oleh: Miftahul Ulum, S.Pd.

If we encounter a man of rare intellect, we should ask him what books he reads.”

~ Emerson

Ucapan Emerson itu pastilah bukan omong kosong tanpa makna. Dimanapun tempat dan waktu, orang-orang yang memiliki intelektual tinggi selalu bergaul rapat dengan buku-buku. Maka, sungguh ironis ketika kita dapati kenyataan bahwa minat baca di kalangan guru dan siswa masih sangat rendah.

Bagaimana guru akan menularkan minat baca terhadap siswa didiknya jika guru pun minat bacanya masih rendah. Berdasarkan observasi MI di kabupaten Bogor menunjukan hal ini, banyak buku di Perpustakaan masih utuh di bungkus plastik dan tertata rapi di dalam lemari. Buku-buku ini selain bagian dari buku yang bersumber dari dana BOS, ada juga sumbangan dari lembaga yang peduli dengan pendidikan. Namun, sayang fasilitas yang telah ada tidak di optimalkan dengan baik. Mereka enggan membaca dengan alasan tidak ada waktu, repot, dan sudah hafal di luar kepala seluruh mata pelajaran yang ada. Minat untuk menambah pengetahuan-pengetahuan baru masih sangat rendah sehingga proses pembelajaran di kelas pun menjadi monoton dan kurang menarik.

Begitu pun dengan siswa. Bahkan ada di kelas enam sebagian siswa masih membaca dengan tersendat-sendat. Sungguh ironis, pembelajaran membaca yang dilakukan dari kelas satu hingga kelas enam sepertinya tidaklah efektif. Padahal, dengan membaca kita akan bisa mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru untuk pelajaran-pelajaran lainya. Berapapun banyaknya buku yang disuplai pemerintah, apabila tidak ada kesungguhan untuk memanfaatkan dengan baik—memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru—akan menjadi mubazir. Buku hanya menumpuk di perpustakaan atau tertata rapi di dalam dus.

Masyarakat kita di jaman dulu mengenal istilah gethok tular, suatu frasa yang mewakili keadaan sosial masyarakat di mana suatu informasi disebarluaskan secara lisan. Ketika masyarakat kita masih memakai tradisi ini, teknologi berkembang dengan pesat, membawa mereka ke tradisi lainnya (tradisi menonton). Tradisi menonton diawali dengan ditemukannya televisi sebagai media penyampai informasi yang lebih cepat dan lebih akurat.

Sampai sekarang, kedua tradisi ini—tradisi lisan dan tradisi menonton—masih merupakan tradisi yang paling dominan dalam masyarakat kita. Di negara yang mempunyai masyarakat dengan minat baca tinggi, tradisi lisan, dan tradisi menonton bukannya tidak ada. Cuma, di negara maju, perpindahan dari tradisi lisan ke tradisi menonton dilalui dengan tradisi membaca terlebih dahulu. Sedang di masyarakat kita, tradisi membaca belum dilalui. Maka kita tidak perlu heran jika guru atau siswa, sebagai bagian dari masyarakat, banyak yang acuh tak acuh dengan buku. Akan tetapi, keadaan ini tidak perlu dilestarikan, harus ada yang dilakukan sehingga kegiatan membaca menjadi kegiatan yang populer di kalangan guru dan siswa. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi tetap bisa dilakukan.

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang dapat menumbuh kembangkan minat baca. Dengan guru sebagai ujung tombaknya, setiap sekolah pasti mempunyai fasilitas untuk menggiatkan aktivitas membaca. Fasilitas itu adalah perpustakaan. Namun adanya perpustakaan pun ternyata belum begitu berpengaruh terhadap tumbuhnya minat baca siswa maupun guru. Pemanfaatan perpustakaan sebagai tempat pengajaran juga sangat minim. Banyak pengajaran sastra yang cukup dilakukan di dalam kelas. Padahal, jika di lakukan di dalam perpustakaan pasti banyak manfaat yang bisa diambil. Ketika membahas puisi “AKU” karya Chairil Anwar, misalnya guru bisa menjelaskan bahwa banyak karya-karya Chairil Anwar yang bagus. Kemudian guru meminta para siswa untuk mencari karya-karya Chairil Anwar yang lain. Dan meminta mereka untuk menyalin satu puisi yang bagus menurut mereka. Jika hal seperti ini rutin dilakukan kita bisa berharap tumbuhnya minat baca di kalangan siswa. Tentunya hal ini dilalukan oleh guru yang sadar dan mau membaca dan menjadikan perpustakaan sebagai tempat pengajaran.

Guru, mau tidak mau, harus mendisiplinkan diri untuk membaca. Berat yang dirasakan dalam mengawali aktivitas ini harus dilakukan dengan bertahap. Minimnya waktu, adalah masalah bagaimana mengatur waktu. Artinya, hal ini dikembalikan kepada masing-masing guru. Kepala sekolah memiliki peranan penting untuk memulihkan kembali minat baca pada siswa maupun guru. Terlebih sekarang dengan diterapkanya manajemen berbasis sekolah. Kepala sekolah memiliki kewenangan lebih untuk mengatur rumah tangga sekolahnya sendiri. Dan untuk memantau kepala sekolah, peran aktif masyarakat di sekitar sekolah maupun lembaga-lembaga pemerhati pendidikan sangat diperlukan.