Cerdas intelektual, cerdas spiritual

Inspirasi bagi semua itulah tekad kami…

Ayo bangkit semua Guru Indonesia

Wujudkanlah cita-cita Indonesia berjaya…

 

Sabtu, 18 Desember 2010, di pinggiran Kota hujan…

Penggalan akhir lagu itu mengharu syahdu di ruas-ruas nurani para pendengarnya. Berdesir hati kami tatkala instrumen musiknya dimainkan dengan nada yang kian meninggi. Masing-masing kami terhanyut dengan lirik-lirik penyemangat yang digelorakan. Bukan syairnya yang membuat kami bergetar, bukan pula nadanya yang membuat ruh semangat kami menyala-menyala, tapi wajah-wajah sumringah itu yang membuat segenap unsur kejiwaan kami terpana. Itulah wajah-wajah pencerah pendidikan Indonesia di masa depan…

 

Satu persatu 39 orang itu naik ke atas pentas, dikalungkanlah di leher-leher mereka sebuah medali kebanggaan sebagai tanda kelulusan. Setahun sudah bersama-sama mereka kuliah, menempa diri untuk terlahir menjadi guru yang lebih berkompeten dan profesional. Mereka adalah para guru, sarjana, dan juga mahasiswa yang telah mengikat janji untuk mensumbangsihkan diri menjadi pendidik yang berwatak cerdas dan siap menjadi sumber inspirasi bagi anak-anak bangsa. Di hari itulah, Sekolah Guru Ekselensia Indonesia, mewisuda mereka untuk siap berkiprah bagi proses perbaikan pendidikan di negeri ini.

 

 

Komunitas Alumni SGEI

 

Diawali dari perenungan yang panjang tentang mengelola program pengembangan profesi keguruan yang dilakukan oleh Makmal Pendidikan, maka di akhir tahun 2009 berdirilah Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI). Pelatihan-pelatihan guru yang biasa dilakukan oleh Makmal Pendidikan seringkali hasilnya tidak bisa terukur, bahkan efektivitasnya juga sulit untuk dicapai. Hal ini karena memang disebabkan durasi pelatihannya paling hanya 2 hari saja. Untuk meraih hasil yang lebih baik, maka dibutuhkanlah model pelatihan yang sifatnya intensif, dan materi ajarnya disusun dengan lengkap dalam suatu kurikulum yang terstruktur. Inilah yang menjadi latar belakang alasan pembentukan SGEI.

 

Angkatan Pertama dari SGEI ini dibagi menjadi dua kelas, yakni kelas pre-service dan kelas inservice. Kelas pre-service ditujukan bagi para mahasiswa tingkat akhir yang bercita-cita menjadi guru, sedangkan in-service adalah kelas untuk para guru yang memang sudah mengajar di sekolah. Dari sekitar 60 peserta yang ikut di awal, akhirnya hanya 39 orang yang berhasil lulus. SGEI memang menggunakan standar yang cukup ketat untuk meluluskan para mahasiswanya, di antaranya harus bisa membuat Penelitian Tindakan Kelas.

 

Kini angkatan pertama dari Sekolah Guru Ekselensia Indonesia sudah diluluskan dan semuanya telah berkiprah di dunia pendidikan. Makmal Pendidikan bahkan telah mengirimkan 2 orang lulusan SGEI angkatan pertama untuk menjadi pendamping (konsultan) sekolah di daerah Pariaman (Sumatera Barat) dan Makassar (Sulawesi Selatan). Mereka pun juga acap kali diberi kesempatan untuk menjadi pembicara di kesempatan pelatihan-pelatihan guru. Komunitas dari alumni SGEI angkatan pertama ini memang digagas untuk menjadi pelopor dalam menggerakkan pendidikan kreatif bagi masyarakat serta menjadi model terbaik bagi rekan-rekan guru yang lain.

 

 

Memulai Budaya Literasi dari Komunitas Sekolah dan Kampus

 

Beragam kisah pengalaman selama mengikuti perkuliahan SGEI oleh para alumni dan juga pengajarnya kemudian dituangkan dalam sebuah buku yang kini telah dicetak namun masih untuk publikasi yang bersifat terbatas. InsyaAllah beberapa waktu ke depan buku tentang catatan akhir kuliah dari para angkatan pertama SGEI ini akan diedit ulang agar bisa diterbitkan kepada khalayak pembaca yang lebih luas. Buku yang diberi judul “Renaissance: Terlahir Kembali Menjadi Guru” bukan hanya dituturkan dalam konsep cerita berprosa saja, namun juga dilengkapi dengan aneka puisi dan essay-essay ilmiah populer tentang keguruan.

 

Ada kisah tentang Pak Ugan yang mula-mula sering mendapatkan protes dari guru-guru lain karena semenjak beliau menerapkan hasil dari perkuliahan di SGEI kelas didiknya menjadi “super-ribut” menerapkan beberapa metode pembelajaran aktif. Ada pula cerita tentang pengalaman seorang Ika, Riski, Erika, dan juga Ema yang akhirnya mampu melawan ketercanggungan alias grogi ketika menghadapi hari pertama mengajar di kelas. Ada lagi Asep Sapa’at dan Evi Afifah yang banyak menulis tentang karakter keguruan, lalu dilengkapi kemudian dengan puisi-puisi tentang guru dari Firman, Erika dan Amru.

 

Namun, pada hakekatnya urgensi dari pembuatan buku ini justru bukan dari isi bukunya itu sendiri, melainkan dari proses penuangan ide menjadi sebuah tulisan dan kemudian menyusun satu persatu ceceran tulisan tersebut menjadi sebuah buku. Tentu akan menjadi sebuah nilai tambah bila guratan-guratan kata tadi mampu berharmoni menjadi sekumpulan makna yang bisa menginspirasi para pembacanya.

 

Sangat menarik apabila kegiatan menulis catatan akhir kuliah (bukan buku tahunan) ini menjadi sebuah budaya di kampus-kampus dan juga di sekolah-sekolah. Cobalah dibayangkan bila semua institusi pendidikan, mulai dari tingkatan sekolah dasar hingga perguruan tinggi mengkloning budaya menulis ini. Kalau saja setiap lulusan sekolah atau perguruan tinggi di negeri kita ini diminta untuk membuat sebuah tulisan yang berisi tentang pengalaman dirinya, maka setiap tahun akan ada puluhan bahkan ratusan ribu artikel tulisan yang bisa dihasilkan. Sekali lagi ini, ini bukan soal tentang apa yang ditulis, tetapi lebih ingin menunjukkan bagaimana budaya literasi ini bisa masuk menjadi suatu kebiasaan hidup bagi semua orang-orang terpelajar Indonesia.

 

Andai setiap tahunnya, semua sekolah atau kampus memiliki program akhir tahun untuk menerbitkankan satu buah buku, maka Indonesia akan memiliki koleksi ribuan pengalaman yang bisa dikomunikasikan antara satu sekolah dengan sekolah-sekolah yang lain. Ini akan menjadi dokumentasi sejarah luar biasa yang bisa dipelajari kembali oleh anak cucu kita di masa jauh mendatang. Dan apabila saja pemerintah mau memfasilitasi proses pertukaran buku antarsekolah dan kampus tersebut, maka artinya akan terjadi interaksi intelektual yang dahsyat di wajah pendidikan di negeri ini. Indonesia akan menjadi model referensi bagi dunia untuk pengembangan literasi populer di bidang pendidikan.

 

Sekolah Guru Ekselensia Indonesia adalah salah satu contoh entitas kecil yang telah memulai langkah inspiratif untuk kebaikan bangsa dengan dimulai dari hal sederhana semacam ini… Ayo Guru Indonesia mulailah menulis! dan ajaklah anak-anak didik kita untuk rajin menulis!

 

 

Agung Pardini

Koordinator Sahabat Guru Indonesia