ZAINAL UMURI
TRAINER PENDIDIKAN
LPI – DD REPUBLIKA – CIPUTAT

Sembilan dari sepuluh pintu rizki dengan perniagaan ( Umar bin Khatab )

Keterbatasan finansial, itulah gambaran dari profesi guru dan sekolah, memang kenyataannya ada saja guru yang kelihatan lebih makmur, namun tetap saja data di lapangan menunjukan banyaknya guru yang masih hidup sangat sederhana, apalagi mereka yang menjadi guru bakti atau honorer sekolah. Keberhasilan dalam pendidikan seringkali dihubungkan dengan jumlah keuangan / dana yang tersedia. Persoalan lainnya, keterbatasan sekolah untuk mencari usaha-usaha yang tidak memberatkan siswa, ujung-ujungnya, jikapun ada usaha sekolah berakhir pada tingginya iuran ( atau apalah namanya ) yang harus di bayar oleh orang tua siswa.
Sebuah survei yang dilaksanakan oleh Center for Entrepreneurial Leadership menemukan 69 % dari siswa SMA berminat memulai bisnisnya sendiri. Walaupun , sekitar 86 % dari siswa menilai bahwa pengetahuan bisnis mereka sangat rendah / sedang-sedang saja ( Jeff Madura ;P. Bisnis ). Data Diknas menunjukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah minat wirausaha (Balitbang Diknas 2003 ).
Dari data di atas menunjukan hal yang wajar jika sekolah belum optimal dalam memanfaatkan potensi dan peluang bisnis yang bisa dilakukan dilingkungan sekolah. Para guru sudah terfokus pada pembelajaran dan tanggung jawab mengajarnya, belum lagi kendala – kendala yang timbul, seperti keterbatasan kemampuan siswa, nilai UN yang semakin lama semakin meningkat, gedung sekolah yang hampir roboh, Perilaku oknum guru yang tidak memberi teladan dan banyak hal lainnya, yang membuat mereka tidak punya waktu berpikir mencari peluang usaha sekolah.
Namun, tanpa mengabaikan seluruh permasalah yang ada dan keterbatasan minat para guru, hendaknya sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat memberikan kontribusi untuk membiayai operasional sekolah, minimal menghasilkan dana untuk membantu kegiatan-kegiatan sekolah dan syukur jika sampai dapat memberikan kontribusi keuangan pada guru-gurunya.
Shifting Business Paradigm di sekolah, membuka wawasan sekolah dalam menciptakan peluang bisnis namun tetap mengindahkan aturan-aturan yang berlaku. Lahirnya bisnis sekolah sebagai solusi untuk membantu operasional sekolah dan menambah penghasilan guru, tapi ingat!, munculnya bisnis ini jangan sampai merugikan hak-hak siswa dan orang tua dalam pendidikan. Jangan sampai menyelesaikan sebuah masalah tetapi menimbulkan masalah baru. Terbentuknya bisnis sekolah diharapkan bukan menjadikan siswa konsumtif, tetapi harus memberi pengaruh positif seperti membelanjakan uang sesuai dengan kebutuhan dan prioritasnya.