Asep Sapa’at

Trainer Pendidikan

Lembaga Pengembangan Insani

Dompet Dhuafa

 

Siapa tak kenal Gayus Tambunan? Pribadi yang mewakili simbol kejahatan, mungkin bisa dikategorikan musuh nomow wahid publik dalam situasi saat ini. Orang baik dan orang jahat, mungkin bisa menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejaknya. Inspirasi itu akan muncul, salah satunya karena pesona kepribadiannya.

 

Andai Gayus jadi guru, gerangan apa yang akan terjadi. Callahan (1996) menyatakan bahwa penggunaan kepribadian guru secara efektif sangat penting dalam melakukan aktivitas pengajaran. Guru yang memiliki kepribadian akan mampu menciptakan lingkungan belajar dimana siswa dapat merasa nyaman belajar dan termotivasi untuk belajar. Apa jadinya jika pribadi Gayus dapat memesona pribadi para siswanya? Ini jelas jadi persoalan besar.

 

Andai Gayus jadi seorang pengajar, Gayus jelas punya keunggulan tersendiri dalam hal mengajarkan praktik korupsi. Tanpa perlu banyak berbusa-busa kata, Gayus bisa menjadikan dirinya sebagai sumber belajar bagi para siswanya. Dia bisa lebih efektif membantu siswa memahami konsep korupsi. Bahkan, bagaimana cara lolos dari jeratan hukum dan menikmati udara segar pada masa tahanan bisa dijadikan bahan studi kasus menarik bagi para siswanya. Coba bayangkan apa yang akan terjadi pula seandainya Gayus meminta siswanya melakukan praktik korupsi dalam kehidupan nyata mereka. Celaka dua belas.

 

Confucius pernah berujar, ”I hear I Forget. I See I Remember. I Do I Understand”. Tegasnya, pemahaman dan pemaknaan siswa tentang suatu konsep akan didapatkan secara baik ketika siswa melakukan sendiri konsep apa pun yang hendak mereka pelajari. Gayus, jelas-jelas telah menjadi tokoh utama pelaku korupsi. Jangan pernah ajarkan apa itu korupsi, Gayus pasti sudah paham. Jangan pernah ajarkan pula bagaimana cara menghabiskan uang korupsi, Gayus sudah lihai dengan hal itu. Andai ada ujian tentang bab memanipulasi aturan hukum, pasti Gayus akan dapat nilai yang bagus untuk tes tersebut. Gayus melakukan prinsip learning by doing. Prinsip belajar efektif yang Gayus praktikkan untuk melakukan tindak pelanggaran hukum.

 

Authentic learning, Gayus ternyata fasih sekali menterjemahkan konsep ini dalam fase kehidupannya sebagai seorang koruptor. Authentic learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang berfokus pada dunia nyata (focuses on real-world), masalah yang kompleks beserta cara pemecahannya, aktivitas berbasis masalah, serta mengedepankan proses analisis studi kasus (Lombardi, 2007). Walau mungkin Gayus tak paham tentang konsep authentic learning, nyatanya Gayus telah belajar menjadi seorang koruptor yang hebat, membangun jaringan kerja yang mampu memuluskan operasinya, serta berpelancong ke luar negeri meski masih dalam masa tahanan. Mustahil itu bisa terjadi andai Gayus tak mempelajari dan melatih keterampilannya itu secara konsisten. Tegasnya, Gayus selalu berusaha melakukan inovasi baru dalam menjalani profesinya. Karena tanpa itu, sulit bagi dia eksis di dunia yang telah mempopulerkan namanya di blantika dunia perkorupsian.

 

Suka atau tidak, Gayus mungkin bisa jadi sosok hebat di mata para siswanya. Kiprah hidupnya sudah bisa mengajarkan banyak hal dan menginspirasi para siswanya untuk berlaku hal yang sama, atau mungkin lebih dari itu. Gayus adalah sumber belajar utama bagi para siswanya. Andai Gayus punya strategi mengajar yang efektif, punya siasat mengembangkan cara-cara baru melakukan praktik korupsi, menciptakan model-model rambut palsu yang bisa mengelabui banyak orang, sampai melakukan penelitian tindakan yang bisa memperbaiki proses kerjanya, sempurnalah Gayus mengemban misi menjadi guru. Sosok yang bisa digugu dan ditiru. Gurunya sudah sangat berbahaya, tentu kita sangat waspada dengan kiprah para siswanya.

 

Ketika ada di antara sekian banyak guru kita tidak cinta akan profesinya, Gayus pasti senang bukan kepalang. Dia tentu punya kesempatan untuk menyamar dan berlaku seperti guru. Bencana besar pasti akan terjadi ketika Gayus bisa menikmati perannya sebagai guru. Dia akan selalu termotivasi untuk memperbaiki kinerjanya dari waktu ke waktu. Di saat ada sekian banyak dari guru kita mengabaikan proses membangun hubungan yang harmonis antara guru dan siswa, maka semakin mudahlah bagi Gayus untuk menebar pesonanya.

 

Sebuah hasil studi secara sangat jelas menyatakan bahwa kualitas hubungan antara guru dan siswa semakin berkurang setelah siswa masuk ke jenjang SMA dan setelahnya (Freeman, Anderman dan Jensen, 2007). Artinya, siswa kita dalam ancaman besar ketika para gurunya hanya fokus pada aktivitas mengajar saja. Apalagi ketika hal itu dilandasi atas sikap sebatas menggugurkan kewajiban tanpa pernah secara serius menyelami kehidupan siswa sebagai seorang pribadi yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

 

Andai Gayus jadi guru, ini hanyalah sebuah perumpamaan. Jika Anda mengaku guru, maka sejak saat ini, didiklah anak didik kita agar tidak seperti Gayus, contoh terbaik untuk tidak dicontoh.

 

Pernah dimuat Harian Radar Bogor, Senin 24 Januari 2011