Penulis

Asep Sapa’at

Trainer Pendidikan

“By learning you will teach,
by teaching you will understand”

Latin Proverb

Suatu hari, seorang wanita melihat Pablo Picasso—Pelukis Hebat—di pasar. Wanita itu mengambil secarik kertas dan memberikannya kepada Picasso seraya berkata, “Tuan Picasso, saya adalah penggemar Anda. Maukah Anda menggambar sedikit untuk saya?” Picasso dengan gembira memenuhi permintaan itu dan menggambarkan sesuatu di atas secarik kertas tersebut. Sambil tersenyum ia mengembalikan kertas itu sambil berkata, “Nilai kertas ini bisa jutaan dolar lho.” Wanita itu bingung dan berkata, “Tapi Tuan, Anda hanya butuh waktu 30 detik untuk menghasilkan karya ini.” Sambil tertawa Picasso menjawab, “Saya membutuhkan waktu 30 tahun agar dapat menghasilkan mahakarya dalam waktu 30 detik.”

Orang bijak bilang, butuh waktu lama membangun reputasi baik, dan cukup beberapa detik saja untuk menghancurkannya. Terbersit sebuah tanya, “Apakah guru juga perlu waktu lama untuk membangun reputasi sebagai guru profesional?”

Saya sering melihat ada sebagian guru yang kualitas hidupnya tak pernah berubah. Guru ini pastinya sudah menetapkan satu keputusan keliru dalam hidupnya. Saya sering menemukan ada logika tak beres yang ada di benak guru seperti ini. Hidupnya ingin sukses & bahagia, namun perjuangan meraih itu semua tak pernah tuntas dilakoni. Gaji ingin tinggi, tapi kualitas mengajar di bawah standar. Jabatan ingin di atas, tapi masih berpihak pada sikap malas. Tak pernah setia pada ‘proses hidup’, terjebak pada orientasi ‘hasil’ yang sulit diukur tingkat pencapaiannya.

Mengajar 10 tahun, dimaknai kerja setahun dilakukan berulang selama 10 kali. Tak ada inovasi, tak ada semangat membenahi diri, ibarat sedang menggali kubur dalam kejumudan diri. Mengajar hanyalah pemenuhan kewajiban semata. Tak pernah ada upaya untuk mengevaluasi diri, “Sudahkah aku mengajar dengan baik?” Padahal, mengajar adalah cara terbaik bagi guru untuk memberikan teladan kepada siswa tentang makna belajar yang sesungguhnya.

Mengajar itu berarti belajar. Karena mengajar butuh persiapan, guru harus belajar menyiapkan administrasi pembelajaran dengan baik. Karena mengajar butuh kesungguhan hati, maka guru belajar ikhlas dalam memberi. Guru tak mau lagi belajar, berhenti saja mengajar.

Makna belajar tak sesempit sekadar membaca buku. Makna belajar bukanlah duduk manis di atas bangku, diceramahi guru, dan jadi tak mampu melakukan sesuatu. Nilai hebat & ranking kelas bukanlah tolak ukur seorang siswa sudah belajar. Jika ada dokter tahu bahaya rokok, lalu dia doyan merokok, ini dokter yang tak pernah belajar. Jika kita paham bahaya minuman keras dan narkoba, lalu kita tetap mengkonsumsinya, benarkah kita sudah belajar? Makna belajar selalu bisa ditandai oleh adanya perubahan perilaku dari si pembelajar. Perubahan yang akan selalu mendatangkan kebaikan dalam setiap episode hidupnya.

Bagi guru, kata belajar & mengajar mungkin bisa berjuta makna. Tak selamanya makna itu tersurat. Kadang ada makna yang tersirat. Kalau kita tak sempat melakukan sesuatu dalam hidup ini, bisa jadi kita tak bisa mencicipi maknanya. Tegasnya, belajar bukan sekadar mendapatkan ilmu teoretis, namun perlu praktik untuk meraih maknanya. Jika belajar membuat kita jadi paham akan ihwal sesuatu, maka mengajar adalah jalan terbaik untuk menyempurnakan ilmu yang dimiliki. Sungguh beruntung, jika guru mendapatkan kesempatan untuk melakukannya, mengajar untuk belajar.

Sayangnya, hanya sedikit guru yang fasih memahami hal ini. Sesungguhnya, mengajar adalah cara bagi guru untuk terus belajar, mengajar berarti jalan emas untuk menata diri, mengajar itu bisa berarti kesempatan mengukur kualitas diri. Hakikatnya, mengajar adalah puncak tertinggi amalan terbaik seorang guru dalam menyampaikan kebenaran.

Akhirnya, ketika guru dapat memahami makna mengajar untuk belajar, reputasi dan kualitas diri akan diraih dengan sempurna. Tentunya, mengajar bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, melainkan menyampaikan berbagai ilmu teori dengan kecerdasan hati & semangat tuk memberi.