Agung Pardini

Koordinator Sahabat Guru Indonesia (SGI)
Trainer Makmal Pendidikan
LPI – Dompet Dhuafa Republika

Murid-murid terbaik senantiasa dilahirkan dari pengajaran para guru terbaik. Guru yang terbaik merupakan figur inspiratif yang selalu dikenang kehebatannya oleh semua muridnya. Guru laksana rambu-rambu dan petunjuk jalan yang selalu mengarahkan dengan benar murid-muridnya agar menjadi pengendara yang baik dalam menuju tujuan kesuksesan di penghujung masa depannya.
Guru terbaik adalah guru yang sangat memahami bahwa keberadaan jiwa-raganya adalah sebagai seorang pendidik bagi generasi baru yang kelak akan menorehkan lembaran-lembaran kebanggan bagi bangsa ini di masa mendatang. Mendidik selalu diformatnya sebagai bisnis investasi yang paling menguntungkan bagi kelangsungan sebuah peradaban manusia. Sebab realitas yang akan terjadi di esok hari tidak lain merupakan buah dari tanaman yang hari ini sedang disemai oleh petani-petani berdedikasi di kebun-kebun kreatif. Dan petani itu tentunya adalah guru.
Mendidik murid tak ubahnya seperti merawat sekuntum bunga yang kuncupnya bersiap-siap untuk mekar merekah dan menebar aroma keharuman ke seantero kebun kehidupan. Bunga-bunga tadi harus terus menerus berkembang bebas yang warna-warni kelopaknya senantiasa menjadi penyempurna wajah taman-taman nusantara. Sang petani jiwa tentunya tak pernah rela bila kembang-kembangnya yang terus bermekaran itu pada akhirnya harus berakhir lunglai di pojok ruang sebagai penghias semata.
Sebagai seorang pendidik yang utama sudah barang tentu akan selalu mengerti tentang bagaimana caranya memperlakukan setiap pribadi pembelajar yang saling berbeda ‘spesies’ berpikirnya itu. Persepsi positif akan selalu terpancar dari wajahnya walaupun harus mengajar murid-murid yang bermasalah sekalipun, karena ia faham bahwa setiap anak memang dilahirkan dengan beragam keunikan.
Tapi amat sayang seribu malang, kemanatah lagi petani-petani jiwa itu? Yang ada terlihat kini hanyalah petani-petani kognisi yang gemarnya menanam benih-benih unggul ciptaan laboratorium instan yang baru bisa tumbuh dengan semprotan pestisida ilmu pengetahuan dan teknologi. Pupuk-pupuk Afeksi kini pun sudah lama tak dipakai lagi, dianggapnya bahan dasar pupuk ini adalah sesuatu yang tak bisa diukur efektifitas kegunaannya. Akhirnya muncullah postulat sesat bahwa sesuatu yang tak bisa diukur sebaiknya ditinggalkan saja.
Akibatnya, petani-petani yang sesungguhnya penuh bakti kepada bunda pertiwi kini hanya bisa merintih sepi ketika melihat kenyataan bahwa tanaman kebanggaanya lebih banyak hapal nama-nama selebritis picisan ketimbang keagungan nama-nama pahlawan kusuma bangsa. Film-film terbaru jauh lebih menarik untuk diminati dibanding buku-buku terbaru. Belajar dipandang sebagai pekerjaan yang membebani bukan sebagai suatu kebutuhan yang menyenangkan. Inilah tantangan berat yang mesti dihadapi para petani jiwa itu kini, ketika tanah tak subur lagi, dan ketika musim tanam tak bisa ditebak lagi, ditambah lagi tanaman yang dirawat mudah layu semangat dan rewelnya setengah mati.
Bahkan di beberapa sekolah, umumnya sekolah non-pemerintah, masih saja ada murid-murid belia yang tak tahu diri, memandang guru dengan picik menggunakan sebelah matanya yang sesunggunya belum sempurna itu. Dianggapnya guru adalah profesi yang sama dengan layaknya para pekerja bayaran. Uang SPP yang telah mereka bayarkan dianggapnya telah cukup mengganti ilmu-ilmu yang telah ditanam oleh guru-gurunya. Dikiranya uang orang tua meraka bisa membalas segala macam budi guru-guru yang telah berperan besar mengalirkan darah-darah kemuliaan ilmu ke dalam otak-otak mereka yang sebelumnya kerdil. Para murid ini mungkin tak pernah paham tentang tangisan lara para petani jiwa dibalik kehebatannya di muka kelas.
Ironi menyakitkan. Inilah zaman kejayaan kaum materialis pemimpi yang telah berhasil merasuki anak-anak didik bangsa ini. Guru hanya dihargai dari lamanya mereka berbicara di kelas, bukan dari panjang, lebar dan tingginya ilmu yang telah mereka hujamkan.
Guru Indonesia adalah profesi yang paling memprihatinkan, karena seringkali apa yang mereka berikan tidak pernah sepadan dengan apa yang mereka dapatkan. Disparitas inilah yang seringkali mengusik nurani guru yang sesungguhnya juga sama-sama manusia. Ingin sekali mereka menjerit dengan kerasnya, tapi percuma saja apabila yang mereka ajak bicara itu buta dan tuli hati.
Jangan biarkan para ‘petani-petani jiwa’ itu mati di ladang-ladang garapannya sendiri, sedangkan yang lain tengah asyik menikmati hasil-hasil panennya….