April 2011


oleh : Viya Yanti Mala

Panas terbakar, seolah menjilati ubun. Makassar sedang panas-panasnya. Aku berjalan pulang setelah dari sekolah yang bakal jadi tempatku mengajar. Ya, dua hari lalu dihubungi oleh bapak kepala sekolah salah satu SDIT di Makasssar untuk mengajar di sekolah beliau. Hari ini cek lokasi sekolah, sekaligus berkenalan dengan guru-guru yang mengajar di sana.

Sebenarnya aku tidak begitu yakin akan mengabdikan diri menjadi pengajar. Selain tidak pernah membayangkan akan menjadi pendidik, background pendidikanku pun bukan dari lulusan keguruan. Dan lagi menurutku, menjadi guru bukan hal yang mudah, butuh kesabaran ekstra apalagi mengajar anak-anak yang hatinya sangat butuh diwarnai dengan teladan yang baik.

Di sudut perempatan jalan,sorak sorai itu tertangkap juga oleh telinga. Aneh, pikirku untuk apa anak-anak berseragam putih merah itu berkumpul di satu titik salah satu rumah kosong. Jumlah mereka mungkin ada sepuluh lebih. Ramai. Sekilas kualihkan perhatianku ke gerombolan anak itu begitu melewati daerah tersebut. Sepertinya ada adu mulut, sengit, antara dua anak perempuan. Yang lain memberi sorak sorai tanda menyemangati untuk berlanjut adu kekuatan. Akan ada perang, nih, batinku.

Sejenak aku berpikir, perlukah untuk melerai. Ah, bukan urusanku tentunya. Dan parahnya aku beranggapan, biarkanlah anak-anak itu menyelesaikan sendiri masalahnya, mereka akan menjadi cepat dewasa dengan membiarkan masalahnya terselesaikan oleh mereka juga. Ya, kuputuskan untuk tidak turut campur pada permasalahan mereka. Dengan lenggang kangkung, aku melewati rombongan anak yang semakin heboh itu.

Belum cukup beberapa meter aku berjalan, dari arah yang berlawanan, terlihat dua orang wanita. Dari pakaian yang beliau kenakan, aku menebak pastinya beliau berdua adalah seorang guru. Tepat dugaanku. karena seorang anak—salah satu dari gerombolan anak yang berkumpul di sudut rumah kosong itu—terlihat menghampiri dua wanita tersebut. Kelihatan benar anak itu panik, seragam putihnya basah oleh keringat.

“Bu Guru, tolong, bu. Ada anak yang berkelahi…” suara anak lelaki itu terengah-engah.

Oh, ibu gurunya toh, seruku dalam hati. Baguslah kalau kemudian perkelahian itu akan diredam oleh guru mereka sendiri. Dua kubu gadis kecil yang berkelahi itu pasti secara sadar akan cepat meleraikan diri karena sungkan pada sosok gurunya yang berwibawa.

“Di sana, Bu…. Di perempatan, rumah kosong…” si anak menunjuk tempat kejadian perkara.

Ringkas saja jawaban sang guru, kompak.

“Sekarang sudah selesai jam sekolah. Bukan tanggungjawab guru lagi bila sudah berada di luar sekolah.”

Gubrak! Jawaban yang aneh, dan tentunya sangat mematahkan hati sang anak yang masih berdiri tepat di hadapan gurunya. Bukan jawaban yang diharapkan, sungguh. Aku sontak berhenti melangkah. Si anak yang melaporkan perkara langsung putar haluan, kembali berlari menuju tempat temannya berkumpul. Lama aku berdiri mematung, hanya tidak percaya saja pada jawaban sang guru. Tapi kenyataannya, sang guru benar-benar cuek. Beliau melewati rombongan anak muridnya itu tanpa menengok sedikit juga atau berusaha mengingatkan untuk berhenti berkelahi. Mungkin beliau, sang guru itu tergesa-gesa untuk pulang karena ada urusan yang penting hingga tidak berkesempatan melerai anak-anaknya. Namun apapun itu alasannya, kekesalanku tumbuh melihat respon sang guru, bukankah tanggungjawab itu tidak terbatas pada lingkungan sekolah saja, tapi hingga di mana pun.

Aku segera sadar diri, bukankah aku juga begitu cuek dengan keadaan sekitar. Segera aku berputar arah, balik menuju rombongan anak-anak tersebut. Ada sesuatu yang mendesak di hati, entah aku tidak mampu mendefinisikan namanya. Jelasnya anak-anak itu penting untuk diperhatikan, kata hatiku mengingatkan.

Sorak sorai semakin ramai saja begitu aku tiba. Pemandangan yang miris. Dua anak perempuan kira-kira baru berusia sepuluh tahun bergulat ala perkelahian wanita. Sikut kiri kanan, saling dorong dan jambak menjambak rambut. Beberapa teman ada yang berusaha melerai, meski sebagian besar memberi semangat untuk terus melanjutkan pergulatan.

Aku segera bersuara lantang, mencoba melerai secepat mungkin di tengah perang yang semakin memanas.

“Sudah… sudah… jangan berkelahi lagi!”

Namun sepertinya api yang memanas dalam dada ke dua gadis kecil itu susah untuk diredam. Buktinya mereka mengacuhkanku. Tetap pada posisi jambak menjambak rambut. Tidak berputus asa, aku mulai masuk ke tengah mereka, menengahi. Anak lelaki yang tadi berlari menemui gurunya, cepat tanggap. Menarik salah seorang temannya yang dipenuhi amarah.

Huff, tidak mudah juga menaklukkan pertarungan sengit ini.

“Jangan berkelahi lagi, kalian kan teman satu sekolah masak bermusuhan. Ayo, yang lain bantu kakak memisahkan temannya.”

Seperti terhipnotis, mereka bergerak cepat, membantu memisahkan temannya. Dua gadis kecil itu terpisahkan, akhirnya. Sejenak anak-anak yang menyoraki tadi melihatku dalam. Pikir mereka, mungkin siapa ya, baru lihat.

Aku tersenyum ramah, merefleksikan suasana. Dua gadis kecil dengan seragam putih merah yang jauh dari rapi itu belum sepenuhnya tenang. Meronta, seperti dua ekor ayam jago yang menyorong-nyorongkan kepalanya hendak mematuk lawan meski dalam genggaman tuannya, minta diloloskan untuk melanjutkan lagi adu jotos.

“Sudah, tenang ya… tidak baik berkelahi, apalagi satu sekolah,” kataku masih pasang senyum.

Dan adu mulut pun menyembur dari keduanya. Saling tuding, menyalahkan. Wah, hampir tidak kalah sengit dengan pertarungan fisik. Susahnya anak-anak ini. Hampir saja kesabaranku menguap.

“Ok! Kakak dan teman-teman kamu di sini akan mendengarkan kalian. Tapi satu persatu ya. Kakak ingin tahu apa permasalahannya.”

“Dia yang salah, kak,” kata anak di sebelah kananku. Dengan cepat musuhnya membantah sambil menunjuk tepat ke arah temannya.

“Bukan saya, dia yang duluan,” wajahnya bertambah galak.

“Waduh, kakak jadi tidak tahu nih, siapa yang benar dan siapa yang salah kalau kalian berdua tidak tenang. Coba kamu dulu yang bercerita, kenapa bisa sampai marah,” aku berkata pada anak yang berambut panjang.

Mengalirlah cerita dari mulut mungilnya, sesekali melirik tajam pada teman yang dia ceritakan, dan sesekali mengusap air matanya yang mulai jatuh. Dia sama sekali tidak bersalah, begitu kesimpulan dari ceritanya.

Dan tiba giliran anak berambut pendek yang bercerita. Anak ini lebih berapi-api menceritakan awal mula kejadian. Pandai dia mendetailkan kisah pertama hingga perjanjian untuk bertemu di rumah kosong tersebut. Kesimpulan akhirnya pun sama, dia tidak ingin jadi yang disalahkan. Memang tidak satu pun orang yang ingin disalahkan.

Permasalahan yang sepele sebenarnya. Salah seorang telah melapor pada anak yang berambut pendek, bahwa anak berambut panjang mengejeknya. Tanpa konfirmasi dahulu beritanya, dia langsung membuat janji untuk bertemu di tempat ini. Padahal katanya, sih anak berambut panjang itu tidak pernah berkata demikian. Ada saksi yang mendukung pula pernyataan anak berambut panjang. Ya, salah informasi tanpa mengecek kebenarannya bisa jadi permasalahan yang besar.

“Nah, sudah jelaskan? Menurut kakak sih, sebenarnya tidak ada yang bersalah. Ini hanya salah paham saja. Bagaimana menurut kalian berdua?” keduanya terdiam, mungkin sedang berpikir.

“Nah, karena tidak ada yang bersalah, jadi boleh dong dua-duanya salaman dulu. Yang tidak mau salaman artinya dia yang bersalah jadinya.” Kontan dua-duanya mengulurkan tangan. Ah, leganya melihat dua gadis ini akhirnya berdamai.

Pelukan boleh juga, kalian teman, bukan musuh,” aku menggoda mereka, keduanya tersenyum. Ada sesuatu yang indah tumbuh di hatiku saat melihat mereka tersenyum. Damai itu memang indah. Lebih indah lagi menciptakan kedamaian di tengah kerusuhan.

Maka mulai hari ini aku mengambil keputusan. Akan mengambil peran sebagai guru. Mengajarkan mereka yang terbaik yang aku bisa. Menyiapkan generasi bangsa agar dapat membentuk peradaban Indonesia yang lebih baik. Setiap guru wajib memperhatikan anak-anak didiknya tidak terbatas di sekolah saja, tapi di mana pun, dan kapanpun. Siapa saja yang mengambil peran sebagai pendidik wajib tetap memberi contoh pada anak-anak negeri, tentunya dengan hati yang ikhlas agar yang menerimanya pun dengan hati pula.

Jangan jadi pribadi yang tidak peduli dengan kerusakan sekitar yang dibuat oleh anak-anak yang sebenarnya mereka belum tahu dengan baik bahwa itu merusak. Diri ini bisa mengingatkan, bukan malah acuh. Semoga setiap pendidik di negeri ini mampu melukis indah pikiran dan jiwa serta menginspirasi generasi muda.

oleh: Laela Nur Rahmah

Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Umar.

Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungjawabannya) tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta majikannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. (Muttafaq ‘alaih)

Hadist di atas manginspirasi saya mengenai peran pendidik. Hakikat seorang pendidik jelas memiliki peran penting dalam kehidupan, salah satunya dunia pendidikan. Pendidik selanjutnya kita sebut guru, memiliki peran yang selama ini dikenal adalah sosok pengajar. Seseorang yang memberikan ilmu kepada peserta didiknya. Seseorang yang mengajarkan sesuatu yang dulu tak diketahui menjadi tahu. Pengertian tersebut benar adanya. Namun, tidak hanya sebatas itu, seorang guru harus mampu mengadakan perubahan positif, pembelajaran pasif menjadi aktif. Hal tersebut berhubungan dengan tumbuh kembang peserta didiknya.

Perlu kita sadari terlebih dahulu bahwa anak kecil ibarat batu yang siap diukir, apa yang ia lihat, dengar, rasakan, akan terpatri, dan tertancap melekat padanya. Karena mereka memandang segala sesuatunya secara holistik dan sebagai suatu keutuhan. Masa-masa mereka merupakan fase terpenting dan besar pengaruhnya terhadap jiwa anak itu sendiri. Yaitu, pembentukan kepribadian. Oleh karena itu, anak perlu dipersiapkan untuk memiliki kepribadian yang unggul dan tangguh, sehingga ia siap mengemban tugas dan tanggung jawab yang akan dipikulnya. Anak-anak masa depan dan mendatang yang penuh dengan tantangan. Memiliki perilaku yang indah dan dapat menjadi teladan bagi yang lain. Maka dari itu guru harus mampu menjadi pemimpin bagi murid-muridnya, yaitu dapat mengarahkan dan membentuk kepribadian tersebut. Guru berkarakter pemimpin inilah yang dicari. Selanjutnya, seperti apakah guru yang berkarakter pemimpin yang dimaksud?

Pemimpin berarti amanah, poin penting di sini adalah amanah wajib disampaikan. Sesuai sabda Nabi Saw, “…sampaikanlah walaupun satu ayat….” Pemimpin erat kaitannya dengan beban yang akan ditanggungnya. Maka, tugas guru sebagai pendidik akan diminta pertanggungjawabannya. Sepenggal perkataan tegas yang dikutip oleh Abdul Qoyyim semoga Allah merahmatinya, yaitu perkataan dari para ulama yang mengingatkan kita akan pentingnya pendidikan.

“…barangsiapa mengabaikan pendidikan anak dan menelantarkannya maka ia telah melakukan puncak keburukan….”

Pendidikan masa kecil akan bermanfaat, sedangkan di saat tua dia tidak berguna. Sesungguhnya ranting jika engkau luruskan akan menjadi lurus. Sedangkan batang jika engkau luruskan tidak akan melunak.” Itu juga yang dilukiskan penyair, yang menegaskan pula bahwa pendidikan anak begitu penting.

Guru bukanlah seorang politisi yang pandai bermain retorika, merasa paling benar. Tapi guru merupakan seorang messenger, penyampai pesan yang diyakini bermanfaat. Tidak hanya sekedar menjawab pertanyaan kritis muridnya, tetapi juga seorang motivator yang mampu merubah paradigma berpikir dari yang biasa menjadi luar biasa. Mampu memunculkan potensi besar terpendam yang ada pada muridnya.

Profesi guru adalah mulia, tidak bisa dimungkiri, bahwa semua orang tahu hal itu. Namun, guru yang diharapkan adalah seorang pejuang pendidikan yang tidak hanya mampu beretorika, tetapi juga sumber inspirasi bagi setiap muridnya. Guru cerdas intelektual maupun spiritual yang tentu saja mampu menghasilkan orang-orang cerdas lainnya. Untuk menjadi seorang guru yang berkarakter pemimpin memang tidak mudah, tentu saja harus dilandasi akhlaq mulia yang menjadikannya guru berkualitas.

Guru yang berkualitas harus memiliki empat kompetensi: pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang unggul,” pendapat Agung Pardini, salah seorang trainer pendidikan di LPI-Dompet Dhuafa. Empat kompetensi tersebut merupakan salah satu prasyarat untuk menjadi guru berkarakter pemimpin, sehingga mampu tampil sempurna, berdiri di depan umum.

  1. Pedagogik yaitu guru mampu menguasai materi maupun teknik mengajar sehingga memotivasi muridnya.

  2. Profesional adalah kesesuaian latar belakang pendidikan dengan materi yang akan disampaikan.

  3. Sosial, guru mampu berkomunikasi dan bersosialisasi, tidak hanya di ruang lingkup sekolah tetapi juga dengan masyarakat sekitar, stakeholder atau tokoh masyarakat.

  4. Kepribadian, berakhlaqul karimah, memberikan teladan dengan keindahan pribadinya dan kesantuanan perilakunya.

Empat kompetensi di atas telah mencakup seluruh aspek penting yang dibutuhkan seseorang agar visi Guru Berkarakter Pemimpin dapat terwujud. Akhirnya, dengan karakter yang diharapkan tersebut pembentukan kepribadian anak yang unggul, tangguh, dan berakhlaqul karimah mampu terealisasikan. Setiap orang adalah pemimpin, maka setiap orang itu mampu menjadi guru yang berkarakter pemimpin.

Mengutip perkataan seorang sosiolog, Imam Prasodjo, “Pemimpin yang baik mampu membentuk pemimpin lain yang lebih baik”. Semoga. HIDUP GURU INDONESIA, perubahan adalah harapan kami padamu.

Laela Nur Rahmah, S. P.

oleh: Dencik Afriyanto

Profesi guru merupakan pekerjaan yang mulia, dari dirinya muncul pemimpinpemimpin yang hebat. Birokrat, teknokrat, pengusaha, dan aparat hukum yang sangat menentukan maju mundurnya bangsa ini. Kalau tempo dulu ada tokoh yang mewakili profesi guru, Oemar Bakrie.Seseorang yang hidupnya penuh kesederhanaan namun mempunyai tekad yang besar mencerdaskan siswanya.Setiap hari dia mengayuh sepeda buntutnya, menyandang tas dari kulit buaya yang setia menemaninya. Hidup pada masa penjajahan, jangankan gaji yang besar, nyawanya pun terancam. Sangat ironis nasib guru Oemar Bakrie yang berjuang sendiri, sangat langka ditemukan pada masanya.

Namun berbeda jauh dengan kehidupan guru pada abad 21. Fenomena guru sekarang mereka berlomba-lomba untuk dapat mengajar di sekolah walaupun tanpa honor, agar mendapat kesempatan diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan sertifikasi agar mendapat dana tambahan berupa tunjangan-tunjanganwalaupun mengorbankan jam pelajaran yang disampaikan kepada muridnya. Mereka guru swasta yang nasibnya tidak jelas, akan tetapi kesana kemari, sibuk di sekolah sana sekolah sini untuk mencukupi keperluan dapur mereka.

Permasalahan-permasalahan yang dialami guru-guru, harus ada solusinya. Solusi tersebut dimulai dari guru itu sendiri, banyak tuntutan yang dialamatkan kepada profesi ini, diantaranya: kapasitas dan kapabilitas karakter yang harus guru miliki.

Pertama, kapasitas kecakapan yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan aktifitasnya sebagai pendidik, menguasai kompetensi pedagogig, profesional seperti mampu membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menyampaikan pembelajaran dengan cara PAKEM (Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan), model-model pembelajaran, assement, psikologi kepribadian, perkembangan anak, manajemen kelas, display, melakukan penelitian tindakan kelas (PTK), mengetahui psikologi sekolah, keluarga, dan masyarakat. Begitu banyak hal yang harus guru penuhi untukmenjadi guru yang memiliki kapasitas. Kalaupun sulit, guru selain mengajar dituntut belajar untuk dapat meningkatkan kinerjanya.

Kedua, kapabilitas yaitu kemampuan memanfaatkan kapasitas. Banyak guru mempunyai kapasitas akan tetapi tidak mempunyai kemampuan planning dan problem solving untuk sekolah dan anak didiknya.Kemampuan ini lebih menitikberatkan pada guru, yang memiliki soft skill memiliki sikap kepempinan. Pemimpin yang dapat menjadi agent of change bukan hanya di sekolah, akan tetapi lingkungan, dan daerahnya.

Masalah sosial dan agama juga merupakan hal yang penting. Bagaikan dua sisi mata uang. Banyak pemimpin hanya fokus pada satu masalah.Tokoh agama fokus pada ibadah vertikal saja, sampaikan ceramah, ayat-ayat suci, halalharam urusan selesai; tokoh masyarakat fokus pada adat istiadat yang hanya seremoni belaka tanpa kerja nyata, akhirnya kemiskinan, narkoba, tawuran seks bebas ada disekeliling mereka. Ajaran agama telah mengisyaratkan kesholehan bukan hanya diam di masjid atau pergi ke Gereja pada hari Minggu, akan tetapi yang lebih penting adalah kesholehan sosial, peka terhadap permasalahan yang ada.

Ketiga, memiliki karakter, sifat baik yang menjadi perilaku sehari-hari yang melekat pada diri seseorang. Sifat ini hendaknya ada pada guru, guru tanpa karakter dapat membuat guru memiliki banyak pertimbangan. Pertimbangan untungrugi, mengajar di toko atau di pelosok, gaji besar-kecil, segala fasilitas didapat dari pemerintah, gaji yang lumayan cukup (cukup beli rumah, cukup beli mobil, cukup…) menjadi tujuan hidup. Berbeda bagi guru berkarakter itu hanya fasilitas hidup, baginya yang terpenting menjadi fasilitator bagi anak didiknya untuk dapat mencapai cita-cita mereka, anakanak yang cerdas dan peka terhadap lingkungannya.

Guru yang ideal adalah kedalaman ilmu yang dimiliki, pengabdian yang tak lekang oleh waktu, dan tingkah laku yang digugu(dipatuhi) dan ditiru yang terpatri pada setiap jiwa anak didiknya.

Ada fenomena menarik yang dialami penulis dalam beberapa waktu terakhir ini ketika penulis menjadi salah satu panitia pelaksana Lomba Cerdas Cermat tingkat gugus I sekolah dasar kecamatan Ciracap, kabupaten Sukabumi. Lomba yang diadakan dalam rangka Pekan Kreatifitas Siswa ini merupakan salah satu ajang untuk menguji sejauh mana keberhasilan proses pendidikan di Gugus I. Lomba Cerdas Cermat ini mengujikan semua mata pelajaran di sekolah dasar dan diikuti oleh siswa kelas lima. Penulis juga berkesempatan mendapatkan tanggung jawab sebagai ketua tim pembuat soal cerdas cermat. Kami merupakan guru-guru binaan Sekolah Guru Ekselensia Indonesia yang sedang melakukan magang di enam sekolah di Gugus I kecamatan Ciracap, kabupaten Sukabumi.

Penulis dan tim merumuskan soal-soal yang berkaitan dengan beberapa kompetensi dasar dari masing-masing mata pelajaran. Salah satu pelajaran yang kami ujikan adalah Pendidikan Kewarganegaraan. Tim pembuat soal mengambil salah satu standar kompetensi dalam pelajaran PKN untuk kelas V yakni menghargai keputusan bersama dengan dua kompetensi dasar mengenal bentuk-bentuk keputusan bersama dan mematuhi keputusan bersama. Tim merumuskan soal yang diturunkan dari SK dan KD tersebut dengan berfokus pada bentuk musyawarah dan voting. Dua bentuk keputusan bersama yang diadopsi dari akar dua peradaban dunia, yakni musyawarah (syuro) dalam Islam dan voting dari peradaban Barat.

Dalam salah satu soalnya, tim menulis, “Jika mufakat tidak tercapai, maka musyawarah dapat dilakukan dengan cara….” Dari pertanyaan dengan tingkat pengenalan (C1) tersebut, tim ingin mengarahkan jawaban benar pada bentuk keputusan bersama kedua yaitu voting. Peristiwa menarik terjadi pada saat hari H pelaksanaan lomba pada Sabtu, 26 Maret 2011. Penulis saat itu bertanggung jawab sebagai pembawa acara lomba dengan tim guru SGEI lainnya sebagai dewan juri. Ketika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada para peserta—kelompok yang terdiri dari tiga orang dari tujuh sekolah dasar negeri di wilayah gugus I, SD Jaringao, SD Cipaku, SD Kebon Waru, SD 1 Gunung Batu, SD 3 Gunung Batu dan minus dua sekolah, SD Ciburial dan SD Cigelang—terdapat bervariasi jawaban.Meskipun ada jawaban benar dari salah satu peserta yang menjawab “suara terbanyak”, penulis tergelitik dengan salah satu jawaban dari SD 3 Gunung Batu. Juru bicara kelompok tersebut, Reni, siswa kelas V, dengan wajah polos menjawab “memberi uang”. Jawaban tersebut sontak membuat kaget kami, penulis dan tim juri, karena tidak pernah terpikirkan bagi kami akan muncul jawaban tersebut dari seorang siswa kelas V sekolah dasar.

Peristiwa yang cukup berkesan bagi penulis tersebut, menjadi bahan diskusi bagi kami yang juga memiliki tanggung jawab sebagai seorang pendidik. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah apakah memang sudah begitu parahnya keteladanan karakter dan moral dalam pendidikan kita sehingga siswa dengan polosnya mengadopsi nilai-nilai koruptif tersebut. Ataukah memang budaya korupsi sudah begitu menggurita sehingga melekat erat pada pikiran siswa sekolah dasar. Uang menjadi salah satu alternatif untuk menghasilkan sebuah keputusan bersama.

Sebagai pendidik, tentu saja hal ini menjadi bahan kajian untuk dianalisis letak akar permasalahannya. Penulis sendiri melihat peristiwa ini sebagai salah satu bentuk pengabaian terhadap nilai-nilai keteladanan sehingga terpisah dari proses pendidikan itu sendiri. Banyak guru masih sebatas menjadi seorang pengajar yang mentransfer ilmu kepada siswanya di dalam kelas-kelas. Para guru belum tersadar bahwa profesi mereka juga terbebani tanggung jawab untuk menjadi seorang pendidik berkarakter, tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga memberikan teladan nilai-nilai kepada siswa di setiap gerak langkahnya.

Profesi guru merupakan profesi yang sangat berat pertanggungjawabannya, baik secara profesionalitas di dunia maupun sebagai khalifah yang akan di-hisab segala amalannya di akhirat kelak. Sebagai seorang profesional, ketercapaian keberhasilan guru tidak hanya dilihat dari cemerlangnya sisi kognitif atau intelektualitas, tetapi juga harus mempertimbangkan sisi afektif (moral dan akhlak), serta psikomotorik siswanya. Sebagai seorang muslim, keteladanan dicerminkan pada Rasulullah SAW, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (QS. Al Ahzaab: 21).

Siswa merupakan anak didik yang menjadi salah satu saksi atas segala amal perbuatan terkait profesinya sebagai guru. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa “Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adil terhadap anak-anakmu.” Belum dikatakan bertakwa seorang muslim apabila tidak dapat berbuat adil dalam hal ini berbuat ma’ruf kepada anak-anak termasuk anak didik. Memberikan teladan yang buruk merupakan salah satu ketidakadilan yang diberikan kepada anak-anak.

Keberhasilan pendidikan memang tidak mutlak menjadi tanggung jawab bagi seorang guru. Alokasi waktu terbanyak dari proses pendidikan berada di rumah atau keluarga. Orang tua merupakan pendidik yang memiliki andil besar bagi proses pemerolehan keteladanan siswa. Orang tua terkadang memiliki pemahaman bahwa pendidikan hanya berlangsung di sekolah, sementara di rumah bukan lagi waktunya mendidik. Pemisahan proses berlangsungnya pendidikan tersebut juga berdampak langsung pada pengabaian nilai-nilai keteladanan yang berpengaruh bagi anak-anak.

Peristiwa kecil tersebut mungkin salah satu fenomena gunung es permasalahan pendidikan di Indonesia. Anak-anak merupakan aset bangsa di masa depan. Jangan salahkan anak-anak kita jika nanti menjadi seorang koruptor ulung. Pembiaran nilai-nilai keteladanan terpisah dari proses pendidikan itu sendiri, maka anak-anak telah sukses mengadopsi sosok kita sekarang sebagai guru, orang tua, dan masyarakat yang koruptif. Oleh karena itu, permasalahan ini sebagai sarana muhasabah kita dalam rangka mencetak insan-insan berkualitas di masa depan.

Zarmin bin Ghanim (a.k.a Caesar Anggara Adhiputra)

23 Rabiul Akhir 1432 H / 28 Maret 2011

@ Saung Belajar Jaringao, Ciracap, Sukabumi

oleh: Aslam Syah Muda, S.H.I.

Sedekah yang paling utama adalah orang Islam yang belajar suatu ilmu, kemudian ia ajarkan ilmu itu kepada saudaranya muslim”

( HR.Ibnu Majah)

Hujan modernisasi zaman semakin deras turun di bumi pertiwi. Membuat generasi bijak mengigil kaku, dalam dinginnya politik orang-orang bodoh yang sengaja atau tidak sengaja meracuni seteguk-demi seteguk hangatnya suguhan nikmat, secangkir kopi dusta. Seakan tak berdaya sosok jasad-jasad yang lelah dibebani sugesti kebodohan raja diraja. Seharusnya mereka melihat, mendengar, merasa, menjemput mutiara ilmu masih saja tersimpan di singgasana keabadian Al-Qur’an dan Hadist. Puing-puing kemiskinan merajalela di setiap penjuru tanah air, bongkahannya meruntuhkan tembok-tembok generasi muda pewaris para pahlawan. Disebabkan kebodohan global, para manusia yang berdiri atas nama malaikat penyelamat di negeri ini, hingga tiada terlihat satu pun mutiara ilmu yang bersinar.

Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah,” sampai-sampai rasulullah mengilustrasikan dengan ucapan beliau “Carilah ilmu meskipun ke Negeri China, karena sesungguhnya mencari ilmu itu merupakan kewajiban pada setiap orang Islam, para malaikat merentangkan sayapnya (memayungkan sayapnya) kepada penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang dituntut.” Sungguh rasulullah tak sedikit pun menghendaki umatnya celaka dunia maupun akhirat.

Kebodohan adalah salah satu penyebab penyimpangan kuatnya kebenaran baik itu dalam bidang agama, sains dan teknologi, sosial budaya, dan lain sebagainya. Contoh kecil, seperti dalam bidang agama, Salih Fauzan bin Ahmad Fauzan seorang ulama tauhid dari golongan mutakhkhirin menuturkan dalam bukunya “At-Tauhid” bahwa penyimpangan aqidah terjadi disebabkan oleh tiga hal. Pertama, oleh masyarakat yang tidak mau belajar dalam kebodohannya (bangga dengan kebodohannya) dan golongan masyarakat yang tahu tidak mau mengajarkannya. Kedua, dalam hal sosial budaya kebanyakan masyarakat Islam Indonesia masih fanatik, mengikuti mentah-mentah apa yang telah diajarkan tanpa berdasarkan dalil yang benar. Ketiga, dalam bidanag sains dan teknologi, bahwa pemerintah kurang tanggap dalam teknis penyusunan media cetak maupun elektronik yang bermanfaat. Kebanyakan masih beraroma kejahilan, yang lambat laun akan merusak akal pikiran, keyakinan generasi baru.

Perkembangan pendidikan di Indonesia, ibarat memakan kerupuk satu kilogram tanpa meminum air sedikit pun. Bila kita merujuk kepada perkembangan pendidikan di Negara Jiran seperti Malaysia, mereka cukup peka terhadap kepentingan pendidikan demi regenerasi yang berkualitas. Rata-rata masyarakat Malaysia sudah sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan, begitu juga pihak pemerintahannya, cukup amanah demi terwujudnya manusia yang cerdas intelektual, cerdas emosional, dan cerdas spiritual—sebagai tanda rasa bersyukur atas segala nikmat dunia dan kahirat dari Sang Khaliq.

Bila kita melihat dari program pemerintah tentang perencanaan pendidikan sangatlah menarik. Namun, ketika niat itu turun menjadi perbuatan, maka yang terjadi hanyalah penyalahgunaan amanah. Bisa dikatakan mereka lebih mendahulukan kepentingan selain pendidikan—dan yang lebih parahnya lagi kepentingan-kepentingan itu—yang tak satupun membuahkan hasil yang memuaskan. Apalagi dengan diterimanya tawaran atas sistem perdagangan bebas oleh pihak asing, membuat keadaan rakyat indonesia semakin terpuruk saja dalam kejahilan. Di mana persiapan rakyat Indonesia dalam dunia pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya belum ter-cover oleh karakteristik akhlakul karimah. Terlebih lagi keadaannya rata-rata masih dalam garis kemiskinan dalam segala bidang, membuai lamunan keinginan ynag tak begitu penting untuk diwujudkan. Hal ini pula yang mengundang virus-virus penghancur karakter terbaik negeri ini.

Beberapa abad yang lalu Rasulullah telah menawarkan metode terbaik dalam dunia pendidikan, melalui Al-Qur’an dan Hadist. Tak hanya itu, para pejuang negeri ini pun telah mengorbankan nyawa mereka demi terwujudnya negara yang memiliki rakyat yang cerdas dan berakhlak mulia, sebagai cikal bakal pemimpin bangsa yang siap berjuang dalam persaingan dunia pada zaman yang berbeda. Namun semua itu mungkin hanya tinggal mimpi, kemarau panjang telah melanda negeri ini. Para penjajah, sang raksasa dunia telah membelenggu kaki kesucian. Tak hanya itu, yang paling mengerikan adalah negeri ini telah terjajah oleh anak bangsa sendiri secara mengenaskan. Hal ini disebabkan oleh kebodohan yang telah berurat akar.

Sebenarnya Allah dan Rasulnya telah menjawab kehancuran semua itu—ketika Allah menciptakan kebebasan berpikir bagi setiap hamba—maka kewajiban hamba itu pulalah untuk memilih jalan baik maupun yang buruk. Dengan bimbingan Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah sebagai landasan bebas berpikir, maka insya allah ilmu apapun yang ada di langit dan bumi akan tergali. Tiada lagi rahasia di balik rahasia. Bagaimanakah kelanjutan nasib pendidikan di negeri ini? Jawabnya ada pada kita semua.

oleh: Miftahul Ulum, S.Pd.

If we encounter a man of rare intellect, we should ask him what books he reads.”

~ Emerson

Ucapan Emerson itu pastilah bukan omong kosong tanpa makna. Dimanapun tempat dan waktu, orang-orang yang memiliki intelektual tinggi selalu bergaul rapat dengan buku-buku. Maka, sungguh ironis ketika kita dapati kenyataan bahwa minat baca di kalangan guru dan siswa masih sangat rendah.

Bagaimana guru akan menularkan minat baca terhadap siswa didiknya jika guru pun minat bacanya masih rendah. Berdasarkan observasi MI di kabupaten Bogor menunjukan hal ini, banyak buku di Perpustakaan masih utuh di bungkus plastik dan tertata rapi di dalam lemari. Buku-buku ini selain bagian dari buku yang bersumber dari dana BOS, ada juga sumbangan dari lembaga yang peduli dengan pendidikan. Namun, sayang fasilitas yang telah ada tidak di optimalkan dengan baik. Mereka enggan membaca dengan alasan tidak ada waktu, repot, dan sudah hafal di luar kepala seluruh mata pelajaran yang ada. Minat untuk menambah pengetahuan-pengetahuan baru masih sangat rendah sehingga proses pembelajaran di kelas pun menjadi monoton dan kurang menarik.

Begitu pun dengan siswa. Bahkan ada di kelas enam sebagian siswa masih membaca dengan tersendat-sendat. Sungguh ironis, pembelajaran membaca yang dilakukan dari kelas satu hingga kelas enam sepertinya tidaklah efektif. Padahal, dengan membaca kita akan bisa mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru untuk pelajaran-pelajaran lainya. Berapapun banyaknya buku yang disuplai pemerintah, apabila tidak ada kesungguhan untuk memanfaatkan dengan baik—memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru—akan menjadi mubazir. Buku hanya menumpuk di perpustakaan atau tertata rapi di dalam dus.

Masyarakat kita di jaman dulu mengenal istilah gethok tular, suatu frasa yang mewakili keadaan sosial masyarakat di mana suatu informasi disebarluaskan secara lisan. Ketika masyarakat kita masih memakai tradisi ini, teknologi berkembang dengan pesat, membawa mereka ke tradisi lainnya (tradisi menonton). Tradisi menonton diawali dengan ditemukannya televisi sebagai media penyampai informasi yang lebih cepat dan lebih akurat.

Sampai sekarang, kedua tradisi ini—tradisi lisan dan tradisi menonton—masih merupakan tradisi yang paling dominan dalam masyarakat kita. Di negara yang mempunyai masyarakat dengan minat baca tinggi, tradisi lisan, dan tradisi menonton bukannya tidak ada. Cuma, di negara maju, perpindahan dari tradisi lisan ke tradisi menonton dilalui dengan tradisi membaca terlebih dahulu. Sedang di masyarakat kita, tradisi membaca belum dilalui. Maka kita tidak perlu heran jika guru atau siswa, sebagai bagian dari masyarakat, banyak yang acuh tak acuh dengan buku. Akan tetapi, keadaan ini tidak perlu dilestarikan, harus ada yang dilakukan sehingga kegiatan membaca menjadi kegiatan yang populer di kalangan guru dan siswa. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi tetap bisa dilakukan.

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang dapat menumbuh kembangkan minat baca. Dengan guru sebagai ujung tombaknya, setiap sekolah pasti mempunyai fasilitas untuk menggiatkan aktivitas membaca. Fasilitas itu adalah perpustakaan. Namun adanya perpustakaan pun ternyata belum begitu berpengaruh terhadap tumbuhnya minat baca siswa maupun guru. Pemanfaatan perpustakaan sebagai tempat pengajaran juga sangat minim. Banyak pengajaran sastra yang cukup dilakukan di dalam kelas. Padahal, jika di lakukan di dalam perpustakaan pasti banyak manfaat yang bisa diambil. Ketika membahas puisi “AKU” karya Chairil Anwar, misalnya guru bisa menjelaskan bahwa banyak karya-karya Chairil Anwar yang bagus. Kemudian guru meminta para siswa untuk mencari karya-karya Chairil Anwar yang lain. Dan meminta mereka untuk menyalin satu puisi yang bagus menurut mereka. Jika hal seperti ini rutin dilakukan kita bisa berharap tumbuhnya minat baca di kalangan siswa. Tentunya hal ini dilalukan oleh guru yang sadar dan mau membaca dan menjadikan perpustakaan sebagai tempat pengajaran.

Guru, mau tidak mau, harus mendisiplinkan diri untuk membaca. Berat yang dirasakan dalam mengawali aktivitas ini harus dilakukan dengan bertahap. Minimnya waktu, adalah masalah bagaimana mengatur waktu. Artinya, hal ini dikembalikan kepada masing-masing guru. Kepala sekolah memiliki peranan penting untuk memulihkan kembali minat baca pada siswa maupun guru. Terlebih sekarang dengan diterapkanya manajemen berbasis sekolah. Kepala sekolah memiliki kewenangan lebih untuk mengatur rumah tangga sekolahnya sendiri. Dan untuk memantau kepala sekolah, peran aktif masyarakat di sekitar sekolah maupun lembaga-lembaga pemerhati pendidikan sangat diperlukan.

oleh: Itan Yustiani Syaban, S.Pd.

Sebuah materi perkuliahan SGEI pada minggu kelima mengenai wawasan kependidikan, membawa ingatan saya kembali pada suatu diskusi ringan, bersama teman-teman seperjuangan saya di kampus—tempat kami membangun kompetensi sebagai guru selama empat tahun. Diskusi itu terjadi karena, setelah menyelesaikan masa studi, kami dihadapkan pada wacana akan diadakannya Pendidikan Profesi Guru (PPG). PPG wajib kami ikuti sebagai syarat untuk mendapat sertifikat profesi. Dilihat dari sudut pandang para lulusan jurusan kependidikan, PPG dapat dianggap seperti co-ass yang dilakukan sarjana kedokteran.

Dengan semangat positif memperbaiki pendidikan bangsa, kami menyambut baik program tersebut untuk menguji kompetensi yang telah kami miliki, karena kami sadar peran seorang guru tidak kalah penting dari peran seorang dokter. Kesalahan fatal yang mungkin dilakukan dokter akan berujung pada kematian, sedangkan kesalahan yang dilakukan guru akan berakibat pada matinya kehidupan.

Di sisi lain, PPG menjadi semacam teror yang siap mengancam ketenangan para lulusan kependidikan. Hal ini disebabkan terbukanya persaingan baru antara para lulusan kependidikan dan non kependidikan. Yang artinya, setiap sarjana dari berbagai jurusan memiliki peluang yang sama dengan para lulusan kependidikan untuk menjadi seorang guru. Apalagi persaingan antara lulusan kependidikan dan non kependidikan untuk memperoleh kesempatan menjadi guru di sekolah formal khususnya di sekolah negeri semakin terbatas.

Meskipun demikian, persaingan dalam dunia pendidikan sesungguhnya tidak pernah ada. Pendidikan bangsa adalah tanggungjawab bersama. Semakin banyak yang peduli pada pendidikan maka semakin cepat perbaikan dilakukan. Yang perlu dilakukan saat ini oleh para pejuang pendidikan—baik itu lulusan kependidikan atau bukan—adalah mengambil peranan sebagai guru dengan sebaik-baiknya dengan mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki agar dapat saling melengkapi.

Proporsional dalam menjalani peran sebagai guru

Tugas sebagai sebagai guru dapat dianggap sebagai tugas yang berat atau ringan. Banyak di antara calon guru lulusan kependidikan yang memilih pekerjaan lain, karena mengganggap berat pekerjaan seorang guru. Mulai dari tahap perencanaan yang menyita waktu istirahat di rumah, tanggung jawab mendidik siswa yang tak cukup dilakukan di sekolah, tuntutan pegembangan diri yang mengharuskan guru selalu meng-update pengetahuannya dengan mengikuti berbagai pelatihan, pengelolaan kelas yang membutuhkan banyak strategi, juga proses evaluasi yang harus selalu dilakukan secara berkelanjutan ditambah pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang menguras banyak pemikiran. Guru dituntut sempurna dalam segala hal. Namun, jika tugas guru dianggap seberat ini, dikhawatirkan profesi guru akan ditinggalkan,

Sebaliknya banyak calon guru yang mengganggap mudah pekerjaannya. Dengan berpikir bahwa pekerjaannya yang tidak akan menyita waktu—cukup dengan menyampaikan materi di kelas—tugas pun selesai. Jika pekerjaan menjadi guru dianggap remeh maka proses pendidikan tidak akan optimal.

Maka hal terbaik yang harus dilakukan adalah menempatkan peranan ini secara proporsional. Menjadi guru tidak harus menjadi sempurna dalam segala hal, tetapi tidak cukup hanya menyampaikan materi saja. Guru harus membantu siswa mengolah, memilih, dan menginternalisasikan berbagai informasi dan pengaruh yang diterima. Berbagai kemampuan teknis dijadikan senjata dalam mencapai tujuan bukan sebagai beban.

Dengan menempatkan peran ini secara proporsional maka akan tumbuh keyakinan dan kepercayaan diri, bahwa guru merupakan profesi yang mampu dilakukan oleh siapa pun yang memiliki keinginan kuat dalam memperbaiki pendidikan bangsa. Hal ini tentunya bisa dilakukan dengan terus menerus memperbaiki diri. Bagi para lulusan kependidikan, kompetensi profesional harus terus dipertajam, sedangkan bagi lulusan non kependidikan kompetensi pedagogiklah yang perlu diacah sebelum terjun ke dunia pendidikan.

Menjadikan guru sebagai karier

Profesi guru hendaknya tidak sekedar dijadikan pekerjaan, melainkan menjadi suatu karir. Banyak orang yang menganggap bahwa pekerjaan sama dengan karir. Padalahal pekerjaan hanyalah bagian dari karir. Pekerjaan hanya berhubungann dengan tercapainya berbagai target, yang sering membuat seseorang berada dalam tekanan dan menjalani pekerjaan tersebut sebagai rutinitas. Contohnya seorang guru yang datang ke sekolah untuk mengajar, menyampaikan materi di kelas dengan menghadapi siswanya yang sulit diatur, setelah mengajar langsung pulang ke rumah dalam keadaan capek. Keesokan harinya rutinitas itu berulang, sampai pada suatu saat kebosanan pun muncul, sehingga mengajar tidak lagi bersemangat.

Sedangkan karir menurut Rene Suhardono mencakup passion (hasrat), purpose of life (tujuan Hidup), value (nilai) dan happiness (kebahagiaan). Menjadi guru hendaknya menjadi bagian dari passion hidup, sesuatu yang disenangi, meskipun tidak hebat dalam melakukannya. Jika telah menjadi passion, meskipun menghadapi banyak tantangan, pekerjaan akan dilakukan dengan senang hati.

Keberhasilan menjadi guru juga sangat dipengaruhi oleh tujuan hidup guru itu sendiri. Jika menjadi guru merupakan salah satu jalan mencapai tujuan hidup, maka pekerjaan akan dilakukan dengan lebih baik. Dalam menjalani profesi guru, motivasi mendidik juga dapat dibangun dari nilai-nilai yang diyakini. Misalnya, nilai kejujuran yang ingin ditanamkan kepada siswa, sehingga guru menjadi lebih bersemangat dalam menjalani tugas-tugasnya. Profesi guru dikatakan telah menjadi karir seseorang, jika dalam menjalani orang tersebut merasakan kebahagiaan.

Laman Berikutnya »