Februari 2011


Oleh : Surya Hanafi

Makmal Pendidikan- LPI Dompet Dhuafa

 

Dalam sejarah kurikulum di Indonesia, kita mengenal beberapa kurikulum. Pada Masa orde lama, di kenal kurikulum 1947, 1952 dan 1964. Masa orde baru muncul kurikulum 1975 yang disempurnakan menjadi Kurikulum CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan disempurnakan lagi menjadi kurikulum 1994. Era reformasi, muncul kurikulum 2004, yang diberi nama kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Selama masa berlakunya, KBK ini mengalami perubahan pada pola standar isi dan standar kompetensi sehingga melahirkan kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Setiap kurikulum yang pernah dipakai masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan KTSP dibandingkan dengan kurikulum pendahulunya adalah bahwa KTSP dapaty mendorong terwujudnya otonomi penyelenggaraan pendidikan oleh Sekolah. Dengan otonomi tersebut, sekolah bersama dengan komite sekolah dapat secara bersama-sama merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi lingkungan sekolah tersebut. Dalam merumuskan KTSP, sekolah tidak bisa berjalan sendiri tetapi harus bermitra dengan stakeholder pendidikan, misalnya, dunia industri, kerajinan, pariwisata, petani, nelayan, organisasi profesi, dan sebagainya agar kurikulum yang dibuat oleh sekolah benar-benar mampu menjawab dan memenuhi kebutuhan di daerah di mana sekolah tersebut berada.

KTSP juga dapat mendorong guru dan kepala sekolah untuk meningkatkan kreativitas mereka dalam penyelenggaraan program pendidikan. Sekolah dan guru diberi keleluasaan untuk merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan KTSP tersebut sesuai dengan situasi, kondisi, dan potensi keunggulan lokal yang bisa dimunculkan oleh sekolah. Sekolah dan guru dapat dengan leluasa mengembangkan standar yang lebih tinggi dari standar isi dan standar kompetensi lulusan yang telah ditentukan. KTSP juga memberikan ruang bagi setiap sekolah untuk lebih menitikberatkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. Sekolah dan guru memiliki kebebasan yang luar biasa untuk mengembangkan kompetensi siswanya sesuai dengan lingkungan dan kultur daerahnya.,karena KTSP tidak mengatur secara rinci kegiatan belajar mengajar di kelas.

Dalam penerapannya, KTSP menemui banyak kendala seperti masih minimnya kualitas guru dan sekolah. Sebagian besar guru belum bisa diharapkan memberikan kontribusi pemikiran dan ide-ide kreatif untuk menjabarkan KTSP tersebut baik di atas kertas maupun di depan kelas. Selain disebabkan oleh rendahnya kualifikasi, juga disebabkan pola kurikulum lama yang terlanjur mengekang kreativitas guru. Tidak tersedianya sarana dan prasarana yang lengkap dan representatif juga merupakan kendala yang banyak dijumpai di lapangan, banyak satuan pendidikan yang minim alat peraga, laboratorium serta fasilitas penunjang yang menjadi syarat utama pemberlakuan KTSP.

Terlepas dari kendala tersebut, pada masa awal pemberlakuan KTSP cukup membawa angin segar pada sistem pendidikan di Indonesia. Secara prinsip, KTSP dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi, kerakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. KTSP dianggap sebagai kurikulum otonom yang berbasis kerakyatan, karena dalam KTSP dijamin adanya muatan kearifan lokal, guru juga diberikan kesempatan untuk memaksimalkan segala potensi yang ada dimasing-masing daerah.

KTSP terbukti sangat ideal dalam tataran konsep tertulis, namun ternyata tidak demikian dalam tataran praktek. KTSP yang dianggap sebagai kurikulum yang otonomi (desentralisasi), karena disusun oleh setiap satuan pendidikan, namun pada kenyataannya tetap saja bersifat sentralisme, yaitu melalui penyeragaman-penyeragaman, standar isi dan kompetensinya telah ditentukan oleh pusat. Standarisasi kelulusan setiap peserta didik tetap diukur dengan menggunakan UAN yang nota bene bersifat nasional. Ini jelas kontradiktif dengan semangat KTSP yang mengakomodir kearifan lokal sebagai komponen penting pendidikan. Merupakan tindakan tidak tepat apabila kualitas pendidikan di desa disamakan dengan kualitas pendidikan di kota. Hal tersebut sudah dapat dipastikan bahwa KTSP yang bersifat otonom (desentralis), akan ‘MATI KUTU” dan tidak ada artinya jika berhadapan dengan UAN yang sangat sentralistik.

Bagaimana dengan kita..? Kita tidak boleh hanya berkeluh kesah, menyalahkan, dan mengkritik. Tapi, Mari kita singsingkan lengan baju dan berbuat sesuatu. Jangan “gadaikan” masa depan penerus dan harapan bangsa hanya karena secuil kendala dan kelemahan, Lakukan apa yang bisa kita lakukan, jangan menunggu orang lain, lakukan sekarang.

Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, Padang tanggal 15 Oktober 2010

oleh Rina Fatimah

Rapat berasal dari kata benda yang artinya pertemuan atau kumpulan yang membicarakan sesuatu. Dalam pengertian luas, rapat dapat menjadi sebuah permusyawaratan yang melibatkan banyak peserta dan membahas banyak permasalahan penting. Rapat dapat dijadikan media komunikasu kelompok resmi yang bersifat tatap muka yang sering diselenggarakan oleh banyak organisasi baik swasta maupun pemerinta. Rapat yang diadakan biasanya bertujuan untuk mendapatkan mufakat dari setiap pembahasan. Kata yang biasa mengikuti rapat diantaranya:

a.      Rapat akbar yakni rapat raksasa

b.      Rapat anggota yakni rapat yang diadakan untuk anggota perserikatan, partai, dan sebagainya

c.       Rapat kerja yakni rapat untuk membahas masalah yang berkenaan dengan bidang pekerjaan yang dihadapi atau rapat pertemuan staf untuk membahas hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas suatu instansi

d.      Rapat kilat yakni rapat atau sidang yang berlangsung dengan mendadak

e.      Rapat paripurna yakni rapat lengkap anggota dan pimpinan da merupakan forum tertinggi dalam melaksanakan wewenang dan tugas

 

Sekolah sebagai sebuah organisasi formal dibawah pranata pendidikan tak asing dengan kata rapat. Sekolah sudah biasa melakukan rapat. Rapat-rapat yang biasa diadakan sekolah yakni rapat rutin dan rapat kerja. Rapat rutin biasa diadakan minimal sebulan sekali sedangkan rapat kerja biasa dilakukan satu semester sekali. Setiap rapat yang diadakan mencakup serangkaian permasalahan-permasalahan yang dihadapi untuk dipecahkan bersama-sama. Akibatnya, rapat dilaksanakan berhari-hari. Itupun kadang-kadang pembahasan belum selesai dan keluar dari target hari yang telah ditentukan. Selain itu, perilaku negatif peserta rapat yakni tidak fokus, berbicara “ngarol-ngidul” dan tidak jelas, menyela pembicaraan peserta lain rapat.   Oleh sebab itu diperlukan satu cara atau metode agar rapat menjadi lebih efektif. Innovasi meeting atau disingkat Innomet merupakan salah satu cara atau metode agar rapat menjadi efektif. Selain itu, pembahasan di dalam rapat akan sistematis dan runut.

 

Metode Innomet, saya peroleh ketika saya mengikuti pelatihan yang diadakan oleh lembaga tempat saya bekerja. Selama mengikuti innomet, peserta rapat dibekali post it, spidol, dan kertas flipchart. Post it dan spidol digunakan untuk sebagai media menulis oleh peserta.

 

Fasilitator dibutuhkan selama innomet dilakukan. Fasilitator dapat diambil dari peserta rapat. Tugas fasilitator yakni pertama, menempelkan lima kertas flipchart pada dinding ruang. Tiap-tiap kertas flipchart menuliskan tahapan-tahapan innomet. Kedua, menempelkan post it yang telah dituliskan oleh peserta rapat pada tiap lembar flipchart sesuai dengan tahapan innomet. Ketiga, memastikan peserta tidak menyela atau memberikan pendapat terhadap pendapat dari peserta lain. Setiap pendapat atau pandangan menurut peserta wajib dituliskan pada kertas post it dan peserta lain tidak boleh menyela. Keempat, setiap kertas post it yang diberikan peserta akan dibacakan oleh fasilitator.

 

Berikut tahapan-tahapan pelaksanaan innomet:

1. Define Problem

Ini adalah tahap pertama. Pada tahap ini fasilitator menuliskan permasalahan yang akan dibahas sesuai dengan agenda rapat. Contoh “Bagaimana SDN 08 Langkahan Menjadi Sekolah Unggul di Kabupaten Aceh Utara”.

2. Current Problem and Expected Problem

Pada sesi ini peserta diminta untuk menuliskan permasalahan yang dihadapi sekolah (current problem) saat ini. Tiap-tiap peserta menuliskan di kertas post it yang telah disediakan oleh fasilitator. Setelah peserta menuliskan fasilitator akan menempelkannya pada kolom current problem. Jika terdapat tulisan yang sama ataupun mirip maka fasilitator langsung mengelompokkannya.

Setelah peserta rapat menuliskan kondisi atau permasalahan kekinian yang dihadapi sekolah selanjutnya peserta menuliskan hal-hal yang terjadi dimasa yang akan datang (expected problem) jika permasalahan atau kondisi ini dihadapi oleh sekolah.

 

3. Problem Analysis

Setiap permasalahan yang ditulis oleh peserta pada kolom current problem kemudian diklasifikasikan kedalam kelompok-kelompok berdasarkan kesamaan permasalahan missal pada current problem peserta menuliskan: guru-guru tidak disiplin, guru jarang membuat RPP dll. Kedua masalah tersebut bisa dikelompokkan kedalam kelompok masalah manajemen sekolah.

 

Masalah-masalah yang telah dikelompokkan tersebut kemudian di vote. Innomet menyebutnya fish to five. Cara pengambilan votingnya dengan menggunakan jari. Skalanya tidak setuju hingga sangat setuju, mulai dari kepalan tangan yang mengartikan tidak setuju hingga peserta menunjukkan kelima jarinya yang mengartikan sangat sangat setuju. Contoh adanya guru-guru yang tidak disiplin menyebabkan sekolah menjadi tidak unggul?. Apabila peserta menyatakan tidak setuju, maka peserta menunjukkan kepalan tangan. Sebaliknya, peserta setuju maka peserta bisa menunjukkan satu jari atau dua jari. Jika sangat-sangat setuju maka peserta menunjukkan kelima jarinya. Selanjutnya fasilitator akan menghitung jumlah jari yang ditunjukkan oleh peserta.

4. Cause Analysis

Kegiatan fish to five akan menunjukkan inti dari masalah berdasarkan suara yang diberikan oleh peserta. Setelah inti permasalahan ditemukan, fasilitator meminta peserta untuk menuliskan penyebab dari inti permasalahan tersebut hingga 7 penyebabnya. Contoh inti permasalahan: guru tidak disipli. Fasilitator akan menanyakan kepada peserta mengapa guru tidak disiplin? Peserta menuliskan karena kurangnya motivasi mengajar. Fasilitator menanyakan kembali mengapa kurangnya motivasi mengajar? Peserta menuliskan karena tidak ada pilihan profesi yang lain selain mengajar, dan seterusnya.

 

5. Finding Solution

Sesi ini merupakan sesi penemuan solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut dalam bentuk program. Setiap peserta rapat wajib menuliskan solusi di kertas post it.

 

6. JCT Matrix

JCT Matrix yakni mengelompokkan program-program yang telah berdasarkan tabel: penting-mendesak, penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak, tidak penting-tidak mendesak.

 

Innomet sangat mudah dilakukan, tidak dibutuhkan keterampilan khusus untuk menguasai metode innomet ini. Setiap rapat yang dilaksanakan pastinya membutuhkan solusi, kesepakatan/kemufakatan, dan yang paling penting adalah adanya komitmen melaksanakan hasil rapat. Selamat melakukan innomet!

Di beberapa kali kesempatan mengisi pelatihan untuk para guru daerah, iseng-iseng saya mencoba untuk melakukan survey sederhana kepada peserta. Tujuannya tidak lain adalah untuk menakar seberapa tinggi kualitas guru-guru tersebut dalam urusan mengajar. Dengan survey ini, maka secara cepat saya akan memperoleh data awal yang bisa membantu untuk menetapkan tingkat kedalaman materi yang akan diberikan. Hal ini bagi saya sangat penting agar pelaksanaan pelatihan, walaupun durasinya singkat, tapi hasil akhirnya betul-betul bisa memberikan makna yang mendalam bagi penambahan pengetahuan guru.

Salah satu teknik survey yang saya kerjakan adalah dengan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana. Beberapa pertanyaan yang pernah saya ajukan antara lain adalah: Siapakah di antara bapak ibu guru yang telah membuat silabus dan RPP sendiri? Adakah yang pernah membaca buku “Quantum Teaching? atau, Siapa yang tahu apa itu KKM? Beberapa pertanyaan tadi bagi sebagian guru atau sebagian mahasiswa rumpun kependidikan mungkin terlalu mudah untuk dijawab, namun bagaimana dengan jawaban dari guru-guru yang sudah bertahun-tahun hidup sebagai pejuang pendidikan di daerah terpencil.

Dari beberapa komunitas guru yang pernah saya sambangi di kampung-kampung di Aceh, Bengkulu, Sumatra Barat, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, hingga Maluku misalnya, banyak yang menjawab tidak pernah membuat perencanaan pembelajaran secara mandiri. Tuntutan KTSP yang mewajibkan setiap sekolah untuk membuat kurikulumnya sendiri ternyata masih dirasakan sangat sulit bagi para guru. Mereka umumnya membuat perencanaan pembelajaran dengan cara saling contek (atau diperhalus menjadi “kerjasama mutualisme”) di forum Kelompok Kerja Guru (KKG) di gugusnya. Bahkan di beberapa tempat banyak sekolah yang dengan terpaksa menggunakan dana BOS dengan alokasi yang cukup besar untuk membeli beberapa bundel kurikulum lengkap yang memang sudah sengaja dijajakan oleh para oknum pegawai di dinas pendidikan. Modus operandi yang sesungguhnya haram ini akhirnya “dihalalkan” agar tidak menyusahkan kerja dan kinerja para guru dalam mengajar.

Membuat perencanaan pembelajaran bagi sebagian guru memang harus diakui merupakan perkara yang tidak mudah dan cukup menyita waktu di rumah. “Setiap guru memang harus bikin RPP, tapi masak hidup saya habis hanya gara-gara RPP! padahal saya juga punya kewajiban urus rumah tangga dan anak-anak di rumah”, celoteh seorang ibu guru senior menyikapi kebijakan kepala sekolahnya yang mulai mewajibkan para guru untuk membuat RPP (Rencana Program Pengajaran) setiap harinya. Adapula guru senior lain yang mengaku masih belum tahu cara membuat RPP yang baik dan benar, padahal beliau sudah mengajar puluhan tahun dan mengaku sudah lolos dalam proses sertifikasi guru.

Ini adalah sketsa-sketsa kecil yang setidaknya bisa menggambarkan tentang kualitas sebagian guru-guru di Indonesia, terutama yang mengabdi di daerah-daerah terpencil. Dari survey sederhana terhadap para guru inilah, saya berkesimpulan bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi pada sistem pendidikan kita. Pembenahan ini diantaranya harus dimulai dari upaya yang lebih serius dalam peningkatan kapasitas SDM guru.

 

SAHABAT GURU INDONESIA

Enam tahun lebih Makmal Pendidikan selaku laboratorium pendidikan di bawah naungan Lembaga Pengembangan Insani (PI) dalam menunaikan kiprahnya untuk menyemai pendidikan berkualitas melalui program pelatihan guru, Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI) dan pendampingan sekolah di berbagai penjuru tanah air. Telah lebih dari 10.000 guru dari Aceh hingga Papua pernah dilatih oleh para trainer dari Makmal Pendidikan. Dari sisi kuantitas penerima manfaatnya, angka 10.000 tentu masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah guru di Indonesia yang mencapai lebih dari 2,6 juta orang. Inilah yang semakin memicu dan memacu kami untuk senantiasa menelurkan program-program yang terbaik untuk para guru Indonesia.

Dalam rangka mengintensifikasi sekaligus mengekstensifikasi sumber daya keguruan yang dibina oleh Makmal Pendidikan, maka dibentuklah Sahabat Guru Indonesia (SGI) sebagai sebuah wadah belajar bagi para guru agar bisa lebih mengembangkan program pengajaran di sekolanya masing-masing. Beberapa agenda kegiatan yang dikelola oleh SGI ini antara lain adalah: pembentukan guru-guru model, penerbitan blog sahabat guru, pelatihan guru cerdas kurikulum, serta pembentukan komunitas-komunitas rembug guru. Bahkan di bulan Mei 2011 nanti, SGI berencana akan menyelenggarakan sebuah konferensi bagi para guru yang mengajar di sekolah-sekolah marjinal.

Salah satu komunitas filantrofi yang berhasil dibina langsung oleh Makmal Pendidikan dalam wadah SGI adalah Kelompok Belajar Guru Cendekia Bogor. Kelompok ini awalnya merupakan kumpulan para guru muda di sekitar Bogor yang sedang melanjutkan program S1 keguruan. Sebagai guru yang masih minim pengalaman, mereka merasakan bahwa beragam ilmu yang diajarkan dalam perkuliahan ternyata masih kurang memenuhi kebutuhan mengajar di sekolah. Mereka sangat membutuhkan contoh pengembangan pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis namun juga yang praktis. Hal ini dimaksudkan agar mereka mendapatkan bekal yang cukup sebagai pendidik yang kreatif dan profesional. Dari kebutuhan inilah maka para guru-guru muda yang umumnya juga mahasiswa itu membentuk Kelompok Belajar Guru Cendekia dengan para trainer Makmal Pendidikan selaku pembinanya.

Hingga kini, Komunitas Belajar Guru Cendekia Bogor telah memiliki anggota resmi lebih dari 100 orang. “Kita berencana akan merambah wilayah yang lebih luas lagi, yakni Kabupaten Bogor sebelah barat dan juga sebelah selatan!” ujar Rahmatulllah selaku Koordinator Komunitas Belajar Guru Cendekia dengan penuh semangat.

Nantikanlah jaringan Sahabat Guru Indonesia (SGI) hadir ke sekolah anda! Bravo Guru Indonesia! Semangatmu adalah inspirasi bagi Indonesia yang lebih cerdas..

 

 

Agung Pardini

Koordinator Nasional Sahabat Guru Indonesia

Trainer Makmal Pendidikan LPI Dompet Dhuafa

Cerdas intelektual, cerdas spiritual

Inspirasi bagi semua itulah tekad kami…

Ayo bangkit semua Guru Indonesia

Wujudkanlah cita-cita Indonesia berjaya…

 

Sabtu, 18 Desember 2010, di pinggiran Kota hujan…

Penggalan akhir lagu itu mengharu syahdu di ruas-ruas nurani para pendengarnya. Berdesir hati kami tatkala instrumen musiknya dimainkan dengan nada yang kian meninggi. Masing-masing kami terhanyut dengan lirik-lirik penyemangat yang digelorakan. Bukan syairnya yang membuat kami bergetar, bukan pula nadanya yang membuat ruh semangat kami menyala-menyala, tapi wajah-wajah sumringah itu yang membuat segenap unsur kejiwaan kami terpana. Itulah wajah-wajah pencerah pendidikan Indonesia di masa depan…

 

Satu persatu 39 orang itu naik ke atas pentas, dikalungkanlah di leher-leher mereka sebuah medali kebanggaan sebagai tanda kelulusan. Setahun sudah bersama-sama mereka kuliah, menempa diri untuk terlahir menjadi guru yang lebih berkompeten dan profesional. Mereka adalah para guru, sarjana, dan juga mahasiswa yang telah mengikat janji untuk mensumbangsihkan diri menjadi pendidik yang berwatak cerdas dan siap menjadi sumber inspirasi bagi anak-anak bangsa. Di hari itulah, Sekolah Guru Ekselensia Indonesia, mewisuda mereka untuk siap berkiprah bagi proses perbaikan pendidikan di negeri ini.

 

 

Komunitas Alumni SGEI

 

Diawali dari perenungan yang panjang tentang mengelola program pengembangan profesi keguruan yang dilakukan oleh Makmal Pendidikan, maka di akhir tahun 2009 berdirilah Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI). Pelatihan-pelatihan guru yang biasa dilakukan oleh Makmal Pendidikan seringkali hasilnya tidak bisa terukur, bahkan efektivitasnya juga sulit untuk dicapai. Hal ini karena memang disebabkan durasi pelatihannya paling hanya 2 hari saja. Untuk meraih hasil yang lebih baik, maka dibutuhkanlah model pelatihan yang sifatnya intensif, dan materi ajarnya disusun dengan lengkap dalam suatu kurikulum yang terstruktur. Inilah yang menjadi latar belakang alasan pembentukan SGEI.

 

Angkatan Pertama dari SGEI ini dibagi menjadi dua kelas, yakni kelas pre-service dan kelas inservice. Kelas pre-service ditujukan bagi para mahasiswa tingkat akhir yang bercita-cita menjadi guru, sedangkan in-service adalah kelas untuk para guru yang memang sudah mengajar di sekolah. Dari sekitar 60 peserta yang ikut di awal, akhirnya hanya 39 orang yang berhasil lulus. SGEI memang menggunakan standar yang cukup ketat untuk meluluskan para mahasiswanya, di antaranya harus bisa membuat Penelitian Tindakan Kelas.

 

Kini angkatan pertama dari Sekolah Guru Ekselensia Indonesia sudah diluluskan dan semuanya telah berkiprah di dunia pendidikan. Makmal Pendidikan bahkan telah mengirimkan 2 orang lulusan SGEI angkatan pertama untuk menjadi pendamping (konsultan) sekolah di daerah Pariaman (Sumatera Barat) dan Makassar (Sulawesi Selatan). Mereka pun juga acap kali diberi kesempatan untuk menjadi pembicara di kesempatan pelatihan-pelatihan guru. Komunitas dari alumni SGEI angkatan pertama ini memang digagas untuk menjadi pelopor dalam menggerakkan pendidikan kreatif bagi masyarakat serta menjadi model terbaik bagi rekan-rekan guru yang lain.

 

 

Memulai Budaya Literasi dari Komunitas Sekolah dan Kampus

 

Beragam kisah pengalaman selama mengikuti perkuliahan SGEI oleh para alumni dan juga pengajarnya kemudian dituangkan dalam sebuah buku yang kini telah dicetak namun masih untuk publikasi yang bersifat terbatas. InsyaAllah beberapa waktu ke depan buku tentang catatan akhir kuliah dari para angkatan pertama SGEI ini akan diedit ulang agar bisa diterbitkan kepada khalayak pembaca yang lebih luas. Buku yang diberi judul “Renaissance: Terlahir Kembali Menjadi Guru” bukan hanya dituturkan dalam konsep cerita berprosa saja, namun juga dilengkapi dengan aneka puisi dan essay-essay ilmiah populer tentang keguruan.

 

Ada kisah tentang Pak Ugan yang mula-mula sering mendapatkan protes dari guru-guru lain karena semenjak beliau menerapkan hasil dari perkuliahan di SGEI kelas didiknya menjadi “super-ribut” menerapkan beberapa metode pembelajaran aktif. Ada pula cerita tentang pengalaman seorang Ika, Riski, Erika, dan juga Ema yang akhirnya mampu melawan ketercanggungan alias grogi ketika menghadapi hari pertama mengajar di kelas. Ada lagi Asep Sapa’at dan Evi Afifah yang banyak menulis tentang karakter keguruan, lalu dilengkapi kemudian dengan puisi-puisi tentang guru dari Firman, Erika dan Amru.

 

Namun, pada hakekatnya urgensi dari pembuatan buku ini justru bukan dari isi bukunya itu sendiri, melainkan dari proses penuangan ide menjadi sebuah tulisan dan kemudian menyusun satu persatu ceceran tulisan tersebut menjadi sebuah buku. Tentu akan menjadi sebuah nilai tambah bila guratan-guratan kata tadi mampu berharmoni menjadi sekumpulan makna yang bisa menginspirasi para pembacanya.

 

Sangat menarik apabila kegiatan menulis catatan akhir kuliah (bukan buku tahunan) ini menjadi sebuah budaya di kampus-kampus dan juga di sekolah-sekolah. Cobalah dibayangkan bila semua institusi pendidikan, mulai dari tingkatan sekolah dasar hingga perguruan tinggi mengkloning budaya menulis ini. Kalau saja setiap lulusan sekolah atau perguruan tinggi di negeri kita ini diminta untuk membuat sebuah tulisan yang berisi tentang pengalaman dirinya, maka setiap tahun akan ada puluhan bahkan ratusan ribu artikel tulisan yang bisa dihasilkan. Sekali lagi ini, ini bukan soal tentang apa yang ditulis, tetapi lebih ingin menunjukkan bagaimana budaya literasi ini bisa masuk menjadi suatu kebiasaan hidup bagi semua orang-orang terpelajar Indonesia.

 

Andai setiap tahunnya, semua sekolah atau kampus memiliki program akhir tahun untuk menerbitkankan satu buah buku, maka Indonesia akan memiliki koleksi ribuan pengalaman yang bisa dikomunikasikan antara satu sekolah dengan sekolah-sekolah yang lain. Ini akan menjadi dokumentasi sejarah luar biasa yang bisa dipelajari kembali oleh anak cucu kita di masa jauh mendatang. Dan apabila saja pemerintah mau memfasilitasi proses pertukaran buku antarsekolah dan kampus tersebut, maka artinya akan terjadi interaksi intelektual yang dahsyat di wajah pendidikan di negeri ini. Indonesia akan menjadi model referensi bagi dunia untuk pengembangan literasi populer di bidang pendidikan.

 

Sekolah Guru Ekselensia Indonesia adalah salah satu contoh entitas kecil yang telah memulai langkah inspiratif untuk kebaikan bangsa dengan dimulai dari hal sederhana semacam ini… Ayo Guru Indonesia mulailah menulis! dan ajaklah anak-anak didik kita untuk rajin menulis!

 

 

Agung Pardini

Koordinator Sahabat Guru Indonesia

 

Asep Sapa’at

Trainer Pendidikan

Lembaga Pengembangan Insani

Dompet Dhuafa

 

Siapa tak kenal Gayus Tambunan? Pribadi yang mewakili simbol kejahatan, mungkin bisa dikategorikan musuh nomow wahid publik dalam situasi saat ini. Orang baik dan orang jahat, mungkin bisa menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejaknya. Inspirasi itu akan muncul, salah satunya karena pesona kepribadiannya.

 

Andai Gayus jadi guru, gerangan apa yang akan terjadi. Callahan (1996) menyatakan bahwa penggunaan kepribadian guru secara efektif sangat penting dalam melakukan aktivitas pengajaran. Guru yang memiliki kepribadian akan mampu menciptakan lingkungan belajar dimana siswa dapat merasa nyaman belajar dan termotivasi untuk belajar. Apa jadinya jika pribadi Gayus dapat memesona pribadi para siswanya? Ini jelas jadi persoalan besar.

 

Andai Gayus jadi seorang pengajar, Gayus jelas punya keunggulan tersendiri dalam hal mengajarkan praktik korupsi. Tanpa perlu banyak berbusa-busa kata, Gayus bisa menjadikan dirinya sebagai sumber belajar bagi para siswanya. Dia bisa lebih efektif membantu siswa memahami konsep korupsi. Bahkan, bagaimana cara lolos dari jeratan hukum dan menikmati udara segar pada masa tahanan bisa dijadikan bahan studi kasus menarik bagi para siswanya. Coba bayangkan apa yang akan terjadi pula seandainya Gayus meminta siswanya melakukan praktik korupsi dalam kehidupan nyata mereka. Celaka dua belas.

 

Confucius pernah berujar, ”I hear I Forget. I See I Remember. I Do I Understand”. Tegasnya, pemahaman dan pemaknaan siswa tentang suatu konsep akan didapatkan secara baik ketika siswa melakukan sendiri konsep apa pun yang hendak mereka pelajari. Gayus, jelas-jelas telah menjadi tokoh utama pelaku korupsi. Jangan pernah ajarkan apa itu korupsi, Gayus pasti sudah paham. Jangan pernah ajarkan pula bagaimana cara menghabiskan uang korupsi, Gayus sudah lihai dengan hal itu. Andai ada ujian tentang bab memanipulasi aturan hukum, pasti Gayus akan dapat nilai yang bagus untuk tes tersebut. Gayus melakukan prinsip learning by doing. Prinsip belajar efektif yang Gayus praktikkan untuk melakukan tindak pelanggaran hukum.

 

Authentic learning, Gayus ternyata fasih sekali menterjemahkan konsep ini dalam fase kehidupannya sebagai seorang koruptor. Authentic learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang berfokus pada dunia nyata (focuses on real-world), masalah yang kompleks beserta cara pemecahannya, aktivitas berbasis masalah, serta mengedepankan proses analisis studi kasus (Lombardi, 2007). Walau mungkin Gayus tak paham tentang konsep authentic learning, nyatanya Gayus telah belajar menjadi seorang koruptor yang hebat, membangun jaringan kerja yang mampu memuluskan operasinya, serta berpelancong ke luar negeri meski masih dalam masa tahanan. Mustahil itu bisa terjadi andai Gayus tak mempelajari dan melatih keterampilannya itu secara konsisten. Tegasnya, Gayus selalu berusaha melakukan inovasi baru dalam menjalani profesinya. Karena tanpa itu, sulit bagi dia eksis di dunia yang telah mempopulerkan namanya di blantika dunia perkorupsian.

 

Suka atau tidak, Gayus mungkin bisa jadi sosok hebat di mata para siswanya. Kiprah hidupnya sudah bisa mengajarkan banyak hal dan menginspirasi para siswanya untuk berlaku hal yang sama, atau mungkin lebih dari itu. Gayus adalah sumber belajar utama bagi para siswanya. Andai Gayus punya strategi mengajar yang efektif, punya siasat mengembangkan cara-cara baru melakukan praktik korupsi, menciptakan model-model rambut palsu yang bisa mengelabui banyak orang, sampai melakukan penelitian tindakan yang bisa memperbaiki proses kerjanya, sempurnalah Gayus mengemban misi menjadi guru. Sosok yang bisa digugu dan ditiru. Gurunya sudah sangat berbahaya, tentu kita sangat waspada dengan kiprah para siswanya.

 

Ketika ada di antara sekian banyak guru kita tidak cinta akan profesinya, Gayus pasti senang bukan kepalang. Dia tentu punya kesempatan untuk menyamar dan berlaku seperti guru. Bencana besar pasti akan terjadi ketika Gayus bisa menikmati perannya sebagai guru. Dia akan selalu termotivasi untuk memperbaiki kinerjanya dari waktu ke waktu. Di saat ada sekian banyak dari guru kita mengabaikan proses membangun hubungan yang harmonis antara guru dan siswa, maka semakin mudahlah bagi Gayus untuk menebar pesonanya.

 

Sebuah hasil studi secara sangat jelas menyatakan bahwa kualitas hubungan antara guru dan siswa semakin berkurang setelah siswa masuk ke jenjang SMA dan setelahnya (Freeman, Anderman dan Jensen, 2007). Artinya, siswa kita dalam ancaman besar ketika para gurunya hanya fokus pada aktivitas mengajar saja. Apalagi ketika hal itu dilandasi atas sikap sebatas menggugurkan kewajiban tanpa pernah secara serius menyelami kehidupan siswa sebagai seorang pribadi yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

 

Andai Gayus jadi guru, ini hanyalah sebuah perumpamaan. Jika Anda mengaku guru, maka sejak saat ini, didiklah anak didik kita agar tidak seperti Gayus, contoh terbaik untuk tidak dicontoh.

 

Pernah dimuat Harian Radar Bogor, Senin 24 Januari 2011

Oleh :

Surya Hanafi

Makmal Pendidikan LPI Dompet Dhuafa

Penyelenggaraan pendidikan sejatinya adalah dalam rangka membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang mengelilingi dan “menggerogoti” nya. Pendidikan seharusnya berhubungan dengan tema-tema dan problem kemanusiaan. Sebagaimana yang telah digariskan di dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4, bahwa tujuan pendidikan adalah untuk “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Tujuan tersebut hendaknya menjadi titik awal dan sekaligus titik final bagi penyelenggara negara yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

 

Semua warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh dan menikmati pendidikan. Apa iya..? semua itu Jauh Panggang dari Api. “Orang Miskin Dilarang Bersekolah”, biaya pendidikan yang sangat mahal dan sangat tidak terjangkau bagi masyarakat miskin menjadi pemandangan dan kenyataan yang tidak dapat kita tutupi lagi. Bagaimana dengan program Sekolah Gratis..? Penerapan program sekolah gratis masih jauh dan sangat jauh dari yang kita bayangkan.

 

Pada awal kemunculan nya, program ini memberikan secercah harapan bagi masyarakat (kurang mampu) untuk dapat mengakses pendidikan tanpa harus mengeluarkan uang sepersen pun. Pemerintah juga ingin agar setiap orang tua mau menyekolahkan anak mereka tanpa perlu lagi memikirkan biaya sekolah. Sekilas terlihat program itu bagus, hebat dan luar biasa, tapi menyesatkan, kenapa? Sepintas pikiran kita akan melambung jauh, bahwa biaya sekolah 100% gratis, padahal tidak, yang gratis hanya iuran bulanan saja. Bagaimana dengan biaya yang lainnya?

 

Komponen biaya untuk mendapatkan pendidikan di sekolah tidak hanya iuran (SPP) tetapi masih banyak komponen lain yang justru memerlukan alokasi biaya yang sangat besar, mencapai 10 kali lipat dari SPP, seperti uang pangkal (sumbangan pembangunan), seragam, buku, praktikum, fieldtrip dan pungutan tidak resmi lainnya? Siapa yang akan menanggungnya? Siapa yang menjamin kalo beban itu menjadi gratis juga. Penggratisan / peniadaan iuran sekolah (SPP) sama sekali tidak membuat biaya sekolah menjadi gratis, menjadi MURAH, IYA, GRATIS…? NANTI DULU. Program Sekolah Gratis sebaiknya berganti nama dengan Program Sekolah Murah, walaupun murah yang dimaksud belum tentu signifikan

Bagaimana dengan kurikulum pendidikan kita? Indonesia merupakan negara yang selalu gonta ganti kurikulum, kurikulum keluaran terbaru katanya lebih bagus, lebih tepat sasaran, lebih mampu menggali potensi guru dan potensi anak, lebih kebarat-baratan dan atau apapun namanya. Yang jelas, pemerintah berusaha eksis dengan mengujicobakan “formula pendidikan baru” dengan mengubah kurikulum.

Dalam sejarah kurikulum di Indonesia, kita telah ”melahirkan“ beberapa kurikulum. Pada masa orde lama, di kenal kurikulum 1947, 1952 dan 1964. Pada masa orde baru muncul kurikulum 1975 yang disempurnakan menjadi Kurikulum CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan disempurnakan lagi menjadi kurikulum 1994. Pada era reformasi, muncul pula kurikulum 2004, yang diberi nama kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Selama masa berlakunya, Kurikulum 2004 (KBK) ini mengalami perubahan pada pola standar isi dan standar kompetensi sehingga melahirkan kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Mengikuti runtutan tersebut diatas, terlihat jelas bahwa setiap periode kekuasaan politik masing-masing akan selalu “melahirkan” dan “menciptakan“ kurikulum pendidikan yang berbeda, untuk mempertahankan dominasi kekuasaan mereka (penguasa), yang dikenal sebagai alat Haegomoni. Peran penguasa begitu dominan dalam menentukan arah pendidikan. Contohnya adalah kebijakan pemberlakuan Ujian Akhir Nasional (UAN) sebagai satu-satunya standar kelulusan. Mekanisme UAN ini kerap diprotes karena sangat diskrimintif. Kritikan dari para ahli pendidikan dn berbagai kalangan terhadap kebijakan UAN sudah terus meneus diperdengarkan, namun pemerintah tetap saja tidak mau mendengar, padahal kebijakan tersebut sudah jelas melanggar prinsip-prinsip pedagogi, menyimpang dari amanat undang-undang dan mengorbankan anak didik kita sendiri. Upaya dialog, pendekatan kritik akademis dan konstruktif juag sering dilakukan, namun semua sia-sia belaka, putusan pengadilan pun seperti tidak dianggap, pemerintah tetap pada pendiriannya, UAN tidak tergoyahkan untuk terus diberlakukan sebagai penentu kelulusan siswa.

Pada masa-masa awal pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) cukup membawa angin segar pada sistem pendidikan di Indonesia. Secara prinsip, KTSP dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi, kerakteristik daerah dan sosial budaya masyarakat setempat. KTSP dianggap sebagai kurikulum otonom yang berbasis kerakyatan, karena dalam KTSP dijamin adanya muatan kearifan lokal, guru juga diberikan kesempatan untuk memaksimalkan segala potensi yang ada dimasing-masing daerah. KTSP terbukti sangat ideal dalam tataran konsep tertulis, namun ternyata tidak demikian dalam tataran praktek. KTSP yang dianggap sebagai kurikulum yang otonomi (desentralisasi), karena disusun oleh setiap satuan pendidikan, namun pada kenyataannya tetap saja bersifat sentralisme, yaitu melalui penyeragaman-penyeragaman, standar isi dan kompetensinya telah ditentukan oleh pusat. Selain itu pula, standarnisasi kelulusan setiap peserta didik tetap diukur dengan menggunakan UAN yang nota bene bersifat nasional. Ini jelas kontradiktif dengan semangat KTSP yang mengakomodir kearifan lokal sebagai komponen penting pendidikan.

Mengevaluasi hasil pembelajaran siswa (peserta didik) dengan menggunakan cara yang sama adalah bentuk ketidakadilan dan pelanggaran HAM. Pada dasarnya setiap peserta disik (siswa) mempunyai latar belakang, kesempatan dan pengalaman proses pembelajaran yang sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya, antara daerah dengan daerah yang lainnya. Merupakan tindakan yang sangat tidak etis apabila kualitas pendidikan di desa disamakan dengan kualitas pendidikan di kota. Hal tersebut sudah dapat dipastikan bahwa KTSP yang bersifat otonom (desentralis), akan ‘MATI KUTU” dan tidak ada artinya jika berhadapan dengan UAN yang sangat sentralistik.

Sekilas melihat realitas di atas, jangan tanya bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia, jawabannya sudah pasti, yaitu Sangat Memprihatinkan. Hal tersebut dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada diurutan paling bawah, termasuk dibawah Vietnam yang baru merdeka seumur jagung. Selain itu The World Economic Forum Swedia (2000) juga melaporkan bahwa Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Sungguh memilukan dan memalukan.

Bagaimana dengan kita…? Apakah tetap harus menunggu pemerintah…? Jawabannya tentu “TIDAK”. Kualitas pendidikan di negeri kita tercinta ini tidak hanya tanggung jawab pemerintah semata, tetapi merupakan tanggung jawab kita semua sebagai anak bangsa yang peduli. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, lakukan sebisa kita, jangan menunggu orang lain, kitalah yang seharusnya memulai. Jangan menunggu contoh, tapi Kita lah yang seharusnya menjadi contoh. Seribu langkah dalam perjalanan yang nan jauh selalu diawali dengan satu langkah pertama, langkah kecil yang semua orang tahu dan mengerti tetapi sayangnya tidak semua orang mau melakukannya, karena memang langkah itu sangat berat dan butuh keberanian, keseriusan dan loyalitas untuk tetap melangkah.

Tulisan ini telah Dimuat di

1. Harian Singgalang-Padang, Tanggal 17 September 2010

2.  Lombok Post (Group Jawa Post), 16 September 2010

 

Oleh:

Agtri Malsa, Palembang

 

Mengikuti pelatihan guru ekselensia Indonesia adalah momen bersejarah bagi pegembaraan hidup saya di dunia pendidikan. Sebuah momen yang ditakdirkan Allah sebagai salah satu wahana pembelajaran yang tiada ternilai harganya bagi saya. Pembelajaran dalam menggali potensi, menajamkan nurani, dan memanusiakan manusia dalam nilai yang lebih berharga pada derajat lebih tinggi nantinya. Insyaallah……

Apresiasi dan penghargaan yang sedemikian tingginya saya sampaikan pada trainer-trainer hebat dan luar biasa makmal pendidikan LPI_DD dalam menggugah hati para peserta untuk ikut prihatin pada proses pendidikan negri ini…Mereka mencoba megikutsertakan saya dan 29 peserta lainnya untuk mengintip, menjelajahi dan kemudian bersama – sama mengatasi permasalahan pendidikan di negri ini.. Mereka membakar semangat saya dan yang lainnya untuk bergerak dan peduli akan nasib anak bangsa ini. Dari mereka, saya belajar bagaimana memberikan motivasi dan apresiasi terhadap orang lain terutama ketika nanti saya berada disekililing anak bangsa yang kurang terprihatikan pendidikannya oleh pemerintah negri ini.

Mengutip dari sebagian sabda Rosullulah, “hak milik orang yang beriman, dan di mana saja dia menemukannya maka dia paling berhak mengambilnya”, maka hikmah yang saya ambil dari mengutip sabda Rosullulah tersebut, bahwa selama mengikuti pelatihan ini saya menemukan ribuan hikmah yang tiada ternilai harganya, yang saya yakin cukup besar andilnya dalam proses  mendewasakan saya, baik dalam berfikir dan berkarya kedepannya.

Kalimat-kalimat yang tidak akan bisa saya lupakan dari mereka adalah mendidik dengan hati, itulah yang sedang mereka lakukan terhadap saya dan teman-teman.. saya masih ingat betul kalimat ini, Erie Sudewo adalah salah satu dari mereka yang mengugah dan melembutkan hati saya untuk berfikir manfaat apakah yang sudah saya persembahkan kepada orang-orang di sekitar saya….

Mengajar adalah hati yang bicara, begitu kata Zainal Umuri, seorang penulis dan trainer pendidikan sekaligus pembimbing akademik saya dan 3 (tiga) orang teman lainnya. Ketika ia mengevaluasi hasil microteaching beberapa hari yang lalu.. apa yang ia sampaikan mengenai hasil microteaching itu menyadarkan saya bahwa betapa tidak sedikitnya ilmu dan pengetahuan yang masih harus saya dapatkan dari mereka.

Saya masih ingat betul akan jawaban Alfito Deanova seorang presenter hebat salah satu stasiun televisi terkenal negri ini atas pertanyaan saya waktu itu, dia mengatakan hati yang bersih adalah modal utama untuk bisa di terima masyarakat. Guru hebat adalah guru yang merangsang dan membakar semangat murid-muridnya untuk bertindak lebih giat dan berfikir lebih cerdas dari sang guru.. Motivasi ini masih membekas dan terukir indah dalam ingatan saya. Tidak mungkin saya lupakan. Kalimat-kalimat dari para trainer inilah yang sampai hari ini, seperti bara api yang membakar dedaunan kering untuk saya bangkit mencari dan menebar kebaikan di bumi Allah ini.

Bagi mereka uang bukanlah patokan, namun uang adalah sebentuk akibat yang di dapat atas apa yang di lakukan di dunia ini.. Artinya orientasi atas apa yang kita lakukan tidak semata-mata karena uang, tapi penerimaan manfaat dari ilmu dan tindakan merekalah yang menjadi tujuan utamanya. Sebuah pertanyaan atas pernyataan dari Asep Sapa’at sang manejer yang selalu mencoba meluruskan niat kami yang berada di sini.

Sikap rendah hati dan menghargai siapa pun, baik itu anak-anak maupun tenaga kebersihan sangat saya rasakan dari mereka orang-orang hebat ini.. pemandangan yang langkah terlihat membudaya di sini, seorang kepala sekolah bahkan direkturnya sekalipun sangat menikmati ketika melahap hidangan yang lezat dari tangan para cooker di sini. Mereka tidak enggan untuk berantrian panjang dengan anak-anak dan para penyedia jasa pelayanan kebersihan yang mereka rekrut sendiri. Lagi-lagi ini pelajaran yang saya yakin bahwa saya tidak akan melupakannya dan ini akan menjadi point kesekian yang telah saya azzamkan untuk harus diterapkan dalam hidup saya.