oleh:  Eko Nurhaji Purnomo, S.Pd.

Maaf sampai hari ini aku belum bisa menyapamu dengan hangat. Bukannya apa, aku masih belum percaya diri berteman dengan kalian. Aku putuskan untuk menuliskan surat ini untuk kalian. Sebenarnya aku ingin sekali teman saat pertama kali bertemu. Menjabat tanganmu, sesegera kuberikan dompetku ini kepadamu dan kuharap juga engkau. Tak usah heran jika engkau membuka dompetku, isinya ATM kosong, KTP, beberapa uang ribuan dan dua lembar uang lima ribuan, lembaran-lembaran kertas yang sudah lungsuh, kebiasaanku mengumpulkan lembaran-lembaran bekas bon makanan yang aku hutang kepada ibu kantin saat masih kuliah.

Berapa hari ini aku memandangi kalian, beruntung sekali aku bisa berada disini bertemu dengan orang-orang seperti kalian, bukan hanya mudah bergaul, ataupun hanya sekedar kalian adalah orang-orang pintar sehingga layak berada disini. Bukan itu, kaum militansi yang mau menyisihkan umurnya berada disini bersamaku. Bukannya apa, diluar sana masa depan begitu menggoda. Perusahaan-perusahaan besar lebih menawarkan kemapanan hidup. Esok, kelak ketika engkau keluar dari tempat ini. Bertemu dengan teman-teman kalian, janganlah iri dengan kemapanan hidup mereka karena hari ini engaku memilih bersamaku disini.

Bersibuk-sibuk disini dengan jadwal yang padat. Tugas yang banyak menghabiskan waktu santai. Berbagai peraturan yang membuat kita merasa terpojok. Waktu isitirahat yang kurang. Bayangkan waktu untuk tidur saja terpotong dengan mengerjakan tugas. Tak bisa bertemu dengan orang-orang terkasih sekedar melepaskan rindu. Belum lagi setelah ini terikat untuk mengabdi selama satu tahun dipelosok sana. Sudahlah teman bukan nya aku memprofokasi kalian untuk keluar dari sini bahkan  kapok untuk mempromosikan progam ini kepada teman-teman kalian.

Umur satu tahun setengah yang seharusnya terbayar mahal untuk apa yang kita lakukan ini. Berbeda dengan progam Management Trainee atau Manajement Develoment Progam yang dimiliki perusahaan-perusahaan besar. Dengan waktu yang sama kalian bisa menjadi seorang kepala bagian atau bahkan menjadi seorang manager. Sudah bisa dibayangkan berapa gaji yang akan kalian dapatkan.

Disini kalian hanya menjadi seorang guru. Sebuah profesi yang sampai sekarang masih dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Profesi yang tidak banyak orang meminatinya. Apa lagi kalian kaum pria yang belum beristri.  Coba difikirkan sekali lagi memilih profesi ini. Bisa jadi  ketika ingin menikah  dengan perempuan yang kau cintai, ditolak mentah-mentah oleh orang tuanya gara-gara profesi gurumu ini. Orang tua pasti memiliki pandangan terbaik untuk anak perempuannya. Mereka akan  berfikir dua kali untuk menikahkan anak nya denganmu. Mereka lebih memilih seorang pengusaha, karyawan dari perusahaan-perusahaan besar, atau birokrat yang masa depannya lebih menjanjikan.

Saya hanya ingin mengingatkan kalian yang kedua kalinya teman. Sudah yakin jalan yang kau ambil ini. Menjadi guru bukanlah profesi yang membuat kalian bisa dikenal orang. Beda dengan menjadi politisi yang sekarang lebih sering masuk televisi, atau pengusaha yang dikenal orang seantero jagat raya dengan hartanya, hidupmu tak akan beda dengan guru-guru sekarang ini. Menjadi tukang becak, tukang ojek, tukang pemungut sampah, atau pencuci piring, sebagai pekerjaan sambilan kalian. Tak ada harapan besar didepan kalian.

Orang tua kalian pun mungkin tak rela melihat hidup kalian seperti itu, jadi pikirkanlah sekali lagi apa benar pilihan hidup kalian disini. Kalau memang ini adalah pilihan kalian, akupun tak bisa memaksa kalian. Perusahaan-perusahaan dan jenjang karir begitu menjanjikan sedang menanti kalian diluar sana. Tak usahlah kalian beridealis seperti ini, sebenarnya aku juga masih ragu berada disini.

Tapi ada satu hal yang menahanku tetap disini. Sanubari ini. Memang jiwa ini yang telah mengikatku dengan predikat guru. Pelajaran yang berharga disini “menjadi guru atau tidak sama sekali”. Meski waktu tidur berkurang karena banyaknya tuga yang harus dikerjakan, itu adalah semata-mata untuk menjadi guru yang baik. Sebuah tuntutan totalitas tanpa memandang balasan.

Tak akan ada yang mengenal kita, berbeda seperti yang lain. Tetapi satu hal yang tidak dimiliki orang lain.  Anak-anaku yang akan selalu mengingatku. Selalu menunggu dipintu kelas, menyambutku dengan senyum kecilnya. Bertepuk tangan seraya mengiringi langkahku menuju kekelas. Berebut salam dengan mencium tanganku. Duduk antusias mendengarkan ceritaku. Bernyanyi bersama dengan tepuk tangan yang riuh diiringi candahnya. Menggeleng-gelenkan kepala dan sesekali mengerakan badan nya kekiri dan kekanan. Jika tak masuk kelas merekapun bertanya kepada guru yang lain, “kemana bapak  ko’ tidak masuk? kita mau belajar”. Sebuah nikmat yang tidak semua orang memiliki. Nikmat yang sangat mahal dan tidak ada yang bisa membelinya.

Disanalah tersirat sebuah mimpi kecil. Cita-cita kecil melihat anak-anaku kelak nanti menjadi pemimpin bangsa ini yang jujur. Membangun bangsa ini dari keterpurukan. Mudah-mudahan ini menjadi keterwakilan yang bisa aku persembahkan kepada negeri ini.

Aku bukanlah orang yang kaya karena memilih menjadi guru, tetapi aku adalah orang yang berusaha membentuk orang-orang yang bukan hanya kaya harta, tetapi kaya akhlak yang terpenting. Bangsa ini sudah kaya harta. Sekarang membutuhkan orang-orang yang kaya akhlak untuk bangkit. Untuk membentuk orang-orang yang kaya akhlak, Indonesia membutuhkan kalian, teman.

Dan terimahkasih berada disini bersamaku…..