MEMBERI PR PADA ANAK = BULLYING?

Oleh : Evi Afifah Hurriyati

“Aku tidak mau sekolah Ma, malas!”

“Lho, kenapa nak?”

“Aku belum membuat PR, nanti dimarahin bu guru..dihukum lagi!”

“Kenapa tidak di kerjakan Nak?”

“PRnya banyak dan sulit”

Dialog antara Budi dan ibunya hanya salah satu contoh kasus yang sering kita temukan pada anak-anak usia sekolah. Biasanya mereka malas ke sekolah karena takut dimarahi atau di hukum oleh guru sebab belum membuat pekerjaan rumah atau PR. Stres tidak bisa mengerjakan PR bukan hanya milik anak, juga orang tua. Dewi, 33, misalnya sering kali menelpon saya untuk menanyakan jawaban dari PR anaknya. Pasalnya Fadli , 9, anaknya tak bisa menjawab soal-soal sains yang di berikan gurunya. Alhasil, ibunya terpaksa mengambil alih membuat PR anaknya. Yang menjengkelkan jawaban tak selalu dapat ditemukan di buku pelajaran anaknya. Bisa ditebak. Dewi jadi stres, khawatir anaknya bakal kena hukuman guru gara-gara tidak membuat PR. Lain lagi yang terjadi pada Pak Momon, 74 rekan kerja saya di kantor lama. Kakek dari lima cucu yang pensiunan pengawas pendidikan ini sering ditelpon menantunya sekedar menanyakan PR bahasa Sunda. Maklum, menantunya itu asalnya dari Sumatera. Jadi dapat dibayangkan, anak yang mendapat PR tapi yang agaknya orang serumah. Wah, orangtua jadi ikut stres. Dari kasus-kasus di atas, ternyata PR yang diberikan guru khususnya anak usia sekolah tidak hanya membebani anak namun juga orangtuanya. Lalu mengapa guru harus memberikan PR pada anak, jika pada akhirnya menyulitkan anak berikut kedua orangtuanya. Pernahkah Anda sebagai pendidik memikirkan dengan sungguh-sungguh manfaat PR, yang jumlahnya seabrek dan harus dikerjakan anak setiap hari?

Mengapa anak di beri PR?

Sebagian orangtua dan anak menganggap PR kurang bermanfaat dan membebani anak. Tapi Lisda, 40, sebagai guru SD berpendapat bahwa PR membantu melatih anak dalam mengerjakan soal-soal. Sedangkan Yati,37, guru sebuah SMP menyatakan bahwa PR diberikan karna keterbatasan jam pelajaran. Untuk konsep-konsep yang belum tersampaikan, terpaksa ia memberikan PR pada anak didiknya. Hal yang sama juga disampaikan oleh Dyah, 38. Guru bahasa Indonesia di sekolah swasta ini menegaskan bahwa PR bermanfaat untuk mendisiplinkan anak. Ia menghukum anak yang tidak membuat PR dengan member tugas tambahan atau tidak boleh mengikuti pelajaran. Berbeda dengan pendapat orangtua pada umumnya, Yati justru mendukung pemberian PR. Menurutnya, anak akan lebih bertanggungjawab pada tugasnya dan mau belajar. Dari sisi sebagian guru dan orangtua, PR untuk anak adalah tindakan positif untuk melatih anak terbiasa mengerjakan soal-soal. Tindakan pemberian sanksi pada anak, dianggap sebagai upaya mendisiplinkan anak. Hanya saja pemberian PR sebaiknya proposional. Tidak terlalu berlebihan. Kadangkala guru tidak menyadari beban PR berlebihan akan berdampak buruk pada anak. Bahkan bisa membuat anak tertekan. Kalau sudah begitu, apakah tindakan guru dapat disebut bullying? Apakah Memberi PR pada Anak termasuk Bullying? Istilah bullying baru-baru ini begitu populer. Beberapa media menyoriti masalah ini dengan cukup intens. Apakah sebenarnya yang di sebut bullying? Istilah bullying biasanya dikaitkan dengan tindak kekerasan atau pelecehan yang menyertainya. Menurut Olweus (1993) : “Bullying can consist of any action that is used to hurt another child repeatedly and without cause”. Tindakan yang di lakukan dapat berupa fisik, verbal, siksaan mental ataupun emosi seseorang. Sesuatu yang tampak seperti bermain-main ataupun ucapan pelecehan dapat saja di golongkan sebagai kegiatan ritual dari “bullying”. Lalu, apakah tindakan guru memberikan PR berlebihan dan memberi sanksi kalau tidak bikin PR termasuk tindakan bullying?. Menurut sekjen Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, pada tahun 2006 jenis-jenis kekerasan terhadap anak yang menonjol antara lain : kekerasan fisik sebanyak 15,10%, kekerasan seksual 34,9%, dan yang paling banyak adalah kekerasan pisikis 50%. Namun pada tahun 2007 terjadi perubahan yang cukup mencolok pada jenis kekerasan psikis terhadap anak di sekolah yaitu 80 persen. Yang perlu di cermati di sini adalah kekerasan psikis pada anak di sekolah, dengan angka persentasi yang cukup signifikan. Bentuk-bentuk kekerasan psikis dapat berupa intimidasi, meremehkan, mengabaikan, mendiskriminasikan, menyamakan dengan binatang. Jika guru member PR yang berlebihan dan memberikan sanksi jika tidak bisa mengerjakan, sehingga anak menjadi terbebani dan stress dapat di katagorikan sebagai tindakan kekerasan psikis. Kekerasan psikis menurut Olweus termasuk bullying. Benarkah PR tidak bermanfaat? Benarkah PR memang tidak bermanfaat sama sekali anak? Tampaknya kalau disebut tidak bermanfaat tentu saja, kurang benar juga. Masih banyak orangtua dan pendidik yang meyakini bahwa PR amat bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman dan hasil pembelajaran anak. Rofiq, salah satu siswa SMART Ekselensia berpendapat bahwa PR berguna untuk melatih pemahaman asalkan siswa sudah memahami konsep yang diberikan guru. Hal senada dinyatakan Alif, 13, siswa kelas dua di sekolah yang sama. Menurutnya PR boleh-boleh saja diberikan asalkan tidak terlalu banyak sehingga tidak menyita waktu aktivitas lain. Menurut Sarah Bennet dan Nancy Kalish, dalam bukunya The Case Against Homework : How Homework is Hurting Our Children And What We Can DO About It’’, menyatakan tak ada korelasi antara PR dan prestasi akademik anak. Artinya bahwa PR yang banyak tidak serta merta meningkatkan prestasi akademik anak. Penelitian ini dikuatkan pula oleh hasil review tahun 2006 terhadap 60 study lainnya dengan topic yang sama. Ternyata diperoleh data bahwa hampir tidak ada korelasi antara jumlah PR dan prestasi akademik di SD. Sedangkan untuk level sekolah menengah (SMP/SMU) terdapat korelasi yang moderat antara jumlah PR dan prestasi akaedemik. Namun jika PR yang diberikan terlalu banyak , bagi anak usia sekolah menengah justru akan kontraprodutif. PR sebenarnya tidak perlu banyak-banyak. Seperlunya saja. PR yang terlalu banyak ditambah ujian harian dan tugas-tugas lain justru berakibat negatif pada anak. Dengan tuntutan prestasi, maka tak mustahil banyak anak yang stress gara-gara sekolah. Proses belajar yang seharusnya menjadi suatu pengalaman yang menyenagkan ternyata kini justru menjadi sesuatu yang sangat membebani anak. David Bakrer dan Gerald LeTendre, propesor pendidikan dan penulis buku National Differences, Global Similarities: World Culture and the future of Schooling, mengungkapan saat ini negara-negara yang terkenal dengan pendidikan yang memberikan banyak PR adalah Yunani, Thailand dan negara-negara seperti Jepang, Denmark dan Czech Republic, murid-muridnya menempati ranking tertinggi prestasi akademik dalam sekala dunia, dan ternyata guru-guru di negara ini memberikan sangt sedikit PR. Tujuannya agar anak bisa lebih banyak waktu luang bersama keluarga melakukan berbagai aktivitas di luar kegiatan sekolah, yang menarik minat mereka.

Apakah PR perlu di hilangkan sama sekali?

Jawabannya bisa “Ya”, bisa juga “Tidak”. Jika pembelajaran di kelas tuntas, maka PR memang tidak di perlukan lagi. Siswa telah menyerap materi yang di ajarkan guru di kelas. Keberhasilan guru dalam menyajikan materi di kelas, tampaknya membuat PR tidak lagi menjadi keharusan. Kalaupun ada PR di berikan kepada anak hanya sedikit saja. Misalnya untuk peljaran matematika. Jika siswa sudah menguasai konsep dan mampu mengerjakan minimal lima soal dengan benar, agaknya PR jadi tidak perlu. Sudah cukup. Agaknya guru perlu memahami pisikolog anak. Tujuannyan agar saat proses pembelajaran tumbuh suasana menyenangkan. Dengan kondisi demikian akan lebih mudah memahami cara kerja pikiran dan memori, membangun ekspetasi yang tinggi dalam diri setiap murid. Guru juga dapat menggunakan teknik goal setting yang kondustif dengan tingkat tantangan yang moderat, dan masih banyak pendekatan lainnya. Membangkitkan motivasi intrinsik dalam diri setiap murid, sehingga mereka sangta senang mengerjakan PR atau latihan. PR yang banyak sebenarnya tidak jadi masalah jika anak senang mengerjakan. Soal PR hendaknya tidak terlalu menyulitkan anak didik, membuat mereka nyaman mengerjakan dengan baik dan mendapat nilai evaluasi yang baik. PR atau tugas jika terlalu sulit maka mudah di tebak, hampir di pastikan PR itu di kerjakan oleh orang tuanya. Sudah menjadi rahasia umum orang tua lebih sibuk ketimbang anaknya saat anak mendapat PR. Selain itu PR tidak boleh sebagai hukuman. Bila pemberian PR adalah bentuk hukuman maka anak akan membenci PR dan selanjutnya membenci belajar. PR yang terlalu banyak dan sulit selalu membebani anak, juga akan menyita waktu bermain dan istirahat mereka. Khususnya untuk anak-anak berusia dibawah 18 tahun. Karena guru bisa dituding telah merampas hak anak. Sesuai dengan isi konfensi PBB tentang hak-hak anak pasal 1 poin 31, bahwa anak mempunyai hak bermain dan beristirahat.

Dari berbagai sumber