Guru, sering disandarkan pada tagline pahlawan tanpa tanda jasa. Jangankan tanda jasa, momentum sejarah kepahlawanannya-pun sering kali absurd dalam ingatan kita. Adakah sesungguhnya sebuah momentum, sehingga guru memiliki sebuah hari yang bersejarah ? adakah sebuah romantisme masa lalu yang diidentifikasi sebagai goresan kepahlawan sang guru ?

Sebagaimana November, bulan kepahlawan bagi bangsa Indonesia. Berlatar sebuah pertempuran heroik melibatkan ribuan pejuang bangsa yang ingin terbebas dari segala bentuk penjajahan fisik. Satu bulan sebelumnya, Oktober, dijadikan momentum oleh bangsa ini sebagai pertanda awal pergerakan ditandai dengan sumpah pemuda yang menyatakan untuk bersatu padu memperjuang bangsa yang memiliki identitas yang kuat yaitu Indonesia.

Hari guru ? ditetapkan bukan berlandaskan sebuah momentum sejarah yang penuh heroisme atau romantisme yang terjadi pada masa lalu. Hari guru yang diperingati setiap tanggal 25 November, nyaris tanpa momentum berarti, kecuali berdirinya PGRI tahun 1945. Tak banyak yang bisa diungkap dalam sejarah PGRI tersebut, melainkan sarat dengan kepentingan-kepentingan pemerintah. Belumlah cukup menjawab, apa sebenarnya yang dijadikan momentum sehingga guru disandangkan predikat pahlawan ?

Jika ditanya, momentum apa yang membuat kita tersadar untuk mencintai orang tua atau anak kita ? Pastilah setiap orang memiliki jawaban yang berbeda-beda, namun memiliki konklusi yang sama. Orang tua yang telah membesarkan kita, sangat layak kita hormati dan muliakan. Anak yang telah kita bina memiliki keunikan masing-masing sehingga layak dicintai apa adanya.

Demikian pula halnya kenangan kita terhadap guru. Setiap kita memiliki pengalaman yang berbeda dengan tingkatan kualitas yang berbeda pula. Tetapi momentum itu seringkali membuat kita bergumam dalam hati, ”Merekalah para guru yang telah banyak memberikan kita bekal atau bahkan menghadirkan sebuah insprasi.”

Meskipun momentum itu berbeda-beda bentuk dan waktunya. Momentum itu hadir, bahkan sering muncul. Sehingga Momentum itu tak lagi perlu dipertanyakan. Dia selalu ada dan hadir kembali mengingatkan kita. Mengingatkan akan sebuah sumbangsih, sebuah kemuliaan, sebuah motivasi dan harapan, sebuah pengorbanan, sebuah ketulusan dan kegigihan yang mungkin baru tersadar, di saat-saat hari guru diperingati.

Inilah yang kemudian disebut sebagai pengalaman bathin, karena momentum itu ada dalam wilayah yang sangat pribadi, sehingga setiap orang mengakui eksistensi para guru, meskipun belum semuanya menghargai guru dengan selayaknya.

Sekali lagi, karena momentum kepahlawanan sang guru ada dalam setiap diri kita masing-masing, maka kitalah yang tahu persis, bagaimana menghargai mereka. Apakah penghargaan kita akan setulus perhatian mereka, apakah akan segigih pengorbanan mereka, apakah akan sebesar jiwa mereka, yang telah berpeluh-peluh membebaskan kita dan anak bangsa lainnya dari penjajahan kebodohan ?

Jangan-jangan penghargaan itu hanya sebatas syair,”semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku, sebagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu.” itupun terakhir kali kita nyanyikan saat momentum kelulusan di sekolah dulu. Wallahu’alam (Ahmad Fikri)