Asep Sapa’at, Trainer Pendidikan, Peneliti Lembaga Pengembangan Insani, Dompet Dhuafa Republika

Kegagalan terbesar dari sistem pendidikan kita bukan terletak pada masalah lemahnya pendidikan mencerdaskan rakyat, akan tetapi terletak pada masalah ketidakmampuan pendidikan menyadarkan rakyat terhadap permasalahan hidup yang nyata”

Makna kata ‘pendidikan’ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Secara singkat, pendidikan dapat dimaknai sebagai sebuah proses rekayasa pemikiran melalui kegiatan terencana dan sistematis untuk mengubah tingkah laku seseorang melalui pengalaman nyata.

Andrias Harefa, dalam bukunya Menjadi Manusia Pembelajar, menyatakan bahwa dengan pendidikan, peserta didik hendaknya bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri, semakin mengenal ‘diri’, semakin jujur dengan diri sendiri, semakin otentik, dan menjadi semakin unik tak terbandingkan. Inilah seharusnya produk utama profil peserta didik yang dihasilkan dari proses penyelenggaraan sistem pendidikan bangsa kita.

Idealnya, profil sumber daya manusia Indonesia yang tangguh hanya dapat terwujud melalui misi pendidikan yang berfokus pada pemberdayaan 3 keterampilan (skill) peserta didik, yaitu learning skill, thinking skill, living skill.

Learning skill yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kemampuan untuk mengembangkan diri melalui proses belajar berkelanjutan menuju kualitas pribadi yang lebih baik. Thinking skill merupakan keterampilan untuk pengambilan keputusan dan pemecahan masalah dengan menggunakan keterampilan berpikir untuk menghasilkan sosok sumber daya manusia dengan karakter kuat. Living skill merupakan keterampilan hidup yang terdiri dari sikap bertanggung jawab, memiliki daya juang, terampil membangun dan memelihara hubungan sosial, kematangan emosi, serta kemampuan untuk mengelola potensi diri.

Kabar buruknya, kegiatan pembelajaran yang seharusnya menjadi tempat beraktualisasi diri bagi peserta didik untuk menjadi manusia pembelajar dan pemecah masalah kurang dikembangkan secara optimal.

Ada beberapa catatan menarik yang mesti dicermati terkait adanya kesenjangan sistem pembelajaran di sekolah yang bertolak belakang dengan tuntutan dunia nyata yang kelak akan dihadapi peserta didik. Pertama, kecenderungan umum yang sering terjadi, proses pembelajaran didominasi dengan aktivitas komunikasi satu arah, dari guru kepada siswa. Hampir jarang sekali guru mendesain kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan melalui pengalaman nyata. Implikasinya, siswa menjadi sangat menguasai teori tanpa mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Kedua, keberhasilan atau kegagalan anak ditentukan oleh skor dan nilai mata pelajaran. Ketika proses mengevaluasi prestasi siswa sesuai prosedur yang benar, hal itu masih dapat diterima dan dipertanggungjawabkan. Kenyataannya, tidak jarang proses mengevaluasi siswa tidak mampu mencerminkan kompetensi siswa yang otentik. Padahal, fakta lapangan hanya akan mengakui siswa yang mampu menunjukkan performa yang sebenarnya di dunia nyata. Pastikan, nilai di buku laporan prestasi siswa mampu mencerminkan kompetensi siswa yang sesungguhnya.

Ketiga, Biro Pusat Statistik SUSENAS 2003, melaporkan bahwa semakin tinggi seseorang menempuh jenjang pendidikan, maka semakin rendah kemandirian dan semangat kewirausahaannya. Apakah pembelajaran di kelas mampu menghadirkan semangat positif bagi siswa untuk belajar hidup mandiri? Mampukah kegiatan pembelajaran mengarahkan siswa mampu memecahkan masalah hidup yang akan dihadapinya kelak? Hal ini terkait dengan proses mengasah living skill. Perlu praktik nyata dalam mengarahkan siswa menggali keterampilan ini, bukan teori semata.


Proses Dehumanisasi dalam Pembelajaran

Banking concept of education, istilah Paulo Freire bagi proses dehumanisasi pendidikan. Ciri utamanya adalah komunikasi bersifat antidialogis, guru mengajar-murid belajar, guru tahu segalanya-murid tidak tahu apa-apa, guru bicara-murid mendengarkan, guru adalah subjek proses belajar-murid objek belajar.

Paul MacLean, pengkaji Triune Theory, menjelaskan adanya pengaruh cara kerja otak dalam pembelajaran. Ada 3 bagian otak dengan fungsi masing-masing yang berbeda, yaitu otak besar (neokorteks), otak tengah (sistem limbik), dan otak kecil (otak reptil).

Otak besar berfungsi untuk kegiatan berbicara, berpikir, belajar, memecahkan masalah, merencanakan, dan mencipta. Otak tengah berfungsi untuk kegiatan yang melibatkan aspek sosial dan emosional, serta untuk mengingat jangka panjang (long term memory). Otak kecil berfungsi untuk bereaksi, kegiatan yang bersifat mengulang, mempertahankan diri, dan ritualis.

Sungguh tidak dapat dibayangkan jika pembelajaran masih didominasi oleh kegiatan menghafal, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rutin, dan mengedepankan komunikasi satu arah semata. Jika aktivitas pembelajaran tersebut dominan dilakukan di kelas, maka siswa-siswa kita hanya memfungsikan otak kecilnya saja. Bagaimana dengan nasib optimalisasi otak besar dan otak tengahnya? Bukankah ini merupakan proses menafikan eksplorasi potensi diri siswa yang sebenarnya sangat luar biasa?

Penyelenggaraan pendidikan kritis yang lebih mencerdaskan siswa dan mampu memberdayakan seluruh potensi siswa perlu dikembangkan secara tepat guna di ruang-ruang kelas. Terinspirasi oleh pemikiran Freire, ada 3 fokus utama yang dapat dijadikan landasan bertindak untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih humanis, yaitu (1) Siswa belajar dari realitas atau pengalaman, dimana siswa tidak hanya menelan teori semata, tetapi otoritas pengetahuan siswa dibangun dari realitas yang ada di lingkungan sekitar siswa, (2) Dalam situasi pembelajaran, tak ada guru dan tak ada murid yang digurui, siswa dan guru sama-sama belajar, guru belajar untuk mengajar dan siswa belajar untuk belajar, (3) Dialogis adalah ciri utama yang dikembangkan dalam situasi pembelajaran, dimana guru-siswa dan siswa-siswa terlibat aktif dalam kegiatan transfer of learning positif sebagai sebuah komunitas belajar produktif.