Di beberapa kali kesempatan mengisi pelatihan untuk para guru daerah, iseng-iseng saya mencoba untuk melakukan survey sederhana kepada peserta. Tujuannya tidak lain adalah untuk menakar seberapa tinggi kualitas guru-guru tersebut dalam urusan mengajar. Dengan survey ini, maka secara cepat saya akan memperoleh data awal yang bisa membantu untuk menetapkan tingkat kedalaman materi yang akan diberikan. Hal ini bagi saya sangat penting agar pelaksanaan pelatihan, walaupun durasinya singkat, tapi hasil akhirnya betul-betul bisa memberikan makna yang mendalam bagi penambahan pengetahuan guru.

Salah satu teknik survey yang saya kerjakan adalah dengan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana. Beberapa pertanyaan yang pernah saya ajukan antara lain adalah: Siapakah di antara bapak ibu guru yang telah membuat silabus dan RPP sendiri? Adakah yang pernah membaca buku “Quantum Teaching? atau, Siapa yang tahu apa itu KKM? Beberapa pertanyaan tadi bagi sebagian guru atau sebagian mahasiswa rumpun kependidikan mungkin terlalu mudah untuk dijawab, namun bagaimana dengan jawaban dari guru-guru yang sudah bertahun-tahun hidup sebagai pejuang pendidikan di daerah terpencil.

Dari beberapa komunitas guru yang pernah saya sambangi di kampung-kampung di Aceh, Bengkulu, Sumatra Barat, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, hingga Maluku misalnya, banyak yang menjawab tidak pernah membuat perencanaan pembelajaran secara mandiri. Tuntutan KTSP yang mewajibkan setiap sekolah untuk membuat kurikulumnya sendiri ternyata masih dirasakan sangat sulit bagi para guru. Mereka umumnya membuat perencanaan pembelajaran dengan cara saling contek (atau diperhalus menjadi “kerjasama mutualisme”) di forum Kelompok Kerja Guru (KKG) di gugusnya. Bahkan di beberapa tempat banyak sekolah yang dengan terpaksa menggunakan dana BOS dengan alokasi yang cukup besar untuk membeli beberapa bundel kurikulum lengkap yang memang sudah sengaja dijajakan oleh para oknum pegawai di dinas pendidikan. Modus operandi yang sesungguhnya haram ini akhirnya “dihalalkan” agar tidak menyusahkan kerja dan kinerja para guru dalam mengajar.

Membuat perencanaan pembelajaran bagi sebagian guru memang harus diakui merupakan perkara yang tidak mudah dan cukup menyita waktu di rumah. “Setiap guru memang harus bikin RPP, tapi masak hidup saya habis hanya gara-gara RPP! padahal saya juga punya kewajiban urus rumah tangga dan anak-anak di rumah”, celoteh seorang ibu guru senior menyikapi kebijakan kepala sekolahnya yang mulai mewajibkan para guru untuk membuat RPP (Rencana Program Pengajaran) setiap harinya. Adapula guru senior lain yang mengaku masih belum tahu cara membuat RPP yang baik dan benar, padahal beliau sudah mengajar puluhan tahun dan mengaku sudah lolos dalam proses sertifikasi guru.

Ini adalah sketsa-sketsa kecil yang setidaknya bisa menggambarkan tentang kualitas sebagian guru-guru di Indonesia, terutama yang mengabdi di daerah-daerah terpencil. Dari survey sederhana terhadap para guru inilah, saya berkesimpulan bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi pada sistem pendidikan kita. Pembenahan ini diantaranya harus dimulai dari upaya yang lebih serius dalam peningkatan kapasitas SDM guru.

 

SAHABAT GURU INDONESIA

Enam tahun lebih Makmal Pendidikan selaku laboratorium pendidikan di bawah naungan Lembaga Pengembangan Insani (PI) dalam menunaikan kiprahnya untuk menyemai pendidikan berkualitas melalui program pelatihan guru, Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI) dan pendampingan sekolah di berbagai penjuru tanah air. Telah lebih dari 10.000 guru dari Aceh hingga Papua pernah dilatih oleh para trainer dari Makmal Pendidikan. Dari sisi kuantitas penerima manfaatnya, angka 10.000 tentu masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah guru di Indonesia yang mencapai lebih dari 2,6 juta orang. Inilah yang semakin memicu dan memacu kami untuk senantiasa menelurkan program-program yang terbaik untuk para guru Indonesia.

Dalam rangka mengintensifikasi sekaligus mengekstensifikasi sumber daya keguruan yang dibina oleh Makmal Pendidikan, maka dibentuklah Sahabat Guru Indonesia (SGI) sebagai sebuah wadah belajar bagi para guru agar bisa lebih mengembangkan program pengajaran di sekolanya masing-masing. Beberapa agenda kegiatan yang dikelola oleh SGI ini antara lain adalah: pembentukan guru-guru model, penerbitan blog sahabat guru, pelatihan guru cerdas kurikulum, serta pembentukan komunitas-komunitas rembug guru. Bahkan di bulan Mei 2011 nanti, SGI berencana akan menyelenggarakan sebuah konferensi bagi para guru yang mengajar di sekolah-sekolah marjinal.

Salah satu komunitas filantrofi yang berhasil dibina langsung oleh Makmal Pendidikan dalam wadah SGI adalah Kelompok Belajar Guru Cendekia Bogor. Kelompok ini awalnya merupakan kumpulan para guru muda di sekitar Bogor yang sedang melanjutkan program S1 keguruan. Sebagai guru yang masih minim pengalaman, mereka merasakan bahwa beragam ilmu yang diajarkan dalam perkuliahan ternyata masih kurang memenuhi kebutuhan mengajar di sekolah. Mereka sangat membutuhkan contoh pengembangan pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis namun juga yang praktis. Hal ini dimaksudkan agar mereka mendapatkan bekal yang cukup sebagai pendidik yang kreatif dan profesional. Dari kebutuhan inilah maka para guru-guru muda yang umumnya juga mahasiswa itu membentuk Kelompok Belajar Guru Cendekia dengan para trainer Makmal Pendidikan selaku pembinanya.

Hingga kini, Komunitas Belajar Guru Cendekia Bogor telah memiliki anggota resmi lebih dari 100 orang. “Kita berencana akan merambah wilayah yang lebih luas lagi, yakni Kabupaten Bogor sebelah barat dan juga sebelah selatan!” ujar Rahmatulllah selaku Koordinator Komunitas Belajar Guru Cendekia dengan penuh semangat.

Nantikanlah jaringan Sahabat Guru Indonesia (SGI) hadir ke sekolah anda! Bravo Guru Indonesia! Semangatmu adalah inspirasi bagi Indonesia yang lebih cerdas..

 

 

Agung Pardini

Koordinator Nasional Sahabat Guru Indonesia

Trainer Makmal Pendidikan LPI Dompet Dhuafa