oleh: Aslam Syah Muda, S.H.I.

Sedekah yang paling utama adalah orang Islam yang belajar suatu ilmu, kemudian ia ajarkan ilmu itu kepada saudaranya muslim”

( HR.Ibnu Majah)

Hujan modernisasi zaman semakin deras turun di bumi pertiwi. Membuat generasi bijak mengigil kaku, dalam dinginnya politik orang-orang bodoh yang sengaja atau tidak sengaja meracuni seteguk-demi seteguk hangatnya suguhan nikmat, secangkir kopi dusta. Seakan tak berdaya sosok jasad-jasad yang lelah dibebani sugesti kebodohan raja diraja. Seharusnya mereka melihat, mendengar, merasa, menjemput mutiara ilmu masih saja tersimpan di singgasana keabadian Al-Qur’an dan Hadist. Puing-puing kemiskinan merajalela di setiap penjuru tanah air, bongkahannya meruntuhkan tembok-tembok generasi muda pewaris para pahlawan. Disebabkan kebodohan global, para manusia yang berdiri atas nama malaikat penyelamat di negeri ini, hingga tiada terlihat satu pun mutiara ilmu yang bersinar.

Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah,” sampai-sampai rasulullah mengilustrasikan dengan ucapan beliau “Carilah ilmu meskipun ke Negeri China, karena sesungguhnya mencari ilmu itu merupakan kewajiban pada setiap orang Islam, para malaikat merentangkan sayapnya (memayungkan sayapnya) kepada penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang dituntut.” Sungguh rasulullah tak sedikit pun menghendaki umatnya celaka dunia maupun akhirat.

Kebodohan adalah salah satu penyebab penyimpangan kuatnya kebenaran baik itu dalam bidang agama, sains dan teknologi, sosial budaya, dan lain sebagainya. Contoh kecil, seperti dalam bidang agama, Salih Fauzan bin Ahmad Fauzan seorang ulama tauhid dari golongan mutakhkhirin menuturkan dalam bukunya “At-Tauhid” bahwa penyimpangan aqidah terjadi disebabkan oleh tiga hal. Pertama, oleh masyarakat yang tidak mau belajar dalam kebodohannya (bangga dengan kebodohannya) dan golongan masyarakat yang tahu tidak mau mengajarkannya. Kedua, dalam hal sosial budaya kebanyakan masyarakat Islam Indonesia masih fanatik, mengikuti mentah-mentah apa yang telah diajarkan tanpa berdasarkan dalil yang benar. Ketiga, dalam bidanag sains dan teknologi, bahwa pemerintah kurang tanggap dalam teknis penyusunan media cetak maupun elektronik yang bermanfaat. Kebanyakan masih beraroma kejahilan, yang lambat laun akan merusak akal pikiran, keyakinan generasi baru.

Perkembangan pendidikan di Indonesia, ibarat memakan kerupuk satu kilogram tanpa meminum air sedikit pun. Bila kita merujuk kepada perkembangan pendidikan di Negara Jiran seperti Malaysia, mereka cukup peka terhadap kepentingan pendidikan demi regenerasi yang berkualitas. Rata-rata masyarakat Malaysia sudah sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan, begitu juga pihak pemerintahannya, cukup amanah demi terwujudnya manusia yang cerdas intelektual, cerdas emosional, dan cerdas spiritual—sebagai tanda rasa bersyukur atas segala nikmat dunia dan kahirat dari Sang Khaliq.

Bila kita melihat dari program pemerintah tentang perencanaan pendidikan sangatlah menarik. Namun, ketika niat itu turun menjadi perbuatan, maka yang terjadi hanyalah penyalahgunaan amanah. Bisa dikatakan mereka lebih mendahulukan kepentingan selain pendidikan—dan yang lebih parahnya lagi kepentingan-kepentingan itu—yang tak satupun membuahkan hasil yang memuaskan. Apalagi dengan diterimanya tawaran atas sistem perdagangan bebas oleh pihak asing, membuat keadaan rakyat indonesia semakin terpuruk saja dalam kejahilan. Di mana persiapan rakyat Indonesia dalam dunia pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya belum ter-cover oleh karakteristik akhlakul karimah. Terlebih lagi keadaannya rata-rata masih dalam garis kemiskinan dalam segala bidang, membuai lamunan keinginan ynag tak begitu penting untuk diwujudkan. Hal ini pula yang mengundang virus-virus penghancur karakter terbaik negeri ini.

Beberapa abad yang lalu Rasulullah telah menawarkan metode terbaik dalam dunia pendidikan, melalui Al-Qur’an dan Hadist. Tak hanya itu, para pejuang negeri ini pun telah mengorbankan nyawa mereka demi terwujudnya negara yang memiliki rakyat yang cerdas dan berakhlak mulia, sebagai cikal bakal pemimpin bangsa yang siap berjuang dalam persaingan dunia pada zaman yang berbeda. Namun semua itu mungkin hanya tinggal mimpi, kemarau panjang telah melanda negeri ini. Para penjajah, sang raksasa dunia telah membelenggu kaki kesucian. Tak hanya itu, yang paling mengerikan adalah negeri ini telah terjajah oleh anak bangsa sendiri secara mengenaskan. Hal ini disebabkan oleh kebodohan yang telah berurat akar.

Sebenarnya Allah dan Rasulnya telah menjawab kehancuran semua itu—ketika Allah menciptakan kebebasan berpikir bagi setiap hamba—maka kewajiban hamba itu pulalah untuk memilih jalan baik maupun yang buruk. Dengan bimbingan Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah sebagai landasan bebas berpikir, maka insya allah ilmu apapun yang ada di langit dan bumi akan tergali. Tiada lagi rahasia di balik rahasia. Bagaimanakah kelanjutan nasib pendidikan di negeri ini? Jawabnya ada pada kita semua.