oleh: Laela Nur Rahmah

Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Umar.

Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungjawabannya) tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta majikannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. (Muttafaq ‘alaih)

Hadist di atas manginspirasi saya mengenai peran pendidik. Hakikat seorang pendidik jelas memiliki peran penting dalam kehidupan, salah satunya dunia pendidikan. Pendidik selanjutnya kita sebut guru, memiliki peran yang selama ini dikenal adalah sosok pengajar. Seseorang yang memberikan ilmu kepada peserta didiknya. Seseorang yang mengajarkan sesuatu yang dulu tak diketahui menjadi tahu. Pengertian tersebut benar adanya. Namun, tidak hanya sebatas itu, seorang guru harus mampu mengadakan perubahan positif, pembelajaran pasif menjadi aktif. Hal tersebut berhubungan dengan tumbuh kembang peserta didiknya.

Perlu kita sadari terlebih dahulu bahwa anak kecil ibarat batu yang siap diukir, apa yang ia lihat, dengar, rasakan, akan terpatri, dan tertancap melekat padanya. Karena mereka memandang segala sesuatunya secara holistik dan sebagai suatu keutuhan. Masa-masa mereka merupakan fase terpenting dan besar pengaruhnya terhadap jiwa anak itu sendiri. Yaitu, pembentukan kepribadian. Oleh karena itu, anak perlu dipersiapkan untuk memiliki kepribadian yang unggul dan tangguh, sehingga ia siap mengemban tugas dan tanggung jawab yang akan dipikulnya. Anak-anak masa depan dan mendatang yang penuh dengan tantangan. Memiliki perilaku yang indah dan dapat menjadi teladan bagi yang lain. Maka dari itu guru harus mampu menjadi pemimpin bagi murid-muridnya, yaitu dapat mengarahkan dan membentuk kepribadian tersebut. Guru berkarakter pemimpin inilah yang dicari. Selanjutnya, seperti apakah guru yang berkarakter pemimpin yang dimaksud?

Pemimpin berarti amanah, poin penting di sini adalah amanah wajib disampaikan. Sesuai sabda Nabi Saw, “…sampaikanlah walaupun satu ayat….” Pemimpin erat kaitannya dengan beban yang akan ditanggungnya. Maka, tugas guru sebagai pendidik akan diminta pertanggungjawabannya. Sepenggal perkataan tegas yang dikutip oleh Abdul Qoyyim semoga Allah merahmatinya, yaitu perkataan dari para ulama yang mengingatkan kita akan pentingnya pendidikan.

“…barangsiapa mengabaikan pendidikan anak dan menelantarkannya maka ia telah melakukan puncak keburukan….”

Pendidikan masa kecil akan bermanfaat, sedangkan di saat tua dia tidak berguna. Sesungguhnya ranting jika engkau luruskan akan menjadi lurus. Sedangkan batang jika engkau luruskan tidak akan melunak.” Itu juga yang dilukiskan penyair, yang menegaskan pula bahwa pendidikan anak begitu penting.

Guru bukanlah seorang politisi yang pandai bermain retorika, merasa paling benar. Tapi guru merupakan seorang messenger, penyampai pesan yang diyakini bermanfaat. Tidak hanya sekedar menjawab pertanyaan kritis muridnya, tetapi juga seorang motivator yang mampu merubah paradigma berpikir dari yang biasa menjadi luar biasa. Mampu memunculkan potensi besar terpendam yang ada pada muridnya.

Profesi guru adalah mulia, tidak bisa dimungkiri, bahwa semua orang tahu hal itu. Namun, guru yang diharapkan adalah seorang pejuang pendidikan yang tidak hanya mampu beretorika, tetapi juga sumber inspirasi bagi setiap muridnya. Guru cerdas intelektual maupun spiritual yang tentu saja mampu menghasilkan orang-orang cerdas lainnya. Untuk menjadi seorang guru yang berkarakter pemimpin memang tidak mudah, tentu saja harus dilandasi akhlaq mulia yang menjadikannya guru berkualitas.

Guru yang berkualitas harus memiliki empat kompetensi: pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang unggul,” pendapat Agung Pardini, salah seorang trainer pendidikan di LPI-Dompet Dhuafa. Empat kompetensi tersebut merupakan salah satu prasyarat untuk menjadi guru berkarakter pemimpin, sehingga mampu tampil sempurna, berdiri di depan umum.

  1. Pedagogik yaitu guru mampu menguasai materi maupun teknik mengajar sehingga memotivasi muridnya.

  2. Profesional adalah kesesuaian latar belakang pendidikan dengan materi yang akan disampaikan.

  3. Sosial, guru mampu berkomunikasi dan bersosialisasi, tidak hanya di ruang lingkup sekolah tetapi juga dengan masyarakat sekitar, stakeholder atau tokoh masyarakat.

  4. Kepribadian, berakhlaqul karimah, memberikan teladan dengan keindahan pribadinya dan kesantuanan perilakunya.

Empat kompetensi di atas telah mencakup seluruh aspek penting yang dibutuhkan seseorang agar visi Guru Berkarakter Pemimpin dapat terwujud. Akhirnya, dengan karakter yang diharapkan tersebut pembentukan kepribadian anak yang unggul, tangguh, dan berakhlaqul karimah mampu terealisasikan. Setiap orang adalah pemimpin, maka setiap orang itu mampu menjadi guru yang berkarakter pemimpin.

Mengutip perkataan seorang sosiolog, Imam Prasodjo, “Pemimpin yang baik mampu membentuk pemimpin lain yang lebih baik”. Semoga. HIDUP GURU INDONESIA, perubahan adalah harapan kami padamu.

Laela Nur Rahmah, S. P.