Maret 2011


Secara hakekat, belajar adalah proses peningkatan kemampuan baik di ranah kognitif, afektif dan juga ranah keterampilan melalui aktivitas interaksi antarelemen pembelajaran. Elemen pembelajaran yang dimaksud ada tiga, yakni guru, siswa dan media atau sumber belajar. Apabila terjadi interaksi yang sempurna antara ketiganya, maka itulah yang disebut dengan pembelajaran aktif. Tanpa adanya interaksi, maka tidak akan ada proses belajar.

Pembelajaran yang sempurna setidaknya memiliki lima tipe interaksi yang intensif, yakni:

– Interaksi antara guru dan siswa

– Interaksi antara individu siswa dengan individu siswa yang lain

– Interaksi antara siswa langsung dengan media dan sumber belajarnya

– Interaksi antara individu siswa dengan kelompoknya

– Interaksi antara kelompok dengan kelompok lain

Apabila pembelajaran aktif dapat berlangsung dengan baik, maka guru harus memastikan bahwa kelima interaksi tersebut harus benar-benar terlaksana semua. Interaksi yang terbangun harus benar-benar berada dalam lingkup kegiatan belajar yang bermakna, maka membangun ragam interaksi ini harus dengan metode pembelajaran yang tepat. Interaksi ini sangat erat kaitannya dengan metode pembelajaran, sebab interaksi ini hanya bisa muncul bila guru memfasilitasinya dengan suatu metode pembelajaran. Sehingga semakin banyak guru menggunakan metode pembelajaran, maka dalam sesi tersebut akan semakin banyak membangun interaksi antarelemen pembelajaran. Misalkan saja metode bermain peran secara berkelompok, maka metode ini akan dapat membangun interaksi antara individu siswa dengan kelompok.

Agung Pardini (Trainer Makmal Pendidikan)

Iklan

“Ngajarin mereka mah bikin gatel tangan, lama2 saya gampar juga.”
Ujar seorang guru kelas 4 SDN ****** (sensor)

Tak lama datang seorang guru lain turut menimpali “Panggil aja orang tuanya bu, bilang kalo tugas kita disini bukan cuma nyampein materi tapi mendidik juga. Klao perlu dikeluarin aja, cape-cape ngajarin dia toh kita digaji pemerintah ini. Saya juga suka kesel klao ngadepin anak kaya gitu. Pernah tuh saya jewer dia tapi sambil lirik-lirik ke kaca takut ada yg liat, hehe..”

Astagfirullah.. Sungguh miris mendengarnya..

Lalu timbul pertanyaan, seperti apa yang mereka maksud dengan MENDIDIK?

“teruntuk desi manis pujaan hati”
malam ini hatiku sungguh gundah
setiap ku membuka lembaran-lembaran buku
senyummu slalu membuyarkan konsentrasiku….
tak sanggup lagi rasanya ku menahan isi hatiku
agar kamu tau….
“aku tuh I love you”

Itulah sepenggal surat cinta anak kelas enam SD, bahasanya menggelikan memang…..
surat cinta anak “bau kencur” itu tersebut diselipkan pada meja yang salah
kepada calon target.
hari ini merupakan hari terakhir try out 3,
karena nomor ujian diputar dan anak yang nembak tidak mengetahui arah putaran tempat duduknya. Maka akhirmya surat itu dibaca orang yang salah & diserahkan kepadaku yang kebetulan bagian ngawas hari ini…..
apa yang harus aku lakukan kawan dengan sepucuk surat ini….
mohon saran para suhunya para guru…

Miftahul Ulum, S.Pd.

Oh ya ada satu kejadian menarik…
Kami berenam guru jadi juri lomba cerdas cermat untuk siswa SD
Salah satu pertanyaannya adalah apabila tidak tercapai kata mufakat dalam musyawarah maka musyawarah dapat dilakukan dengan cara apa?
Dan jawaban anak didikku adalah:
“Memberi uang…”
Gubrakkk deh….
Bahkan anak kecil pun tahu cara terbaik mencapai kata mufakat di Indonesia adalah dengan memberi uang…
Kasihan sekali, sampai kapan anak-anak didik kita akan belajar hal yang salah seperti ini?
Perbaikan moral itulah kuncinya
Mari kita yakinkan anak-anak kita, bahwa masih ada harapan bagi perubahan yang lebih baik di Indonesia di masa depan
Hamasah Guru Indonesia!!!

Sofa Nurdiyanti, S.Psi.

GURU, yang ku ingat dari profesi itu adalah “guru adalah pekerjaan mulia”. Sebatas itu, tapi tidak pernah terpikirkan mengapa ia mulia. Teman-teman kantorku dulu termasuk aku juga sering berkata, “Guru itu enak sekali, profesi yang memiliki hari libur paling banyak, pulangnya paling cepat, jika siswa libur dia pun ikut libur.

Ternyata semua itu salah!

SGEI (Sekolah Guru Ekselensia Indonesia) telah merubah pola pikirku tentang guru. Kini aku sadar mengapa guru dikatakan mulia. Ternyata di tangan mereka akan dicetak generasi bangsa, sehingga dapat dikatakan bahwa masa depan anak-anak bangsa terletak di tangan guru-guru kita. Jika gurunya mampu mendidik dengan baik, maka mereka akan mampu mencetak generasi emas bangsa, begitu pun sebaliknya.

Guru yang baik tentunya tidak hanya mampu menyampaikan pembelajaran akan tetapi mampu mendidik siswa. Ia harus profesional. Mampu mengetahui apa yang dibutuhkan siswa didiknya, bagaimana membuat mereka merindukan langkah-langkah menuju sekolah tiap paginya. Sebagaimana yang tertuang dalam undang-undang no. 14 tahun 2005 bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Menjadi guru ideal seperti di atas bukanlah hal yang mudah, butuh proses, dan perjuangan yang sungguh-sungguh. Guru harus terus belajar, mencari metode-metode yang terbaik yang akan diterapkan dalam pembelajaran. Profesi seorang guru tidak sebatas bekerja di kelas, tetapi sebelumnya harus ada perencanaan pembelajaran yang dituangkan dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Setelah mengajar, perlu evaluasi dan penilaian (assesment), ini berarti guru haruslah disiplin dalam waktu agar semua itu dapat terlaksana dengan baik.

Ternyata sampai di situ pun belum cukup!

Sambil mengajar pun guru harus mengamati dan mempelajari pola dan tingkah laku anak didiknya, agar dapat mengetahui permasalahan-permasalahan yang sedang mereka alami. Itu juga bermanfaat untuk mendapatkan metode pembelajaran yang tepat. Proses ini memerlukan waktu yang tidak singkat, harus dilakukan penelitian dengan tahap merencanakan, melaksanakan, mengamati, dan merefleksikan, yang dituangkan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Ah… ternyata guru hampir tidak memiliki hari libur.

Guru adalah panutan. Setiap tindak tanduknya dapat dengan mudah ditiru oleh anak didiknya, sehingga penampilan menjadi hal yang patut diperhatikan. Bukan hanya sekertaris atau pramugari yang harus tampil rapi dan sempurna tapi guru pun harus tampil sempurna.

Namun inti belajar mengajar tidak berhenti sampai pada proses, ada hal yang jauh lebih penting dari kesemua itu. Guru wajib berkarakter. Proses dapat terlaksana dengan baik jika semuanya dijalankan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, sehingga guru harus memiliki kecerdasan emosi yang tinggi untuk mampu mengajar dengan hati. Sadar akan tanggung jawab amanah yang dipercayakan untuk mencetak generasi emas bangsa dengan memandang anak didik seperti buah hati sendiri. Menjadi sosok yang dirindukan oleh anak didiknya, sehingga harus mampu memberikan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Nah, sekarang apakah kita layak disebut sebagai guru?

 

Darma Mahardhika, S.E

Tak menyangka kalau sekarang menjadi seorang guru, sebuah doa yang terkabul oleh orang tuaku. Mahklum hidup aku di sudut desa. Untuk menuju kota saja, harus melewati satu setengah kilometer jalan kapur. Masih kuingat, jika hujan lebat maka orang-orang harus memanggul sepedanya sejauh itu sampai ke kota, karena jalan yang dilewati menjadi bubur kapur sedengkul (selutut). Kalau lagi mujur ada tumpangan perahu, sebab jalan menuju ke kota diikuti dengan sungai besar mengalir dari Waduk Gondang (waduk irigasi terbesar di Lamongan).

Masih kuingat, namanya Pak Amat pekerjaannya pedagang. Dia orang pertama di desaku yang memiliki motor. Orang-orang pasti menunggu Pak Amat pulang dari berdagang untuk melihat motor yang dinaiki dan menikmati asapnya. Saat itu, Pak Amat lewat depan rumahku. Semua orang keluar melihatnya. Sejenak, setelah Pak Amat lewat depan gang rumah, aku dan orang-orang mencium tanah yang dilewatinya, masih tersisa bau sedap asapnya. Sejak itu aku ingin menjadi seorang pedagang seperti Pak Amat agar bisa membeli sepeda motor sepertinya.

Desa di pojok kota dengan berbagai keterbatasan. Masih teringat betul olehku, obat yang diberikan nenekku. Saat itu aku sakit gatal-gatal, selesai main tembak-tembakan di sawah, banyak alang-alang, dan pohon-pohon besar di sana. Nenekku membuat obat yang sederhana bukan karena tidak punya uang, tapi waktu itu memang masih terbatas orang menjual obat. Beliau mengambil abu kayu dari pawon (tungku masak tradisional) dicampur dengan garam. Setelah itu, diusapkan ke bagian yang gatal-gatal pada tubuhku. Rasanya perih sekali, seperti ikan betek diasap, dibersihkan sisiknya. Hasilnya mujarab beberapa jam kemudian rasa gatal itu sudah hilang. Kisah ini masih kuingat betul, sampai-sampai punya cita-cita ingin menjadi dokter, bisa mengobati orang gatal-gatal. Bukan dari abu dicampur garam lagi, membuat orang terasa setengah mati kalau diobati.

Di desaku tidak ada sekolah SLTP sampai sekarang. Kalau mau sekolah setelah SD harus ke kota, jaraknya tiga kilometer dari desa. Masih kuingat betul pada saat itu, jika musim hujan, maka siap-siap saja harus melepas sepatu dan hujan-hujanan. Kalau lagi tidak mujur dan hujan terlalu deras maka terpaksa harus ikut orang-orang untuk memanggul sepeda. Sampai di sekolah, sudah tidak lagi seperti teman yang lain, masih rapi dan wangi. Basah kuyup, keliatan sekali kalau wong ndheso.

Kalau musim kemarau siap-siap harus memakai masker. Lumpur kapur di musim hujan, disulap menjadi debu kapur berterbangan. Membawa senjata siaga, hasduk pramuka menjadi penolong, diubah fungsi menjadi masker penutup hidung. Sampai di sekolah sepatu warna hitam, berubah menjadi putih, muka pun jadi tak karuan. Pekerjaan tambahan semir sepatu dengan air di pojok sekolah sambil mengendap-endap, agar tidak diketahui teman-teman. Serba salah, kalau putih tubuhku diejek anoman. Jika ketahuan menyemir, takut diejek tukang semir. Ingin rasanya menjadi Bupati Lamongan, membangun jalan yang luas nan besar menghubungkan desa ke kota, biar tidak sengsara hidup kami gara-gara jalan yang malang.

Menginjak dewasa, semakin ragu manakah cita-cita yang ingin dicapai. Maklum, dibesarkan bukan tempat orang kaya. Serasa bisa sekolah SMA saja untung-untungan, di desaku sangat jarang sekali orang yang kuliah. Lebih banyak memilih melanjutkan pekerjaan orang tuanya sebagai petani dengan mewarisi sepetak tanah yang diberikan orang tuanya. Ada juga yang memilih menjadi buruh pabrik di kota-kota besar. Sebab tak ada jaminan mau jadi apa kalau melanjutkan kuliah, bisa jadi hanya membuang uang saja.

Daripada kuliah lebih baik dibelikan sapi saja bisa beranak,” itu yang dikatakan orang-orang di desaku.

Tapi bagaimana pun aku harus kuliah, tujuh semester dihabiskan dibangku kuliah. Waktu lulus pun tak mau rasanya aku menjadi guru. Sebab serasa turun kasta jika aku menjadi seorang guru. Jarang yang percaya diri jurusan guru jika bersanding dengan lulusan seorang insinyur, akuntan apalagi dokter. Setelah lulus aku memutuskan untuk melamar di sebuah perusahaan. Beberapa kali gagal, akhirnya diterima di sebuah perusahaan. Boleh berbangga diri masuk di perusahaan mengikuti progam management trainee di Jakarta, Enam bulan ke depan bisa menjadi kepala cabang jika progam yang aku ikuti berjalan dengan lancar. Begitu juga gaji yang diberikan menurutku sudah lebih dari cukup jika yang menerima orang desa sepertiku.

Sejak kecil hidupku sudah terbiasa tidak mapan dan nyaman, baru bekerja tiga bulan, aku memutuskan keluar dari pekerjaan. Sebuah alasan yang mungkin tidak semua orang memahami-nya. Kehidupan ini sangat rumit untuk dibaca dengan mulut, mata maupun telinga. Tapi lebih dari itu lebih jernih jika dibaca dengan hati. Sebuah kata-kata yang membuatku tersadar.

Hidupmu bukan untukmu sendiri le…. Hidupmu bukan untuk orang tuamu sendiri atau kelak kau sudah menikah, hidupmu pun bukan hanya untuk anak istrimu, hidupmu untuk semua orang-orang yang diciptakan sama seperti yang telah menciptakanmu,” kata bapakku dulu saat setengah rela aku berangkat ke Jakarta dengan pekerjaanku.

Maklum orang tua sangat mengharapkanku menjadi seorang guru. Sebuah cita-cita yang sederhana. Mereka sebenarnya paham jika aku menjadi seorang guru, takkan banyak balasan yang akan kuhargai dengan uang untuk keringat yang telah beliau keluarkan. Tapi dia mengharap lain agar anaknya bisa berguna bagi banyak orang, kelak ia akan tersenyum jika aku berhasil melakukan itu.

Sepulang dari Jakarta, tak menuju ke desa. Mendapatkan lowongan mengajar di sebuah MA dan SMK di Malang, meski pada saat itu pun masih belum percaya, aku menjadi seorang guru. Kujalani waktu demi waktu, di awal bulan aku menerima gaji. Yang membuatku tercengang, gaji yang aku dapatkan dua puluh kali lebih kecil jika dibandingkan ketika aku bekerja dulu. Rasanya putus asa menjalani hidup ini. Terasa ingin banting setir untuk bekerja di perusahaan lagi.

Teringat lagi kata bapakku, “Le, cobaannya jadi guru itu ikhlas, kalau sudah ikhlas Allah pasti memberimu lebih.” Bertahan untuk menjalani profesi seoarang guru dengan ikhlas, menjalani hari-hari dengan kesederhanaan. Sebuah harapan dengan kepercayaan semakin lama semakin tumbuh.

Akhirnya aku sadar. Di sini aku menemukan perjalanan hidup yang sangat berharga. Tak ada bandingnya jika dijual dengan bayaran di perusahaan mana pun. Kesederhanaan, kebijaksanaan, kebersahajaan, kesabaran, kedisiplinan, bahkan nilai-nilai hidup yang kudapatkan dari anak didikku, mengajarkanku menjadi semakin dewasa.

Kebahagiaan bukanlah hanya dapat diraih dengan harta yang di dapat saja. Lebih dari itu, aku lebih yakin jika kebahagiaan ini bisa kuraih dengan membuat jalan hidupku sendiri, yaitu menjadi seoarang guru. Sebuah sikap kesederhanaan dengan rasa cukup, keihklasan dalam mendidik menjadikan diriku seorang yang sangat berguna. Inilah yang membuatku bahagia. Di setiap malam seolah tak sabar menunggu pagi, bertemu dengan murid-murid untuk bermain, belajar dan memberikan semangat baru bagi mereka. Sekarang aku semakin yakin bahwa ini adalah jalan hidupku, terima kasih bapak dan ibuku, engkau telah mendoakan anakmu menjadi seorang guru.

Eko Nurhaji Purnomo, S.Pd

Agtri Malsa (Mahasiswa Sekolah Guru Ekselensia Indonesia SGEI)

Di Setiap pagi
di persimpangan sekolah yang jalannya tak begitu mulus
tangan-tangan kecil yang mungil itu
melambaikan jari-jarinya pada ku.

tampak ceria dengan senyum mengembang di wajah tanpa dosanya,
senyum yang tiada seorang pun yang memaksanya
isyarat nurani jiwa bersama teriakan tawa mereka

“ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…………
“assallammu’alaikum ibu,
“ibu salim ibu……
“ibu aku, ibu…..

puluhan jari tangan itu menghampiri ku di setiap pagi
wahai tangan-tangan kecil nan mungil
tersenyum kalian padaku
menghilangkan semua penatku di malam itu

duhai senyum-senyum bahagia
di sini aku ada,
karena kalian aku datang,
untuk menjadi sahabatmu…
menjadi kakak bagi mu…
bahkan tak segan aku mengatakan
aku ingin menjadi ibu bagi mu…

aku ingin membantu mu…
aku ingin memberi mu apa yang ada pada ku,
aku ingin membuat mu selalu tersenyum ceria,
penuh semangat menapaki jalan ini, untuk menuju hari esok penuh bahagia

duhai para tangan yang melambai..
bisikan hati nurani dengan jelas dan keras
hingga akhir perjalanan hidupku nanti
adalah engkau di relung hati….

hanya ada kalian di sanubari
sebab senyum indah kalianlah
menjadikanku berarti
hingga akhir hayat ini nanti.

(untuk mu tangan2 kecil yan mungil)

Laman Berikutnya »