Tak menyangka kalau sekarang menjadi seorang guru, sebuah doa yang terkabul oleh orang tuaku. Mahklum hidup aku di sudut desa. Untuk menuju kota saja, harus melewati satu setengah kilometer jalan kapur. Masih kuingat, jika hujan lebat maka orang-orang harus memanggul sepedanya sejauh itu sampai ke kota, karena jalan yang dilewati menjadi bubur kapur sedengkul (selutut). Kalau lagi mujur ada tumpangan perahu, sebab jalan menuju ke kota diikuti dengan sungai besar mengalir dari Waduk Gondang (waduk irigasi terbesar di Lamongan).

Masih kuingat, namanya Pak Amat pekerjaannya pedagang. Dia orang pertama di desaku yang memiliki motor. Orang-orang pasti menunggu Pak Amat pulang dari berdagang untuk melihat motor yang dinaiki dan menikmati asapnya. Saat itu, Pak Amat lewat depan rumahku. Semua orang keluar melihatnya. Sejenak, setelah Pak Amat lewat depan gang rumah, aku dan orang-orang mencium tanah yang dilewatinya, masih tersisa bau sedap asapnya. Sejak itu aku ingin menjadi seorang pedagang seperti Pak Amat agar bisa membeli sepeda motor sepertinya.

Desa di pojok kota dengan berbagai keterbatasan. Masih teringat betul olehku, obat yang diberikan nenekku. Saat itu aku sakit gatal-gatal, selesai main tembak-tembakan di sawah, banyak alang-alang, dan pohon-pohon besar di sana. Nenekku membuat obat yang sederhana bukan karena tidak punya uang, tapi waktu itu memang masih terbatas orang menjual obat. Beliau mengambil abu kayu dari pawon (tungku masak tradisional) dicampur dengan garam. Setelah itu, diusapkan ke bagian yang gatal-gatal pada tubuhku. Rasanya perih sekali, seperti ikan betek diasap, dibersihkan sisiknya. Hasilnya mujarab beberapa jam kemudian rasa gatal itu sudah hilang. Kisah ini masih kuingat betul, sampai-sampai punya cita-cita ingin menjadi dokter, bisa mengobati orang gatal-gatal. Bukan dari abu dicampur garam lagi, membuat orang terasa setengah mati kalau diobati.

Di desaku tidak ada sekolah SLTP sampai sekarang. Kalau mau sekolah setelah SD harus ke kota, jaraknya tiga kilometer dari desa. Masih kuingat betul pada saat itu, jika musim hujan, maka siap-siap saja harus melepas sepatu dan hujan-hujanan. Kalau lagi tidak mujur dan hujan terlalu deras maka terpaksa harus ikut orang-orang untuk memanggul sepeda. Sampai di sekolah, sudah tidak lagi seperti teman yang lain, masih rapi dan wangi. Basah kuyup, keliatan sekali kalau wong ndheso.

Kalau musim kemarau siap-siap harus memakai masker. Lumpur kapur di musim hujan, disulap menjadi debu kapur berterbangan. Membawa senjata siaga, hasduk pramuka menjadi penolong, diubah fungsi menjadi masker penutup hidung. Sampai di sekolah sepatu warna hitam, berubah menjadi putih, muka pun jadi tak karuan. Pekerjaan tambahan semir sepatu dengan air di pojok sekolah sambil mengendap-endap, agar tidak diketahui teman-teman. Serba salah, kalau putih tubuhku diejek anoman. Jika ketahuan menyemir, takut diejek tukang semir. Ingin rasanya menjadi Bupati Lamongan, membangun jalan yang luas nan besar menghubungkan desa ke kota, biar tidak sengsara hidup kami gara-gara jalan yang malang.

Menginjak dewasa, semakin ragu manakah cita-cita yang ingin dicapai. Maklum, dibesarkan bukan tempat orang kaya. Serasa bisa sekolah SMA saja untung-untungan, di desaku sangat jarang sekali orang yang kuliah. Lebih banyak memilih melanjutkan pekerjaan orang tuanya sebagai petani dengan mewarisi sepetak tanah yang diberikan orang tuanya. Ada juga yang memilih menjadi buruh pabrik di kota-kota besar. Sebab tak ada jaminan mau jadi apa kalau melanjutkan kuliah, bisa jadi hanya membuang uang saja.

Daripada kuliah lebih baik dibelikan sapi saja bisa beranak,” itu yang dikatakan orang-orang di desaku.

Tapi bagaimana pun aku harus kuliah, tujuh semester dihabiskan dibangku kuliah. Waktu lulus pun tak mau rasanya aku menjadi guru. Sebab serasa turun kasta jika aku menjadi seorang guru. Jarang yang percaya diri jurusan guru jika bersanding dengan lulusan seorang insinyur, akuntan apalagi dokter. Setelah lulus aku memutuskan untuk melamar di sebuah perusahaan. Beberapa kali gagal, akhirnya diterima di sebuah perusahaan. Boleh berbangga diri masuk di perusahaan mengikuti progam management trainee di Jakarta, Enam bulan ke depan bisa menjadi kepala cabang jika progam yang aku ikuti berjalan dengan lancar. Begitu juga gaji yang diberikan menurutku sudah lebih dari cukup jika yang menerima orang desa sepertiku.

Sejak kecil hidupku sudah terbiasa tidak mapan dan nyaman, baru bekerja tiga bulan, aku memutuskan keluar dari pekerjaan. Sebuah alasan yang mungkin tidak semua orang memahami-nya. Kehidupan ini sangat rumit untuk dibaca dengan mulut, mata maupun telinga. Tapi lebih dari itu lebih jernih jika dibaca dengan hati. Sebuah kata-kata yang membuatku tersadar.

Hidupmu bukan untukmu sendiri le…. Hidupmu bukan untuk orang tuamu sendiri atau kelak kau sudah menikah, hidupmu pun bukan hanya untuk anak istrimu, hidupmu untuk semua orang-orang yang diciptakan sama seperti yang telah menciptakanmu,” kata bapakku dulu saat setengah rela aku berangkat ke Jakarta dengan pekerjaanku.

Maklum orang tua sangat mengharapkanku menjadi seorang guru. Sebuah cita-cita yang sederhana. Mereka sebenarnya paham jika aku menjadi seorang guru, takkan banyak balasan yang akan kuhargai dengan uang untuk keringat yang telah beliau keluarkan. Tapi dia mengharap lain agar anaknya bisa berguna bagi banyak orang, kelak ia akan tersenyum jika aku berhasil melakukan itu.

Sepulang dari Jakarta, tak menuju ke desa. Mendapatkan lowongan mengajar di sebuah MA dan SMK di Malang, meski pada saat itu pun masih belum percaya, aku menjadi seorang guru. Kujalani waktu demi waktu, di awal bulan aku menerima gaji. Yang membuatku tercengang, gaji yang aku dapatkan dua puluh kali lebih kecil jika dibandingkan ketika aku bekerja dulu. Rasanya putus asa menjalani hidup ini. Terasa ingin banting setir untuk bekerja di perusahaan lagi.

Teringat lagi kata bapakku, “Le, cobaannya jadi guru itu ikhlas, kalau sudah ikhlas Allah pasti memberimu lebih.” Bertahan untuk menjalani profesi seoarang guru dengan ikhlas, menjalani hari-hari dengan kesederhanaan. Sebuah harapan dengan kepercayaan semakin lama semakin tumbuh.

Akhirnya aku sadar. Di sini aku menemukan perjalanan hidup yang sangat berharga. Tak ada bandingnya jika dijual dengan bayaran di perusahaan mana pun. Kesederhanaan, kebijaksanaan, kebersahajaan, kesabaran, kedisiplinan, bahkan nilai-nilai hidup yang kudapatkan dari anak didikku, mengajarkanku menjadi semakin dewasa.

Kebahagiaan bukanlah hanya dapat diraih dengan harta yang di dapat saja. Lebih dari itu, aku lebih yakin jika kebahagiaan ini bisa kuraih dengan membuat jalan hidupku sendiri, yaitu menjadi seoarang guru. Sebuah sikap kesederhanaan dengan rasa cukup, keihklasan dalam mendidik menjadikan diriku seorang yang sangat berguna. Inilah yang membuatku bahagia. Di setiap malam seolah tak sabar menunggu pagi, bertemu dengan murid-murid untuk bermain, belajar dan memberikan semangat baru bagi mereka. Sekarang aku semakin yakin bahwa ini adalah jalan hidupku, terima kasih bapak dan ibuku, engkau telah mendoakan anakmu menjadi seorang guru.

Eko Nurhaji Purnomo, S.Pd