Oleh:

Agtri Malsa, Palembang

 

Mengikuti pelatihan guru ekselensia Indonesia adalah momen bersejarah bagi pegembaraan hidup saya di dunia pendidikan. Sebuah momen yang ditakdirkan Allah sebagai salah satu wahana pembelajaran yang tiada ternilai harganya bagi saya. Pembelajaran dalam menggali potensi, menajamkan nurani, dan memanusiakan manusia dalam nilai yang lebih berharga pada derajat lebih tinggi nantinya. Insyaallah……

Apresiasi dan penghargaan yang sedemikian tingginya saya sampaikan pada trainer-trainer hebat dan luar biasa makmal pendidikan LPI_DD dalam menggugah hati para peserta untuk ikut prihatin pada proses pendidikan negri ini…Mereka mencoba megikutsertakan saya dan 29 peserta lainnya untuk mengintip, menjelajahi dan kemudian bersama – sama mengatasi permasalahan pendidikan di negri ini.. Mereka membakar semangat saya dan yang lainnya untuk bergerak dan peduli akan nasib anak bangsa ini. Dari mereka, saya belajar bagaimana memberikan motivasi dan apresiasi terhadap orang lain terutama ketika nanti saya berada disekililing anak bangsa yang kurang terprihatikan pendidikannya oleh pemerintah negri ini.

Mengutip dari sebagian sabda Rosullulah, “hak milik orang yang beriman, dan di mana saja dia menemukannya maka dia paling berhak mengambilnya”, maka hikmah yang saya ambil dari mengutip sabda Rosullulah tersebut, bahwa selama mengikuti pelatihan ini saya menemukan ribuan hikmah yang tiada ternilai harganya, yang saya yakin cukup besar andilnya dalam proses  mendewasakan saya, baik dalam berfikir dan berkarya kedepannya.

Kalimat-kalimat yang tidak akan bisa saya lupakan dari mereka adalah mendidik dengan hati, itulah yang sedang mereka lakukan terhadap saya dan teman-teman.. saya masih ingat betul kalimat ini, Erie Sudewo adalah salah satu dari mereka yang mengugah dan melembutkan hati saya untuk berfikir manfaat apakah yang sudah saya persembahkan kepada orang-orang di sekitar saya….

Mengajar adalah hati yang bicara, begitu kata Zainal Umuri, seorang penulis dan trainer pendidikan sekaligus pembimbing akademik saya dan 3 (tiga) orang teman lainnya. Ketika ia mengevaluasi hasil microteaching beberapa hari yang lalu.. apa yang ia sampaikan mengenai hasil microteaching itu menyadarkan saya bahwa betapa tidak sedikitnya ilmu dan pengetahuan yang masih harus saya dapatkan dari mereka.

Saya masih ingat betul akan jawaban Alfito Deanova seorang presenter hebat salah satu stasiun televisi terkenal negri ini atas pertanyaan saya waktu itu, dia mengatakan hati yang bersih adalah modal utama untuk bisa di terima masyarakat. Guru hebat adalah guru yang merangsang dan membakar semangat murid-muridnya untuk bertindak lebih giat dan berfikir lebih cerdas dari sang guru.. Motivasi ini masih membekas dan terukir indah dalam ingatan saya. Tidak mungkin saya lupakan. Kalimat-kalimat dari para trainer inilah yang sampai hari ini, seperti bara api yang membakar dedaunan kering untuk saya bangkit mencari dan menebar kebaikan di bumi Allah ini.

Bagi mereka uang bukanlah patokan, namun uang adalah sebentuk akibat yang di dapat atas apa yang di lakukan di dunia ini.. Artinya orientasi atas apa yang kita lakukan tidak semata-mata karena uang, tapi penerimaan manfaat dari ilmu dan tindakan merekalah yang menjadi tujuan utamanya. Sebuah pertanyaan atas pernyataan dari Asep Sapa’at sang manejer yang selalu mencoba meluruskan niat kami yang berada di sini.

Sikap rendah hati dan menghargai siapa pun, baik itu anak-anak maupun tenaga kebersihan sangat saya rasakan dari mereka orang-orang hebat ini.. pemandangan yang langkah terlihat membudaya di sini, seorang kepala sekolah bahkan direkturnya sekalipun sangat menikmati ketika melahap hidangan yang lezat dari tangan para cooker di sini. Mereka tidak enggan untuk berantrian panjang dengan anak-anak dan para penyedia jasa pelayanan kebersihan yang mereka rekrut sendiri. Lagi-lagi ini pelajaran yang saya yakin bahwa saya tidak akan melupakannya dan ini akan menjadi point kesekian yang telah saya azzamkan untuk harus diterapkan dalam hidup saya.