oleh : Viya Yanti Mala

Panas terbakar, seolah menjilati ubun. Makassar sedang panas-panasnya. Aku berjalan pulang setelah dari sekolah yang bakal jadi tempatku mengajar. Ya, dua hari lalu dihubungi oleh bapak kepala sekolah salah satu SDIT di Makasssar untuk mengajar di sekolah beliau. Hari ini cek lokasi sekolah, sekaligus berkenalan dengan guru-guru yang mengajar di sana.

Sebenarnya aku tidak begitu yakin akan mengabdikan diri menjadi pengajar. Selain tidak pernah membayangkan akan menjadi pendidik, background pendidikanku pun bukan dari lulusan keguruan. Dan lagi menurutku, menjadi guru bukan hal yang mudah, butuh kesabaran ekstra apalagi mengajar anak-anak yang hatinya sangat butuh diwarnai dengan teladan yang baik.

Di sudut perempatan jalan,sorak sorai itu tertangkap juga oleh telinga. Aneh, pikirku untuk apa anak-anak berseragam putih merah itu berkumpul di satu titik salah satu rumah kosong. Jumlah mereka mungkin ada sepuluh lebih. Ramai. Sekilas kualihkan perhatianku ke gerombolan anak itu begitu melewati daerah tersebut. Sepertinya ada adu mulut, sengit, antara dua anak perempuan. Yang lain memberi sorak sorai tanda menyemangati untuk berlanjut adu kekuatan. Akan ada perang, nih, batinku.

Sejenak aku berpikir, perlukah untuk melerai. Ah, bukan urusanku tentunya. Dan parahnya aku beranggapan, biarkanlah anak-anak itu menyelesaikan sendiri masalahnya, mereka akan menjadi cepat dewasa dengan membiarkan masalahnya terselesaikan oleh mereka juga. Ya, kuputuskan untuk tidak turut campur pada permasalahan mereka. Dengan lenggang kangkung, aku melewati rombongan anak yang semakin heboh itu.

Belum cukup beberapa meter aku berjalan, dari arah yang berlawanan, terlihat dua orang wanita. Dari pakaian yang beliau kenakan, aku menebak pastinya beliau berdua adalah seorang guru. Tepat dugaanku. karena seorang anak—salah satu dari gerombolan anak yang berkumpul di sudut rumah kosong itu—terlihat menghampiri dua wanita tersebut. Kelihatan benar anak itu panik, seragam putihnya basah oleh keringat.

“Bu Guru, tolong, bu. Ada anak yang berkelahi…” suara anak lelaki itu terengah-engah.

Oh, ibu gurunya toh, seruku dalam hati. Baguslah kalau kemudian perkelahian itu akan diredam oleh guru mereka sendiri. Dua kubu gadis kecil yang berkelahi itu pasti secara sadar akan cepat meleraikan diri karena sungkan pada sosok gurunya yang berwibawa.

“Di sana, Bu…. Di perempatan, rumah kosong…” si anak menunjuk tempat kejadian perkara.

Ringkas saja jawaban sang guru, kompak.

“Sekarang sudah selesai jam sekolah. Bukan tanggungjawab guru lagi bila sudah berada di luar sekolah.”

Gubrak! Jawaban yang aneh, dan tentunya sangat mematahkan hati sang anak yang masih berdiri tepat di hadapan gurunya. Bukan jawaban yang diharapkan, sungguh. Aku sontak berhenti melangkah. Si anak yang melaporkan perkara langsung putar haluan, kembali berlari menuju tempat temannya berkumpul. Lama aku berdiri mematung, hanya tidak percaya saja pada jawaban sang guru. Tapi kenyataannya, sang guru benar-benar cuek. Beliau melewati rombongan anak muridnya itu tanpa menengok sedikit juga atau berusaha mengingatkan untuk berhenti berkelahi. Mungkin beliau, sang guru itu tergesa-gesa untuk pulang karena ada urusan yang penting hingga tidak berkesempatan melerai anak-anaknya. Namun apapun itu alasannya, kekesalanku tumbuh melihat respon sang guru, bukankah tanggungjawab itu tidak terbatas pada lingkungan sekolah saja, tapi hingga di mana pun.

Aku segera sadar diri, bukankah aku juga begitu cuek dengan keadaan sekitar. Segera aku berputar arah, balik menuju rombongan anak-anak tersebut. Ada sesuatu yang mendesak di hati, entah aku tidak mampu mendefinisikan namanya. Jelasnya anak-anak itu penting untuk diperhatikan, kata hatiku mengingatkan.

Sorak sorai semakin ramai saja begitu aku tiba. Pemandangan yang miris. Dua anak perempuan kira-kira baru berusia sepuluh tahun bergulat ala perkelahian wanita. Sikut kiri kanan, saling dorong dan jambak menjambak rambut. Beberapa teman ada yang berusaha melerai, meski sebagian besar memberi semangat untuk terus melanjutkan pergulatan.

Aku segera bersuara lantang, mencoba melerai secepat mungkin di tengah perang yang semakin memanas.

“Sudah… sudah… jangan berkelahi lagi!”

Namun sepertinya api yang memanas dalam dada ke dua gadis kecil itu susah untuk diredam. Buktinya mereka mengacuhkanku. Tetap pada posisi jambak menjambak rambut. Tidak berputus asa, aku mulai masuk ke tengah mereka, menengahi. Anak lelaki yang tadi berlari menemui gurunya, cepat tanggap. Menarik salah seorang temannya yang dipenuhi amarah.

Huff, tidak mudah juga menaklukkan pertarungan sengit ini.

“Jangan berkelahi lagi, kalian kan teman satu sekolah masak bermusuhan. Ayo, yang lain bantu kakak memisahkan temannya.”

Seperti terhipnotis, mereka bergerak cepat, membantu memisahkan temannya. Dua gadis kecil itu terpisahkan, akhirnya. Sejenak anak-anak yang menyoraki tadi melihatku dalam. Pikir mereka, mungkin siapa ya, baru lihat.

Aku tersenyum ramah, merefleksikan suasana. Dua gadis kecil dengan seragam putih merah yang jauh dari rapi itu belum sepenuhnya tenang. Meronta, seperti dua ekor ayam jago yang menyorong-nyorongkan kepalanya hendak mematuk lawan meski dalam genggaman tuannya, minta diloloskan untuk melanjutkan lagi adu jotos.

“Sudah, tenang ya… tidak baik berkelahi, apalagi satu sekolah,” kataku masih pasang senyum.

Dan adu mulut pun menyembur dari keduanya. Saling tuding, menyalahkan. Wah, hampir tidak kalah sengit dengan pertarungan fisik. Susahnya anak-anak ini. Hampir saja kesabaranku menguap.

“Ok! Kakak dan teman-teman kamu di sini akan mendengarkan kalian. Tapi satu persatu ya. Kakak ingin tahu apa permasalahannya.”

“Dia yang salah, kak,” kata anak di sebelah kananku. Dengan cepat musuhnya membantah sambil menunjuk tepat ke arah temannya.

“Bukan saya, dia yang duluan,” wajahnya bertambah galak.

“Waduh, kakak jadi tidak tahu nih, siapa yang benar dan siapa yang salah kalau kalian berdua tidak tenang. Coba kamu dulu yang bercerita, kenapa bisa sampai marah,” aku berkata pada anak yang berambut panjang.

Mengalirlah cerita dari mulut mungilnya, sesekali melirik tajam pada teman yang dia ceritakan, dan sesekali mengusap air matanya yang mulai jatuh. Dia sama sekali tidak bersalah, begitu kesimpulan dari ceritanya.

Dan tiba giliran anak berambut pendek yang bercerita. Anak ini lebih berapi-api menceritakan awal mula kejadian. Pandai dia mendetailkan kisah pertama hingga perjanjian untuk bertemu di rumah kosong tersebut. Kesimpulan akhirnya pun sama, dia tidak ingin jadi yang disalahkan. Memang tidak satu pun orang yang ingin disalahkan.

Permasalahan yang sepele sebenarnya. Salah seorang telah melapor pada anak yang berambut pendek, bahwa anak berambut panjang mengejeknya. Tanpa konfirmasi dahulu beritanya, dia langsung membuat janji untuk bertemu di tempat ini. Padahal katanya, sih anak berambut panjang itu tidak pernah berkata demikian. Ada saksi yang mendukung pula pernyataan anak berambut panjang. Ya, salah informasi tanpa mengecek kebenarannya bisa jadi permasalahan yang besar.

“Nah, sudah jelaskan? Menurut kakak sih, sebenarnya tidak ada yang bersalah. Ini hanya salah paham saja. Bagaimana menurut kalian berdua?” keduanya terdiam, mungkin sedang berpikir.

“Nah, karena tidak ada yang bersalah, jadi boleh dong dua-duanya salaman dulu. Yang tidak mau salaman artinya dia yang bersalah jadinya.” Kontan dua-duanya mengulurkan tangan. Ah, leganya melihat dua gadis ini akhirnya berdamai.

Pelukan boleh juga, kalian teman, bukan musuh,” aku menggoda mereka, keduanya tersenyum. Ada sesuatu yang indah tumbuh di hatiku saat melihat mereka tersenyum. Damai itu memang indah. Lebih indah lagi menciptakan kedamaian di tengah kerusuhan.

Maka mulai hari ini aku mengambil keputusan. Akan mengambil peran sebagai guru. Mengajarkan mereka yang terbaik yang aku bisa. Menyiapkan generasi bangsa agar dapat membentuk peradaban Indonesia yang lebih baik. Setiap guru wajib memperhatikan anak-anak didiknya tidak terbatas di sekolah saja, tapi di mana pun, dan kapanpun. Siapa saja yang mengambil peran sebagai pendidik wajib tetap memberi contoh pada anak-anak negeri, tentunya dengan hati yang ikhlas agar yang menerimanya pun dengan hati pula.

Jangan jadi pribadi yang tidak peduli dengan kerusakan sekitar yang dibuat oleh anak-anak yang sebenarnya mereka belum tahu dengan baik bahwa itu merusak. Diri ini bisa mengingatkan, bukan malah acuh. Semoga setiap pendidik di negeri ini mampu melukis indah pikiran dan jiwa serta menginspirasi generasi muda.