GURU TIDAK EFEKTIF

Rina Fatimah
Trainer Makmal Pendidikan

Dalam dunia pendidikan guru memiliki peranan yang strategis diantaranya sebagai pendidik, pengajar, dan sebagai agen of change (agen perubah) bagi para peserta didik. Peranan yang strategis ini menuntut guru untuk memiliki kompetensi yang terintegrasi dengan kepribadiannya. Kepribadian seorang guru memegang peranan penting karena siswa tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan guru, mereka juga belajar dari kepribadian yang ditunjukkan oleh guru. Menurut pandangan lama guru adalah sosok manusia yang digugu dan ditiru. Digugu dalam arti segala ucapannya dapat dipercayai. Ditiru berarti segala tingkah lakunya dapat menjadi teladan bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan ungkapan peribahasa yang mengatakan “guru kencing berdiri, siswa kencing berlari”. Peribahasa ini menggambarkan betapa pribadi seorang guru memberikan pengaruh yang besar terhadap siswa.
Kepribadian Guru
Kepribadian guru yang baik mampu memberikan pengaruh baik dalam proses pembelajaran maupun di luar proses pembelajaran. Namun sebaliknya, kepribadian guru yang buruk dapat menghambat proses pembelajaran. Kepribadian guru dapat tercermin dari kebiasaan yang ditampilkannya setiap hari.
1. Sering meninggalkan kelas
Kegiatan guru meninggalkan kelas sudah sering terjadi di lingkungan sekolah. Di awal proses pembelajaran guru menerangkan materi-materi yang akan disampaikan. Lalu 30 menit berikutnya siswa diberi tugas. Namun, di sela-sela waktu siswa sedang mengerjakan tugas tanpa alasan guru meninggalkan siswa hingga jam belajar usai. Kondisi semacam ini masih banyak ditemui di sekolah-sekolah Indonesia. Bahkan, menemukan sebuah kelas dalam keadaan kosong padahal gurunya ada di ruang guru melakukan aktivitas lain seperti membaca koran, mengobrol, bermain catur mudah ditemui. Akibatnya kondisi kelas gaduh, siswa asyik mengobrol dan tugas pun lalai dikerjakan oleh siswa. Di Akhir pertemuan, jika masih ada waktu guru akan membahasnya atau tugas tersebut menjadi PR (Pekerjaan Rumah).
Sebenarnya ketika siswa sedang mengerjakan tugas, siswa membutuhkan kehadiran seorang guru untuk menjelaskan soal-soal yang mungkin tak bisa dimengerti atau sulit diselesaikan. Guru seorang manajer kelas bertugas sebagai pengatur siswanya atau pengendali siswanya. Kelas yang tertib dambaan setiap siswa supaya pembelajaran menjadi efektif.
2. Kurang persiapan dalam pembelajaran
Layaknya seorang manajer, guru harus memiliki perencanaan sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Guru yang tidak siap dalam perencanaan pembelajaran akan menghasilkan pembelajaran yang menjenuhkan dan membosankan bagi siswa. Selain itu, guru yang kurang persiapan pembelajaran akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan kelas dan kurang menguasai materi yang akan disampaikan. Siswa pada umumnya mampu membaca bahasa tubuh guru yang kurang persiapan.
Pembelajaran Efektif
Pembelajaran efektif merupakan indikator keberhasilan guru dalam mengelola kelas. Guru sebagai manajer kelas memiliki kekuasaan untuk menciptakan pembelajaran dengan melibatkan seluruh siswa secara aktif. Guru berkewajiban memberikan pembelajaran yang berkualitas, sistematis, dan efektif untuk siswanya. Tak lupa pula membangun interaksi positif antara guru dengan siswa. Interaksi positif tersebut berupa pemberian motivasi kepada siswa, dan guru bertindak sebagai problem solver bagi siswa yang memiliki masalah belajar.
Pembelajaran efektif menghasilkan peningkatan kualitas pembelajaran baik dari segi proses maupun hasil. Dari segi proses, siswa terlibat secara aktif baik fisik, mental, maupun social, dan semangat belajar siswa menjadi tinggi. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran efektif akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang positif pada siswa. Tidak ada pilihan lain bagi guru selain menciptakan pembelajaran yang efektif bagi siswanya. Baik-buruknya kualitas siswa berada di dalam genggaman guru-guru. Bisakah guru-guru Indonesia menghasilkan siswa yang berkualitas baik? Semoga.