oleh: Itan Yustiani Syaban, S.Pd.

Sebuah materi perkuliahan SGEI pada minggu kelima mengenai wawasan kependidikan, membawa ingatan saya kembali pada suatu diskusi ringan, bersama teman-teman seperjuangan saya di kampus—tempat kami membangun kompetensi sebagai guru selama empat tahun. Diskusi itu terjadi karena, setelah menyelesaikan masa studi, kami dihadapkan pada wacana akan diadakannya Pendidikan Profesi Guru (PPG). PPG wajib kami ikuti sebagai syarat untuk mendapat sertifikat profesi. Dilihat dari sudut pandang para lulusan jurusan kependidikan, PPG dapat dianggap seperti co-ass yang dilakukan sarjana kedokteran.

Dengan semangat positif memperbaiki pendidikan bangsa, kami menyambut baik program tersebut untuk menguji kompetensi yang telah kami miliki, karena kami sadar peran seorang guru tidak kalah penting dari peran seorang dokter. Kesalahan fatal yang mungkin dilakukan dokter akan berujung pada kematian, sedangkan kesalahan yang dilakukan guru akan berakibat pada matinya kehidupan.

Di sisi lain, PPG menjadi semacam teror yang siap mengancam ketenangan para lulusan kependidikan. Hal ini disebabkan terbukanya persaingan baru antara para lulusan kependidikan dan non kependidikan. Yang artinya, setiap sarjana dari berbagai jurusan memiliki peluang yang sama dengan para lulusan kependidikan untuk menjadi seorang guru. Apalagi persaingan antara lulusan kependidikan dan non kependidikan untuk memperoleh kesempatan menjadi guru di sekolah formal khususnya di sekolah negeri semakin terbatas.

Meskipun demikian, persaingan dalam dunia pendidikan sesungguhnya tidak pernah ada. Pendidikan bangsa adalah tanggungjawab bersama. Semakin banyak yang peduli pada pendidikan maka semakin cepat perbaikan dilakukan. Yang perlu dilakukan saat ini oleh para pejuang pendidikan—baik itu lulusan kependidikan atau bukan—adalah mengambil peranan sebagai guru dengan sebaik-baiknya dengan mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki agar dapat saling melengkapi.

Proporsional dalam menjalani peran sebagai guru

Tugas sebagai sebagai guru dapat dianggap sebagai tugas yang berat atau ringan. Banyak di antara calon guru lulusan kependidikan yang memilih pekerjaan lain, karena mengganggap berat pekerjaan seorang guru. Mulai dari tahap perencanaan yang menyita waktu istirahat di rumah, tanggung jawab mendidik siswa yang tak cukup dilakukan di sekolah, tuntutan pegembangan diri yang mengharuskan guru selalu meng-update pengetahuannya dengan mengikuti berbagai pelatihan, pengelolaan kelas yang membutuhkan banyak strategi, juga proses evaluasi yang harus selalu dilakukan secara berkelanjutan ditambah pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang menguras banyak pemikiran. Guru dituntut sempurna dalam segala hal. Namun, jika tugas guru dianggap seberat ini, dikhawatirkan profesi guru akan ditinggalkan,

Sebaliknya banyak calon guru yang mengganggap mudah pekerjaannya. Dengan berpikir bahwa pekerjaannya yang tidak akan menyita waktu—cukup dengan menyampaikan materi di kelas—tugas pun selesai. Jika pekerjaan menjadi guru dianggap remeh maka proses pendidikan tidak akan optimal.

Maka hal terbaik yang harus dilakukan adalah menempatkan peranan ini secara proporsional. Menjadi guru tidak harus menjadi sempurna dalam segala hal, tetapi tidak cukup hanya menyampaikan materi saja. Guru harus membantu siswa mengolah, memilih, dan menginternalisasikan berbagai informasi dan pengaruh yang diterima. Berbagai kemampuan teknis dijadikan senjata dalam mencapai tujuan bukan sebagai beban.

Dengan menempatkan peran ini secara proporsional maka akan tumbuh keyakinan dan kepercayaan diri, bahwa guru merupakan profesi yang mampu dilakukan oleh siapa pun yang memiliki keinginan kuat dalam memperbaiki pendidikan bangsa. Hal ini tentunya bisa dilakukan dengan terus menerus memperbaiki diri. Bagi para lulusan kependidikan, kompetensi profesional harus terus dipertajam, sedangkan bagi lulusan non kependidikan kompetensi pedagogiklah yang perlu diacah sebelum terjun ke dunia pendidikan.

Menjadikan guru sebagai karier

Profesi guru hendaknya tidak sekedar dijadikan pekerjaan, melainkan menjadi suatu karir. Banyak orang yang menganggap bahwa pekerjaan sama dengan karir. Padalahal pekerjaan hanyalah bagian dari karir. Pekerjaan hanya berhubungann dengan tercapainya berbagai target, yang sering membuat seseorang berada dalam tekanan dan menjalani pekerjaan tersebut sebagai rutinitas. Contohnya seorang guru yang datang ke sekolah untuk mengajar, menyampaikan materi di kelas dengan menghadapi siswanya yang sulit diatur, setelah mengajar langsung pulang ke rumah dalam keadaan capek. Keesokan harinya rutinitas itu berulang, sampai pada suatu saat kebosanan pun muncul, sehingga mengajar tidak lagi bersemangat.

Sedangkan karir menurut Rene Suhardono mencakup passion (hasrat), purpose of life (tujuan Hidup), value (nilai) dan happiness (kebahagiaan). Menjadi guru hendaknya menjadi bagian dari passion hidup, sesuatu yang disenangi, meskipun tidak hebat dalam melakukannya. Jika telah menjadi passion, meskipun menghadapi banyak tantangan, pekerjaan akan dilakukan dengan senang hati.

Keberhasilan menjadi guru juga sangat dipengaruhi oleh tujuan hidup guru itu sendiri. Jika menjadi guru merupakan salah satu jalan mencapai tujuan hidup, maka pekerjaan akan dilakukan dengan lebih baik. Dalam menjalani profesi guru, motivasi mendidik juga dapat dibangun dari nilai-nilai yang diyakini. Misalnya, nilai kejujuran yang ingin ditanamkan kepada siswa, sehingga guru menjadi lebih bersemangat dalam menjalani tugas-tugasnya. Profesi guru dikatakan telah menjadi karir seseorang, jika dalam menjalani orang tersebut merasakan kebahagiaan.