Padang To Day : Jumat, 03/09/2010 13:18 WIB

Oleh: Zainal Umuri*

Tak banyak yang mendapat kesempatan dalam mengenyam pendidikan berkualitas seperti di kota-kota besar negeri ini. Lihat saja,  bagaimana kualitas pendidikan dari ujung barat  sampai ke ujung timur? Tidak dapat dipungkiri, ternyata masih banyak anak bangsa yang belum mendapatkan pembelajaran berkualitas  atau paling minimal mendapatkan kesempatan sekolah dengan pelayanan yang maksimal.

Pemerintah  sangat memperhatikan pendidikan. Melalui Departemen Pendidikan Nasional, pemerintah yakin akan mampu mewujudkan visi besarnya yaitu “ Terwujudnya manusia Indonesia yang cerdas, produktif dan berahlak mulia”.  Apalagi Visi tersebut diturunkan ke dalam misi-misi yang sangat optimis, yaitu : (1) Menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar; (2) Mewujudkan sistem pendidikan efektif, efisien, dan bertanggung jawab; (3) Mewujudkan pendidikan nasional yang merata dan bermutu (www.mandikdasmen.depdiknas.go.id).

Namun, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Hendaknya pendidikan berkualitas menjadi tanggung jawab semua pihak. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha/industri, warga sekolah, LSM dan seluruh stakeholder. Luasnya wilayah negara sangat memungkinkan terjadinya ketidakmerataan mutu pendidikan, perbedaaan pelayanan dan hal lainnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, kerjasama pemerintah dengan stakeholder  akan sangat membantu dalam mewujudkan visi dan misi Pendidikan Nasional. Salah satu lembaga yang concern dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia yaitu LPI-Dompet Dhuafa. Sudah lebih dari lima belas sekolah yang dibidaninya  sehingga menjadi sekolah yang unggul baik di tingkat kecamatan/gugus maupun di tingkat nasional.

Tahun 2010, merupakan tahun yang penuh tantangan. Akan ada 6 wilayah di perbatasan yang dirambah  dan dikloning  menjadi sekolah yang berkualitas dan unggul. Wilayah tersebut yaitu Kabupaten Mentawai (Sumatera Barat), Kabupaten Natuna (Kepulauan Riau), Kabupaten Bengkayan (Kalimantan Barat), Bandanaera (Maluku Tengah), Kabupaten Rote Ndau (NTT), dan Kabupaten Merauke (Papua).

Di setiap wilayah minimal ada satu sekolah yang akan didampingi, bahkan dibeberapa wilayah ada dua sekolah yang didampingi sehingga menjadi sekolah yang berkualitas. Setiap sekolah yang telah disetujui oleh Disdikpora setempat akan dilakukan pendampingan selama satu tahun, didampingi oleh seorang pendamping yang berkompeten untuk meningkatkan mutu sekolah, pelatihan guru per triwulan oleh trainer nasional, dan pendampingan day to day.

Tidak hanya itu, jika sekolah  yang didampingi dirasa perlu membutuhkan bantuan fisik, pihak lembagapun akan membantu sehingga proses perwujudan sekolah itu menjadi sekolah berkualitas dapat dicapai dengan cepat. Bantuan buku, lemari ceruk ilmu dan display kelas merupakan komitmen lembaga agar sekolah tersebut dapat menjadi sekolah rujukan bagi sekolah-sekolah disekitarnya.

Dalam kurun waktu satu tahun pendampingan, diharapkan sekolah dampingan dapat menjadi gardu pendidikan berkualitas dilingkungannya. Minimal ada satu keunggulan sekolah yang dapat diketoktularkan kepada sekolah lain. Misalnya, dengan program Display Kelas ( pajangan hasil karya siswa ), disiplin guru, PAIKEM atau hal lainnya.

Medio Juli ini. Rote Ndau sebuah pulau yang berbatasan dengan negara Australia yang mendapatkan kesempatan perdana penandatanganan MoU pendampingan sekolah. Terpilih dua sekolah yang akan didampingi selama kurun waktu satu tahun kedepan, yaitu SDN 1 Papela dan MIS Darul Falah Oelaba. Lima daerah yang lainnya sedang menunggu untuk sesegera mungkin dieksekusi.

Kiprah seperti ini dirasa kecil jika dibandingkan dengan luasnya negara tercinta yang harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang maksimal, namun jika semua pihak terpanggil maka akan semakin banyak anak bangsa ini mendapatkan pendidikan bermutu dari uluran tangan para dermawan.

*Penulis Koordinator Nasional Pendampingan Sekolah & Trainer Nasional, Lembaga Pengembangan Insani  Dompet Dhuafa

Iklan