Sumbar | Kamis, 26/08/2010 16:09 WIB

Musfi Yendra – Padang Today

Data Balitbang Diknas (2003) merilis bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategoriDompet Dhuafa Ciptakan Sekolah Unggul untuk Anak Nagari Sumbar

Data Balitbang Diknas (2003) merilis bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia, tak jauh berbeda.Delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (PUSKOMDA Surabaya Raya).

Data yang disajikan oleh Balitbang tersebut menunjukkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Demikian dikatakan Trainer dan Koordinator Nasional Pendampingan Sekolah LPI Dompet Dhuafa, Zainal Umuri kepada Padang-Today.Com, Kamis (26/8/2010)

Dikatakannya, dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan  di Tanah Air, saat ini Dompet Dhuafa digawangi oleh Makmal Pendidikan Lembaga Pengembangan Insani sedang mendampingi 18 sekolah yang tersebar dari Nangroe Aceh Darussalam  hingga Merauke. Sekolah-sekolah tersebut akan didampingi dengan jangka waktu berbeda-beda. Ada yang satu tahun, dua tahun dan tiga tahun pendampingan.

“Pelaksanaan pendampingan merujuk pada kebijakan Departemen Pendidikan Nasional, seperti memberlakukan PAKEM, penerapan KTSP dan memastikan semua guru membuat RPP.  Di samping menerapkan aturan standar yang ada, Makmal Pendidikan juga memberikah ruh lain dalam setiap sekolah pendampingan, salah satunya adalah kemampuan literasi guru dan siswa, “katanya.

Menurutnya, selain itu, sekolah pendampingan ini disiapkan untuk mempunyai minimal satu keunggulan yang akan menjadi rujukan minimal bagi gugus  sekolah tersebut bahkan jika mungkin menjadi rujukan nasional. Seperti dua  sekolah dampingan di Jogjakarta yang menjadi sekolah rujukan nasional berakhlaq mulia dan sekolah rujukan menerapkan budaya lokal membatik.

“Setengah dari jumlah  sekolah pendampingan tersebut, ada regional Sumatera Barat. Terprogram, ada sembilan sekolah yang berada di wilayah ini. Yaitu : SDN 20 Kurao Pagang, SDN 11 Kurao Pagang, SDN 11 Batang Anai, SDN 3 Batang Anai, SDN 25 Sungai Sarik, SDN 07 Nan Sabaris, SDN 09 Ulakan Tapakis, SDN 17 Pandan Agam dan di Mentawai yang sedang asesmen, “katanya.

Di sekolah pendampingan, akan diberikan seorang pendamping sekolah yang memastikan seluruh program standar lembaga berjalan maksimal dan 90% pendamping sekolah di Sumatera Barat berasal dari SDM lokal yang diseleksi sesuai standar nasional Dompet Dhuafa. Dalam pelaksanaan pendampingan ini, Dompet Dhuafa dibantu oleh Dompet Dhuafa Singgalang, yang akan melakukan monitoring untuk menjaga standar pelaksanaan program pendampingan.

Dikatakannya, persembahan ini tidak terlepas dari uluran tangan para donatur, yang telah mempercayai Dompet Dhuafa untuk meningkatkan pendidikan di negeri ini. Donatur sekolah pendampingan di Sumatera Barat, yaitu ; TV One, BIPI Indonesia, Exxon Mobil, AN Teve, Konsorsium Tony Jack, PEMKOT Samarinda, Bank Permata, PT. Cargil, Yayasan Tahija, dan Trakindo. Kiprah ini hendaknya, menjadi pemicu bagi perusahan-perusahan lainnya, agar pendidikan negeri ini mengalami perubahan yang lebih baik lagi. (*)

Penulis : Zainal Umuri

Koordinator Nasional Sekolah Pendampingan dan Trainer Nasional LPI DD