Januari 2010


Asep Sapa’at

Trainer Pendidikan,

Manajer Program Makmal

Lembaga Pengembangan Insani – Dompet Dhuafa

“A teacher who is attempting to teach without inspiring the pupil with a desire to learn is hammering on cold iron”

–Horace Mann—

Apa yang dimaksud guru? Apakah cukup dapat ‘digugu’ dan ‘ditiru’, maka seseorang dinasbihkan sebagai guru? Perjalanan saya membawakan sesi training guru ke berbagai wilayah di Indonesia menuntun saya menemukan makna terdalam atas istilah ‘guru’.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Mbo itu kata UU RI No. 14 Tahun 2005, kalau menurut Anda apa? Jawaban itu saya temukan dari beberapa catatan reflektif guru yang menjadi peserta sesi training guru berikut ini.

“Hari ini saya merasa senang, kesal. Senang karena siswa-siswa sudah banyak yang mampu membaca bahasa arab. Kesal karena siswa-siswa masih ada yang kurang memperhatikan pelajaran, selalu usil terhadap siswa yang lain sehingga mengganggu konsentrasi dalam belajar…”

Perhatikan padanan huruf yang menyusun kata TEACHER, disana ada huruf T–E–A–C–H–E–R. Ungkapan guru di atas dapat saya asosiasikan bahwa TEACHER dapat bermakna E-A-C-H, beberapa susunan huruf yang ada di kata TEACHER. EACH (beberapa) artinya bahwa guru harus berhadapan dengan realita bahwa beberapa siswa berbeda karena mereka unik. Tidak ada satu siswa yang memiliki karakter yang sama atau bahkan persis sama satu dengan lainnya. Ada siswa yang sudah bisa membaca bahasa arab, sebagian lain belum menguasainya. Ada siswa yang lebih senang duduk manis di kursi, tidak sedikit pula yang lebih memilih aktif bergerilya menyusuri seluruh ruangan kelas. Masalah ini dapat diselesaikan jika guru mampu memahami berbagai jenis teori belajar dan karakteristik gaya belajar siswa.

R-E-A-C-T, ya REACT (reaksi). Teacher dapat bermakna pula REACT. Artinya, seorang guru harus dapat memberikan reaksi yang tepat atas setiap sikap yang ditunjukkan siswa di kelas. Mari kita simak refleksi dari dua orang guru berikut ini

“Saya silahkan saja yang main-main, silahkan main. Yang mau belajar, mari belajar!! Akhirnya mereka berhenti sendiri, kemudian mengikuti pelajaran. Rasanya anyep atiku…”

“Ternyata saran Pak Asep dalam pelatihan dulu sangat manjur. Anak-anak sangat senang jika ada yang ramai ditegur dan disapa dengan kata-kata ‘sayang’. Seperti M. Faqih, salah satu siswa saya, dulu dia bandel tetapi sekarang berkurang karena jika bandel aku dekati dan aku panggil/tegur, “Ada apa sayang…”

Luar biasa, menantang, dan hati-hati. Pesan itu saya pikir harus selalu diingat terus oleh Bapak/Ibu guru. Salah merespon tindakan anak dan melakukan reaksi yang salah, jatuhnya kita dapat melakukan malpraktik pendidikan. Contohnya pada kasus M. Faqih, dari gambaran cerita di atas berarti kita dapat mengidentifikasi masalah M. Faqih, yakni pengen dapet perhatian, caper (cari perhatian) githu lho, kata anak muda sekarang. Bukan karena M. Faqih ingin menjadi pengacau di kelas tersebut.

Cari dan pelajari sebanyak mungkin sumber informasi mengenai masalah-masalah yang kerap muncul di kelas, diskusikan dengan rekan sejawat dan kepala sekolah mengenai alternatif solusi yang kita temukan dari sumber informasi, kemudian baru kita mencoba menyelesaikan masalah tersebut dari hasil diskusi dengan rekan sejawat dan kepala sekolah. Lakukan tindakan yang tepat atas setiap masalah yang terjadi di kelas. So, the good teacher can reflect the good react to solve problem in the classroom.

Terakhir, ini sebenarnya makna terdalam yang mesti diungkap dari kata TEACHER. Gordie Howe pernah menyatakan, “Jika Anda tak mencintai pekerjaan Anda, berhentilah, dan berikan kesempatan kepada orang lain yang mencintainya.” Makna ungkapan ini tersirat jelas dari catatan refleksi guru berikut, “Hari ini perasaan nyantai, slow, hati riang, hati bahagia, dan tentunya suasana di kelas jadi bersemangat. Ku merasa, ku sebagai seorang guru jadi berarti, menjelaskan ke siswa, membekali mereka dengan ilmu, dapet pahala, Amin! Di kelas pun, anak-anak ndak terlalu gaduh seperti saban harinya, OK!” Menjadi seorang guru berarti menjalani pekerjaan dengan hati. TEACHER dapat bermakna HEART, H-E-A-R-T.

Jadilah guru yang mampu menginspirasi siswa untuk menjadi diri mereka yang terbaik. Mengajar itu relatif mudah, tetapi mendidik memerlukan kelapangan jiwa dan kesabaran tingkat tinggi untuk mengantar siswa-siswa kita menuju gerbang masa depan yang gemilang.

The Good Teachers Explains, The Mediocre Teachers Demonstrates, and The Great Teachers Inspires. Selamat Menjadi Guru Inspiratif.

Iklan

GURU TIDAK EFEKTIF

Rina Fatimah
Trainer Makmal Pendidikan

Dalam dunia pendidikan guru memiliki peranan yang strategis diantaranya sebagai pendidik, pengajar, dan sebagai agen of change (agen perubah) bagi para peserta didik. Peranan yang strategis ini menuntut guru untuk memiliki kompetensi yang terintegrasi dengan kepribadiannya. Kepribadian seorang guru memegang peranan penting karena siswa tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan guru, mereka juga belajar dari kepribadian yang ditunjukkan oleh guru. Menurut pandangan lama guru adalah sosok manusia yang digugu dan ditiru. Digugu dalam arti segala ucapannya dapat dipercayai. Ditiru berarti segala tingkah lakunya dapat menjadi teladan bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan ungkapan peribahasa yang mengatakan “guru kencing berdiri, siswa kencing berlari”. Peribahasa ini menggambarkan betapa pribadi seorang guru memberikan pengaruh yang besar terhadap siswa.
Kepribadian Guru
Kepribadian guru yang baik mampu memberikan pengaruh baik dalam proses pembelajaran maupun di luar proses pembelajaran. Namun sebaliknya, kepribadian guru yang buruk dapat menghambat proses pembelajaran. Kepribadian guru dapat tercermin dari kebiasaan yang ditampilkannya setiap hari.
1. Sering meninggalkan kelas
Kegiatan guru meninggalkan kelas sudah sering terjadi di lingkungan sekolah. Di awal proses pembelajaran guru menerangkan materi-materi yang akan disampaikan. Lalu 30 menit berikutnya siswa diberi tugas. Namun, di sela-sela waktu siswa sedang mengerjakan tugas tanpa alasan guru meninggalkan siswa hingga jam belajar usai. Kondisi semacam ini masih banyak ditemui di sekolah-sekolah Indonesia. Bahkan, menemukan sebuah kelas dalam keadaan kosong padahal gurunya ada di ruang guru melakukan aktivitas lain seperti membaca koran, mengobrol, bermain catur mudah ditemui. Akibatnya kondisi kelas gaduh, siswa asyik mengobrol dan tugas pun lalai dikerjakan oleh siswa. Di Akhir pertemuan, jika masih ada waktu guru akan membahasnya atau tugas tersebut menjadi PR (Pekerjaan Rumah).
Sebenarnya ketika siswa sedang mengerjakan tugas, siswa membutuhkan kehadiran seorang guru untuk menjelaskan soal-soal yang mungkin tak bisa dimengerti atau sulit diselesaikan. Guru seorang manajer kelas bertugas sebagai pengatur siswanya atau pengendali siswanya. Kelas yang tertib dambaan setiap siswa supaya pembelajaran menjadi efektif.
2. Kurang persiapan dalam pembelajaran
Layaknya seorang manajer, guru harus memiliki perencanaan sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Guru yang tidak siap dalam perencanaan pembelajaran akan menghasilkan pembelajaran yang menjenuhkan dan membosankan bagi siswa. Selain itu, guru yang kurang persiapan pembelajaran akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan kelas dan kurang menguasai materi yang akan disampaikan. Siswa pada umumnya mampu membaca bahasa tubuh guru yang kurang persiapan.
Pembelajaran Efektif
Pembelajaran efektif merupakan indikator keberhasilan guru dalam mengelola kelas. Guru sebagai manajer kelas memiliki kekuasaan untuk menciptakan pembelajaran dengan melibatkan seluruh siswa secara aktif. Guru berkewajiban memberikan pembelajaran yang berkualitas, sistematis, dan efektif untuk siswanya. Tak lupa pula membangun interaksi positif antara guru dengan siswa. Interaksi positif tersebut berupa pemberian motivasi kepada siswa, dan guru bertindak sebagai problem solver bagi siswa yang memiliki masalah belajar.
Pembelajaran efektif menghasilkan peningkatan kualitas pembelajaran baik dari segi proses maupun hasil. Dari segi proses, siswa terlibat secara aktif baik fisik, mental, maupun social, dan semangat belajar siswa menjadi tinggi. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran efektif akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang positif pada siswa. Tidak ada pilihan lain bagi guru selain menciptakan pembelajaran yang efektif bagi siswanya. Baik-buruknya kualitas siswa berada di dalam genggaman guru-guru. Bisakah guru-guru Indonesia menghasilkan siswa yang berkualitas baik? Semoga.

STRATEGI PEMBELAJARAN IPA UNTUK SEKOLAH DASAR
Evi Afifah Hurriyati,M.Si
Trainer Makmal Pendidikan

Kecakapan Proses
IPA tidak dapat diajarkan sebagai suatu materi pengetahuan, yang disampaikan dengan metoda ceramah,melainkan melalui pembelajaran siswa aktif. Model pembelajaran penemuan (discovery-inquiry) merupakan pembelajaran siswa aktif, dimana siswa belajar dan berlatih untuk memiliki dan menguasai konsep-konsep dasar sains secara tuntas (mastery learning).
Tujuan pendidikan sains di SD hendaknya lebih menekankan kepada pemilikan kecakapan proses atau kecakapan generik dibandingkan dengan penguasaan konsep, karena kecakapan generik merupakan prasyarat yang harus dimiliki siswa, agar siswa dapat mempelajari bidang studi lainnya sesuai dengan minatnya. Kecakapan generic yang dimiliki siswa SD akan berfunsi menjadi alat bagi mereka untuk menggali konsep-konsep keilmuan yang diminatinya, pada jenjang pendidikan berikutnya
Adapun kecakapan proses yang harus dimiliki siswa adalah :
1. Kecakapan observasi
2. Kecakapan klasifikasi
3. Kecakapan Pengukuran
4. Kecakapan memprediksi
5. Kecakapan inferensi (pengambilan kesimpulan)
6. Kecakapan membuat hipotesa
7. Kecakapan komunikasi
Selain penguasaan konsep dan kecakapan proses yang merupakan keterampilan ilmiah, siswa juga seharusnya memperoleh nilai religius, karena pada dasarnya IPA adalah bagaimana mempelajari ciptaan Allah swt. Rasa keingintahuan untuk mengamati fenomena alam, nilai kejujuran harus melekat pada diri seorang saintis kecil.

Model Inquiry
Ada banyak model pembelajaran sain atau IPA. Diantaranya model inquiry. Pembelajaran IPA berbasis inkuiri dideskripsikan dengan mengajak siswa dalam kegiatan yang akan mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA sebagaimana para saintis mempelajari dunia alamiah.
Trowbridge, et al. (1973) mengajukan tiga tahap pembelajaran berbasis inkuiri. Tahap pertama adalah belajar diskoveri, yaitu guru menyusun masalah dan proses tetapi memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi hasil alterna-tif. Tahap kedua inkuiri terbimbing (guided inquiry), yaitu guru me-ngajukan masalah dan siswa menentukan penyelesaian dan prosesnya. Tahap ketiga, adalah inkuiri terbuka (open inquiry), yaitu guru hanya memberikan konteks masalah sedangkan siswa mengindentifikasi dan memecahkannya.
Menurut NRC (1996) pembelajaran berbasis inkuiri meliputi kegiatan observasi, mengajukan pertanyaan, memeriksa buku-buku dan sumber-sumber lain untuk melihat informasi yang ada, merencanakan penyelidikan, me-rangkum apa yang sudah diketahui dalam bukti eksperimen, menggunakan alat untuk mengumpulkan, menganalisis dan interpretasi data, mengajukan jawaban, penjelasan, prediksi, serta mengkomunikasikan hasil. Dari pandangan pedagogi, pengajaran IPA berorientasi inkuiri lebih mencerminkan model belajar konstruktivis. Belajar adalah hasil perubahan mental yang terus mene-rus sebagaimana kita membuat makna dari pengalaman kita.
Menurut NSTA & AETS (1998) jantungnya inkuiri adalah kemampuan mengajukan pertanyaan dan mengidentifikasi penyelesaian masalah. Karena itu dalam pembelajaran seharusnya guru lebih banyak mengajukan pertanya-an open ended dan lebih banyak merangsang diskusi antar siswa. Keterampilan bertanya dan mendengarkan secara efektif penting untuk keberhasilan mengajar.
Akhirnya, berbagai model, pendekatan atau strategi apapun dalam pembelajaran, harus disajikan guru dalam kemasan yang menarik sehingga membangun minat siswa untuk belajar. Jika guru,sudah menerapkan 3 prinsip strategi pembelajaran IPA, yaitu memahami konsep ilmiah, keterampilan ilmia dan nilai religius dengan model pembelajaran IPA yang menggugah selera belajar siswa, maka nilai akademis pun insya Allah akan diraih.