang melekat pada diri seseorang. Sifat ini hendaknya ada pada guru, guru tanpa karakter dapat membuat guru memiliki banyak pertimbangan. Pertimbangan untungrugi, mengajar di toko atau di pelosok, gaji besar-kecil, segala fasilitas didapat dari pemerintah, gaji yang lumayan cukup (cukup beli rumah, cukup beli mobil, cukup…) menjadi tujuan hidup. Berbeda bagi guru berkarakter itu hanya fasilitas hidup, baginya yang terpenting menjadi fasilitator bagi anak didiknya untuk dapat mencapai cita-cita mereka, anakanak yang cerdas dan peka terhadap lingkungannya.

Guru yang ideal adalah kedalaman ilmu yang dimiliki, pengabdian yang tak lekang oleh waktu, dan tingkah laku yang digugu(dipatuhi) dan ditiru yang terpatri pada setiap jiwa anak didiknya.