Juli 2009


Menjadi Guru Kreatif

Rina Fatimah, S.Sos
Trainer Makmal Pendidikan

Menjadi guru merupakan profesi yang mulia namun memiliki tantangan yang besar. Mengapa? Karena kualitas pendidikan di Indonesia saat ini masih dinilai rendah. Hal ini terlihat dari posisi kualitas pendidikan Indonesia berada diperingkat 53 dari 55 negara yang disurvei World Competitiveness Year Book pada tahun 2007. Peran guru sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan, kini perlu diubah menjadi fasilitator bagi siswa. Saat ini guru harus mampu mengelola, memfasilitasi siswanya yang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda serta kecerdasan yang berbeda dan mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Metode belajar ceramah yang sampai saat ini masih diandalkan oleh guru harus diganti dengan metode belajar aktif dan belajar kolaboratif atau metode belajar lainnya yang merupakan gagasan atau ide dari guru. Untuk mewujudkannya diperlukan kecerdasan kreatif dari seorang guru.
Dalam buku The Power of Creative Intelligence, yang dikarang oleh Tony Buzan mendefinisikan kecerdasan kreatif adalah kemampuan untuk memunculkan ide-ide baru, menyelesaikan masalah dengan cara yang khas, dan untuk lebih meningkatkan imajinasi, perilaku, dan produktivitas. Kecerdasan kreatif melibatkan sejumlah faktor dimana faktor-faktor tersebut bisa dipelajari dan dikembangkan sehingga dapat meningkatkan kreatifitas. Salah satu faktornya yakni kelancaran dan fleksibilitas. fleksibilitas yakni kemampuan untuk memproduksi berbagai gagasan, kemudian beralih dari satu cara ke cara lain dengan menggunakan berbagai strategi. Cara mencapai fleksibilitas berpikir yakni dengan cara mengubah sudut pandang. Contohnya Maria Montessori melihat bahwa segala sesuatu yang ada di sekolah, dibangun, diajarakan dari sudut pandang orang dewasa, kursi dan mejanya berukuran besar, kasar dan berat, susunannya bersifat kaku dan murid-muridnya harus berperilaku mengikuti peraturan militer, pembelajaran tanpa mengikutsertakan unsur-unsur alam. Intinya Maria Montessori melihat tidak adanya kreativitas dalam belajar pada masa awal 1900-an. Sejak itulah Maria menempatkan dirinya ke dalam benak anak dan menciptakan dunia baru bagi anak. Alhasil, pada masa itu terjadilah perubahan dunia pendidikan anak pada masa itu. Saat ini sudah banyak sekolah-sekolah Maria Montessori di Indonesia. Sekolah Maria Montessori menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain terutama dalam metode pembelajaran pendidikan anak usia dini. Fleksibilitas berpikir perlu dimiliki oleh seorang guru. Ketika guru menyusun rancangan pembelajaran, guru bisa menempatkan dirinya sebagai seorang siswa dan mulai mencari apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh siswanya.
Sedangkan, kelancaran didefinisikan sebagai kemampuan kecepatan mengeluarkan gagasan baru. Cara efektif mengembangkan kelancaran otak untuk menghasilkan gagasan dengan melakukan latihan brainstorming yakni memunculkan sebanyak mungkin gagasan yang berkaitan dengan suatu masalah tanpa mempertimbangkan semua penilaian baik atau buruk, praktis atau tidak praktis. Latihan brainstorming ini dapat dilakukan secara kelompok. Jadi bagi guru-guru yang merasa kesulitan menemukan gagasan atau ide pembelajaran, bisa melakukan brainstorming bersama untuk mencari ide-ide dahsyat pembelajaran ataupu membuat gagasan spektakular di tahun ajaran baru sehingga siswa tidak bosan dan jenuh dengan metode pembelajaran yang itu-itu saja. Semoga pendidikan Indonesia semakin berkualitas karena hadirnya guru-guru kreatif.

Iklan

Ciptakan Motivasi Siswa Melalui Display
Rina Fatimah
Trainer Makmal Pendidikan
Lembaga Pengembangan Insani DD Republika

Selamat pagi! Semangat Pagi! Kalimat pengawal workshop saya. Hari ini saya mendapat tugas mengisi workshop di SDN Pondok Udik, salah satu sekolah pendampingan Makmal Pendidikan di Bogor. Workshop hari ini merupakan lanjutan dari pelatihan manajemen kelas (salah satu materinya tentang memaknai hasil karya siswa melalui display). Bedanya dengan pelatihan, hari ini saya akan mengajak guru-guru untuk mengenal lebih lanjut tentang bagaimana memajangkan hasil karya siswa menjadi lebih menarik dan bermakna.
Sebelum memasuki materi workshop, sebagai pengantar saya menyampaikan sebuah tulisan yang diungkapkan oleh Kimberly Steele “sebuah ruangan tanpa papan informasi terasa gersang. Para siswa ingin sekali memiliki sesuatu yang dapat dilihat pada dinding di sekitarnya. Melalui papan informasi mereka dapat belajar, menemukan sebuah informasi, terinspirasi, dan menambah perasaan nyaman di dalam kelas”. Lalu saya tanyakan kepada guru-guru,” bagaimana dengan ruangan kelas ini?” Salah seorang guru menjawab “gersang”. Mengapa gersang? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benak saya.
Dalam sebuah survey nasional di Amerika yang melakukan survei terhadap seribu siswa yang berusia 13 – 17 tahun, para murid tersebut diminta untuk menuliskan karakter penting yang harus dipunyai oleh guru. Salah satu hasilnya yakni 73,7% siswa menyebutkan citra guru terbaik yakni guru yang mampu membuat kelas menjadi menarik. Menjadikan kelas yang menarik bukan sekedar bagaimana seorang guru tersebut mengajar tetapi bagaimana pula seorang guru mampu menciptakan sebuah ruangan yang nyaman dan menarik bagi siswanya sehingga menambah motivasi belajar siswa.
Setelah penjelasan jenis-jenis dan unsur-unsur display lanjut ke kegiatan mendisplay. Saya mengambil salah satu materi pelajaran matematika yakni menjumlahkan bilangan hingga 20. Sebelumnya saya meminta guru-guru untuk membuat daun kemudian dilanjutkan dengan menjiplak taplak tangan pada kertas kosong. Masing-masing jari bertuliskan penjumlahan bilangan. Kegiatan terakhir, guru diminta untuk menggunting jiplakan telapak tangannya. Lalu saya bertanya kembali “apakah dengan menempel langsung hasil karya siswa pada papan display sudah cukup menarik?”, serentak guru menjawab “belum”. Saya pun mulai membuat batang pohon dari gulungan kertas koran lalu di cat coklat. Kemudian saya meminta guru-guru untuk menempelkan daun-daun layaknya seperti sebuah pohon. Terakhir saya menempelkan hasil karya guru-guru. Celoteh yang terucap dari salah satu guru “wah…ternyata tidak sulit ya”. Yup, betul sekali mendisplay tidaklah sulit. Berikut beberapa tip yang saya berikan kepada guru-guru untuk memudahkan membuat display:
a.Adanya perencanaan display. Perencanaan display memuat tanggal, mata pelajaran, kelas, uraian yang berisikan indikator, alat-alat yang dibutuhkan seperti lem, gunting, karton dan lain-lain, langkah kerja, judul display, dan sketsa gambar hasil display;
b.Tidak tergantung pada barang-barang baru, tetapi pemanfatan barang-barang bekas seperti koran bekas, kertas bekas, kardus bekas dan lain-lain atau benda-benda dari alam seperti daun, pelepah pisang, jeruk, dan lain-lain untuk kegiatan display;
c.Agar display terlihat lebih menarik diperlukan sentuhan akhir dari guru yakni dengan memberikan hiasan.
Bagaimana Bapak dan Ibu guru, sudahkah kelas Bapak dan Ibu guru menarik serta nyaman bagi siswa? Sudahkan hasil karya siswa dipajang hari ini?