Asep Sapa’at

Trainer Pendidikan,

Manajer Program Makmal

Lembaga Pengembangan Insani – Dompet Dhuafa

“A teacher who is attempting to teach without inspiring the pupil with a desire to learn is hammering on cold iron”

–Horace Mann—

Apa yang dimaksud guru? Apakah cukup dapat ‘digugu’ dan ‘ditiru’, maka seseorang dinasbihkan sebagai guru? Perjalanan saya membawakan sesi training guru ke berbagai wilayah di Indonesia menuntun saya menemukan makna terdalam atas istilah ‘guru’.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Mbo itu kata UU RI No. 14 Tahun 2005, kalau menurut Anda apa? Jawaban itu saya temukan dari beberapa catatan reflektif guru yang menjadi peserta sesi training guru berikut ini.

“Hari ini saya merasa senang, kesal. Senang karena siswa-siswa sudah banyak yang mampu membaca bahasa arab. Kesal karena siswa-siswa masih ada yang kurang memperhatikan pelajaran, selalu usil terhadap siswa yang lain sehingga mengganggu konsentrasi dalam belajar…”

Perhatikan padanan huruf yang menyusun kata TEACHER, disana ada huruf T–E–A–C–H–E–R. Ungkapan guru di atas dapat saya asosiasikan bahwa TEACHER dapat bermakna E-A-C-H, beberapa susunan huruf yang ada di kata TEACHER. EACH (beberapa) artinya bahwa guru harus berhadapan dengan realita bahwa beberapa siswa berbeda karena mereka unik. Tidak ada satu siswa yang memiliki karakter yang sama atau bahkan persis sama satu dengan lainnya. Ada siswa yang sudah bisa membaca bahasa arab, sebagian lain belum menguasainya. Ada siswa yang lebih senang duduk manis di kursi, tidak sedikit pula yang lebih memilih aktif bergerilya menyusuri seluruh ruangan kelas. Masalah ini dapat diselesaikan jika guru mampu memahami berbagai jenis teori belajar dan karakteristik gaya belajar siswa.

R-E-A-C-T, ya REACT (reaksi). Teacher dapat bermakna pula REACT. Artinya, seorang guru harus dapat memberikan reaksi yang tepat atas setiap sikap yang ditunjukkan siswa di kelas. Mari kita simak refleksi dari dua orang guru berikut ini

“Saya silahkan saja yang main-main, silahkan main. Yang mau belajar, mari belajar!! Akhirnya mereka berhenti sendiri, kemudian mengikuti pelajaran. Rasanya anyep atiku…”

“Ternyata saran Pak Asep dalam pelatihan dulu sangat manjur. Anak-anak sangat senang jika ada yang ramai ditegur dan disapa dengan kata-kata ‘sayang’. Seperti M. Faqih, salah satu siswa saya, dulu dia bandel tetapi sekarang berkurang karena jika bandel aku dekati dan aku panggil/tegur, “Ada apa sayang…”

Luar biasa, menantang, dan hati-hati. Pesan itu saya pikir harus selalu diingat terus oleh Bapak/Ibu guru. Salah merespon tindakan anak dan melakukan reaksi yang salah, jatuhnya kita dapat melakukan malpraktik pendidikan. Contohnya pada kasus M. Faqih, dari gambaran cerita di atas berarti kita dapat mengidentifikasi masalah M. Faqih, yakni pengen dapet perhatian, caper (cari perhatian) githu lho, kata anak muda sekarang. Bukan karena M. Faqih ingin menjadi pengacau di kelas tersebut.

Cari dan pelajari sebanyak mungkin sumber informasi mengenai masalah-masalah yang kerap muncul di kelas, diskusikan dengan rekan sejawat dan kepala sekolah mengenai alternatif solusi yang kita temukan dari sumber informasi, kemudian baru kita mencoba menyelesaikan masalah tersebut dari hasil diskusi dengan rekan sejawat dan kepala sekolah. Lakukan tindakan yang tepat atas setiap masalah yang terjadi di kelas. So, the good teacher can reflect the good react to solve problem in the classroom.

Terakhir, ini sebenarnya makna terdalam yang mesti diungkap dari kata TEACHER. Gordie Howe pernah menyatakan, “Jika Anda tak mencintai pekerjaan Anda, berhentilah, dan berikan kesempatan kepada orang lain yang mencintainya.” Makna ungkapan ini tersirat jelas dari catatan refleksi guru berikut, “Hari ini perasaan nyantai, slow, hati riang, hati bahagia, dan tentunya suasana di kelas jadi bersemangat. Ku merasa, ku sebagai seorang guru jadi berarti, menjelaskan ke siswa, membekali mereka dengan ilmu, dapet pahala, Amin! Di kelas pun, anak-anak ndak terlalu gaduh seperti saban harinya, OK!” Menjadi seorang guru berarti menjalani pekerjaan dengan hati. TEACHER dapat bermakna HEART, H-E-A-R-T.

Jadilah guru yang mampu menginspirasi siswa untuk menjadi diri mereka yang terbaik. Mengajar itu relatif mudah, tetapi mendidik memerlukan kelapangan jiwa dan kesabaran tingkat tinggi untuk mengantar siswa-siswa kita menuju gerbang masa depan yang gemilang.

The Good Teachers Explains, The Mediocre Teachers Demonstrates, and The Great Teachers Inspires. Selamat Menjadi Guru Inspiratif.